MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
PERNIKAHAN


__ADS_3

Aku terkesima melihat penampilan ku, tak pernah ku bayangkan aku akan terlihat seperti ini.


''Apa ini tidak berlebihan bu?'' Tanya ku pada bu Siska.


''Tidak Dea, ini justru terlihat sempurna''


''Tapi bu, saya hanya akan menemani pak Marvel saja bu, koq ini pake dandan kayak mau ke suatu acara''


''Ngak apa-apa Dea, sesekali kita buat kejutan untuk pak Marvel''


''Tapi saya ngak biasa pake baju bagus seperti ini bu, apa lagi pake bedak dan kawan-kawannya''


''Iya... iya ibu tahu. Sudah sana temui pak Marvel dia udah nunggu kamu di ruang tamu'' ujar bu Siska, Cindy dan Melati tersenyum melihat ku berjalan ke luar kamar.


Saat tiba di ruang tamu, aku tak melihat pak Marvel disana hanya ada seorang laki-laki yang sedang duduk di atas sofa membelakangi ku.


Laki-laki itu memakai kemeja putih dengan celana dan jas berwarna senada dengan dress yang aku kenakan.


'Mungkinkah itu pak Marvel?' Tanya ku dalam hati.


''Udah sana'' ujar Cindy mendorong ku ke arah laki-laki itu.


Aku berusaha menyeimbangkan diri agar tak menabrak orang yang sedang duduk itu. Saat berada dekat dengan orang itu, jantung ku berdegup kencang dan aku seperti mengenali bau parfum yang ia kenakan.


''Ayo berangkat pak Marvel, nona Dea'' ujar mang Diman dari arah pintu.


''Iya pak, tapi tunggu pak Marvel dulu ya'' ujar ku.


''Lah, pak Marvel kan udah sama neng Dea'' ujar mang Diman membuat ku bingung.


Aku berbalik badan barangkali pak Marvel ada di belakang ku, tapi tak ada juga, hanya ada Cindy dan Melati yang sedang terkekeh melihat ku, membuat aku semakin bingung.


''Udah sana pergi pak Marvel udah nunggu'' ujar Melati.


Aku kembali berbalik badan hendak menuju ke luar rumah, namun aku menabrak seseorang.


''Maaf, maaf saya tidak sengaja, permisi saya harus menemui pak Marvel'' ujar ku hendak berlalu, namun tangan ku di tahan oleh seseorang.


Ternyata orang yang duduk tadi yang aku tabrak.


''Pak Marvel'' ujar ku saat orang itu menggenggam tangan ku.


''Iya Dea, bagaimana kamu tahu ini saya? Padahal tadi waktu saya duduk, kamu tak mengenali saya''


''Saya tahu saat bapak memegang tangan saya. Tadi waktu bapak duduk saya tak mengenali bapak karena berbeda dengan gaya bapak yang biasanya, hanya bau parfumnya yang seperti bau parfum bapak'' ujar ku malu-malu.


''Hanya itu?''


''Iya pak''


Kurasakan pipi ku menghangat saat ini, terlihat Melati, Cindy dan bu Siska tertawa melihat ku.


''Ayo kita berangkat'' ujar pak Marvel dan aku mengikutinya setelah berpamitan pada bu Siska dan yang lainnya.


''Bapak kenapa pakai baju seperti itu?'' Tanya ku penasaran.


''Karena kita akan pergi berkencan Dea, aku ingin ini menjadi kencan pertama yang berkesan untuk kita''


''Tapi bukankah ini terlalu berlebihan pak? Saya lebih nyaman dengan gaya bapak yang seperti biasanya, jika begini saya semakin tak percaya diri berada di dekat bapak''


''Hehehe, iya Dea, sebenarnya saya juga agak risih memakai pakaian seperti ini, tapi hari ini kita akan menghadiri acara resmi oleh sebab itu saya dan kamu memakai pakaian seperti ini. Tapi saya terlihat gagah dengan pakaian ini kan?''


