
Setelah bersiap Dea dan Marvel segera meminta ijin untuk pamit ke sekolah. Meski sudah tak ada kegiatan belajar mengajar namun mereka masih datang hari ini untuk menerima buku hasil laporan belajar mereka selama kurang lebih setahun ini.
''Nanti aku pulang ke rumah ibu ya sayang'' ujar Marvel sesaat setelah mereka berdua sampai di sekolah.
''Iya pak, pasti mama juga sudah rindu sama bapak''
''Iya dong aku kan anak mama''
''Aku juga anak mama, buktinya kalau ada aku pasti bapak di cuekin sama mama''
''Ngak tuh''
''Iya''
''Ngak''
''Iya''
''Ngak''
Keduanya terus berdebat hingga akhirnya mereka di kagetkan dengan suara panggilan seseorang yang memanggil nama Marvel.
Dea dan Marvel serentak berbalik dan mereka terkejut saat mendapati siapa yang memanggilnya.
Devina adalah orang yang memanggil Marvel entah ada apa ia memanggil Marvel.
''Iya, ada apa bu Devina?'' Tanya Marvel.
''Boleh bicara sebentar?''
''Boleh bicara saja''
''Tapi ini agak pribadi, aku ingin berbicara hanya berdua'' ujar Devina melirik ke arah Dea.
''Saya ke kelas dulu pak'' ujar Dea hendak berlalu namun tangannya di tahan oleh Marvel.
''Tidak sayang, kamu harus tetap disini. Karena ini hal pribadi aku ingin bu Devina bicarakan saja disini, Dea adalah tunangan ku sekarang dan aku tak ingin menyembunyikan apapun darinya. Aku tak mau terjadi salah paham antara aku dan Dea'' ujar Marvel membuat raut wajah bahagia di wajah Devina kini berganti dengan raut wajah kesal menatap Dea yang berdiri di samping Marvel.
'Awas kau Dea tunggu saja aku akan merebut Marvel darimu. Kau tak tahu saja jika bi Lastrimu yang membantuku untuk merebutnya darimu' batin Devina sembari melihat pada genggaman tangan Marvel dan Dea.
''Katakanlah bu Devina, saya tidak punya banyak waktu''
''Saya ingin mengundang kamu dan tante Valen ke acara ulang tahun mama saya besok. Apa kamu bisa datang?''
''Saya tidak bisa memastikan bisa datang atau tidak, nanti saya tanya sama ibu dulu''
''Iya tidak apa-apa''
''Baiklah kami permisi'' ujar Marvel menarik tangan Dea pergi dari sana.
''Kami permisi bu'' ujar Dea.
''Ngapain sih kamu pamit sama dia De?''
''Emang kenapa pak? Bu Devina itu guru disini jadi Dea harus menghormatinya''
''Orang kayak dia ngak pantas di hormati De, aku masih kesal kalau ingat perlakuannya sama kamu''
''Jangan begitu pak, lagi pula saya sudah memaafkan semuanya''
''Kamu memang terlalu baik sayang'' ujar Marvel mencubit gemas pucuk hidung Dea.
''Saya ke kelas dulu pak'' ujar Dea melepas genggaman tangannya dari tangan Marvel.
''Ia sayang''
Dea segera menuju ke kelasnya, meski tak ada kelas namun Dea tetap menuju kelasnya karena ingin mencari Darmi.
''Pagi Mi''
''Pagi juga De, bareng pak Marvel lagi?''
''Iya Mi''
''Jadi pak Marvel..''
__ADS_1
''Iya'' ujar Dea mengerti akan ucapan Darmi yang tidak ia lanjutkan.
''Kamu hutang penjelasan apa yang kalian lakukan. Ayo ke taman aku mau tahu cerita lengkapnya''
''Tapi..''
''Udah ayo'' Darmi menarik tangan Dea untuk mengikutinya.
Dea menghela nafas mengikuti langkah Darmi, ia akan menceritakan bagian-bagian tertentu saja. Ia tak akan menceritakan bagian yang menurutnya privasi baginya dan Marvel.
''Nah kita duduk di tempat Sukma dan Gema aja'' ujar Darmi menunjuk tempat dimana ada Sukma dan Gema duduk.
''Ayo'' ujar Dea.
'Hy De, hy Mi'' ujar Gema melihat kedatangan keduanya.
''Hy juga, kalian lagi ngapain?''
''Kita lagi duduk-duduk aja Mi, ngak tahu mau ngapain'' ujar Gema.
''Iya, ngak datang juga ngak boleh, padahal di sekolah ngak ngapa-ngapain'' ujar Sukma menimpali ucapan Gema.
''Sekarang ayo cerita De mumpung kita semua lagi disini'' ujar Darmi.
''Cerita apa?'' Tanya Gema.
''Iya cerita apa Mi?''
''Cerita tentang pak Marvel yang sudah bermalam di rumah Dea'' ujar Darmi membuat Dea langsung melototkan matanya. Namun bukannya takut mereka bertiga malah tersenyum.
''Ngak usah melotot gitu kita ngak akan takut, ayo cepat ceritakan''
''Ayo De''
''Iya-iya''
''Ceritalah De''
''Iya-iya, jadi semalam pak Marvel nginap di rumah ku lagi''
''Lagi?'' Tanya Darmi.
