
Setelah menyiapakan semua keperluan untuk melahirkan, Dea, mbok Namu dan juga Jessy segera berangkat ke rumah sakit Pertiwi dengan menggunakan taksi online.
"Apa masih terus sakit nak?" Tanya mbok Namu.
"Iya bu, tapi masih belum terlalu sakit, tapi sudah ada bercak darah sedikut bu" ujar Dea, ia melihat ada bercak darah saat ia buang air kecil tadi.
"Ini mau lahiran bu?" Tanya supir taksi online.
"Iya pak"
"Kita lewat jalan pintas saja ya bu, biar lebih cepat tiba di rumah sakit"
"Iya pak"
Supir taksi melajukan kendaraannya keluar dari jalur utama memasuki lorong-lorong yang ternyata terhubung langsung ke parkiran rumah sakit.
Dea segera menuju ke ruang IGD setelah turun dari taksi, ia memberikan uang pada Jessy untuk membayar ongkos taksi sebab Dea merasakan jika ada yang basah di bagian bawah tubuhnya.
"Siang dokter saya mau melahirkan, sepertinya ketuban saya sudah pecah" ujar Dea pada seorang dokter jaga sambil memegangi perutnya yang terasa semakin sakit.
"Silahkan berbaring bu, biar kita periksa" ujar dokter itu.
"Sudah pembukaan 8 bu, sebentar lagi bayi akan lahir. Kami akan segera memindahkan ibu ke kamar bersalin"
"Baik dokter kebetulan saya sudah menghubungi dengan dokter Renata sebelum kemari"
"Sus, segera kabari dokter Renata jika pasiennya sudah sampai dan akan kita antarkan ke ruang bersalin jangan lupa katakan jika sudah pembukaan 8''
"Baik dok" ujar perawat itu dengan cepat melakukan semua yang di katakan oleh dokter.
Dea segera di pindahkan ke ruang bersalin di ikuti oleh mbok Nmau dan Jessy yang dengan setia menunggu Dea di depan ruang bersalin.
"Lancarkanlah persalinan nak Dea ya Tuhan, lindungilah ia dan bayinya" ujar mbok Namu dan di aminkan oleh Jessy.
Dea di dorong masuk ke ruang bersalin dimana sudah ada dokter Renata dan juga seorang pasien yang juga akan melahirkan.
"Ini laporannya dari UGD dok" ujar perawat yang mengantarkan Dea.
"Rupanya sudah pembukaan 8"
"Saya rasanya ingin buaang air besar dok" ujar Dea.
"Saya cek lagi ya pembukaannya"
"Iya dok" ujar Dea tetap tenang meski hatinya berdebar-debar karena merasa takut jika terjadi sesuatu padanya atau bayinya.
"Tarik nafas dalam-dalam ya rileks saja saya mau periksa dulu"
"Sudah pembukaan sembilan, sebentar lagi bayi akan lahir jangan panik ya tetap fokus untuk mengejan" ujar dokter Renata setelah memeriksa keadaan Dea.
"Iya dokter, pasien yang ada aadi samping itu mau melahirkan juga ya?" Tanya Dea sebab pasien yang berada di samping tempatnya berbaring berteriak-teriak. Dea tak bisa melihatnya sebab mereka di batasi oleh tirai.
__ADS_1
"Iya bu"
"Bu dokter, bu Regina tidak mau mengejan padahal bayinya sudah berada di pintu" ujar seorang bidan menghampiri dokter Renata.
"Saya periksa bu Regina dulu ya bu"
"Iya dokter silahkan" ujar Dea.
Dea yang mendengar pasien yang juga sedang berjuang melahirkan itu berteriak-teriak membuat Dea sempat panik, namun ia mengingat pesan mbok Namu jika melahirkan harus selalu berpikiran positif dan nikmati rasa sakitnya agar prosesnya lancar.
"Semoga semuanya baik-baik saja" doa Dea dalam hati.
"Silahkan masuk pak Marvel, bu Regina ada di ranjang sebelah sana" ujar seorang perawat yang membuat hati Dea berdebar-debar.
"Terimakasih sus" jawaban dari orang itu membuat Dea semakin berdebar-debar.
Dea tahu betul siapa pemilik suara khas itu, Dea segera menutupi wajahnya dengan sebuah handuk kecil yang berada di dekatnya sebab orang itu berjalan mendekat ke arah tempat Dea.
"Maaf pak yang sebelah" ujar perawat itu.
Dea merasa lega karena Marvel tak jadi membuka tirai dimana Dea berbaring.
''Ayo pak silahkan di dampingi istrinya" ujar dokter Renata.
Setelah beberapa kali terdengar suara teriakan akhirnya terdengar suara tangisan bayi dari samping ranjang Dea.
"Selamat ya pak Marvel, bu Regina, anaknya sudah lahir dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun"
Dea menangis haru mendengar suara tangisan bayi mungil itu, kini giliran dirinya yang harus berjuang untuk melahirkan.
Dea merasakan jika perutnya sudah terasa sangat mulas, jadi mau tidak mau ia harus memanggil perawat untuk memeriksa apakah ia sudah mau melahirkan atau belum.
"Sus" ujar Dea di sela-sela ringisanya menahan rasa sakit di perutnya. Meski rasanya sangat sakit namjn Dea tak ingin bermanja-manja sebab tak ada yang akan menemani dirinya.
