
Sore hari sekitar pukul 5, kami mendapat kabar jika malam ini kami tak jadi kembali ke kota asal kami.
Mobil yang harusnya menjemput kami mengalami kendala di perjalanan, sehingga tak bisa menjemput kami. Pak Bimo memutuskan untuk berangkat besok pagi saja dengan menggunakan pesawat.
''Apa ada yang keberatan?'' Tanya pak Bimo.
''Tidak pak'' jawab kami semua.
Akhirnya malam ini, kami masih bermalam di rumah milik pak Bimo, pak Bimo memutuskan untuk membawa kami semua berjalan-jalan ke pusat kota. Semua irang di rumah itu ikut pergi tak terkecuali bu Jum dan mang Diman, karena semua sudah di anggap keluarga oleh pak Bimo.
Pak Bimo mengajak kami makan bersama di sebuah restoran yang cukup mewah, restoran ini adalah milik putra pertama pak Bimo yang bernama Rangga.
''Terimakasih untuk jamuan makan malamnya pak'' ujar pak Marvel.
''Sama-sama, terimakasih untuk kalian semua yang sudah mengharumkan nama sekolah kita. Besok kita akan ke sekolah terlebih dahulu sebelum kalian pulang ke rumah masing-masing''
Setelah makan malam kami semua pulang dan beristirahat, aku merasa sangat lelah hari ini hingga aku lebih dulu tidur dari pada yang lain.
Waktu baru menunjukkan pukul 3 dini hari ketika aku terbangun, aku memutuskan untuk menuju ke dapur membuat sarapan karena aku sudah tak bisa tertidur lagi.
Setelah mandi dan berganti pakaian aku segera menuju ke dapur, namun saat aku tiba disana terlihat bu Jum, istri mang Diman sedang mencuci beberapa sayuran.
''Pagi bu Jum'' sapa ku.
''Pagi nona Dea, koq sudah bangun? Ini baru jam 2 loh''
''Iya bu, mata Dea udah ngak mau di tutup lagi. Bu Jum mau bikin sarapan? Dea bantuin ya?''
''Iya neng, ngak usah terimakasih neng Dea, mending neng Dea tidur lagi''
''Mata Dea udah ngak bisa di tutup kalau udah terbuka bu'' ujar ku mencuci tangan dan mulai membantu bu Jum mengupas bawang dan beberapa sayuran yang sudah di cuci oleh bu Jum.
''Neng Dea, bibi mau tanya nih tapi neng Dea jangan marah ya?''
''Mau tanya apa bu? Tenang aja Dea ngak akan marah''
''Neng Dea sama pak Marvel itu pacaran ya?''
''Eh.. bu Jum juga tahu?''
''Iya neng, senang deh bibi liat kalian. Yang satu gagah yang satu manis'' ujar bu Jum yang membuat ku tersipu malu.
''Bu Jum bisa aja, aku justru senang liat bu Jum sama mang Diman, adem ayem liatnya''
''Hehehe neng Dea bisa aja, tapi kami juga pengen punya anak neng, sudah 12 tahun kami nikah tapi belum di karunia anak'' ujar bu Jum dengan wajah sedih.
''Sabar bu, nanti juga Tuhan kasih yang terbaik buat bu Jum sama mang Diman. Sekarang anggap Dea aja anak ibu gimana?''
''Emang neng Dea mau jadi anak bibi?''
''Ya mau bu, Dea juga pengen rasain gimana rasanya punya ibu, pengen tahu rasanya di peluk ibu, dimarahi ibu'' ujar ku dengan air mata yang lolos begitu saja dari kedua mata ku.
''Emang ibu neng Dea kemana?''
''Ibu Dea ada di kampung bu, tapi dari bayi Dea tinggal sama nenek sama bibi Dea. Ibu Dea cuma datang setahun sekali atau dua kali pas natal atau tahun baru aja bu''
''Oh gitu neng, kalau gitu neng Dea jadi anak ibu aja. Tapi nanti neng Dea sudah pulang ke kota neng Dea, bibi jadi sepi lagi''
__ADS_1
''Nanti ibu kasih Dea nomor telpon ibu, kalau ada waktu nanti Dea telpon ibu''
''Iya neng''
''Ini ibu mau masak apa? Biar Dea bantu, nanti ibu tinggal kasih bumbu saja, Dea bisa masak sedikit-sedikit bu''
''Cuma mau bikin sayur sop, ikan goreng dan telur balado aja neng''
''Dea aja yang masak sopnya nanti ibu yang kasi bumbu gimana?''
''Baiklah''
Akhirnya aku dan bu Jum memulai pertempuran dengan segala perabotan yang ada di dapur, sesekali kami tertawa saat cerita kami terasa lucu. Satu jam lebih kami berkutat dengan kompor dan kawan-kawannya akhirnya masakan kami siap.
''Gimana rasanya bu?''
''Enak sekali Dea, ini mah ngak perlu bibi tambahin bumbu lagi, rasanya bahkan lebih enak dari masakan bibi''
''Ah ibu bisa aja nanti aku bisa besar kepala loh''
''Ini memang enak neng''
''Makasih bu'' ujar ku memeluk bu Jum.
