
Saat memasuki lorong menuju ke rumah Dea beberapa tetangga memperhatikan mereka. Ada beberapa tetangga yang berbisik-bisik mengenai Dea dan Marvel.
''Dari mana ya si Dea bawa koper? Siapa laki-laki yang bersamanya?'' Tanya bu Resi kepada sekelompok ibu-ibu yang sedang berbelanja di warung miliknya.
''Ngak tahu bu'' ujar yang lain.
Dea dan Marvel tiba di rumah Dea dengan di sambut oleh nenek Dea, ia memeluk Dea dan mempersilahkan Dea dan Marvel untuk duduk.
Marvel menurunkan koper Dea dari atas motornya kemudian membawanya menuju ke teras rumah Dea, setelahnya ia ikut duduk di kursi dimana Dea dan neneknya duduk.
''Saya masuk sebentar pak'' ujar Dea beranjak dari duduknya masuk ke dalam rumah. Tak lama ia kembali dengan segelas air putih hangat yang ia bawa di atas nampan.
''Silahkan di minum pak'' uajr Dea meletakkannya di hadapan Marvel.
''Terimakasih Dea''
''Bagaimana perjalanannya De?'' Tanya nenek Dea.
''Puji Tuhan semuanya lancar nek, ini semua berkat doa dari nenek'' uajr Dea memeluk neneknya.
''Syukurlah kalau begitu, terimakasih pak Marvel, bapak lagi-lagi harus repot-repot mengantar cucu nenek pulang''
''Tidak repot sama sekali nek, ini sudah tugas saya sebagai pembimbingnya Dea, kalau begitu saya permisi dulu ya nek, saya masih ada keperluan'' ujar Marvel bangkit dari duduknya.
''Tidak makan siang dulu pak?'' Tanya nenek.
''Terimakasih nek, lain kali saja kali ini saya masih ada keperluan''
''Baiklah pak'' ujar nenek berjalan masuk ke dalam rumah karena mengingat jika ia sedang merebus daging.
Dea mengantar Marvel ke tempatnya memarkir motor.
''Terimakasih pak sudah mengantar saya pulang''
''Sama-sama Dea sayang, sampai jumpa besok di sekolah'' ujar Marvel seraya menghidupkan mesin motornya.
''Hati-hati di jalan pak'' ujar Dea ketika Marvel hendak meninggalkan rumah Dea.
''Iya sayang'' Marvel mengusap kepala Dea sekilas sebelum meninggalkan halaman rumah Dea.
Setelah kepergian Marvel Dea juga hendak masuk ke dalam rumah namun di tahan oleh panggilan dari bu Mira.
''Neng Dea'' panggil bu Mira dari arah rumahnya.
''Iya bu, ada apa?'' ujar Dea saat tiba di halaman rumah bu Mira.
__ADS_1
''Baru pulang neng?''
''Iya bu, baru dari sekolah ini''
''Emang Dea dari mana?'' Tanya bu Resi.
''Neng Dea kan habis ikut lomba bu, emang ibu ngak tahu?''
''Oh gitu, pantas tadi bawa koper. Tak kirain neng Dea dari mana gitu, apa lagi yang nganter laki-laki''
''Iya bu Resi, emang ibu ngak nonton Dea di tv? Dea tadi itu guru yang sering nganter ya neng?'' Tanya bu Mira.
''Iya bu, kebetulan pak Marvel yang jadi guru pembimbing saya waktu lomba''
''Oh gitu neng, ya udah istirahat sana jangan sampai sakit. Neng Dea pasti masih lelah habis perjalanan jauh. Selamat ya neng dapat juara pertama, neng Dea keren waktu di tv'' ujar bu Mira yang membuat Dea tersenyum.
''Terimakasih bu, saya permisi dulu bu''
''Silahkan neng'' ujar bu Mira.
Dea berlalu dari kerumunan ibu-ibu itu dan masuk ke dalam rumahnya.
''Hummmm.. wangi apa ini?'' Tanya Dea menghampiri bibi dan neneknya yang ada di dapur.
