
Para tetangga sudah mulai ramai berdatangan ke rumah nek Diah, kebanyakan di antara mereka sangat sedih dengan kepergian nek Diah.
Nek Diah dikenal dengan sangat baik di lingkungan itu, meski ia bukan orang kaya namun jika ada yang butuh bantuan dengan senang hati ia akan membantu.
''Saya tidak menyangka orang sebaik nek Diah akan pergi secepat ini'' ujar bu Mira.
''Iya bu, ternyata orang baik memang selalu di panggil lebih awal oleh yang kuasa. Nek Diah juga pergi dengan hati yang tenang, ia tak merasakan sakit lagi'' ujar bu Rita tetangga yang berada dua rumah dari rumah nek Diah.
''Iya bu, tapi aku kasian sama neng Dea dan bi Tina'' ujar bu Mira.
''Iya sepertinya mereka sangat sedih. Apa ayah dan ibu Dea belum datang?'' Tanya bu Mira.
''Saya tidak tahu bu''
Beberapa ibu-ibu sedang membuat makanan dan minuman untuk orang-orang yang sedang memasang tenda di halaman rumah nek Diah, juga untuk dijadikan makanan saat selesai ibadah nanti. Malam ini akan di adakan ibadah penghiburan atas kepergian nek Diah.
Setelah tersadar dari pingsannya Dea segera keluar dari kamar dan membantu bi Tina menyiapkan baju nek Diah yang akan dipakai nek Diah setelah di mandikan nanti.
Saat memilah baju-baju yang berada di dalam lemari milik nek Diah, bi Tina dan Dea kembali menangis
''Jangan menangis sayang'' ujar bi Tina memeluk Dea.
''Bagaimana aku tidak menangis bi, nenek benar-benar udah pergi ninggalin kita bi'' ujar Dea menangis di dalam pelukan sang bibi.
Marvel yang berada di ambang pintu juga ikut meneteskan air matamya, ia juga merasa sangat kehilangan sosok nek Diah. Baginya nek Diah adalah orangtua keduanya setelah ayah dan ibunya. Ia merasakan kasih sayang yang tulus dari nek Diah, oleh karena itu ia sangat menyayangi nek Diah.
''Iya sayang bibi Tahu kamu sedih, tapi bisakah sekarang kita iklaskan atas semua yang terjadi?Jika kita tidak iklas sama saja kita menyalahkan Tuhan atas takdir yang sudah Tuhan gariskan buat kita nak'' ujar bi Tina.
Ia sangat khawatir Dea akan drop dan berakibat buruk pada kesehatannya, ia sangat takut kehilangan Dea karena Dealah satu-satunya keluarga yang paling dekat dengannya saat ini.
Dea mulai mengangkat kepalanya dan menatap manik mata bi Tina yang berkaca-kaca.
''Maafkan Dea bi, Dea masih belum bisa iklas bi. Ini terlalu berat buat Dea''
__ADS_1
''Meski berat kamu harus belajar iklas sayang. Sekarang ayo kita cari baju buat nenek'' ujar bi Tina menghapus sisa-sisa jejak air mata di pipi Dea.
Mereka berdua kembali mencari pakaian yang akan di gunakan oleh nek Diah. Karena merasa tak menemukan baju yang pantas, akhirnya Dea berlari ke kamarnya dan mengambil gaun pengantin yang pernah ia pakai saat menjadi pengiring bersama Marvel.
''Nyari apa sayang?'' Tanya Marvel melihat Dea sedang berdiri didepan lemarinya.
''Kak, apa boleh gaun ini buat nenek?'' Tanya Dea memperlihatkan gaun putih yang berada di tangannya.
''Tentu saja sayang'' ujar Marvel tersenyum.
Dea segera berlari ke kamar nek Diah untuk menemui bibinya, ''Bi, apa nenek boleh pakai gaun ini?'' Tanyanya pada sang bibi.
''Boleh sayang, tapi itu gaun kamu sayang''
''Karena ini gaun Dea, Dea ingin nenek memakai gaun Dea ini'' ujar Dea memberikan gaun yang penuh kenangan itu pada bibinya.
Setelah di mandikan, Dea da Bi Tina memakaikan gaun itu pada tubuh nek Diah.
