
Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah, pagi ini adalah pagi pertama aku kembali ke sekolah setelah beberapa hari absen.
Kali ini aku berangkat dengan menggunakan mobil milik kak Imel, motor yang biasa aku gunakan di pinjam oleh kak Calvin suami kak Imel.
Saat tiba di sekolah, suasana masih terasa sepi baru beberapa siswa yang datang. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan melihat siswa-siwi yang sudah datang, ketika melewati kelas Dea aku menoleh kedalam namun belum ku dapati Dea di dalam sana.
Saat akan kembali ke ruangan ku, aku melihat Dea berjalan dari arah gerbang sekolah. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu sehingga tak fokus berjalan, beberapa kali ia bahkan nyaris menabrak pot bunga.
Ia tak menyadari kehadiran ku, padahal aku ikut berjalan di sampingnya. Di ujung lorong yang seharusnya ia berbelok ia berjalan terus dan nyaris saja ia menabrak tembok yang ada di bawah tangga. Aku berinisiatif untuk berjalan di hadapannya sehingga tubuhku yang ia tabrak.
Ia meminta maaf karena tak sengaja menabrak ku, ia tak sadar jika aku yang ada di depannya. Ia baru menyadari kehadiran ku setelah aku berbicara kepadanya.
Seperti biasa pipinya akan bersemu merah ketika aku dekat dengannya. Ketika aku bertanya hal apa yang sudah membuat dia kepikiran hingga tak fokus berjalan, ia hanya menjawab tak ada apa-apa. Namun aku yakin jika dia sedang memikirkan sesuatu, akhirnya setelah ku tanya lagi, dia mengatakan jika saat berjalan ke sekolah tadi, dia berpapasan dengan seseorang yang mengendarai motor milik ku.
Aku mengatakan padanya jika yang mengendarai motor itu adalah kak Calvin suami kak Imel. Ingin rasanya aku berlama-lama berbicara dengannya namun tak jadi karena salah satu temannya yaitu Gema datang menghampiri kami.
Dengan tergesa-gesa Dea menarik Gema menjauh dari ku, Dea masih sangat takut jika orang lain tahu tentang hubungan kami. Aku dapat memaklumi hal itu, aku sangat ingin mengatakan pada semua orang jika Dea adalah milik ku namun aku ingin itu rerjadi ketika Dea sudah siap.
Hari ini proses belajar mengajar di tiadakan dikarenakan kami akan mengadakan rapat bersama ketua yayasan pemilik sekolah tempat ku mengajar.
Rapat akan kami mulai sekitar pukul 08:30, semua guru sudah berkumpul di aula sekolah ketika waktu menunjukkan pukul 08:15, kami hanya tinggal menunggu kedatangan ketua yayasan.
''Gimana semalam Vel?''
''Apanya yang gimana?''
''Apa yang kamu lakuin sama Dea di acara tadi malam?''
''Ngak lakuin apa-apa koq, menikmati acara seperti yang lainnya, kenapa?''
''Ngak aku kepo aja, hahahaha. Kamu nganter Dea pulang kan?''
''Iya dong, gini-gini aku calon suami yang bertanggung jawab'' ujar ku yang membuat Boy memanyunkan bibirnya, setelahnya kami tertawa berdua.
__ADS_1
Saat sedang asik bersenda gurau dengan Boy tiba-tiba saja Darmi salah satu sahabat Dea terlihat memanggil Boy.
Boy berjalan menghampirinya, mereka terlihat sedang membicarakan hal serius. Boy terlihat sesekali menoleh ke arah ku kemudian berbicara lagi dengan Darmi. Setelah Darmi pergi, Boy segera menghampiri ku kemudian membisikkan hal yang membuat ku langsung meninggalkan ruangan itu.
''Ada apa pak Marvel?'' Tanya salah satu rekan guru namun ku abaikan. Yang ada dalam pikiran ku saat ini hanya Dea, entah bagaimana keadaannya sekarang. Aku tak tahu jika hubungan ku dengannya bisa membuat dia menderita seperti ini, sudah kesekian kalinya ia di ganggu oleh mantan ku Selvy.