"Iya bu Dea"
"Sepertinya saya sudah mau lahiran bu bidan" ujar Dea, ia tak peduli lagi jika Marvel akan mendengar suaranya yang ia pikirkan hanya proses melahirkan sebab saat ini perutnya terasa sangat sakit.
"Dok, sepertinya bu Dea juga sudah mau melahirkan" ujar perawat pada dokter Renata yang baru saja berganti pakaian setelah menolong persalinan Regina.
'Dea? Apa dia Dea ku?' Batin Marvel. Ia kembali merasakan jika jantungnya berdebar-debar mendengar nama Dea disebut.
Entah mengapa air matanya menetes saat mendengar suara ringisan yang keluar dari mulut Dea, meski ia tak melihaht Dea namun ia yakin jika itu suara Dea.
"Selamat ya bu Regina, lihat suaminya sampai terharu melihat perjuangan bu Regina" ujar seorang perawat, ia tak tahu jika Marvel menangis bukan karena hal itu melainkan ia sedih mendengar suara rintihan Dea. Regina tersenyum sebab ia juga mengira jika Marvel sedang menangis bahagia.
Sekali, dua kali, hingga ketiga kalinya Dea mengejan akhirnya bayinya lahir dengan selamat. Ia menangis haru telah berhasil melahirkan bayinya dengan selamat dan dirinyapun juga selamat.
Tangis haru juga dirasakan mbok Namu dan Jessy ketika mereka mendengar suara tangisan bayi Dea.
"Syukurlah" ujar mbok Namu.
__ADS_1
Setelah bayinya di bersihkan, perawat segera membawanya ke pelukan Dea untuk di beri ASI. Dea memeluk bayinya sambil menangis, ia tak menyangka di usianya yang masih sangat muda ia sudah memiliki seorang anak.
"Selamat ya bu Dea, putranya lahir dengan selamat, bayinya di ajari menyusu ya bu" ujar dokter Renata.
"Terimakasih dokter dan semuanya sudah membantu proses lahiran saya" ujar Dea.
"Sama-sama bu sudah tugas kami" ujar dokter Renata.
Setelah Dea di bersihkan, ia dipindahkan ke ruang rawat bersama bayinya sebab keadaannya baik-baik saja.
Saat melewati ranjang tempat Regina berbaring Dea menutup matanya ia tak sanggup jika harus bertatapan dengan Marvel. Ia tahu jika pasti Marvel akan mengenalinya, namun ia berusaha untuk tetap diam.
"Semoga bahagia bersama keluarga kecilmu kak" gumam Dea setelah keluar dari ruang bersalin.
Di dalam kamar bersalin Marvel tersenyum melihat Dea dalam keadaan baik-baik saja. Ia sangat khawatir saat Dea sedang berjuang melahirkan tadi, ia tak bisa membayangkan jika sesuatu yang buruk terjadi pada Dea.
"Aku akan mencari informasi dari dokter Renata tentang kamu sayang, meski kita tak bisa bersama tapi aku akan melindungimu dari jauh" ujar Marvel lirih.
Setelah Regina selesai di bersihkan ia juga di pindahkan ke ruang perawatan, ia di rawat di ruangan khusus yang memang di tujukan untuk pasien dari keluarga pemilik rumah sakit.
"Regina, aku mau ke lantai bawah dulu ngurus administrasi" ujar Marvel.
"Iya mas" ujar Regina.
Marvel bergegas menuju ke ruang bersalin dimana dokter Renata masih berada, ia sangat ingin tahu segala informasi tentang Dea.
"Permisi sus, apa dokter Renata masih ada?" Tanya Marvel.
"Masih ada pak, silahkan masuk dokter ada di ruangannya"
Marvel segera menuju ke ruangan dokter Renata, ia tak sabar untuk mengetahui apapun tentang apa yang terjadi pada pemilik hatinya itu.
"Siang dokter" ujar Marvel setelah mengetuk pintu ruangan dokter Renata.
"Siang pak Marvel, ada yang bisa saya bantu?"
"Begini dokter, apa saya bisa dapat informasi mengenai pasien yang melahirkan bersama istri saya tadi?"
"Maksud pak Marvel nyonya Dealova Melody?" Tanya dokter Renata.
"Iya dokter" ujar Marvel membuat alis dokter Regina berkerut, ia penasaran mengapa Marvel ingin tahu informasi tentang Dea.
"Dia dulu sahabat saya yang lama hilang" ujar Marvel mengerti isi pikiran dokter Renata.
"Sebelumnya saya minta maaf pak, seharusnya kami tidak bisa memberikan informasi pasien pada orang lain tanpa persetujuan pasien" ujar dokter Renata membuat Marvel sedih.
"Tapi jika pak Marvel benar-benar butuh informasinya saya hanya akan memberikan informasi yang tidak terlalau privasi"
"Terimaksih dok" ujar Marvel dengan mata yang berbinar membuat dokter Renata mengerti jika Dea juga orang yang penting dalam hidup Marvel.
Dokter Renata menjawab apa yang di tanyakan oleh Marvel termasuk dimana Dea sekarang tinggal. Setelah mendakatkan informasi yang ia butuhkan Marvel memutuskan untuk meminta bantuan Siska dan juga Boy untuk mencari tahu tentang Dea berdasarkan informasi yang di berikan dokter Renata.
__ADS_1
Dengan senyum yang mengembang Marvel kembali ke ruang perawatan Regina, tapi sebelum itu ia menuju ke bagian administrasi untuk membayar biaya rumah sakit Regina dan juga Dea.