''Iya nak''
Dea di bantu oleh bi Tina dan beberapa tetangga memakaikan make up tipis pada nek Diah. Beberapa tetangga yang memandikan nek Diah sangat sedih mengingat semua kebaikan nek Diah pada mereka.
Setelah dipakaikan baju dan di make up tipis-tipis, jenasah nek Diah kemudian di pindahkan ke ruang tengah dimana sudah ada ranjang yang di sediakan.
Ranjang itu di hiasi bunga-bunga mawar berwarna putih, bunga yang sangat di sukai oleh nek Diah.
Kini Dea sudah mulai bisa mengontrol emosinya, ia sudah bisa menahan diri untuk tidak terus-menerus menangisi kepergian sang nenek.
Pukul 5 sore, sudah banyak pelayat yang berdatangan selain untuk melayat sebagian dari mereka akan mengikuti ibadah penghiburan yang akan di lakukan malam hari ini.
Tepat pukul 6 petang ibadah di mulai, semua berjalan dengan lancar. Setelah semua orang pulang kini hanya tinggal Dea, bi Tina, Marvel dan kakek Aldo saudara dari neneknya yang ada di rumah itu.
Sang ayah yang Dea sangat harapkan untuk datang kini belum terlihat sama sekali, hal itu membuat timbul rasa kecewa Dea pada sang ayah.
__ADS_1
''Apa ayah tidak sedih dengan kepergian nenek bi? Kenapa ayah sampai sekarang belum datang?'' Tanya Dea dengan mata yang berkaca-kaca.
''Ayahmu juga pasti sedih nak, hanya saja mungkin masih ada halangan yang membuatnya belum sampai disini, tadi bibi sudah menghubungi ayahmu dan dia bilang kalau mereka sudah dalam perjalanan kesini'' ujar bi Tina berusaha membuat Dea tenang.
Dea hanya diam mendengarkan apa yang bibinya katakan, ia masih berharap sang ayah akan segera datang.
Sekutar pukul 9 malam, terdengar suara salam dari luar rumah, Dea bergegas ke arah pintu dan melihat siapa yang datang. Ternyata yang datang adalah ayah, ibu dan saudara-saudarinya ada juga paman dan bibinya.
Dea segera berlari berhambur memeluk sang ayah, ia sangat lega melihat sang ayah datang. Meski tadi dia sempat kecewa berpikir bahwa sang ayah tidak akan datang, tapi akhirnya ia lega ketika melihat ayahnya ada di depannya.
Dea kembali menangis di pelukan sang ayah, ia menumlahkan segala sesak di dalam dadanya.
Marvel yang mendengar suara tangisan Dea segera berlari ke arah pintu depan, ia khawatir terjadi sesuatu pada sang kekasih.
''Silahkan masuk semuanya'' ujar Marvel.
Ayah David terlihat sangat sedih, namun ia tak meneteskan air mata hingga ia tiba di depan tubuh sang ibu barulah ia menangis sejadi-jadinya.
''Ibu, maafkan aku bu, aku belum bisa menjadi anak yang baik'' ujar ayah David smbil memeluk tubuh sang ibu.
Bi Tina yang berada di sampingnya mengusap pelan punggung saudara satu-satunya itu.
''Ibu sudah tenang disana kak, ibu sudah tidak sakit lagi'' bi Tina mengusap pelan punggung ayah David yang terus menangis memeluk tubuh kaku ibunya.
Ibu Dea juga terlihat meneteskan air mata dan duduk di samping ayah David.
''Maafkan aku bu, aku belum bisa jadi menantu yang baik buat ibu'' ujar ibu Dea.
Ingin rasanya Dea memeluk sang ibu, namun ia urungkan karena takut dengan kemarahan sang ibu. Selama ini belum pernah sekalipun Dea merasakan pelukan dari ibunya karena sang ibu memang tak mau dipeluk olehnya.
''Sayang'' Marvel menghampiri Dea yang duduk di samping ibunya. Ia tak tega melihat tatapan Dea pada ibunya, ia merasa jika Dea sangat rapuh.
Rumah nek Diah tak pernah srpi selama beberapa hari ini, karena ibu dan ayah Dea masih berada di rumah itu hingga prosesi penguburan nek Diah selesai.
__ADS_1