MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
DEA PULANG (POV AUTHOR)


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Dea akhirnya di ijinkan untuk pulang ke rumah. Selama Dea berada di rumah sakit, dengan setia Marvel menemaninya dan dengan telaten ia merawat Dea.


Selama di rumah sakit keluarga Marvel silih berganti datang menjenguk Dea, bahkan Febi istri Josep sempat menginap beberapa hari di rumah sakit untuk menjaga Dea.


Dea dibantu Marvel dengan perlahan melangkah masuk ke dalam rumah setelah turun dari mobil. Para tetangga terkejut saat melihat Dea turun dari mobil sebab tak ada yang tahu jika Dea sakit.


Bi Tina memang tak memberitahu tetangga jika Dea sakit, bukan tanpa alasan ia melakukan itu. Sejak ia mendengar perbincangan bu Weni dan Lastri tempo hari ia mulai berhati-hati jika ingin mengatakan segala seauatu tentang Dea.


''Neng Dea kenapa?'' Tanya bu Tiwi dengan nada khawatir.


''Nanti aku cerita bu'' ujar bi Tina.


Bu Tiwi dan bu Mira mengikuti bi Tina Masuk kedalam rumah, Dea belum tidur di kamarnya untuk saat ini.


Marvel juga memutuskan untuk tinggal bebrapa hari lagi di rumah Dsa sampai Dea benar-benar sehat.


''Apa bapak ngak capek jagain Dea terus?'' Tanya Dea, ia mulai merasa tak enak hati pada Marvel karena terus bersamanya selama dia sakit.


''Ngak sayang, aku tidak akan lelah karena menjagamu sayang, aku justru bahagia jika aku bisa terus berada di sampingmu'' ujar Marvel menggenggam tangan Dea.


Bu Tiwi dan bu Mira masuo ke dalam ruang tengah untuk melihat keadaan Dea. Mereka masih snagat terkejut melihat Dea pulang dalam keadaan seperti itu, sebab mereka hanya di beritahu jika Dea sedang berada di kampungnya bukan di rumah sakit.


''Maaf ya neng Dea, kami ngak jenguk neng Dea di rumah sakit. Kami tidak tahu kalau neng Dea sakit'' ujar bu Mira.


''Ngak apa-apa bu, saya memang tidak mengininkan bibi memberitahu siapa-siapa. Maaf ya bu, sata hanya tidak ingin ibu-ibu juga khawatir sama Dea''


''Maaf ya Dea ibu juga ngak jenguk''


''Ngak apa-apa bu Tiwi, bu Mira. Sekarang kalian juga lagi jenguk Dea koq'' ujar Dea tersenyum.


''Sebenarnya apa yang terjadi nak Dea, kenapa nak Dea bisa seperti ini?'' Tanya bu Mira.


''Saya kecelakaan bu, di tabrak mobil di depan sekolah''


Bu Tiwi dan bu Mira terkejut mendengar ucapan Dea, keduanya bahkan tak sadar jika mulut mereka sedang terbuka.


''Kecelakaan neng?''


''Iya bu, tapi sekarang Dea udah sehat koq. Lagi pula pelakunya juga sudah di tangkap koq bu''

__ADS_1


''Syukurlah kalau begitu, siapa yang berani-berani nabrak neng Dea biar kita berdua kasi pelajaran'' ujar Bu Tiwi mulai menggulung lengan bajunya memperlihatkan otot-otot lengannya.


Dea, bu Mira dan Marvel tertawa bersana melihat tingkah bu Tiwi. Bu Tiwi juga ikut tertawa karena ia memang berniat untuk mengibur Dea.


''Pak Marvel istirahat saja dulu di kamar, Dea masih mau mengobrol sama bu Mira dan bu Tiwi. Bapak pasti lelah, bapak istirahat saja dulu''


''Iya pak Marvel istirahat saja, biar kami yang jaga Dea'' ujar bu Mira.


''Aku ke kamar dulu ya De, bu mari''


''Iya pak sikahkan''


Setelah kepergian Marvel, bu Mira dan bu Tiwi terus bercerita bersama Dea.


''Neng Dea ngak istirahat dulu?'' Tanya bu Tiwi.


''Ngak bu, Dea sudah capek tidur terus di rumah sakit, Dea mau duduk-duduk saja''


''Siapa yang nabrak neng Dea? Apa neng Dea sudah tahu?''


