
Kamar Dea terasa sangat nyaman, meskipun kecil namun mampu membuat ku terlelap hanya dalam hitungan menit.
Ketika aku terbangun, aku melihat foto keluarga ku dan Dea saat aku datang melamarnya terpanjang di dinding kamar Dea, aku juga melihat ada begitu banyak buku di dalam kamar Dea.
Ketika sedang mengamati kamar Dea, aku terfokus pada foto seorang wanita dewasa yang dipajang di atas meja belajar dengan bingkai yang sangat indah. Aku jadi penasaran siapa wanita itu?
Saat aku mendekati meja belajar, ada suara orang mengetuk pintu.
''Pak, bapak sudah bangun?'' Tanya Dea dari balik pintu yang belum aku buka.
Aku berpura-pura kembali tidur di atas tempat tidurnya, tak lama terdengar suara pintu di buka. Ku buka sedikit mata ku, ternyata Dea yang masuk, ia menuju ke arah lemari dan mengambil pakaiannya dari dalam lemari.
'Rupanya dia ingin mandi, makanya masuk mengambil baju ganti' batin ku terus memperhatikan gerak-geriknya.
Setelah mengambil baju, aku segera menutup mata ku kembali, aku takut Dea melihat ku yang berpura-pura tidur.
Suara langkah kakinya terdengar menjauh, aku pikir dia sudah keluar, saat aku ingin membuka mata ku, aku merasakan tempat tidur di samping ku bergetar dan tak lama aku merasa hangat karena ternyata aku di pakaikan selimut oleh Dea. Tempat tidur bergetar karena Dea naik dan mengambil selimut untuk menyelimuti ku.
''Tidur yang nyenyak pak, di luar juga masih hujan jika bapak ingin pulang'' ujar Dea mengusap kepala ku setelah memakaikan ku selimut. Aku yang masih berpura-pura tidur tentu saja sangat bahagia mendapat perlakuan seperti itu dari Dea.
Saat ia berbalik hendak keluar aku segera menarik tangannya yang mengusap kepala ku tadi. Karena terkejut dan tak berdiri seimbang akhirnya Dea jatuh tepat di atas ku.
Aku menatap matanya yang melebar akibat terkejut, ia tak bergerak sama sekali.
'Apa dia syok' batin ku.
''Sayang'' ujar ku membuat Dea tersadar dan buru-buru turun dari tempat tidur.
''Maaf pak, saya tak sengaja''
''Tak apa sayang, aku suka. Emang di luar hujan sayang?''
''Iya pak, hujan lebat angin juga kencang dan ada petir. Bapak tidur saja dulu, nanti saja jika tak hujan baru bapak pulang'' ujar Dea.
''Oh gitu, kamu ngak tidur siang sayang?''
''Ngak pak, saya tidak mengantuk. Saya mau mandi dulu pak, bapak mau di butkan teh hangat atau bapak mau tidur lagi''
''Saya masih mau baring-baring di kamar kamu boleh kan?''
''Boleh pak, silahkan lanjutkan saja tidurnya pak, saya mau mandi dulu''
''Ok sayang''
Aku kembali berbaring memandang punggung Dea yang menghilang di balik pintu. Saat hendak menutup mata ku, tiba-tiba saja ponsel ku berbunyi. Segera ku ambil dan ku lihat siapa yang menelfon ku, ternyata ibu ku yang menelfon, pasti beliau sangat khawatir.
''Karena terlalu nyaman berada disini, aku sampai lupa mengabari ibu'' gumam ku dan menerima panggilan ibu.
''Sore mah''
''Sore nak, kamu dimana kenapa belum pualang? Apa ada kegiatan di sekolah? Gimana keadaan kamu? Disini hujan deras juga angin kencang. Kamu ngak apa-apa kan nak?'' Tanya ibu.
''Aku baik-baik saja nak, aku ada di kamar Dea''
__ADS_1
''Ngapain kamu di kamar Dea? Jangan macam-macam kamu sama mantu mama''
''Aku cuma tidur mah, aku ngak ngapa-ngapain menantu mama tenang aja mah. Lagian aku ngak sama Dea''
''Awas kamu, ingat jaga menantu mama''
''Iya mama ku, aku belum bisa pulang mah disini juga hujan deras dan angin kencang''
''Ya udah kamu bermalam aja disitu, ntar mama kirim baju kamu''
''Tapi mah''
''Ngak ada tapi-tapi, nanti mama kirim baju kamu. Temani Dea dan nenek disitu, nanti minta ijin aja sama pak rt, meski sebenarnya tak perlu tapi minta ijin saja''
''Baik mah'' ujar ku. Aku juga bahagia jika aku bisa bermalam disini, setidaknya aku bisa merasakan serumah dengan Dea.
''Nanti aku ijin nenek dulu mah''
''Iya sayang, udah ya mama mau siapin baju kamu dulu''
''Iya mah'' ujar ku dan menutup panggilan.
