MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
PESAWAT


__ADS_3

(POV MARVEL)


Pesawat yang kami tumpangi berangkat agak lambat dari jadwal, dikarenakan kondisi cuaca yang sedang tidak bersahabat.


Pesawat baru berangkat sekitar pukul 8 lewat 15 menit, sesaat sebelum pesawat lepas landas Dea menarik ujung baju ku.


''Ada apa Dea?'' Tanya ku.


''Apa bapak masih ada obat anti muntahnya? Saya mau satu'' ujarnya.


''Masih ada'' ujar ku memberikan sebutir obat padanya.


Dengan segera ia meminum obat yang aku berikan padanya kemudian mengubah posisi kursinya sedikit terbaring.


''Kamu mau tidur Dea?''


''Iya pak, sebenarnya... saya takut pak?''


''Takut kenapa?''


''Ini kali pertama saya naik pesawat pak'' ujarnya mulai memegang erat bagian samping kursinya saat pesawat mulai lepas landas.


''Tidak usah takut, berdoa saja dan tutup mata mu jika kamu takut melihat ke luar liat saja aku'' ujar ku menggenggam tangannya.


Dea mengangguk kemudian menutup matanya, di wajahnya terlihat jelas jika ia merasa risau.


Ku usap pelan kepalanya hingga tak ada lagi ekspresi takut di wajahnya, saat ku coba memanggil namanya ternyata dia sudah tertidur.


Satu jam 45 menit akhirnya kami tiba di kota tempat tinggal kami, mobil jemputan dari sekolah juga sudah tersedia menunggu kami di terminal kedatangan.


''Selamat datang kembali semuanya" ujar pak Boy menyambut kami.


"Terimakasih pak Boy" ujar pak Bimo.


Setelah menaikkan seluruh barang bawaan kami ke atas mobil, kami juga segera ikut naik. Di dalam mobil semua orang sibuk bercerita tentang pengalaman mereka selama kami berada di kota M.


Dea terlihat masih sesekali menguap, mungkin ia masih mengantuk karena efek obat yang dia minum tadi.


''Tidur saja Dea'' ujar bu Siska.


Dari bandara menuju ke sekolah menghabiskan waktu sekitar setengah jam lebih, aku dan yang lainnya sibuk bercerita tentang pengalaman kami selama berada di kota M, sedangkan Dea dengan tidurnya yang nyenyak. Dia tak merasa terganggu dengan suara bising kami semua.


Sesekali aku melirik ke arah Dea, terlihat dia tertidur sangat pulas. Perasaanku sangat tenang saat aku melihatnya tertidur, ada rasa nyaman melihat wajahnya ketika ia sedang tertidur pulas.


''Belum puas ya natap Dea selama di sana? Tuh mata natap kesana mulu dari tadi'' ujar Boy yang membuat aku hanya bisa nyengir saja.

__ADS_1


Jujur saja aku tak pernah bosan melihat wajah Dea apalagi jika sedang tidur.


Saat kami tiba di sekolah, ternyata bertepatan dengan jam istirahat, semua siswa dan siswi di kumpulkan di aula sekolah untuk menyambut ke datangan kami.


Semua orang memberi selamat pada kami saat kami memasuki aula sekolah, bahagia rasanya bisa melihat senyum di wajah semua orang.


Revan, Cindy, Melati dan Dea diminta oleh pemilik yayasan untuk berdiri di depan dan di berikan karangan bunga oleh ketua yayasan. Kami sebagai guru pembimbing juga merasa bangga kepada Dea dan kawan-kawannya karena mereka berhasil mengharumkan nama sekolah.


Setelah menyampaikan beberapa kata sambutan dan motivasi untuk para siswa, ketua yayasan juga memberikan bingkisan kepada mereka berempat.


Senyum terpancar dari wajah ke empatnya, menatap wajah Dea membuat jantung ku kembali berdetak lebih kencang, apa lagi di saat tatapan mata kami bertemu dan dia tersenyum.


Ingin rasanya aku berlari ke arahnya dan memeluknya seperti teman-temannya yang lain, namun situasi tak memungkinkan.


''Selamat ya pak Marvel, murid bimbingan bapak meraih juara pertama'' ujar pak Yudi, guru seni musik.


''Terimakasih pak Yudi, itu semua karena ketekunan Dea dalam belajar pak, saya hanya membimbing saja''


Setelah banyak drama yang terjadi di aula, kami semua di minta untuk pulang ke rumah dan istirahat.