''Iya bu, ibu ingat ngak wanita yang pernah datang sama ibunya rusakin kios nenek?''


''Iya benar, Dia pelakunya bu''


''Astaga belum kapok-kapok ya tuh anak'' ujar bu Mira geram.


Mereka terus bercerita tentang kecelakaan yang sudah di alami Dea, sampai akhirnya bu Tiwi dan bu Mira pamit pulang karena mereka harus menyiapkan makan siang untuk keluarganya.


''Kami pulang dulu ya neng Dea, semoga cepat sembuh''


''Iya bu, terimakaish sudah jenguk Dea''


Setelah bu Tiwi dan bu Mira pulang Dea juga istirahat karena kepalanya masih agak pusing.


Di tempat lain Devina terus menangis di dalam sel tahanan yang membuat beberapa napi lain kesal melihatnya. Setelah di introgasi selama beberapa jam, Devina akhirnya di tetapkan sebagai tersangka.


''Bisa diam ngak sih! Dari tadi nangis mulu cengeng banget jadi orang''


''Iya, makanya kalau mau berbuat sesuatu di pikur-pikir dulu''

__ADS_1


''Diam kalian demua, kalian tidak tahu siapa aku. Kalau aku bebas dari sini aku akan buat kalian membayar kata-kata kalian'' ujar Devina dengan nada keras.


Mereka yang mendengarnya semakin geram kemudian tanpa di komando mereka semua mulai memukuli Devina.


''Tolong'' jerit Devina namun tak ada yang mendengar suaranya.


''Sudah, sudah sekarang lebih baik kita tidur saja biarin dia meratapi kesakitannya sendiri'' ujar seorang napi yang terlihat seperti seorang preman.


Dea yang tak biasa mendapatkan perlakuan kasar dari siapapun merasa sangat syok. Dia tak pernah menyangka jika dirinya akan berada di tempat seperti ini.


''Mama, mama dimana? Aku butuh mama'' ujar Devina terus menangis dan membuat napi yang tadi memukulinya kembali emosi.


''Bisa diam ngak'' ujarnya ingin melayangkan pukulan kembali ke arah Devina nmun ditahan oleh temannya.


''Jangan Brenda, kita bisa kena masalah jika ia pingsan''


''Baiklah tapi suruh dia diam, aku tak suka mendengar suara jeleknya'' ujar Brenda pada Yosita.


Brenda dan Yosita juga masuk ke penjara karena kasus kecelakaan, namun bukan seperti Devina yang memang sudah merencanakan. Kecekalakaan yang mereka alami murni suatu kecelakaan namun karena mereka lari dan tidak bertangung jawab sehingga korbannya tak selamat karena lambat mendaopatkan pertongan akhirnya mereka di penjara setelah tertangkap.


''Sekarang, kamu diam jika kamu tak mau kami pukuli lagi'' ujar Yosita penuh penekanan.


Mendapat tatapan tajam dari Yosita dan Brenda, Devina terdiam seribu bahasa, namun ia berjanji akan balas dendam pada keduanya jika ia sudah bebas. Ia tak tahu jika apa yang sudah ia lakukan akan berakibat buruk padanya, ia bahkan bisa di hukum mati karena apa yang di lakukannya termasuk kasus pembunuban berencana


Pagi berikutnya sekitar pukul 9 pagi, ada petugas lapas yang memanggil Devina dan mengatakan jika ada yang ingin menjenguknya. Ia sangat berharap bahwa yang datang adalah ibunya namun ia salah besar karena yang ada disana adalah sang ayah dengan tatapan yang membuat Devina merinding.


''Papa'' ujarnya ketika sudah duduk di hadapan sang papa. Ada sorot mata kerinduan dan juga rasa sakit dimata pak Haris namun ia tak tahu harus bagaimana mengekspresikannya.


''Kamu apa kabar?''


''A-aku ba-baik pah''


''Syukurlah kalau begitu''


''Mama mana pah''


''Mamamu sedang di kampung nenek, dia bilang ada yang mau di urus disana dan meminta agar papa saja yang menjengukmu''


Devina menatap sendu sang ayah, ia tak tahu harus mengataka apa, ia tahu jika ibunya tak sedang berada di kampung saat ini melainkan di rumah selingkuhannya.

__ADS_1


Devina sudah berjanji akan merahasiakan ini dari papanya, ia tak mau jika sang ibu berpisah dengan ayahnya.


__ADS_2