MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
CIUMAN PERTAMA (POV MARVEL)


__ADS_3

Beberapa hari belakangan aku semakin merasa nyaman saat berada di dekat Dea. Aku menjadi guru pembimbing untuk Dea karena ia akan mengikuti lomba mewakili sekolah kami.


Aku sangat senang setiap kali kami melakukan bimbingan, aku bisa dengan puas menatap Dea. Berdekatan dengannya mampu membuat ku tak bisa untuk tak menggodanya.


Sengaja aku meminta waktu agar keberangkatan kami ke kota M untuk mengikuti lomba di percepat sehari. Bukan tanpa sebab aku melakukan itu, aku ingin agar semua siswa dan siswi yang ikut lomba bisa beristirahat sehari sebelum mereka memulai lomba.


Jarak dari kota tempat tinggal kami ke kota M sekitar 300 kilometer, sehingga membutuhkan waktu sekitar 8-9 jam untuk tiba di sana. Jadi jika kami berangkat hari selasa maka itu akan lebih baik bagi siswa agar mereka bisa istirahat lebih dulu, terutama Dea. Aku dengar Dea mabuk perjalanan oleh sebab itu aku meminta berangkat sehari lebih awal agar meski ia mabuk perjalanan ia masih punya waktu untuk memulihkan diri sebelum lomba.


Aku begitu bahagia saat kami sebagai guru pembimbing diberikan tempat duduk yang sama dengan murid bimbingan kami. Ada 4 orang murid yang ikut lomba dan ada 5 orang guru yang akan mendampingi termasuk pak Bimo.


Saat kami akan berangkat, Dea menatap ku saat aku duduk di kursi yang berseblahan dengan kursi miliknya.


Aku menarik tangannya agar ia duduk di sebelah ku, bahagia rasanya bisa duduk bersamanya. Dalam hati aku berdoa semoga suatu hari nanti aku dan dia bisa duduk bersama seperti ini di altar pernikahan.


Ku berikan obat yang biasa orang-orang konsumsi saat mabuk perjalanan, aku berharap itu bisa sedikit membantunya. Aku juga sudah menyiapkan kantong muntah dan juga minyak angin untuknya.


Setelah meminum obat, Dea terlihat duduk sambil melihat-lihat ke luar mobil. Ia duduk di kursi yang dekat dengan jendela sehingga ia bisa melihat apapun yang ia inginkam sepanjang jalan.


Baru beberapa menit mobil bus berjalan, ia sudah merebahkan kursinya, saat kutanya apa ia mengantuk? Dea hanya mengangguk tanpa menjawab dan tak lama setelahnya ia tertidur lelap.


Aku memandang wajahnya yang mungil dan menggemaskan, ingin rasanya aku memeluknya namun aku takut ia terganggu dan terbangun.


''Pak Marvel'' ujar pak Bimo yang duduk di kursi bagian depan ku.


''Iya pak''


''Bagaiman keadaan Dea?''


''Dea sudah tidur pak''


''Baguslah, tolong jaga dia pak Marvel, saya dengar dia mabuk perjalanan''


''Iya pak, saya sudah berikan obat, mudah-mudahan saja bisa membantunya''


''Baiklah kalau begitu, saya mau tidur dulu pak Marvel''


''Silahkan pak Bimo''

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam, kami singgah untuk makan siang. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, ku coba untuk membangunkan Dea yang masih tertidur lelap.


''Dea bangun'' ujar ku di depan wajahnya sembari menepuk-nepuk pipinya secara perlahan. Tak lama ia membuka mata dan secara mendadak mengangkat wajahnya, aku yang tak siap dengan hal itu membuat ku tak langsung mengangkat wajahku sehingga bibir kami bersentuhan.


Dea membuka matanya dan terkejut mendapati wajahku tepat di depan wajahnya. Mungkin karena terkejut ia hanya berkedip dan hal itu membuat ku semakin gemas padanya.


''Maaf..maaf Dea, saya tidak sengaja'' ujar ku berpindah dan duduk di kursi ku.


Dea hanya terdiam tapi aku dapat melihat jika pipinya bersemu merah.


''Ayo kita turun saatnya makan siang'' ujar ku mengajaknya turun karena yang lain juga sedang turun.


Dea hanya mengangguk dan mengikuti ku, awalnya aku ingin memegang tangannya namun urung ku lakukan karena aku masih tak bisa mengendalikan perasaan yang bergejolak di dalam dada ku setelah mencium bibir mungilnya.


