
Dea masih tertidur ketika Marvel dan pak Bimo tiba di rumah sakit.
''Bagaimana keadaan Dea bu Ega?'' Tanya pak Bimo.
''Sudah lebih baik pak, tadi sudah sadar, cuma sekarang sedang tidur mungkin pengaruh obat yang dia minum tadi'' ujar bu Ega.
''Syukurlah kalau begitu''
''Iya pak, silahkan duduk''
''Kalian belum pulang?''
''Belum pak kita mau jagain Dea disini'' ujar Darmi dan di angguki oleh Sukma dan Gema.
Marvel memilih duduk di kursi yang ada di samping ranjang Dea, ia menggenggam tangan Dea kemudin meneteskan air matanya.
''Maafkan saya Dea, saya sudah bikin kamu seperti ini, maaf saya belum bisa jaga kamu sepenuhnya'' ujar Marvel lirih.
Pak Bimo dan yang lainnya memilih untuk keluar ruangan, ia ingin memberikan waktu untuk pak Marvel berbicara dengan Dea.
Selang oksigen masih terpasang di hidung Dea, Marvel yang melihat hal itu kembali menangis.
''Apa yang dokter katakan bu Ega?'' Tanya pak Bimo.
''Dokter bilang untung Dea cepat di bawa kemari pak, jika tidak mungkin kita tak akan bisa bertemu Dea lagi'' ujar bu Ega lemah.
Ketiga sahabat Dea sontak meneteskan air mata mendengar ucapan bu Ega.
''Apa separah itu bu?'' Tanya Sukma.
''Iya, detak jantung Dea tadi sudah sangat lemah hampir tak terdengar, badannya pun sudah sangar dingin. Tadi waktu pak Marvel bawa Dea masuk ke klinik, nadi Dea bahkan tak teraba lagi, bagaimana dengan bu Selvy pak?''
''Syukurlah jika sekarang Dea sudah baik-baik saja. Bu Selvy sudah saya kasih surat peringatan, jika ada kejadian seperti ini lagi, bu Selvy akan di keluarkan dari sekolah dengan tidak hormat juga di laporkan pada pihak yang berwajib''
''Syukurlah kalau begitu pak, saya geram mendengar apa yang di lakukannya pada Dea''
Di dalam ruangan, satu tangan Marvel terus menggenggam tangan Dea, sedangkan yang satunya lagi mengusap rambut Dea, ia terus meneteskan air mata melihat keadaan Dea.
''Maafkan aku sayang, aku gagal lagi menjagamu. Aku bahkan nyaris membuatmu dalam bahaya. Maafkan aku sayang, tolong jangan sakit, aku sedih melihatmu seperti ini'' ujarnya terus menangis.
Karena merasa ada suara orang di dekatnya Dea perlahan membuka matanya, ia tersenyum kala melihat pak Marvel ada di sampingnya.
''Pak'' ujarnya lirih, tak terasa air mata menetes di di pipinya, ia terharu melihat pak Marvel ada bersamanya.
''Kamu sudah bangun sayang'' ujar Marvel menghapus air matanya dan tersenyum sambil mengusap kepala Dea.
''Bapak kenapa menangis?'' Tanya Dea melihat mata Marvel yang sembab.
''Aku khawatir sayang''
''Saya tidak apa-apa pak, terimakasih sudah membela saya tadi''
''Sama-sama sayang, maaf aku sudah bikin kamu menderita karena hubungan kita''
''Tidak pak, bapak tidak salah apa-apa, bu Selvy hanya salah paham sama saya. Bapak jangan menangis lagi saya baik-baik saja'' ujar Dea mengusap air mata yang tersisa di pipi Marvel.
''Saya panggilkan teman-teman kamu ya, pak Marvel dan bu Ega juga ada'' ujar Marvel berjalan ke arah pintu kemudian memanggil semuanya untuk masuk.
Ketika melihat pak Bimo dan bu Ega serta ketiga sahabatnya masuk ke dalam ruangan itu, Dea tersenyum dan hendak duduk namun dilarang oleh bu Ega.
''Siang pak, bu'' ujarnya dari tempat tidurnya.
''Berbaring saja Dea'' ujar pak Bimo.
''Bagaimana keadaan kamu Dea?''
''Saya baik-baik saja pak, terimakasih sudah menjenguk saya''
__ADS_1
''Syukurlah kalau begitu, jika butuh sesuatu hubungi saja saya pak Marvel. Saya harus pamit karena ada kegiatan sore ini''
''Silahkan pak, terimakasih sudah menjenguk saya, hati-hati di jalan''
''Sama-sama Dea, saya pamit ya semuanya''
''Silahkan pak''
Setelah kepergian pak Bimo, tak lama bu Ega juga pamit pulang.
''Kalian sudah makan belum?''
''Belum pak''
''Kalian belum mau pulang kan? Saya titip Dea sebentar boleh?''
''Boleh pak''
''Aku keluar sebentar ya'' ujar Marvel mengusap kepala Dea.
''Iya pak''
Marvel keluar dari ruangan kemudian berjalan ke arah kantin rumah sakit, ia ingin membeli makan siang untuk ketiga sahabat Dea.
