MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
BALAS DENDAM? (POV AUTHOR)


__ADS_3

Mereka akhirnya tertidur setelah cukup lama berbincang-bincang. Bu Valencia tidur di antara Marvel dan Dea.


Malam berlalu dengan cepat dan berganti dengan pagi yang cerah, sudah sejak subuh tadi Dea terbangun karena memang seperti itulah kebiasaanya.


''Pagi pak'' ujar Dea melihat Marvel yang masuk ke dapur dengan mengusap-ngusap wajahnya.


''Pagi sayang, kamu sedang aap?''


''Mau ke kebun pak. Bapak minum dulu minuman hangatnya atau bapak mau sarapan?''


''Minum aja De, aku belum lapar''


''Hm, baiklah'' Dea menuangkan segelas minuman hangat untuk Marvel dan memberikannya pada Marvel.


''Terimakasih sayang''


''Aku ke belakang dulu ya pak mau metik sayur pesanan ibu-ibu''


''Baik sayang'' ujar Marvel kemudian menyeruput minuman hangatnya.


Dea mengambil keranjang dan tali untuk mengikat sayuran kemudian menuju ke kebun di belakang rumah.


''Dea mana?'' Tanya bu Valencia menghampiri Marvel yang duduk di depan tungku api.


''Dea ada di sana mah'' tunjuk Marvel ke arah kebun yang memang terlihat jika kita sedang duduk di dapur.


''Ngapain Dea disana?''


''Dea lagi petik sayur mah buat di jual di kios''


''Emang banyak yah sayur disana?''


''Banyak mah, ada sayur kangkung, bayam, sawi, kacang panjang, pare, ada juga tomat, lombok dan cabe''


''Banyak sekali ya Vel, mama mau kesana liat Dea'' bu Valencia melangkah keluar dari dapur menuju ke tempat dimana Dea sedang sibuk mengikat sayur-sayuran.


''Pagi sayang'' sapa bu Valencia.


''Eh, pagi mah'' ujar Dea.


''Mama butuh sesuatu?'' Tanya Dea menghentikan aktifitasnya.


''Ngak sayang, mama cuma pengen lihat kamu aja''


''Dea lagi metik sayur mah buat di jual di kios''


''Banyak sekali sayurnya sayang, ini kamu yang tanam?''


''Iya mah, aku dan bibi yang tanam. Lumayan buat nambah-nambah pemasukan''


''Kamu memang terbaik sayang''


''Mama mau sarapan?''


''Ini kan baru jam 6 sayang masa sudah mau sarapan?''


''Dea biasanya sarapan jam 5 mah, oh iya mama mau minuman hangat biar Dea ambilkan'' ujar Dea hendak berdiri.


''Ngak usah sayang nanti mama ambil kalau mama ingin, kamu lanjutkan saja ikat sayurnya. Mama bantu ya? Dulu mama juga bantu nenek mama waktu kecil jadi mama tahu sedikit cara metik sayur''


''Tapi ini kotor mah''


''Ngak apa-apa sayang lagian mama sudah lama ngak ke kebun seperti ini. Boleh mama bantuin kamu ya?


''Iya mah'' ujar Dea tersenyum.

__ADS_1


''Terimakasih sayang'' ujar bu Valencia memeluk Dea.


Mereka berdua kemudian asyik dengan kegiatan memetik sayur.


''Neng Dea'' panggil bu Tiwi yang datang ke kebun


''Iya bu, ada apa?''


''Sayur kangkung, sawi, sama cabenya masih banyak ngak?'' Tanya bu Tiwi setelah dekat dengan Dea.


Ia juga tersenyum kepada bu Valencia dan bu Valencia melakukan hal yang sama.


''Masih ada bu, ibu mau?''


''Bukan ibu yang mau De tapi anak ibu. Katanya ada acara di kampusnya, mereka butuh sawi, kangkung sama cabe''


''Oh gitu bu, masih banyak sayurnya bu kalau cabe paling tinggal 10 kilo''


''Kalau gitu ibu mau kangkungnya 20 ikat, sawi juga 20 ikat, terus cabenya 5 kilo''


''Ok bu, saya petikkan dulu ya nanti kalau sudah, saya antar ke rumah ibu''


''Baik neng, ibu permisi dulu ya. Bu saya permisi'' pamit bu Tiwi pada Dea dan bu Valencia.


''Ya udah kamu petik cabenya saja mama bantu kamu petik sayur''


''Iya mah, mama yakin mau bantu Dea? Ini banyak loh ma''


''Iya sayang''


''Aku bantu juga ya'' ujar Marvel menghampiri keduanya.


''Emang kamu bisa?'' Ujar bu Valencia dengan nada mengejek pada putranya.


''Yakin, kalau kamu rusakin tanaman Dea awas kamu''


''Iya mama ku yang cantik''


''Ya udah mending kamu petik cabenya sama Dea biar cepat, mama nyabut sayurnya nanti Dea yang ikat soalnya mama ngak tahu''


''Aku bantuin ya sayang''


''Iya pak''


Mereka bertiga sibuk dengan kegiatan masing-masing dan hal itu di lihat oleh bu Tiwi dan nek Diah.


''Beruntung sekali neng Dea bisa mendapatkan orang-orang sebaik mereka nek''


''Iya bu, nenek juga sangat bersyukur''


''Neng Dea memang baik nek jadi wajar saja jika neng Dea juga mendapatkan jodoh yang baik pula'' ujar bu Tiwi.


''Lagi liatin apa sih?'' Tanya bu Mira.


