
Lima bulan berselang sejak kepergian Rey ke luar negeri, hari ini adalah hari kepulangannya. Dea dan ibu Wayna sedang bersiap-siap untuk berangkat ke bandara menyambut kepulangan Rey.
''Kamu sudah siap sayang?'' Tanya ibu Wayna.
''Sudah bu, maaf ibu lama nunggu Dea''
''Ngak apa-apa nak, lagi pula ini salah Rey karena tak mengabari kamu jika ia akan pulang hari ini'' ujar bu Wayna. Ia begitu kesal terhadap sang anak karena tak memberitahu istrinya jika ia akan pulang hari ini.
''Jangankan mengabari kepulangannya, selama 5 bulan di luar negeri tak sekalipun dia ngabarin aku bu' batin Dea.
Selama Rey berada di luar negeri, Rey tak pernah sekalipun menghubungi Dea, bahkan ia tak pernah mengingat Dea karena ia sibuk dengan Sofi dan pekerjaannya.
Ia tak pernah menghubungi Dea meski hanya untuk sekedar bertanya keadaan sang istri, Deapun juga tak mempermasalahkan hal itu karena ia tahu jika tak ada tempat untuknya di hati Rey.
''Sayang'' ujar sang mertua menyadarkan Dea dari lamunanya.
''Iya mah, maaf Dea melamun''
''Ngak apa-apa, mama tahu kamu pasti sudah kangen sama suami kamu dan Rey juga pasti sudah kangen sama kamu'' ujar bu Wayna dengan wajah yang sangat bahagia.
Dea hanya bisa tersenyum mendengar ucapan sang mertua, andai saja sang mertua tahu yang sebenarnya entah apa yang akan terjadi.
''Ayo kita berangkat sayang, semoga saja kali ini mama akan cepat dapat cucu, apa lagi kalian lama tidak bersana''
Dea kembali hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu mertuanya, dalam hati ia kasihan pada ibu mertuanya karena apa yang di inginkan oleh ibu mertuanya tak akan pernah bisa terpenuhi.
Keduanya berangkat ke bandara dengan perasaan yang berbeda, bu Wayna bahagia akan kepulangan sang anak sedangkan Dea berpikir bagaimana ia akan menyambut kepulangan sang suami.
Sekitar 30 menit perjalanan akhirnya mereka tiba di bandara, dengan perasaan bahagia bu Wayna menyambut sang putra yang berjalan menghampiri mereka berdua. Bu Wayna segera memeluk sang putra sedangkan Dea hanya berdiri memandang sang suami dan ibu mertuanya.
__ADS_1
''Mama udah lama ya nungguin Rey?'' Tanya Rey yang masih memeluk sang ibu.
''Ngak koq Rey, mama sama Dea baru tiba, kamu ngak rindu sama istri kamu kenapa cuma mama yang kamu peluk'' ujar bu Wayna pada Rey yang berada di sebelahnya.
''Maaf mah, aku terlalu rindu sama mama sampai lupa kalau ada Dea juga'' ujar Rey berpindah ke samping Dea dan merangkulnya membuat sang ibu tersenyum bahagia.
''Ingat Rey kamu itu sudah punya istri jadi jangan seperti dulu lagi'' ujar sang ibu.
Dea hanya bisa tersenyum menanggapi keduanya, selama menikah dengan Rey ini kali pertama Dea berdekatan dengan Rey di tempat umum. Biasanya jika mereka pergi keluar, Dea dan Rey akan menjaga jarak, bahakan jika orang yang tak mengenal mereka pasti mereka akan mengira jika Dea dan Rey adalah dua orang asing yang tak saling mengenal.
Saat mereka tiba di kediaman hamington, bu Wayna cepat-cepat pamit pulang, ia ingin memberikan waktu pada Dea dan Rey untuk melepas rindu karena sudah lama mereka tak bertemu.
Rey dan Dea mengantar bu Wayna sampai ke mobilnya, ketika mobil mulai melaju meninggalkan kediaman hamington Rey segera melepaskan tangannya dari tangan Dea dan segera naik ke kamarnya.
Deapun juga segera kembali ke kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa layaknya pelayan di rumah ini.
''Non Dea, apa tuan sudah pulang?'' Tanya Eca.
''Semuanya sudah selesai non'' ujar Eca yang membuat Dea memanyunkan bibirnya.
