MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
BIKIN BAPER (POV AUTHOR)


__ADS_3

Ibu-ibu yang berada di dapur terus menggoda Dea bahkan setelah Marvel tak ada lagi di sana.


''Neng Dea sudah lama tunangan sama pak Marvel?''


''Baru dua tahun bu''


''Ibu doain hubungan neng Dea dan pak Marvel sampai ke tahap pernikahan dan sampai menua bersama''


''Amin, terimakasih bu''


Di luar rumah para laki-laki bahu-membahu memasang tenda dan menata kursi yang akan di gunakan pada saat acara syukuran berlangsung nanti.


''Nak Marvel, coba liat di dalam apa masakan ibu-ibu sudah siap untuk di santap siang ini?'' Tanya paman Zei pada Marvel yang sedang menata kursi.


''Iya paman'' Marvel berjalan masuk ke dalam rumah menuju ke tempat dimana para ibu terlihat sedang menyiapkan menu makan siang.


''Ada apa kak?'' Tanya Dea melihat Marvel celingukan di dalam rumah.


''Makanan buat makan siang sudah siap belum sayang?''


''Sudah kak, apa sudah mau di bawa keluar?''


''Iya sayang kata paman jika sudah siap bawa keluar sekarang''


''Baiklah kami akan membawanya keluar kak'' ujar Dea. Ia segera menghampiri ibu-ibu dan memberitahu apa yang di sampaikan oleh Marvel.


Marvel segera keluar dari dalam rumah dan memberitahu paman Zei jika maka siang sudah siap, segera paman Zei memanggil semua yang ada disana untuk berkumpul dan makan siang.


Dea bersama dengan para ibu juga Darmi serta Sukma membantu membawa menu makan siang ke luar rumah, mereka menatanya di atas meja yang sudah di siapkan.


Setelah semua sudah terhidang di atas meja, seorang bapak memimpin doa makan sebelum mereka semua makan siang.


''Ayo semua dinikmati sajian ala kadarnya'' ujar paman Zei mempersilahkan orang-orang untuk makan.


Semua orang menikmati makan siang dengan lahap, Dea dan ibu-ibu juga menikmati makan siang. Setelah makan siang, Dea masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar dimana bi Tina dan Zeina berada.


''Apa bibi sudah mau makan sekarang?' Tanya Dea pada bibinya yang memang belum makan siang sedari tadi.


''Belum nak, bibi belum lapar. Oh iya apa semuanya sudah selesai?''


''Sudah bi, sebaiknya bibi makan dulu, adek Zeina juga lagi anteng. Biar Dea yang temani adek Zeina main disini bibi makanlah dulu'' ujar Dea mulai menoel-noel pipi sang adik.


''Kamu lucu banget sih sayang, kakak jadi gemas pengen cubit pipi kamu, tapi nanti kamu nangis'' ujar Dea terus mengusap-usap tangan mungil baby Zeina yang terus bergerak-gerak.


''Kamu sudah makan nak?'' Tanya bi Tina yang hendak menyuap makanan kedalam mulutnya.


''Sudah bi, Dea baru saja habis makan siang dengan semuanya'' ujar Dea yang tetap fokus pada si kecil Zeina.

__ADS_1


''Bibi makan dulu ya, tolong liat adek Zeina''


''Iya bi, bibi makanlah yang tenang, biar adek Zeina jadi urusannya Dea'' ujar Dea tersenyum riang.


''Bi, boleh ngak adek Zeina aku gendong?''


''Tentu saja boleh sayang'' ujar bi Tina tersenyum ke arah Dea.


''Tapi emang kamu bisa gendong bayi?'' Goda bi Tina.


''Hehehehe ngak bi'' ujar Dea kemudian tertawa.


Bi Tina hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban Dea. Baby Zeina menggeliat beberapa kali saat Dea mengusap-usap pipinya membuat Dea gemas.


Setiap Dea meletakkan tangannya di pipi Zeina, Zeina langsung ingin melahap tangan Dea. Zeina tetap tenang bahkan setelah ibunya selesai makan, akhirnya bi Tina memutuskan untuk melipat pakaian Zeina yang telah di cuci.


''Apa adek Zeina lapar?'' Tanya Dea pada bibinya yang sedang melipat baju Zeina.


''Memangnya kenapa De?''


''Setiap Dea elus-elus pipinya dia langsung mau makan tangan Dea'' uajr Dea kemudian tertawa.


''Dia haus De'' ujar bi Tina bangkit dari duduknya dan mulai menggendong Zeina dan memberinya ASI.


''Uluh-uluh ternyata adik kakak lapar toh'' ujar Dea melihat baby Zeina yang sedang meminum ASI dengan lahapnya.


''Kalau begitu, Dea ke dapur lagi ya bi mau bantu-bantu disana'' ujar Dea turun dari ranjang dan mengambil piring bekas makan bibinya yang ada di atas meja.