''Iya pak, bapak terlihat sangat tampan'' ujar ku spontan.


''Apa? Coba ulang sekali lagi saya ingin mendengarnya lagi'' ujar pak Marvel menatap mata ku.


''Eh... itu..'' aku menunduk karena tatapan pak Marvel membuat ku gugup.


''Ayolah Dea''


''Iya..iya pak, bapak sangat tampan dengan pakaian itu''

__ADS_1


''Terimakasih Dea, tapi kamu juga terlihat sangat cantik hari ini, aku sampai tak bisa berhenti menatap mu. Entah kenapa aku merasa jika hari ini akan menjadi hari yang baik''


''Sebenarnya kita akan kemana pak?''


''Kita akan ke acara pernikahan sahabat sekaligus saudara sepupu ku sayang'' aku terkejut mendengar ucapan pak Marvel.


''Apa bapak yakin ingin mengajak saya?''


''Tentu saja Dea, aku sangat bangga bisa membawamu ke acara ini''


''Tapi saya takut membuat bapak malu disana''


''Tidak Dea, itu tidak akan terjadi, aku akan selalu berada di dekatmu''


''Baiklah pak''


Kurang lebih 45 menit kami berada di atas mobil akhirnya kami tiba di sebuah rumah yang sudah di hiasi dengan pernak-pernik khas pernikahan.


Setelah turun dari mobil, pak Marvel meminta ku untuk berjalan bergandengan.


''Tapi apa ngak apa-apa pak? Kalau keluarga bapak lihat bagaimana?''


''Lebih bagus jika mereka lihat, itu memang niat saya. Lagi pula saya memang ingin mengenalkan kamu pada mereka'' ujar pak Marvel.


Banyak orang yang hadir disitu melihat ku dengan tatapan yang berbeda-beda setiap orang. Ada yang tersenyum tapi ada juga yang seperti sedang menahan amarah.


''Sudah jangan pedulikan orang lain, aku ada disini jangan takut'' ujar pak Marvel.


''Vel, udah ada aja loh disini, siapa?'' Seseorang menyapa kami saat masuk ke rumah itu.


''Iya Ben, adalah mau tahu aja kamu. Mama mana?''


''Yailah kamu ini, kamu nyari mama kamu, apa mama aku? Kalau mama kamu sudah ke gedung, kalau mama aku masih di gereja''


''Oh gitu, jadi kita langsung ke tempat resepsi nih''


''Iya Vel, kenalin dong?'' ujar Ben melirik ku.


Kusambut uluran tangan Ben, 'Dea' ujar ku sambil tersenyum.


''Buset dah, manis amat jadi pengen''


''Eh.. ngomong apa barusan? Udah jangan lama-lama pegang tangannya nanti dia alergi karena salaman sama playboy macam kamu'' ujar pak Marvel dan membuat Ben pura-pura cemberut.


Aku tersenyum melihat ke duanya, bahagia rasanya bisa saling bercanda bersama saudara-saudara.


''Kenapa Dea?'' Tanya pak Marvel yang mungkin melihat perubahan raut wajah ku.


''Tidak apa-apa pak''


''Kalau gitu ayo kita berangkat ke gedung, kalian kan juga harus berjalan dengan pengantin saat akan masuk ke gedung nanti'' ujar Ben yang membuat ku terkejut.


''Maksudnya apa pak?'' Bisik ku pada pak Marvel.


''Kita akan jadi pengiring pengantin Dea''


Kami menuju gedung tempat resepsi dengan mengendarai mobil yang di kemudikan oleh pak Marvel.


Aku duduk di kursi samping pengemudi sedangkan Ben duduk di kursi belakang kami.


''Dea, kamu kenapa bisa suka sama kakak ku yang nyebelin itu'' ujar Ben dari kursinya.


