MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
SOSOK YANG SEMPURNA (POV AUTHOR)


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam, Marvel dan kedua orangtuanya sedang bersiap-siap untuk pergi ke kosan Dea. Ibu dan ayah Marvel tidak tahu jika Marvel akan membawa mereka bertemu dengan Dea.


Selain kedua orangtuanya, ia juga mengajak tiga orang yang akan membuat Dea senang jika berjumpa dengan mereka.


''Selamat malam om, tante, pak Marvel'' ujar seorang gadis dari pintu utama rumah Marvel.


''Malam juga nak, ayo silahkan masuk'' ujar bu Valencia.


''Terimakasih tante, oh iya kami bertiga di minta pak Marvel datang dan dandan rapi begini emang kita semua mau kemana tante?'' Tanya gadis itu.


''Tante juga tidak tahu nak, tapi sepertinya Marvel sedang sangat bahagia. Tante fikir ia akan memberikan kabar yang bahagia juga buat kita''


''Oh begitu tante''


''Iya''


''Semuanya sudah siap?'' Tanya Marvel yang keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian yang cukup rapi membuat semua yang ada di rumah itu menatap heran ke arahnya.


''Sudah nak, sebenarnya kita mau kemana sih nak, sampai kamu berpakaian begitu?''


''Aku kan sudah bilang mah kalau ini kejutan, kalau aku bilang kan ngak jadi kejutan lagi mah''


''Iya..iya. Kalau begitu ayo kita berangkat'' ujar bu Valencia.


''Kami bertiga naik mobil saya saja pak'' ujar seorang pemuda pada Marvel.


''Boleh silahkan saja, kamu tinggal ikuti mobil saya saja dari belakang'' ujar Marvel.


''Baik pak''


Marvel berada satu mobil bersama ibu dan ayahnya sedangkan pemuda tadi bersama dua gadis yang juga Marvel ajak untuk bertemu Dea.


''Sebenarnya apa sih tujuan pak Marvel ngajakain kita malam ini dan kemana pula kita akan pergi ini?'' Tanya seorang gadis pada pemuda yang sedang mengendarai mobilnya.


''Aku juga ngak tahu Darmi'' ujar pemuda itu.


Ya, benar. Tiga orang yang di ajak serta oleh Marvel adalah tiga sahabat Dea, Darmi, Sukma dan Gema.


''Apa ini ada hubungannya dengan Dea kita?'' Tanya Gema.


''Mungkin saja sebab itulah kenapa pak Marvel begitu bahagia, tapi Dea kan sudah bahagia sama suami dan anaknya. Lagi pula katanya pak Marvel mau melamar seseorang dan itu sepertinya bukan Dea kita sebab ia sudah menikah''


''Iya juga sih, tapi koq aku merasa sangat antusias saat pak Marvel hubungi aku tadi, padahal kita ngak tahu akan kemana''


''Aku juga sama Sukma'' ujar Darmi.


''Ini kita sudah sampai nih'' ujar Gema setelah mobil Marvel berhenti di halaman sebuah kos-kosan.


''Ngapain kita di ajak pak Marvel ke kos-kosan?'' Tanya Gema.


''Iya, ini kan kos yang ada di dekat kampus kita?''


''Iya bener, aku jadi penasaran. Eh, kita turun yuk, pak Marvel dan tante Vakencia juga om Wisnu sudah keluar dari mobil tuh'' ujar Sukma.


Setelah mereka semua turun dari mobil beberapa tetangga kos Dea melihat mereka semua dengan keheranan. Bukan tanpa sebab, itu karena Marvel datang dengan menggunakan mobil yang cukup mewah bagi penghuni kosan daerah itu sebab mereka tergolong orang dengan status sosial menengah kebawah.


''Itu mobil siapa bagus banget, eh ada cowok ganteng tuh keluar dari mobil itu''


''Wah iya benar, nyari siapa ya mereka di kosan kita?''