Aku segera mencari keberadaan Dea, terlihat di arah taman ada suara ribut-ribut juga banyak murid yang berkerumun. Mendekati kerumunan itu aku mendengar suara tangisan Dea dan suara beberapa orang yang sedang menghinanya.
Aku bergegas menerobos kerumunan siswa itu, aku terkejut melihat tampilan Dea. Ia terlihat sedang kedinginan, bibirnya menghitam dan wajahnya pucat, badannya juga menggigil.
Seluruh tubuhnya dari kepala sampai kaki basah kuyup penuh dengan telur dan tepung juga dedaunan.
Aku segera berjongkok dan memeluk Dea, aku tak peduli lagi dengan tatapan semua siswa yang ada disana. Tubuh Dea sangat dingin, aku memeluknya dengan erat tak peduli jika baju yang aku kenakan akan basah.
''Pppppp...pa..ppppak...'' ujar Dea bergetar kemudian menangis dalam pelukan ku, ia bahkan tak malu memeluk ku di hadapan semua yang melihat kami.
''Ngak usah di belain pak, baikan juga bu Selvy''
''Perusak hubungan orang''
''Dasar murahan''
''Cari-cari kesempatan tuh''
Itulah ucapan dari beberapa siswa yang melihat kami, aku sangat emosi mendengar hinaan-hinaan yang mereka tunjukkan pada Dea.
''Berhenti!!!!! Jangan pernah kalian menghina Dea, saya tidak suka jika ada yang menghina tunangan saya'' ujar ku menggendong Dea menuju ke klinik sekolah.
Aku melihat ekspresi terkejut semua yang ada di sana tak terkecuali Selvy, aku berjalan dengan cepat melewati semuanya.
''Dea..Dea'' ujar ku memanggil namanya saat suara tangisannya tak terdengar juga pelukannya tak terasa lagi.
Dengan setengah berlari aku menemui bu Ega, dokter yang bertugas di klinik sekolah.
__ADS_1
''Ada apa pak Marvel? Ada apa dengan Dea? Wajahnya sangat pucat dan badannya dingin?''
''Tolong Dea bu'' ujar ku meneteskan air mata melihat kondisi Dea.
Bu Ega dengan segera memeriksa keadaan Dea, setelahnya ia meminta ku menunggu di luar ruangan, ia harus mengganti pakaian Dea yang basah.
Dengan tak rela aku keluar dari ruangan itu, setelah 5 menit bu Ega kembali memanggil ku untuk masuk.
''Pak Marvel sebaiknya Dea di bawa ke rumah sakit saja pak'' ujar bu Ega yang membuat ku tambah khawatir dengan keadaan Dea.
''Baik bu'' ujar ku duduk di tepi ranjang dan menggosok telapak tangan Dea yang sangat dingin.
''Ayo pak Marvel, saya akan menemani bapak dan Dea''
Aku segera menggendong Dea menuju ke mobil yang berada parkiran sekolah, setelah membaringkan Dea di atas mobil, aku segera melajukan mobil menuju ke arah rumah sakit.
''Kenapa Dea bisa seperti ini pak?'' Tanya bu Ega.
''Ini semua karena ulah bu Selvy bu'' ujar ku geram.
''Apa seperti kejadian yang sudah-sudah?''
''Ini lebih parah bu, Dea disiram pake air es bekas ikan bu'' ujar ku yang membuat bu Ega terkejut.
''Cepat pak Marvel, tubuh Dea sangat lemah''
Aku menambah laju kendaraan menuju arah rumah sakit, sesampainya disana aku kembali menggendong Dea yang masih tak sadarkan diri menuju ke ruang UGD.
Aku membaringkan Dea di atas tempat tidur sedangkan bu Ega berbicara dengan dokter jaga yanga bertugas saat itu.
Dokter segera memeriksa keadaan Dea, beberapa perawat sedang memasang alat bantu pernafasan dan juga selang infus pada Dea.
Aku merasa sangat sedih melihat keadaan Dea saat ini, aku tak akan memaafkan kesalah bu Selvy kali ini. Dia sudah membuat orang yang aku cintai menderita, aku akan membuat perhitungan dengannya setelah Dea sudah lebih baik.
__ADS_1