''Nyebelin-nyebelin gini kamu juga sering kangen sama aku'' ujar pak Marvel yang membuat Ben kembali memanyunkan bibirnya.


''Aku ngomong sama Dea loh, ayo Dea jawab''


Aku hanya tersenyum tak tahu harus mengatakan apa, sepanjang jalan Ben dan pak Marvel terus bercerita.


Setelah tiba di gedung aku dan Ben turun dari mobil sedangkan pak Marvel memakirkan mobil.


''Hy kak Ben, sama siapa?'' ujar seorang gadis yang menghampiri kami bersama 3 orang gadis lainnya.

__ADS_1


''Wah ada yang bawa cewek cantik nih, kenalin dong'' ujar gadis lain.


''Hy aku Greis, ini Stevy, Greisa dan Oliv. Kami semua sepupu Ben'' ujar ketiganya mengulurkan tangan.


Kusambut uluran tangan keempat gadis itu dan memperkenalkan nama ku.


''Aku Dea, salam kenal'' ujar ku tersenyum.


''Dea?'' Tanya Greisa dan aku mengangguk.


''Sepertinya aku pernah dengar nama kamu sama suara kamu tapi dimana ya?''


''Banyak yang punya nama Dea Reis'' ujar Oliv.


''Ia tapi suara kamu kayak pernah aku dengar, tunggu dulu, nama lengkap kamu siapa?'' tanya Greisa lagi.


''Dealova Melody'' ujar ku dan membuat mereka berempat terkejut.


''Nah kan, kamu yang menang lomba kemarin bukan?'' Tanya Oliv.


''Iya, kalian tahu?''


''Iyalah kita nonton kemarin, yang juara dua itu teman sekolah kita''


''Oh begitu, selamat ya''


''Wah, pintar ya kak Ben cari pacar, nyari yang pintar'' ujar Greis.


''Siapa dulu dong Ben gitu'' ujar Ben dengan gaya.


''Maaf saya bukan pacarnya mas Ben'' ujar ku yang membuat ketiganya tertawa dan Ben menggaruk kepalanya.


''Hahahaha, ternyata bukan pacarnya kak Ben. Oh iya kak Ben, kakak Marvel mana? Koq ngak kelihatan?''


''Masih markirin mobil dulu''


''Kamu kesini sama siapa Dea?'' Tanya Oliv.


''Sama aku'' ujar Ben.


''Ngak percaya'' ujar keempat gadis itu bersamaan.


''Kakak Marvel'' ujar ke empat gadis itu berlari menghampiri pak Marvel.


''Wah adik-adik ku sudah pada cantik, bagaimana kabar kalian?''


''Kami baik kakak, kakak Marvel kemarin keren sekali di lomba''


''Iya dong siapa dulu adik-adiknya'' ujar pak Marvel mengusap kepala ke empat gadis itu secara bergantian.


''Kenapa belum masuk?''


''Gimana mau masuk, kita nunggu kamu lah'' ujar Ben.


''Kalau begitu ayo kita masuk, ayo sayang'' pak Marvel kembali menggenggam tangan ku.


''Iya pak''


''Sayang?'' Tanya Greis.


''Eh, iya adik-adikku. Dea ini calon kakak ipar kalian jika Tuhan berkehendak, bagaiaman cocok tidak?''


''Pastinya cocok kak, kami dukung seribu persen. Akhirnya kak Marvel bisa move on juga senang banget liatnya''


''Kak Marvel tadi kak Ben bilang kalau Dea itu pacaranya'' ujar Oliv yang mendapatkan tatapan tajam dari Ben.


''Lari'' ujar Oliv berlari bersama Greis, Stevy dan Greisa.


''Ngak usah gandengan juga kali, bikin gue iri aja''


''Makanya punya cewek itu satu aja''

__ADS_1


''Iya..iya bos. Aku duluan ya mau nyari jodoh'' Ben berjalan mendahului kami.


__ADS_2