MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
DEA SAKIT DAN KEHAMILAN SOFI (POV AUTHOR)


__ADS_3

Pagi hari saat baru bangun tidur Dea merasakan jika dirinya sedang kurang sehat, ia merasa jika badannya sedikit hangat dan kepalanya sangat berat.


''Aku kenapa, rasanya aku sangat pusing, apa penyakit ku kambuh lagi?'' Tanyanya pada diri sendiri.


Ingin rasanya Dea meminta tolong namun ia terlalu lemah untuk bangun, akhirnya ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Eca yang ia simpan pada ponselnya.


''Pagi nona, apa nona butuh sesuatu?''


''Pagi Ca, bisa tolong bawakan sarapan ke kamar saya, rasanya saya kurang sehat'' ujar Dea.


''Baik nona'' ujar Eca sebelum Dea menutup panggilan.


Dea kembali berbaring setelah ia memutuskan panggilan telponnya, ia kini menunggu Eca untuk membawakan sarapan untuknya.


''Nona'' ujar Eca dari luar kamar Dea setelah mengetuk pintu kamar Dea.


''Nona'' panggil Eca yang tak mendapatkan jawaban dari Dea.


Hingga beberapa kali Eca memanggil Dea, namun tak ada jawaban yang membuat Eca langsung masuk ke kamar Dea.


''Nona'' panggil Eca sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dea.


''Ya Tuhan, badan nona sangat panas. Aku harus apa, apa aku harus mengabari tuan Rey'' ujar Eca kebingungan.


''Bu Marni'' panggil Eca dari ujung tangga lantai dua ketika ia melihat bi Marni melintas di ruang tamu.


''Iya Ca, ada apa?''


''Nona Dea demam bu, dia pingsan'' ujar Eca merasa khawatir.


Bi Marni yang mendengar ucapan Eca segera berlari ke lantai dua di ikuti oleh beberapa pelayan yang mendengar teriakan Eca.


Bi Marni masuk ke kamar dan meraba kening Dea yang terasa sangat panas setelahnya ia langsung menelpon Rey.


''Iya bi ada apa?''


''Ini tuan, nona Dea sakit badanny sangat panas'' ujar bi Marni.


Rey merasa agak khawatir saat mendengar Dea sakit namun ia mencoba untuk tak terlalu peduli.


''Panggilkan saja dokter untuknya bi, saya sedang sibuk tak bisa di tinggal'' ujar Rey kemudian menutup panggilan.


''Bagaimana bi, tuan bilang apa?''

__ADS_1


''Katanya panggilkan saja dokter, tuan ngak bisa pulang'' ujar bi Marni.


''Tuan Rey itu gimana sih, istri sakit koq malah dia mentingin kerjaan'' omel Eca.


''Sudahlah sekarang kamu telfon dokter Fajar agar segera datang, saya mau buatkan air hangat untuk kompres nona'' ujar bi Marni.


Eca segera menelfon dokter langganan mereka dan memintanya untuk segera datang karena ia sangat khawatir dengan keadaan nonanya.


SEkitar 15 menit dokter Fajar akhirnya tiba di kediaman Hamington, ia segera masuk ke kamar dimana Dea sedang terbaring lemah.


Kesadaran Dea sudah pulih tapi badannya masih terasa sangat lemah, ''tidak apa-apa koq nona Dea hanya terlalu lelah, saya sarankan untuk banyak istirahat. Nanti saya resepkan vitamin untuk nona'' ujar dokter Fajar.


''Baik dok, terimakasih'' ujar Dea.


Setelah membuatkan resep untuk Dea dokter Fajar pamit undur diri karena ia harus kembali ke rumah sakit.


''Nona istirahat saja, biar bibi yang belikan obatnya ke apotik''


''Terimakasih bu, tapi saya mau ikut ada yang ingin saya beli'' ujar Dea.


''Apa nona sudah merasa baik-baik saja? Apa perlu saya mengabari mertua nona?''


''Tak perlu bu, saya sudah agak enakan, ayo kita berangkat nanti biar di antar mang Udin''


''Iya non'' ujar bi Marni.


Dea sengaja ingin membeli sendiri karen ia tak mau memberitahu orang lain, jangan sampai ada yang tahu jika ia sudah tak datang bulan dan mengatakan hal itu pada mertuanya. Ia tak mau mertuanya kecewa jika ternyata ia belum mengandung.


Setelah menebus obat dan membeli tespek, Dea dan Bi Marni segera pulang. Dea ingin segera menngetahui tentang apa yang membuatnya kepikiran selama seminggu ini.