''Kalau makanan aja hidung kamu cepat banget responnya'' ujar bibi Dea menarik hidung Dea.
''Ya udah cuci tangan sana kita makan'' ujar bibi Dea.
Dea mencuci tangan kemudian membantu bibinya menyiapkan makan siang ke atas meja makan.
''Ayo makan nek'' ujar Dea memanggil sang nenek yang sedang duduk di dekat tungku api.
''Iya'' ujar nenek menghampiri mereka.
Mereka bertiga makan siang dengan menu sop daging dan sambal terasi buatan nenek yang selalu menjadi kegemaran Dea dan bibinya.
Setelah makan siang Dea mencuci piring bekas makan mereka kemudian pergi ke kamarnya dan istirahat.
Ia tertidur hingga malam tiba, mungkin ia akan tertidur sampai pagi jika bibinya tak membangunkannya untuk makan malam.
''Kamu ngak mandi De?'' tanya bibi membangunkan Dea.
''Ini udah jam berapa bi?'' Tanya Dea.
''Ini udah malam De, udah mau jam 7''
__ADS_1
''Hah??'' ujar Dea bangun dari tidurnya dan ia terkejut saat melihat di luar sudah gelap.
''Ya ampun aku belum mandi'' ujarnya meraih handuk dan berlari menuju kamar mandi.
''Pelan-pelan De'' ujar bibinya setengah berteriak.
Setelah mandi dan berpakaian, Dea menuju ke dapur hendak membantu membuat makan malam, namun saat dia tiba disana semua makanan sudah terhidang di atas meja.
''Ayo makan De'' ujar nenek mengambilkan piring untuk Dea.
''Maaf ya nek, Dea ngak bantuin nenek masak''
''Udah makan cepat, nenek tahu kamu pasti masih lelah De. Habis makan kamu lanjut tidurnya besok kamu sekolah kan?''
''Iya nek''
Sehabis makan Dea hendak membereskan bekas makan malam mereka namun di larang oleh bibinya.
''Udah sana kamu tidur lagi, ini biar bibi yang bereskan''
Akhirnya Dea pergi menuju kamarnya karena ia memang merasa lelah hari ini. Namun saat akan menutup matanya, ia teringat akan gaun putih yang ada di dalam kopernya. Ia tak jadi tidur, ia bangun dan membuka kopernya, ia mengeluarkan semua pakaian kotor yang ada di dalam koper, juga buku-buku yang ia bawa.
''Mending aku cuci gaun ini sekarang, jadi besok bisa langsung di jemur'' ujarnya membawa gaun itu menuju ke kamar mandi.
Dea mencuci gaun itu dengan hati-hati, ia sangat takut jika kainnya sobek. Sembari mencuci ia mengingat kenangan saat ia memakai gaun itu di acara pernikahan sepupu Marvel.
''Mikir apa sih kamu Dea'' ujarnya pada diri sendiri sambil tersenyum.
Setelah mencuci gaun, Dea segera menggantungnya di jemuran yang ada di samping kamar mandi, kemudian ia pergi ke kamarnya dan tidur.
Pagi hari saat ia bangun, gaun yang semalam ia cuci sudah tak ada di tempatnya, dengan panik ia mencari ke seluruh rumah.
''Cari apa De?'' Tanya bibinya yang ada di dapur.
''Bibi liat gaun yang Dea gantung disini semalam?''
''Oh itu ada di jemuran samping De, emang itu gaun punya siapa?''
''Itu punya Dea bi, di hadiakan sama teman-teman Dea'' ujar Dea berbohong.
''Oh gitu De, nanti bibi masukkan lemari kamu kalu udah kering, mandi gih siap-siap ke sekolah''
''Emang kita ngak masak sarapan dulu bi?''
''Ngak yang semalam masih banyak, tuh bibi udah panasin tadi, sana kamu mandi terus sarapan''
__ADS_1
Dea bergegas menuju ke kamar mandi, setelahnya ia sarapan kemudian berangkat ke sekolah.