MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
RUANG RAFLESIA (POV AUTHOR)


__ADS_3

Setelah kurang lebih tiga jam berada di ruang oprasi akhirnya Dea kembali ke ruang ICU karena kondisinya memang belum memungkinkan untuk di pindahkan ke ruang rawat.


Sejak masuk ke rumah sakit, kesadarannya belum pulih sama sekali, meski ia bisa mendengar apa yang orang-orang sekitar katakan namun ia tak punya tenaga sama sekali untuk merespon bahkan membuka matanya saja rasanya sangat berat. Tubuhnya terasa kaku tak bisa di gerakkan sama sekali.


Marvel segera menghubungi bi Tina ketika Dea sudah keluar dari ruang oprasi.


''Dimana Dea nak?" Tanya bi Tina menghampiri Marvel.


''Dea ada di dalam bi'' ujar Marvel melihat ke arah ruang ICU.


''Maksudnya Dea masuk ke ICU lagi?" Tanya Bi Tina.


"Iya bi, semoga saja semuanya segera baik-baik saja''


''Amin, bibi ke tempat nenekmu dulu ya, tadi ibu istirahat saat bibi tinggal''


''Baik bi, saya akan jaga Dea disini, bibi dan nenek bisa pulang saja nanti saya kabari perkembangannya. Aku khawatir kesehatan nenek akan menurun jika terus berada disini bi''


''Baik nak'' ujar bi Tina. Ia memang sangat khawatir dengan keadaan sang ibu jika beliau terus berada di rumah sakit.


Setelah bi Tina kembali ke ruangan dimana nek Diah istirahat, Marvel kembali menatap pintu ruangan ICU.


''Cepatlah bangun sayang aku tak tahu harus berbuat apa tanpamu sayang'' ujar Marvel.


Di tempat lain, bi Tina terus berusaha membujuk sang ibu agar mau pulang ke rumah. Ia khawatir akan kesehatan sang ibu jika terus berada di rumah sakit karena beliau juga masih kurang sehat saat ini.


Setelah cukup lama di bujuk oleh bi Tina dan juga bantuan Marvel, akhirnya nek Diah mau untuk pulang tapi dia ingin Marvel terus mengabarinya bagaimana keadaan Dea.


''Keluarga psien atas nama nona Dea'' ujar seorang perawat menghampiri Marvel yang sedang duduk bersama beberapa orang yang juga sedang menunggu keluarganya yang ada di ruang ICU.


''Ia sus, ada yang bisa saya bantu?''


''Nona Dea sudah mulai sadar dan iya terus menyebut nama seseorang namun tak jelas. Mungkin bapak bisa menemuinya di dalam, mungkin bapak tahu siapa yang ia maksud''


''Baik sus''


Marvel berjalan mengikuti perawat kemudian memakai baju khusus dan masuk ke dalam ruang ICU menemui Dea.


''Sayang, ayo bangun. Aku sudah disini, kamu tak perlu takut lagi, tak ada lagi yang akan menyakitimu aku akan selalu menjagamu. Ayo bangun sayang, tolong jangan seprti ini aku tidak tahu harus apa sayang, ayo bangun'' ujar Marvel menggenggam tangan Dea sambil menangis.


Ia sangat rapuh melihat keadaan Dea saat ini, hatinya begitu sakit melihat keadaan sang kekasih.


Perawat yang mengantar Marvel tadi terkejut saat Marvel memanggil Dea dengan panggilan sayang, awalnya ia berpikir jika Marvel mungkin kakak atau bahkan ayah dari Dea, tapi saat ia mendengar panggilan Marvel, ia berpikir jika mungkin saja Marvel adalah kekasih dari Dea.


Karena merasa tak enak hati berada di situ, akhirnya perawat itu lebih memilih pergi dari ruangan itu dan membiarkan Marvel berbicara pada Dea yang masih belum merespon.


''P-ppppp el..'' ujar Dea dengan mata yang tertutup.