Setelah dua hari hanya bisa berbaring di kasur karena kurang sehat, hari ini Dea merasa jika badannya sudah lebih sehat. Begitu bangun pagi ia segera menuju ke halamna belakang untuk melihat kebun yang sudah dua harian ini tak ia rawat.


''Pagi non'' ujar Eca yang berada di dapur ketika melihat Dea melintas.


''Pagi Eca, maaf aku ngak liat kamu'' ujar Dea.


''Nona mau kemana pagi-pagi sekali? Apa nona sudah baikan?'' Tany eca.


''Sudah lebih baik Ca, maaf ya dua hari ini aku bikin kalian semua repot, terutama kamu dan bu Marni. Aku mau ke kebun Ca, mau liat sayuran'' ujar Dea tak enak hati sebab selama ia sakit Eca dan bi Marni bergantian menjaga Dea.


''Tidak apa-apa nona, itu sudah menjadi tugas kami. Sayurannya udah kami siram tadi non'' ujar Eca.


''Terimakasih ya Ca, maaf aku ngerepotin kamu lagi''

__ADS_1


''Tidak usah trimakasih terus nona, kami malah senang bisa bantu nona'' ujar Eca dengan senyuman.


Dea tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya ke halaman belakang, ia sangat bahagia melihat tanamannya tumbuh subur dan terawat.


Setelah puas melihat kebunnya, De segera kembali ke dalam rumah dan sarapan pagi, hari ini ia berencana akan melakukan pemeriksaan ke dokter.


Sudah dua hari ini Rey tak pulang ke rumah, katanya ia sibuk di kantor karena bayak pekerjaan yang harus ia selesaikan dan ia bermalam di rumah ibunya sebab jarak dari kantor lebih dekat ke rumah ibunya dibanding rumahnya sendiri.


Dea mengirim pesan pada Rey jika ia akan keluar hari ini, tapi ia tak memberitahu Rey jika ia akan ke dokter. Sebab Dea beritahu ataupun tidak Rey tak akan peduli padanya.


[Tuan, saya ijin untuk pergi keluar, saya akan pulang secepatnya] tulis Dea pada pesan yang ia kirimkan ke nomor Rey.


Rey yang menerima pesan dari Dea hanya membalas dengan singkat [Ya] tulisnya.


Sebenarnya Rey tidaklah benar-benar sibuk di kantornya melainkan tengah sibuk merawat Sofi yang sedang kurang sehat.


''Kamu balas pesan siapa sayang'' Tanya Sofi.


''Gadis itu minta ijin keluar rumah, entah mau kemana dia'' ujar Rey yang sangat acuh pada Dea.


''Oh gitu, aku punya kejutan buat kamu sayang tapi kamu harus tutup mata dulu ya sayang'' ujar Sofi bermanja-manja pada Rey.


''Emang apa sih sayang kejutannya?''


''Ada deh, tapi kamu harus tutup mata dulu''


''Ya udah deh aku tutup mata nih'' ujar Rey berpura-pura menutup matanya.


Sofi mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang berwarna putih biru dari bawah bantalnya.


''Sekarang kamu boleh buka mata'' ujar Sofi.


Mata Rey terbuka lebar saat melihat benda pipih yang di pegang oleh Sofi menampilkan dua garis berwarna merah, matanya berbinar bahagia melihat benda pipih itu.


''Ini benar sayang, kamu hamil?'' Tanyanya pada Sofi dan di angguki oleh Sofi.


''Terimakasih sayang, kini mau tidak mau ibu harus menerima kamu menjadi menantunya, sebab kamu sudah mengandung anak ku dan juga cucunya'' ujar Rey yang sangat bahagia mengetahui jika Sofi sedang mengandung.


''Tapi bagaimana dengan istrimu?''


''Tentu saja aku akan menceraikannya, ibu juga pastinya akan setuju karena yang ibu inginkan adalah cucu, sementara gadis itu tak akan pernah mengandung'' ujar Rey dengan percaya diri.


''Tapi dia istrimu Rey, tak mungkin kau tak pernah menyentuhnya'' ujar Sofi yang membuat senyum di wajah Rey pudar.

__ADS_1


Rey mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Dea, tapi ia menepis kemungkinan jika Dea akan hamil sebab cuma sekali itu saja mereka berhubungan.


''Tentu saja aku tak peenah menyentuhnya sayang, bagaimana mungkin aku bisa menyentuh gadis kotor sepertinya'' ujar Rey.


__ADS_2