''Kira-kira dia nyari siapa ya?''


''Ngak tahu''


''Eh, liat deh, mereka berhenti di depan kosan neng Dea''


Seperti utulah percakapan dua orang tetangga kosan Dea yang melihat Marvel turun dari mobil.


Marvel berjalan menghampiri kosan Dea, ia mengetuk pintunya dengan peralahan.


Tok..tok.tok


''Sebentar'' ujar Dea yang kini baru saja selesai melipat pakaiannya dan memasukkannya ke dalam lemari.

__ADS_1


Marvel tersenyum ketika mendengar suara Dea, meski hanya satu kata yang Dea ucapkan itu mampu membuat hati Marvel bergetar.


''Siapa ya, yang malam-malam berkunjung? Apa benar pak Marvel? Kalau benar iya, aku harus apa?'' Gumam Dea seraya melangkah ke arah pintu.


''Sayang ini aku'' ujar Marvel yang membuat Dea menghentikan langkahnya.


Ting


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Dea, disana terlihat sebuah foto [buruan bukain pintu kamar lo, itu pak Marvel ramai-rami datang. Dia benaran datang Dea, cepat lo bukain, udah jadi pusat perhatian tuh pak Marvel dengan antek-anteknya] isi pesan dari Amelia.


''Hah?? Sebenarnya pak Marvel itu maunya apa sih?'' Gerutu Dea. Ia tak habis pikir jika Marvel benar-benar akan datang malam ini bahkan juga bersama dengan beberapa orang.


''Selamat malam pak, ada yang bisa saya bantu?'' Tanya Dea setelah membuka pintu kamar kosannya.


''D-Dea'' ujar Darmi, Sukma dan Gema kompak. Tanpa menunggu lagi ketiganya berlari dan berhambur memeluk Dea membuat Dea terkejut.


Darmi, Sukma dan Gema menangis sembari memeluk Dea, ''aku ngak bisa nafas'' ujar Dea membuat ketiga sahabatnya melepaskan pelukan mereka.


''Kamu baik-baik saja Dea?'' Tanya Sukma, ia memutar-mutar tubuh sahabatnya itu untuk memastikan jika sahabat yang sangat ia rindukan itu dalam keadaan baik-baik saja.


''Si-silahkan maksuk semuanya, maaf jika tempat saya kecil''


''Terimakasih nak'' ujar bu Valencia yang membuat Dea berhenti melangkah.


''Bu...bu Valencia''


''Iya nak, ini mama'' ujar bu Valencia.


''Dea, kamu tidak mau memeluk kami nak'' Ujar pak Wisnu merentangkan tangannya.


Dea menghambur ke pelukan pak Wisnu dan bu Valencia, ia menangis di dalam pelukan mereka.


''Masuk, mah, pah'' ujar Dea menggandeng tangan kedua orangtua Marvel.


Dea menggelar tikar untuk alas mereka duduk kemudian mengirim pesan pada Amelia.


[Mel, aku harus apa, pak Marvel dan orantuanya datang] tulis Dea pada pesannya.


''Daripada penasaran, aku ke kosan Dea saja ah, siapa tahu dapat berita bagus'' ujar Amelia.


Ia keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar Dea beepura-pura tak mengetahui hal apa yang sedang terjadi.


''Masuk Mel'' ujar Dea setelah cukup lama terdiam sebab tak tahu apa yang harus ia katakan.


''Malam pak Marvel'' ujar Amelia mengangguk sopan pada Marvel dan orangtuanya sebelum duduk di samling Dea.


''Apa saya tidak mengganggu?''


''Tidak Amelia, justru akan lebih baik jika kamu juga disini'' ujar Marvel.


''Memangnya ada apa pak?'' Tanya Amelia yang penasaran dengan tujuan Marvel datang dan hal itu mendapat hadiah cubitan kecil di lengannya oleh Dea.