Marvel yang mendengar hal itu langsung tersenyum bahagia, ia melihat bibir pucat Dea yang terus berbicara meski tak jelas apa yang ia katakan.


''Aku disini sayang, ayo bangun'' ujar Marvel mengusap tangan Dea.


Jari-jari mungil Dea mulai bergerak dan hal itu membuat Marvel sangat bahagia, segera ia memanggil perawat yang bersamanya tadi.


''Aku panggil perawat dulu sayang, kamu tunggu sebentar ya sayang''


Dengan setengah berlari Marvel menuju ke ruang perawat menemui perawat dan dokter yang ada disana.


''Ada apa pak?'' Tanya seorang perawat.


''Jari-jari Dea sudah mulai bergerak sus, juga sudah mulai berbicara meski matanya masih tertutup''


''Baiklah kami akan periksa dulu'' ujar Dokter Deni, dokter yang sedang berjaga saat ini.


''Apa saya boleh ikut sus?''

__ADS_1


''Maaf pak selama pemeriksaan, keluarga pasien harus menunggu di luar''


''Baik sus''


Marvel memandangi Dea dari pintu kaca pembatas ruangan, ia dapat melihat senyum dokter saat memeriksa Dea. Marvel sangat lega ketika dokter dan perawat keluar dari ruanganDea dengan senyum di wajah mereka.


''Bagaimana keadaan Dea dokter?'' Tanya Marvel yang kini duduk di ruangan dokter.


''Pasien sudah melewati masa kritisnya, jika keadaannya terus membaik maka tak lama lagi keadaannya akan semakin baik. Pasien juga sudah sadar namun karena masih terpengaruh oleh obat saat menjalani oprasi tadi pasien tertidur kembali''


''Syukurlah kalau begitu dokter, terimakasih sudah menyelamatkan Dea''


''Sama-sama pak, bukan saya yang menyelamatkan putri bapak tapi Tuhanlah yang sudah menyelamatkannya, lagi pula dia memang sangat kuat pak, ia mampu bertahan dari kecelakaan yang mungkin orang lain akan mati di tempat jika mengalaminya''


''Terimakasih dokter, tapi Dea bukan putri saya''


''Maaf kalau begitu pak, saya pikir pasien adalah putri bapak karena kalian sangat mirip'' ujar dokter.


''Tidak apa-apa pak, apa jika Dea sudah sadar sudah bisa di pindahkan ke ruangan untuk di rawat dokter?''


''Tentu saja pak, bapak ingin pasien dipindahkan kemana?''


''Ke kamar raflesia di bangunan samping UGD'' ujar Marvel yang membuat dokter dan perawat yang ada di situ terkejut. Bukan tanpa alasan mereka terkejut, sebab ruangan yang di minta oleh Marvel adalah ruangan khusus untuk merawat keluarga pemilik rumah sakit.


''Kamar raflesia pak?'' Tanya seorang perawat.


''Iya sus''


''Tapi itu bangunan khusus buat keluarga pemilik rumah sakit jika sedang sakit, tak sembarang orang bisa dirawat disana, meski orang itu memiliki banyak uang. Kami juga tak bisa merawat pasien disana tanpa persetujuan ibu Valencia selaku pemilik rumah sakit ini, kami harus meminta ijin pada beliau lebih dulu''


''Saya tahu dokter, silahkan dokter hubungi dokter Nico untuk menyiapkan segalanya''


''Baiklah saya hubungi dokter Nico dulu, bapak boleh tunggu sebentar?''


''Tentu saja dokter, silahkan''


Perawat yang ada di ruangan itu bertanya-tanya siapa Marvel sehingga ia meminta ruangan khusus yang hanya di gunakan oleh keluarga ibu Valencia saja.


''Maaf pak nomor pak Nico sedang sibuk'' ujar dokter itu.


Marvel hanya mengangguk kemudian mengirim pesan pada Nico untuk segera menemuinya di ruangan ini.