Aku dan Bu Jum menyiapkan makanan di atas meja makan sembari menunggu yang lain untuk bangun dan makan.
Kami akan berangkat ke bandara sekitar pukul 6, karena pesawat akan berangkat pada pukul 7:35. Setelah semua siap bu Jum membawakan sarapan untuk mang Diman yang sedang berjaga di pos security.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 lebih, karena tak ada yang datang akhirnya aku berinisiatif untuk membangunkan mereka. Saat hendak berjalan meninggalkan ruang makan, aku melihat pak Bimo dan yang lainnya sudah berjalan ke arah ruang makan.
''Loh Dea, kamu sudah bangun?'' Tanya pak Bimo yang mungkin heran melihat ku sudah berada di ruang makan.
''Calon istri idaman'' bisik bu Siska saat melewati ku.
''Apaan sih bu''
''Dea, kemana bi Jum?''
''Bi Jum nganterin makanan buat mang Diman pak''
''Oh gitu, ayo duduk semuanya kita sarapan'' ujar pak Bimo, kami semua duduk dan bersiap untuk makan.
''Tumben ngantarin makanan buat mang Diman bi? Biasanya juga ikut makan disini'' ujar pak Bimo melihat bu Jum yang sudah ada di dapur.
''Iya pak, ada temannya di pos jadi ngak enak buat ninggalin''
''Oh gitu ya udah, ayo makan sama-sama bi''
Bu Jum juga ikut makan dengan kami, aku senang melihat semua orang menikmati masakan ku.
''Supnya enak sekali bi'' ujar pak Marvel.
''Iya bi, saya aja pengen nambah'' ujar bu Susi.
''Itu buatan neng Dea pak'' ujar bu Jum yang membuat semua orang melihat ke arah ku.
''Dea?'' Tanyak pak Bimo.
__ADS_1
''Iya pak, tadi waktu saya bangun nyiapin bahan masakan ternyata neng Dea juga sudah bangun, tadinya saya sudah suruh tidur lagi tapi katanya neng Dea udah ngak ngantuk jadi dia bantuin bibi masak pak''
''Wah terimakasih Dea sudah mau bantu bibi nyiapin sarapan kita'' ujar pak Bimo.
''Saya cuma bantu sedikit pak, bu Jum yang masak''
''Gimana atuh neng Dea, ngak usah malu neng, benar loh sopnya enak, pak Marvel aja bilang enak, ngak percaya sih tadi bibi bilang masakan neng Dea enak''
''Makasih bu'' ujar ku memelul bu Jum.
Kami menikmati sarapan hari itu dengan riang, ada canda tawa yang menyelingi acara sarapan kami.
Setelah mengemas semua barang-barang kami, kami berdoa sebelum berangkat ke bandara.
''Dea'' panggil pak Marvel saat aku dan Cindy sedang duduk di kursi yang ada di taman samping dapur.
''Di panggil ayang tuh'' ujar Cindy.
''Apa sihhh. Iya pak'' ujar ku.
''Kemari sebentar''
Aku menemui pak Marvel yang berada di ruang makan.
''Ada apa pak?''
''Kamu lihat bi Jum?''
''Ada di taman belakang pak, tadi sedang nyapu''
''Ayo ikut saya temui bu Jum''
Aku mengikuti langkah pak Marvel menuju ke taman belakang, terlihat bu Jum sedang membersihkan dedaunan yang jatuh di bunga-bunga hias yang ada di pot kecil yang tergantung di dinding rumah.
''Ibu'' panggil ku dan bu Jum menoleh.
''Ada apa neng?''
''Pak Marvel nyariin ibu''
''Ada apa pak? Ada yang bisa bibi bantu? Duduk pak, neng Dea''
''Kami cuma sebentar bibi, tidak lama sudah mau berangkat. Ini ada sedikit rejeki dari saya dan Dea, semoga berkah untuk bibi dan mang Diman'' pak Marvel memberikan amplop coklat kepada bu Jum.
''Apa ini pak?''
''Anggap aja ini hadiah dari anak untuk ibunya, bukankah bibi tadi bilang Dea itu anak bibi?''
Mata bu Jum berkaca-kaca mendengar ucapan pak Marvel, begitu juga dengan ku terharu melihat apa yang di lakukan pak Marvel.
''Tapi ini terlalu berlebihan pak''
''Tidak ada yang berlebihan untuk seorang ibu, selama di sini kami sudah banyak merepotkan bibi''
''Tidak pak bibi tak merasa repot, bibi justru bahagia karena rumah ini tak sepi''
''Tolong terima bi, ini pemberian anak dan calon menantu ibu, jika Tuhan juga merestui kami'' ujar pak Marvel merangkul bahu ku.
__ADS_1
''Amin, doa terbaik buat pak Marvel dan neng Dea'' ujar bu Jum.
Sebelum berangkat ke bandara aku pamit pada mang Diman dan bu Jum. Saat aku memeluk bu Jum, ia memberikan sebuah selendang putih padaku katanya itu selendang yang ia kenakan saat menikah dengan mang Diman dulu, itu pemberian almarhumah ibunya. Karena belum memiliki anak, bu Jum berharap itu menjadi kenang-kenangan darinya jika suatu saat kami tak bertemu lagi.