(POV DEA)


Kami tiba di sekolah ketika waktu istirahat, teman-teman dan guru-guru menyambut kepulangan kami dengan senyuman, meski ada satu guru dan beberapa murid yang tak tersenyum.


Kami semua di kumpulkan di aula sekolah, aku, Revan, Melati dan cindy memdapat karangan bunga dari pak Mike ketua yayasan sekolah kami. Selain itu kami juga mendapat bingkisan yang kami tak tahu apa isinya.


Sukma dan Darmi memeluk ku secara bergantian, aku juga mendapat ucapan selamat dari beberapa teman yang lain.


Darmi, Sukma dan Gema bergegas kembali ke kelas setelah bel tanda pelajaran akan di mulai berbunyi. Tinggallah aku seorang diri di taman sekolah, saat hendak mengangkat koper milik ku untuk pulang, ada tangan lain yang lebih dulu memegangnya.


''Biar saya bawakan'' ujar pak Marvel mulai mengangkat koper milik ku menuju ke parkiran sekolah.


''Loh koq kemari pak, saya kan mau pulang pak'' ujar ku melihat pak Marvel meletakkan koper ku di parkiran.


''Iya saya tahu, saya antar kamu pulang''


''Tapi kan saya udah ada uang untuk bayar kendaraan pulang pak, tadi di kasi sama pak Bimo''


''Ya biar saja, oh iya gaun yang kamu pake kemarin mana?''


''Ada di koper pak belum saya cuci, mau di kembalikan sama siapa pak bajunya kalau sudah saya cuci?''


''Ngak usah di kembalikan Dea, kata mama itu buat kamu'' ujar pak Marvel yang membuat ku terkejut.


''Tapi pak, gaun itu pasti mahal. Jangan bercanda pak''

__ADS_1


''Saya ngak bercanda Dea, tadi mama telpon katanya gaun itu buat calon mantunya''


''Eh..tapi''


''Ngak ada tapi-tapi, oh iya kamu punya nomor bu Jum? Kabari gih bilang anak sama menantunya udah tiba dengan selamat'' pak Marvel meletakkan ponselnya di tangan ku.


''Benaran pak boleh saya pake?''


''Boleh dong sayang''


Aku segera mencari nomor ponsel bu Jum yang aku tulis di kertas kecil dan ku masukkan kedalam saku tas ku tadi.


Satu kali aku mencoba namun tak ada yang menjawab.


''Ngak di angkat pak''


''Coba lagi'' ujar pak Marvel yang sedang menyusun koper kami berdua ke atas motornya.


Kedua kali aku mencoba akhirnya ada yang menjawab panggilan ku.


''Halo selamat siang'' sapa seorang wanita dari ujung panggilan.


''Selamat siang bu, ini Dea. Dea mau ngabarin kalau Dea dan yang lainnya sudah tiba dengan selamat''


''Syukurlah neng, ibu senang dengarnya. Ini nomor ponsel neng Dea?''


''Bukan bu, ini nomor menantu ibu'' jawab pak Marvel, ia dapat mendengar percakapan aku dan bu Jum karena aku menggunakan pengeras suara.


''Walah, nomornya pak Marvel toh. Emang neng Dea satu rumah sama pak Marvel?''


''Tidak bu, kami masih di sekolah. Tadi dari bandara ke sekolah dulu, ini baru mau pulang tapi telpon ibu dulu''


''Oh gitu neng, hati-hati ya neng semoga tiba di rumah dengan selamat. Doa bibi dan mang Diman selalu menyertai neng Dea dan pak Marvel''


''Amin terimakasih bu, salam sama mang Diman ya bu Jum. Bilang salam dari anak mang Diman dan menantu mang Diman'' ujar pak Marvel menjawab ucapan bu Jum.


''Ia pak, saya tutup dulu ya pak, neng Dea''


''Baik bu'' ujar ku mengakhiri panggilan dengan bu Jum.


''Bisa pak, bawa koper Dea? Kalau ngak, nanti Dea naik ojek saja pak''


''Ngak, aku ngak mau nanti kamu peluk-peluk tukang ojek''


''Ngak meluk juga pak, cuma pegangan''

__ADS_1


''Ngak, pokoknya yang antar kamu pulang saya''


''Iya..iya pak''


__ADS_2