[Nic, aku ada di ruang perawat di ICU boleh kamu kesini sebentar, dokter menghubungimu tapi nomormu sedang sibuk] isi pesan Marvel.


Hanya butuh waktu 2 menit Nico sudah berada di depan Marvel.


''Ada apa Vel?'' Tanyanya.


''Ngak apa-apa jangan panik begitu, oh iya ruangan raflesia kosong kan?''


''Tentu saja, kenapa?''


''Aku mau Dea dirawat disana''


''Ohw ok, nanti aku minta di siapkan kamarnya''


''Bagaimaan kabar Dea dokter Deni?''


''Sudah lewat masa kritis tinggal menunggu kesadarannya pulih dan bisa langsung di pindahkan ke ruang perawatan''


''Baik dokter terimakasih''


''Dokter Nico aku mau mengabari bibi dulu, aku minta tolong urus semuanya. Dokter Deni dan semuanya terimakasih sudah merawat Dea dengan baik'' ujar Marvel berdiri dari duduknya dan keluar dari sana dengan sneyuman di wajahnya.


Setelah Marvel tak terlihat lagi dokter Deni menarik Nico agar segera duduk di sampingnya.

__ADS_1


''Ada apa sih Den?'' Tanya Nico.


''Kamu serius mau ngasih ruangan raflesia buat rawat pasien itu? Kalau bu Valencia tahu kita kasih kamar itu sama sema sembarang orang bisa di pecat kita'' kesal dokter Deni.


''Justru kalau pasien itu kamu taruh di kamar biasa, bisa di pecat kamu'' ujar Nico.


''Maksudnya gimana?''


''Kamu ngak tahu tadi itu siapa?''


''Ngak tahu''


''Kalau pasien itu kamu tahu dia siapa?''


''Ngak tahu juga''


Puk


Nico memukul dahi sahabatnya dengan pulpen yang sedang ia pegang, sehingga dokter Deni meringis.


''Apaan sih Nic, main getok-getok aja''


''Kamu benar-benar ngak tahu mereka siapa? Emang bapak tadi ngak ngomong apa-apa gitu?''


''Ngak dia cuma minta pasien atas nama Dea dipindahlan ke ruang raflesia, itu saja''


''Kalian benar-benar ngak tahu?''


''Ngak Nic''


''Ngak dokter'' ujar perawat yang ada disana.


''Ya ampun, dia itu anak bungsu bu Valencia'' ujar Nico yang membuat mereka semua terkejut.


''Terus pasien itu siapa?''


''Bapak tadi ngak ngomong juga?''


''Ngak'' ujar dokter Deni.


''Ehm, sepertinya keluarganya soalnya tadi waktu aku ngater ke ruang ICU dia manggil sayang sama pasien'' ujar perawat bernama Neni.


''Dia memang keluarga bu Valencia''


''Cucu bu Valencia?'' Tanya dokter Deni.


Puk


Sekali lagi Nico memukul kening dokter Deni dengan pulpen.


''Emang bu Valencia udah punya cucu?'' Tanya Nico.


''Ngak, terus apanya dong?''


''Pasien kamu itu menantu bu Valencia, tunangan Marvel anak bungsu bu Valencia yang tadi disini''


''Maksud kamu pasien itu benar-benar menantu bu Valencia?''


''Betul'' ujar Nico.


''Astaga kenapa anak bu Valencia itu tidak bilang?''


''Ngak tahu'' ujar Nico, meski ia tahu jika Marvel orang yang tidak suka menyombongkan apa yang dimiliki oleh keluarganya.


''Aku mau hubungi perawat disana dulu, mau minta mereka nyiapin ruangan'' ujar Nico keluar dari ruanagn itu.

__ADS_1


''Ternyata anaknya bu Valencia, mudah-mudahan dia tak menilai buruk atas ucapan kita tadi'' ujar dokter Deni dan di angguki oleh perawat yang ada di situ.


__ADS_2