''Itu neng Dea sama pak Marvel dan ada seorang ibu lagi. Nek ibu itu siapa?'' Tanya bu Tiwi yang memang sejak tadi penasaran.


''Itu ibunya pak Marvel bu''


''Jadi itu mertua Dea'' ujar bu Tiwi.


''Iya bu''


''Wah neng Dea memang beruntung bisa mendapatkan ibu mertua seperti beliau. Sepertinya beliau sangat ramah dan penyayang''


''Ia bu, beliau sangat menyayangi Dea''

__ADS_1


Di saat bu Tiwi, bu Mira dan nek Diah bersyukur atas apa yang Dea dapatkan ada bu Weni yang sedang menatap mereka dengan wajah masam.


''Jika anak ku tak mendapatkan pak Marvel itu, aku akan membuat Dea juga tak bisa mendapatkannya'' ujar bu Weni yang di dengar oleh Lastri dan membuatnya tersenyum bahagia.


'Ternyata bukan hanya aku yang mau mereka berpisah. Aku harus mengajak ibu itu bekerja sama' batin Lastri.


''Maaf tadi ibu ngomong apa tentang ponakan saya?'' Tanya Lastri pura-pura marah.


''Eh, i-it..itu saya ngak ngomong apa-apa''


''Ngak usah bohong bu saya dengar semuanya''


''Benar saya ngak ngomong apa-apa''


''Ucapan ibu tadi sudah saya rekam loh, ibu bisa saya laporkan pada Dea'' ujar Lastri berbohong.


''Eh'' bu Weni membulatkan kedua matanya.


''Saya mau ibu kerjasama dengan saya jika tak ingin saya melaporkan ini sama Dea''


''Kerjasama?''


''Iya''


''Saya harus apa?'' Tanya bu Weni. Ia sangat takut jika Dea sampai tahu ucapannya tadi.


''Ibu tidak suka kalau mereka bahagia kan?''


''Iya''


''Kalau gitu aku akan bantu ibu buat memisahkan mereka'' ujar Lastri yang membuat bu Weni membulatkan keduan matanya.


''Maksudnya bagaimana? Bukankah Dea itu ponakan kamu?''


''Iya tapi aku tak suka melihatnya bahagia di atas penderitaan sahabatku. Harusnya Marvel itu menjadi suami sahabat ku, tapi tak tahu kenapa dia malah memilih Dea yang sama sekali tak ada apa-apanya dibanding dengan Devina''


''Devina? Bukankah itu wanita yang dulu pernah datang dan merusak kios nenek Dea?''


''Iya betul, dia adalah sahabat saya. Dari kuliah sampai sekarang dia terus berharap jika Marvel akan mencintainya tapi Marvel tak pernah membalas cintanya. Ibu mereka juga pernah menjodohkan mereka namun Marvel menolak. Aku sudah berjanji jika aku akan membuat Marvel menikah dengannya. Apapun akan aku lakukan demi kebahagiaan sahabat ku itu''


''Baiklah saya akan bantu kamu'' ujar bu Weni.


''Kalau ibu kenapa tak suka dengan Dea?'' Tanya Lastri.


''Dulu saya juga ingin anak saya berkenalan dengan Marvel namun Dea tak pernah mau membantu. Saya pikir itu karena dia tak mau mengurusi hidup gurunya itu, namun ternyata saya salah, Dea juga menaruh hati pada gurunya itu. Jauh sebelum mereka bertunangan pak Marvel memang sudah sering datang kemari, entah itu hanya mengantar Dea atau yang lainnya ibu ngak tahu. Karena sering melihat pak Marvel, anak saya jatuh hati pada pak Marvel, jadi saya berniat mendekatkan mereka namun tiba-tiba saja pak Marvel melamar Dea. Anak saya jadi sakit hati dan beberapa hari ia tak mau makan''


''Jadi anak ibu juga suka sama Marvel?''


''Iya, tapi anak saya sudah tidak menyukainya lagi, dia sudah move on dan sudah mendapat laki-laki yang lebih baik. Saya akan bantu kamu buat misahin mereka setidaknya sakit hati anak saya terbalaskan''


''Bagus kalau begitu. Ini rencananya...'' Lastri memberitahu bu Weni apa yang ia rencanakan untuk memisahaan Dea dan Marvel.


Bu Weni hanya manggut-manggut mendengar rencana Lastri namun ia juga tersenyum mendengarnya.


''Saya setuju, saya akan bantu sebisa saya'' ujar bu Weni bersemangat.


''Baiklah kalau begitu saya masuk dulu. Saya tidak ingin ada yang curiga jika melihat kita'' ujar Lastri bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang ada di belakang rumah, karena tujuan memang akan kesana tadi. Bu Weni juga memilih untuk kembali ke rumahnya.


Rencana balas dendam? Entah apa yang ada di pikiran bu Weni sehingga ia sangat benci pada Dea, toh bukan salah Dea jika Marvel memilihnya, itu semua sudah takdir untuknya.


Tuhan begitu baik pada Dea, apa yang di katakan oleh bu weni dan Lastri tadi di dengar oleh seseorang yang berada sangat dekat dengan mereka namun mereka tak menyadarinya karena mereka sibuk berbicara.


Bi Tina adalah orang yang sudah mendengar semuanya, tadinya ia ingin mengambil sayur yang sudah di petik oleh Dea namun ia melihat bu Weni sedang bersama Lastri. Ia memutuskan untuk mendengar apa yang mereka bicarakan, bi Tina bersembunyi di balik seprei yang sedang di jemur di samping rumah.


Diam-diam bi Tina merekam apa yang mereka katakan tadi.

__ADS_1


__ADS_2