''Eca, kan aku sudah bilang panggil Dea saja ngak usah pake embel-embel non di depannya. Kita sama aja di rumah ini, aku bukan pemilik rumah ini'' ujar Dea.
''Ngak bisa non Dea, biar bagaimanapun non Dea tetap majikan Eca, karena non Dea istri dari tuan Eca pemilik rumah ini'' ujar Eca yang membuat Dea mencebik.
''Panggil Dea aja ya, kita kan teman masa aku kamu panggil nona? Ya..ya..ya...'' ujar Dea mengedip-ngedipkan matanya memasang wajah memelas pada Eca yang membuat Eca gemas.
''Ya sudah kalau begitu'' ujar Eca yang membuat Dea tersenyum.
Dea akrab dengan semua pekerja yang ada di rumah ini, ia menganggap mereka semua adalah keluarganya. Eca dan bi Marni adalah orang yang sangat akrab dengannya karena setiap Dea butuh sesuatu mereka selalu ada dan selalu membantu Dea.
__ADS_1
Halaman belakang rumah yanng di jadikan kebun sayur oleh Dea kini sudah bisa memperlihatkan hasilnya. Berbagai jenis sayur-sayuran tumbuh subur dan siap untuk di panen lagi. Begitu juga dengan cabai dan tomat semuanya sudah siap untuk di panen.
Waktu sore hari biasanya Dea habiskan dengan mengurus kebunnya, terkadang bi Marni juga ikut membantu karena ia juga dulu seorang petani sayuran di kampungnya.
Dea membeli bibit, pupuk dan segala kebutuhan yang ia butuhkan untuk berkebun dengan uang yang tersisa di dalam tasnya. Untung saja saat itu, uang yang ada di tasnya masih cukup banyak sehingga ia tak perlu meminjam uang pada orang lain.
Ia sengaja menolak uang pemberian Rey karena ia tahu jika suatu hari nanti pasti Rey dan dirinya akan bercerai. Ia sudah tahu bagaimanapun ia berusaha menjadi istri yang baik tak akan ada tempat untuknya di hati Rey.
''Dea'' panggil Rey dari arah ruang tamu. Dea yang berada di dapur segera menghampiri sang suami yang selalu membelakangi Dea saat berbicara.
''Iya tuan'' ujar Dea berdiri di belakang Rey.
''Hari ini saya akan ke rumah mama dan kamu harus ikut. Ada acara arisan keluarga sekaligus pertemuan keluarga besar. Kita akan menginap disana selama dua hari, segera siapkan segala keperluan kamu dengan baju yang ada di lemari di kamar dan sekalian siapkan juga baju untuk ku'' ujar Rey.
''Baik tuan, berapa baju yang akan saya siapkan tuan dan baju apa saja?'' Tanya Dea.
''Siapakan tiga pakaian ganti, dua pasang pakaian kerja dan satu pasang pakaian batik. Kamu juga bawalah satu gaun dan beberapa pakaian lain''
''Baik tuan'' ujar Dea segera naik ke lantai dua dimana kamar sang suami berada. Dengan segera ia menurunkan koper dari atas lemari kemudian mulai menyusun baju milik Rey ke dalam koper. Setelah memastikan jika semua pakaian Rey sudah siap ia juga mulai menyiapakan pakaian untuk dirinya sendiri, seperri perintah Rey tadi, ia juga membawa sebuah gaun yang ia tak tahu apa tujuannya Rey memintanya membawa gaun itu.
Satu koper untuk baju Rey dan satu Ransel ukuran sedang untuk baju Dea sudah siap, ia segera turun menemui sang suami yang kini berada di ruang kekuarga sedang menonton tv.
''Semuanya sudah siap tuan'' ujar Dea.
''Sekarang kamu mandi, 20 menit lagi saya tunggu di mobil'' ujar Rey tanpa melihat ke arah Dea.
''Baik tuan'' ujar Dea hendak berlalu sebelum ucapan Rey menghentikan langkahnya.
''Satu hal lagi ambil paper bag yang ada di meja dapur kamu pakai baju yang ada di dalamnya setelah kamu mandi. Aku tidak mau keluarga melihat kamu memakai pakaian murahan sepertimu''
__ADS_1
''Baik tuan'' ujar Dea segera berlalu dari sana dengan mata yang sudah mengembun.