''Kamu ngak mau ngenalin aku nih Dea sana semua yang ada disini? Aku kan teman kamu yang paling cantik'' ujar Amelia.


''Eh, kenalkan mereka orangtua kak Marvel, bu Valencia dan pak Wisnu dan ini sahabat-sahabat aku Mel, ini Darmi, Sukma dan Gema'' ujar Dea memperkenalkan semua yang ada di ruangan itu pada Amelia.


Amelia menyalami tangan semua yang ada disana terkecuali Marvel dan Dea, ketika Amelia bersalaman dengan Gema entah mengapa ia merasa jika Gema terus menatapnya membuat ia sedikit salah tingkah.


''Gem, udah kali salamannya'' ujar Darmi yang di ikuti tawa seisi ruangan sebab Gema tak melepaskan tangan Amelia.


''Eh, ma-maaf'' ujar Gema salah tingkah.


''Dea, kamu kemana saja selama ini nak, dimana suami dan anakmu?'' Tanya bu Valencia.


Wajah Dea mendadak murung namun ia dengan segera mengubah mimik wajahnya, ''Anak Dea sudah kembali ke yang maha kuasa mah dan Dea sudah berpisah dengan suami Dea dari dua tahun yang lalu'' ujar Dea membuat senyum di wajah Marvel semakin merekah.


'Aku sudah bilang Dea, jika kamu tidak akan bisa berbohong kepada mama dan papa' batin Marvel. Ia sangat bahagia begitu mengetahui jika Dea memang sudah bercerai dengan suaminya.


Dea melirik ke arah Marvel yang terus menatapnya sambil tersenyum, jantungnya berdegup kencang ketika tatapannya dan Marvel bertemu.


'Kenapa sih aku masih aja grogi ketika berhadapan sama pak Marvel?' batin Dea.


''Itu karena kamu masih mencintai aku'' ujar Marvel tiba-tiba membuat semua orang menatap ke arahnya membuatnya menggaruk tengkuknya.

__ADS_1


Dea, bu Valencia, pak Wisnu, Amelia, Gema, Sukma dan Darmi berbincang-bincang tentang banyak hal ketika Marvel keluar untuk membeli makan malam untuk mereka semua.


Tak lama berselang Mavel kembali dengan meneteng sebuah kantong plastik berisi 10 kotak nasi goreng dan juga beberapa jenis lauk oauk.


''Kak Marvel beli banyak sekali'' ujar Dea.


''Iya habisnya aku liat kamu agak kurusan'' ujar Marvel membuat Dea melotot ke arahnya.


''Kamu mau ngapain Vel'' ujar pak Wisnu menahan gerakan Marvel yang hampir saja mencium Dea karena gemas melihat mata sipit Dea melotot padanya.


''Sabar Vel, belum waktunya'' ujar bu Valencia membuat seisi ruangan tertawa terkecuali Marvel yang salah tingkah dan Dea yang merasakan pipinya menghangat.


Ia tidak munafik dan ia tahu jika tadi Marvel hampir saja Menciumnya beruntung pak Wisnu menahannya.


Mereka menikamati makan malam sebelum Marvel memyampaikan tujuannya datang ke kosan Dea.


Dea sama sekali tak fokus dengan makanannya ia fokus menatap ke arah ketiga sahabatnya yang sudah mulai akrab dengan Amelia.


Setelah makan malam Dea dan Amelia membereskan bekas makan mereka.


''Nak, kemari duduk dengan mama'' ujar bu Valencia memanggil Dea untuk duduk di sampingnya.


Dea bergeser dan duduk di samping bu Valencia, jantungnya berdegup cukup kencang, ia merasa seperti saat sedang mengikuti ujian.


''Apa kamu sudah tahu nak apa tujuan kami semua datang kemari?''