Aku melihat jam di ponsel ku dan ternyata aku sudah tidur cukup lama, sekarang sudah pukul 17:25, aku bangun dan segera mencari nenek untuk meminta ijin bermalam.
"Nek'' ujar ku melihat nenek yang sedang duduk sambil membuat anyaman.
''Iya nak, sudah bangun?''
''Iya nek''
''Apa boleh nek, bagaimana dengan warga nanti jika saya bermalam?''
''Tak apa nak, lagi pula semua warga sudah tahu hubungan nak Marvel sama Dea. Meski tinggal serumah sebenarnya sudah tak masalah karena kalian sudah resmi secara adat. Nanti nenek telfon pak rt, buat ngabarin kalau nak Marvel bermalam disini''
''Nanti biar Marvel yang telfon pak rt nek''
''Baiklah nak, kamu mau di buatkan teh?''
''Terimakasih, tidak perlu nek, nanti Marvel buat sendiri kalau ingin''
Nenek kembali melanjutkan aktifitasnya menganyam, tangan tua nenek masih sangat terampil menyusun lembar demi lembar daun pandan hingga membentuk sebuah dompet.
''Bapak sudah bangun? Minum nek'' ujar Dea meletakkan segelas teh hangat.
''Ia Dea. Oh iya malam ini saya tidur disini ya'' ujar ku yang membuat Dea terkejut.
''Eh, tapi...''
''Ngak apa-apa De, lagian ngak masalah jika nak Marvel bermalam disini. Ingat loh kamu sama nak Marvel sudah resmi secara adat dan rumah nenek juga jadi rumah nak Marvel sejak melamar kamu'' ujar nenek memotong ucapan Dea.
''Baik nek'' ujar Dea.
Aku dan nenek bercerita sambil menonton tv. Saat tengah asik menonton tv, terdengar suara bu Mira bercakap-cakap dengan Dea di dapur.
__ADS_1
Aku menghampiri Dea yang sedang memasak air, yang setelah aku tanya ternyata air itu untuk aku pakai mandi.
''Eh pak Marvel, saya kira sudah pulang?''
''Belum bu, rencana mau bermalam tapi mau minta ijin sama pak rt dulu''
''Ngak ijin juga ngak apa-apa pak Marvel, toh sudah resmi juga, jadi biar tinggal disini sekalipun tak masalah'' ujar bu Mira.
Aku hanya tersenyum menanggapinya kemudian masuk kembali ke dalam rumah menemani nenek.
''Neng Dea, jadi gimana persiapannya buat nanti malam?'' Tanya bu Mira yang masih bisa ku dengar.
''Persiapan apa sih bu, ngak usah mikir macam-macam ah'' ujar Dea. Aku yakin saat ini pipinya sudah memerah karena di goda oleh bu Mira, sayangnya aku tak bisa melihatnya.
Aku kembali menghampiri nenek yang sedang duduk sambil makan biskuit.
''Mau makan biskuit nak?'' Tawar nenek ketika aku sudah duduk di sampingnya.
''Tidak nek, terimakasih''
''Mandi dulu pak, ada air panas di ember tinggal bapak tambah air dinginnya jika masih terasa panas'' ujar Dea menghampiri kami.
''Terimakasih De'' ujar ku.
''Nenek sudah mau tidur De, antar nenek masuk'' ujar nenek menyimpan toples biskuitnya.
''Nenek sudah makan?'' Tanya ku.
''Sudah nak, nenek memang biasa tidur jam begini. Maaf ya nenek tak bisa menemani kamu disini, kesehatan nenek agak menurun akhir-akhir ini jadi nenek muda lelah''
''Tak apa nek, nenek istirahat saja''
''Dea kamu temani nak Marvel. Oh iya nak Marvel nanti kita bertiga tidurnya di ruang tengah, tak apa-apa jika tak pakai kasur kan?''
''Tak apa nek''
''Jangan lupa makan malam sebelum kalian tidur''
''Baik nek''
Dea menuntun nenek keruang tengah, dimana ada tikar dan kasur lantai yang sudah Dea gelar untuk kami bertiga tidur malam ini. Dea juga memasang kelambu yang ukurannya sangat besar bisa menampung sampai 8 orang.
Ku ambil ponsel ku dan menghubungi pak rt untuk meminta ijin bermalam disini.
''Malam pak rt, ini saya Marvel tunangan Dea'' sapa ku setelah panggilan tersambung.
''Malam juga pak, ada yang bisa saya bantu?''
''Begini pak rt, saya ingin minta ijin untuk bermalam di rumah Dea malam ini'' ujar ku yang membuat pak rt tertawa dan aku bingung.
''Pak Marvel tak perlu minta ijin soal itu, secara adat pak Marvel adalah suami Dea jadi tak masalah jika pak Marvel bermalam disitu''
''Baik pak terimakasih ijinnya''
__ADS_1
''Sama-sama pak''
''Selamat malam pak rt'' ujar ku kemudain menutup sambungan telpon.