''Iya bi''


Dea keluar dari kamar dengan tersenyun, ia masih mengingat bagiamana lucunya ketika baby Zeina sedang menggeliat dan ingin melahap jari-jari Dea.


Dea tak menyadari jika sedari tadi Sukma dan Darmi memanggilnya, sampai ia hampir menabrak dinding jika saja Marvel tak berdiri di depannya.


''Eh'' ujar Dea ketika ia menabrak tubuh Marvel.


''Ngapain kamu senyum-senyum begitu, melamun sampai ngak liat-liat jalan'' ujar Marvel mencubit gemas hidung Dea.


''Lagi kesambet mungkin pak, dari tadi kita panggil-panggil juga ngak nyaut-nyaut, malah senyum-senyum ngak jelas'' ujar Sukma.


Dea hanya bisa terkekeh mendengar ucapan Marvel dan Sukma.


''Kamu lagi mikirin apa sih sayang koq sampai ngak liat jalan?''


''Tadi Dea cuma mikirin adek Zeina kak, Dea gemas karena tadi jari Dea hampir di makan sama adek Zeina'' ujar Dea yang membuat Marvel dan kedua sahabatnya bingung.


''Emang Zeina bisa makan tangan kamu De?'' Tanya Darmi.

__ADS_1


''Maksud Dea, tadi Dea noel-noel pipi Zeina, eh tangan Dea malah mau di makan sama dia'' ujar Dea kemudian kembali tertawa.


''Itu kamu yang usil De, dia pikir itu makanan dia'' ujar Sukma.


''Kamu gemas sama adek Zeina?'' Tanya Darmi.


''Iya dong Mi, siapa yang ngak gemas liat bayi, apa lagi kalau lucu seperti Zeina'' ujar Dea dengan senyum gembiranya.


''Ya udah cepat nikah sama pak Marvel terus buat juga ponakan buat kami'' ujar Sukma yang membuat pipi Dea langsung memerah.


Ia berlalu meninggalkan kedua sahabatnya dan Marvel yang tertawa melihat rona merah di pipi Dea.


''Ngomong apa sih Sukma itu, mana ada pak Marvel lagi'' gumam Dea sambil berjalan menuju ke dapur. Ia meletakkan piring bekas makan bibinya di wastafel kemudian mencucinya.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di pipi sebelah kirinya membuat Dea terperanjat, ia segera berbalik dan terkejut melihat Matvel berada di belakangnya.


''Loh koq aku di cium sih?''


''Habis tadi kamu manggil saya pak, itu hukumannya. Oh iya aku mau mandi dulu, aku dan paman mau keluar sebentar, kami mau menjemput keluarga paman yang datang dari kampung''


''Hati-hati ya kak''


''Iya sayang, aku mandi dulu ya''


''Iya kak, pakaian gantinya sudah di ambil belum?''


''Sudah nih'' ujar Marvel menunjukkan baju dan celana yang ada di tanagnnya.


Dea tersenyum kemudian membilas piring yang ada di tangannya.


Setelah selesai dengan cucian piring, Dea kembali masuk ke bagian dapur dimana para ibu masih sibuk dengan peralatan dapur.


''Neng Dea sama pak Marvel bikin kita-kita baper nih'' ujar yu Ana melihat Dea yang duduk di samping bu Ani.


''Eh, baper gimana bu?''


''Kita liat loh tadi'' ujar yu Ana menempelkan tangannya ke pipi sebelah kirinya.


Dea mengerti apa yang dimaksud oleh yu Ana sontak saja tersipu malu, bagaimana tidak malu ternyata ada yang melihat saat Marvel mencium pipinya tadi.


''Ya ngak apa-apa to, lagi pula jika menurut adat mereka sudah suami istri, betul kan neng?'' ujar bu Sulis kembali menggoda Dea.


Pipi Dea semakin bersemu merah di goda oleh ibu-ibu yang berada di sana sedangkan Dea malah berusaha agar ia tak terlihat malu. Dea menyibukkan dirinya dengan membantu bu Ani membersihkan sawi yang akan di campur pada mie goreng.


Sekitar pukul 2 siang semua kegiatan telah selesai, menu makanan sudah matang, tenda dan kursi juga sudah tersusun rapi di halaman. Paman Zei dan Marvel juga sudah pulang dari menjemput keluarga paman sejak 20 menit yang lalu.

__ADS_1


Karena cuaca yang kurang bersahabat ibadah syukuran di laksanakan lebih cepat dari yang dijadwalkan. Semua berjalan dengan lancar tanpa adanya kendala membuat semua merasa sangat bersyukur.


Paman Zei membagikan sedikit rejeki kepada semua orang yang sudah membantu dalam pelaksanaan syukuran ini. Aku dan yang lainnya juga dapat, awalnya kami menolak tapi karena kata paman itu adat mereka dan wajib di terima mau tak mau kami harus menerimanya.


__ADS_2