''Tidak ma, Dea tidak tahu''


''Sebenarnya mama juga tidak tahu nak, hanya saja mama berharap ini sesuatu yang baik''


''Marvel, sekarang katakan apa maksud kamu membawa kami semua kemari? Papa harap ini sesuatu yang baik'' ujar pak Wisnu.


Marvel menatap ke arah Dea yang juga sedang menatapnya saat ini membuat Dea langsung mengalihkan pandangan membuat semua yang ada di ruangan itu tersenyum.


''Apa papa dan mama ingat apa yang aku katakan saat menelpon papa dan mama kemarin?''


''Ingat nak''


''Jadi itulah tujuan kita datang kemari'' ujar Marvel membuat kedua orang tuanya mengangguk tanda mengerti.


''Baiklah nak Dea, papa sudah tahu tujuan Marvel membawa kami kesini. Ini kali keduanya untuk kalian berdua dan papa harap ini akan jadi yang terakhir'' ujar pak Wisnu membuat Dea bingung.


Ia sama sekali tak memahami apa yang sedang Marvel dan orangtuanya bicarakan, ia bahkan tidak berani menatap Marvel maupun orang tuanya.


''Dea'' panggil Marvel yang kini sudah berpindah duduk di hadapan Dea.


''Iya pak'' ujar Dea pelan.


''Saya tahu mungkin ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan ini setelah kita berpisah cukup lama, namun saya tidak ingin menyesal di kemudian hari jika saya terlambat mengatakannya. Saya ingin kita kembali melanjutkan hubungan kita yang semapt terputus beberapa tahun yang lalu. Aku tahu jika kamu juga masih mencintai aku dan begitu juga dengan ku. Apa kita bisa memulai kembali apa yang dulu pernah kita jalani?'' Tanya Marvel membuat mata Dea membulat sempurna.


'Apa pak Marvel sedang melamar ku?' batin Dea menatap Marvel. Ia ingin mencari raut wajah bercanda di wajah Marvel namun ia tak menemukannya justru raut wajah seriuslah yang ia lihat.


''Maaf pak, saya tidak bisa'' ujar Dea lirih membuat Marvel dan kedua orangtuanya terkejut.


''Tapi kenapa?'' Tanya Marvel.


''Sa-saya saya merasa sudah tidak pantas mendampingi bapak, kita sudah jauh berbeda pak, terlebih lagi dengan status saya yang sekarang. Lagi pula masih bayak wanita lain di luar sana yang lebih baik dari saya pak'' ujar Dea membuat Marvel menghela nafas lega.


''Siapa yang bilang kamu tidak pantas? Kamu adalah sosok yang sempurna untuk ku, dan soal status kamu, sekarang saya juga sudah memiliki status yang berbeda. Jadi bagaimana apa kamu mau menjadi calon istri saya lagi?'' Tanya Marvel kembali.


Dea menatap sekitar, ia dapat melihat jika mata pak Wisnu, bu Valencia dan keempat sahabatnya itu berkaca-kaca. Ia tahu jika semua orang berharap jawaban Dea adalah iya, namun Dea merasa sangat tidak pantas untuk Marvel.


''Apa kamu masih mencintai putra ayah?'' Tanya pak Wisnu dan Dea mengangguk, sebab ia tak akan bisa berbohong pada orangtua.


''Bagaimana sayang, apa kamu mau menjadi calon istri ku lagi?'' Tanya Marvel menggenggam tangan Dea.


''I-iya pak''


''Syukurlah'' ujar semua yang ada di ruangan itu.


''Baiklah dua hari lagi aku akan melamar kamu secara resmi, silahkan hubungi keluarga kamu sayang'' ujar Marvel.


Mereka membicarakan apa saja yang harus mereka siapkan untuk acara lamaran nanti termasuk mencoba menghubungi ibu Dea dan juga bi Tina, namun ibu Dea menolak untuk datang, alhasil hanya bi Tina dan suaminyalah yang akan mendampingi Dea nanti.

__ADS_1


__ADS_2