Saat kami makan siang, Dea hanya diam menikmati makan siangnya, beberapa kali tatapan kami bertemu namun ia langsung menunduk dengan pipi yang masih merona.


'Dea.. Dea. kamu bikin aku ingin segera memiliki mu' batin ku.


Dea hanya menjawab beberapa pertanyaan yang di ajukan oleh pak Bimo dan guru-guru pembimbing yang ikut. Setelah makan siang dan istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan kami.


Saat kembali duduk di dalam bus, aku dan Dea merasa agak canggung satu sama lain, hingga akhirnya ia membuka suara.


''Saya juga minta maaf Dea, itu juga bukan salah kamu itu kesalahan saya yang tidak hati-hati''


''Saya hanya tidak ingin bapak berpikir jika saya mencari-cari kesempatan, saya..'' ujarnya terputus aku melihat ada bulir bening yang jatuh di pipinya.


Aku jadi merasa bersalah padanya, meski hal itu tak di sengaja tapi rupanya hal itu membuatnya terluka.


''Saya tidak berpikir seperti itu Dea'' ujar ku langsung memeluk nya.


''Saya benar-benar minta maaf pak'' ujar nya lirih dalam pelukan ku.


''Saya yang minta maaf Dea, sudah membuat kamu sedih. Semua itu terjadi begitu saja, lagi pula saya harusnya berterima kasih sama kamu'' ujar ku mengurai pelukan dan mengusap air matanya.


Dea menatap ku dengan mata yang berkaca-kaca, aku dapat melihat tatapan tulus di matanya.


''Jangan menangis lagi, saya berterimakasih karena kamu sudah mempermudah perjuangan saya''

__ADS_1


''Maksudnya pak?''


''Ya perjuangan untuk mendapatkan kamu, kejadian tadi akan jadi kenangan indah yang akan selalu aku ingat'' pipinya kembali merona mendengar ucapan ku.


''Tapi pak, saya malu itu pertama kalinya saya berciuman'' ujarnya menunduk dan bersembunyi di balik selimutnya.


''Berarti saya yang mendapatkan first kiss kamu, beruntungnya aku'' ujar ku yang membuatnya berbalik badan bersembunyi di balik selimutnya.


Aku tau pasti dia sedang merasa malu saat ini.


''Dea'' aku menepuk pelan bahunya.


Dia diam saja tak menjawab hanya bahasa tubuhnya yang mengatakan jika ia sedang mencoba untuk tak menghiraukan ku.


''Dea, kalau kamu ngak balik badan aku cium lagi'' Dea langsung berbalik dan mengeluarkan kepalanya dari balik selimut.


''Ada apa pak?'' Tanyanya malu-malu.


''Ngak ada apa-apa, terimakasih ciumannya. Tidurlah perjalanan kita masih jauh''


Dia memasukkan kepalanya kembali ke dalam selimut, tak lama setelahnya ia benar-benar tertidur.


Kurapihkan selimut yang menutupi badannya, ku pandangi lagi wajahnya yang sangat imut saat sedang tertidur lelap. Pandangan ku terhenti pada bibir mungilnya, aku membayangkan lagi kejadian tadi dan membuat ku tersenyum.


Tak di pungkuri jika aku ingin mengulang kejadian tadi, meski hanya sekilas tapi mampu membuat ku merasa sangat bahagia.


Di kota ini kami akan menginap di rumah milik pak Bimo, rumah ini hanya di gunakan beliau saat ada kegiatan di kota ini, namun meski begitu rumah ini sangat terawat di karenakan ada orang yang dibayar untuk merawatnya.


Saat kami tiba di rumah milik pak Bimo, penjaga rumah itu menyambut kedatangan kami dengan sangat ramah.


''Malam pak Bimo dan semuanya'' ujarnya membuka pintu rumah.


''Malam juga mang Diman, bagaimana kabarnya?''


''Puji Tuhan saya baik pak, mari saya bawakan barang-barangnya'' ujar mang Diman ingin membawakan barang-barang kami.


''Terimakasih mang Diman, ini saya bisa bawah sendiri, mang Diman bisa bantu ibu-ibu guru yang disana'' ujar ku menunjuk bu Siska dan bu Susi.

__ADS_1


''Baiklah pak''


Aku membawa koper ku dan Dea sedangkan tas kecil ku dibawakan oleh Dea beserta ransel kecilnya.


__ADS_2