Tak sengaja ia bertabrakan dengan seorang wanita bersama anaknya.
''Loh vel, ngapain kamu disini?'' Tanya wanita itu yang ternyata Imelda kakak Marvel.
''Kak Imel, ini lagi mau beli makan siang kak''
''Makan siang? Buat siapa?''
''Buat teman-teman Dea kak''
''Teman Dea?''
''Iya mereka lagi jagain Dea di kamar''
''Ruang mawar kak yang di bangunan belakang itu''
''Emang Dea sakit apa?''
''Ceritanya panjang kak, nanti aku cerita kalau kita sudah pulang''
''Kamu ngak ngapa-ngapain Dea kan?''
''Ngak kak, kakak kesana aja duluan, aku mau beli makan untuk teman-tenan Dea dulu kak. Kasian mereka dari pagi jagain Dea disini''
''Kakak masih mau ke apotik dulu Vel, nanti kakak kesana ya''
''Iya kak''
Setelah membayar makanan yang ia pesan, Marvel kembali ke ruangan rawat Dea.
''Darmi, sukma, Gema kalian makan dulu, ini sudah waktunya makan siang'' ujar Marvel memberikan bungkusan nasi itu pada Gema.
''Terimakasih pak'' ujar Gema.
''Ayo kalian makan siang dulu, bapak cuma beli itu karena hanya itu yang ada di kantin''
''Ini sudah lebih dari cukup pak, terimakasih. Bapak tahu saja kalau saya sedang lapar'' ujar Gema.
Darmi, Sukma dan Gema makan siang di ruangan tempat mereka menunggu Dea bersama bu Ega tadi.
Tok..tok...tok..
''Selamat siang, saya mau mengantar makan siang untuk nona Dea'' ujar seorang perawat membawa nampan berisi semangkuk bubur juga lauk berupa daging ayam dan telur dan sebuah apel.
__ADS_1
''Terimakasih sus'' jawab Marvel dan Dea bersamaan.
''Makan dulu ya sayang'' ujar Marvel yang membuat Dea langsung melihat ke arah ketiga sahabatnya yang sedang makan.
''Mereka sudah tahu De, satu sekolah sudah tahu. Kita tak perlu menyembunyikan hubungan kita lagi''
''Siapa yang beritahu pak?''
''Saya Dea, saya tidak mau kamu selalu di ganggu oleh orang-orang. Ayo makan aku suapin ya''
Marvel mengambil sendok kemudian mulai menyendok bubur dan meniupnya kemudian menyuapi Dea.
''Apa saya ngak bisa duduk makan sendiri pak?''
''Ngak sayang, udah biar aku yang suapi kamu''
Marvel terus menyuapi Dea sambil terus mengajak Dea bercanda, ketiga sahabat Dea sangat bahagia melihat Marvel dan Dea.
Tok...tok..tok
''Masuk'' ujar Marvel.
Pintu terbuka menampakkan Imelda dan putrinya.
''Masuk kak'' ujar Marvel.
''Kak Imel'' ujar Dea lirih.
''Iya sayang, lanjut aja makannya sayang'' ujar Imelda.
Ia tersenyum kemudian menghampiri ketiga sahabat Dea yang sudah selesai makan siang.
''Halo semua, saya Imelda kakaknya Marvel, kalian sahabat Dea?''
''Iya kak saya Darmi, ini Sukma dan yang ini Gema''
''Salam kenal kak Imelda'' ujar ketiganya.
Marvel masih sibuk dengan kegiatannya menyuapi Dea, sedangkan Dea merasa malu dilihat oleh teman-temannya dan Imelda.
''Saya udah kenyang pak'' ujar Dea.
''Tinggal dikit ini, ayo aaaa.....''
''Saya benar-benar udah kenyang pak''
''Ya udah kalau gitu nih minum dulu sayang'' ujar Marvel membantu Dea minum.
''Jangan natap saya terus pak, saya malu'' ujar Dea dengan pipi yang mulai merona.
''Habis kamu udah bikin saya khawatir sayang, oh iya nenek belum tahu kamu disini''
''Apa bapak bisa ke rumah dan kasi tahu nenek saya disini, tapi jangan bilang penyebabnya nenek bisa ikutan sakit pak. Katakan saja jika penyakit magh saya kambuh''
''Tapi kenapa?''
''Saya tidak ingin nenek khawatir terus sakit pak'' ujar Dea. Sebenarnya bukan karena itu, namun ia tak ingin Marvel di salahkan dalam hal ini.
''Maafkan saya ya Dea, karena saya kamu jadi seperti ini''
''Ini bukan salah bapak, anggap saja ini ujian buat kita'' ujar Dea menatap Marvel.
''Ini belum bisa di lepas pak, hidung saya gatal pake ini'' ujar Dea hendak melepas selang oksigen yang menempel pada hidungnya.
''Ngak boleh sayang tunggu dokter dulu baru boleh lepas''
''Tapi hidung saya geli pak''
__ADS_1
''Ngak apa-apa sayang, atau kamu mau saya yang kasi nafas buatan''
''Eh.. ngak pak''