''Maksud kamu lagi? Apa pak Marvel sudah pernah bermalam sebelumnya?''
''I-i-iya'' ujar Dea.
''Jadi sudah berapa kali pak Marvel bermalam?'' Tanya Sukma.
''Baru dua kali koq'' ujar Dea.
''Terus kalian bobo bareng gitu?''
''Ngaklah Mi, aku bobo sama nenek kalau pak Marvel di kamar ku''
''Serius?''
''Iy-iya serius, kalau ngak percaya tanya aja sama pak Marvel''
''Ya udah kita percaya'' ujar Gema.
Devina ternyata berada di balik pohon yang ada di belakang mereka, ia mendengarkan semua pembicaraan Dea dan teman-temannya.
'Jadi Marvel sudah pernah bermalam disana? Apa mereka sudah melakukannya? Ngak mungkin kan mereka ngak ngapa-ngapain, apa lagi Marvel sudah dewasa' batin Devina. Ia merasa semakin geram sama Dea.
Mereka berempat kemudian mengganti topik pembicaraan mereka setelah bosan menggoda Dea.
''Besok kita udah mulai libur kan ya?'' Tanya Sukma.
''Iya, kalian mau kemana liburannya?'' Tanya Gema.
''Aku ngak kemana-mana'' ujar Dea.
''Aku juga'' ujar Sukma dan Gema berbarengan.
''Kalau kamu Mi?''
__ADS_1
''Sepertinya aku akan ke kampung papa liburannya, padahal aku lagi malas kemana-mana''
''Bagus dong Mi, bisa jalan-jalan ke mampung orangtua kamu''
''Bukan masalah jalan-jalannya De, tapi jauhnya perjalanan itu. Kalian tahu kan kalau papa ku orang dari negara tetangga''
''Iya sih, tapi sekalian ke luar negri gitu'' ujar Sukma dan di angguki oleh Dea dan Gema.
''Entahlah rasanya aku tak ingin ikut saja, lebih baik aku disini sama si mbok''
Mereka terus bercerita hingga mereka lupa waktu, tak terasa sudah waktunya mereka untuk pulang. Setelah menerima rapor mereka semua pulang.
''Selamat liburan ya teman-teman'' ujar Dea pada ketiga sahabatnya saat mereka berpisah di gerbang sekolah.
''Iya De, selamat liburan juga hati-hati di jalan'' ujar Gema.
''Iya kalian juga hati-hati'' ujar Dea melambaikan tangannya ke arah ketiganya yang sudah mulai berjalan mennjauh.
''Sudah pulang sayang?'' Tanya Marvel mulai merangkul bahu Dea.
''Loh bapak masih disini? Bukannya tadi bilang mau pulang''
''Iya tadinya aku sudah mau pulang tapi aku lupa kakau aku meninggalkan sesuatu''
''Oh gitu, terus sudah ketemu pak? Atau mau Dea bantu cari?''
''Sudah ketemu sayang'' ujar Marvel mengeluarkan sebucket mawar putih dari belakangnya.
''Pak'' hanya kata itu yang mampu Dea ucapkan dia terharu atas perlakuan Marvel padanya.
''Sudah sayang jangan menangis aku sudah bilang kan aku tak mau melihat air matamu lagi'' Marvel mengusap air mata di pipi Dea.
''Terimakasih pak''
''Sama-sama sayang. Terimakasih juga karena kamu sudah belajar dengan sangat baik hingga bisa menjadi juara satu lagi''
''Saya peringkat satu lagi?''
''Iya sayang selamat ya''
''Terimakasih pak''
''Ayo aku mau ajak kamu ke suatu tempat'' ujar Marvel menarik tangan Dea menuju ke motornya.
''Kemana?''
''Ayo ikut aja'' ujar Marvel memberikan Dea helm dan mulai menyalakan mesin motornya.
Setelah Dea naik ke atas motor, Marvel mulai melajukan motornya perlahan.
Sekitar 1 jam 45 menit berkendara mereka tiba di sebuah rumah sederhana yang berada di kabupaten berbeda dari tempat tinggal mereka.
''Ini rumah siapa pak?''
''Kamu suka ngak?''
''Suka pak tapi rumah siapa?'' Tanya Dea.
''Siang pak Marvel dan nona Dea'' ujar seorang ibu paru baya menghampiri keduanya.
''Siang juga bu Lusi''
''Ayo masuk pak, non'' ujar bu Lusi membuka pintu rumah dan mempersilahkan Dea dan Marvel untuk masuk dan duduk.
''Kamu suka ngak sayang dengan rumah ini?''
''Aku suka pak, tempatnya adem''
''Kalau begitu kamu pegang ini'' ujar Marvel memberikan sebuah kunci pada Dea.
''Ini kunci apa pak?''
''Itu kunci rumah ini sayang, rumah ini adalah rumah kamu sayang''
''Rumah saya'' ujar Dea bingung.
__ADS_1
''Iya sayang''
''Tapi bagaimana bisa?'' Tanya Dea kebingungan. Bagaimana ia bisa tiba-tiba punya rumah. Ia melihat di kunci itu tertulis (RUMAH UNTUK DEA).