
Rasa lelah karena kegiatan yang banyak seharian ini membuat ku cepat terlelap, aku bahkan tak terbangun lagi hingga pagi menjelang.
''Pak Marvel'' ujar seseorang memanggil nama ku membuat aku terbangun dari mimpi buruk ku.
Aku segera membuka mata ku begitu aku merasakan jika ada yang sedang menepuk-nepuk pipi ku. Ketika aku membuka mata, aku melihat semua orang sudah berkumpul di kamar tempat aku dan Gema tidur.
''Ada apa nak Marvel? Apa mak Marvel mimpi buruk?'' Tanya paman Zei.
Aku menganggukkan kepala, Dea menyodorkan segelas air pada ku dan segera aku habiskan dalam beberapa tegukan saja.
''Terimakasih'' ujar ku pada Dea yang tersenyum menatap ku, senyuman yang mampu membuat aku merasa tenang.
''Sama-sama kak, ada apa kak? Kenapa kakak tadi teriak-teriak manggil Dea sama baby Zeina?'' Tanya Dea menatap ku.
''Aku mimpi buruk, kamu sama adek Zeina hilang di sapu sama ombak di laut'' ujar ku dengan keringat dingin mengingat mimpi buruk yang baru saja aku alami.
Semua orang terkejut mendengar ucapan ku, ''itu hanya bunga tidur nak, banyak-banyak berdoa saja'' ujar pak Soni, saudara dari mendiang ibu paman Zei.
''Iya pakde'' ujar ku.
Setelah semua orang keluar dari kamar, kini tinggal aku dan Dea yang ada di dalam sana. Aku memeluk Dea kemudian menangis dan membuatnya terkejut.
''Jangan tinggalkan aku sayang'' ujar ku dengan isak tangis.
''Dea ngak akan ninggalin kakak, kecuali kakak yang ninggalin Dea. Sudah jangan menangis, malu kalau adek Zeina dengar kakak nangis'' ujar Dea kemudian tertawa. Aku tahu dia sedang mencoba untuk menghibur ku yang sedang risau karena masih memikirkan mimpi itu.
''Sekarang kakak bangun kita sarapan sama-sama'' ujar nya setelah aku melepaskan pelukan. Ia berdiri dari duduknya kemudian mengulurkan tangannya, hal yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Dengan bahagia aku menyambut uluran tangan Dea, aku tersenyum dan melangkah bersamanya menuju meja makan dimana paman zei, pak Soni, Gema, Darmi dan Sukma sudah duduk.
''Loh, kamu apain pak Marvel sampai nangis De?'' Tanya Darmi.
''Eh, ngak aku apa-apain koq'' ujar Dea kemudian menarik tangan ku untuk duduk. Aku jadi memiliki ide untuk menjahilinya.
''Aku habis di cubit sama Dea, Darmi'' ujar ku dan membuat Dea melototkan mata sipitnya pada ku.
''Tuh, liat sekarang dia malah melotot pada ku'' ujar ku dan membuat semua yang ada di meja makan tertawa.
''Ada apa nih kayak ya seru?'' Tanya bude Erny yang ikut bergabung bersama kedua putrinya, Nancy dan Celin.
''Ini mah, katanya Dea habis nyubitin Marvel sampai nagis'' ujar pak Soni.
''Yang benar De?''
__ADS_1
''Ngak bude, pak Marvel bohong'' ujar Dea kemudian menutup mulutnya, aku tersenyum dan membuat Dea langsung menunduk.
''Salah ngomong lagi'' gumamnya pelan namun masih bisa ku dengar karena kami duduk berdampingan.
Dea terlihat pura-pura tak mendengar padahal aku tahu jika ia sedang berpikur saat ini, sebab setial dia memanggil aku dengan panggilan pak, aku akan menghukumnya entah dengan aku cium pipinya atau aku cubit hidungnya.
''Ngomong apa kamu De, bisik-bisik gitu'' ujar Darmi.
''Eh, ngak ngomong apa-apa koq''
''Ayo kita sarapan dulu'' ujar paman zei mulai menyendok nasi ke piringnya dan di ikuti oleh kami semua.
''Ini enak sekali, beli dimana Zei?'' Tanya bude Erny.
''Ini ngak beli bude, Dea yang masak'' ujar paman Zei.
''Wah, ini enak sekali Dea, bibi saja ngak pernah masak sampai enak begini'' ujar bude Erny.
''Ngak enak koq, biasa aja'' ujar Celin anak bude Erny.
''Ini enak loh Celi, nanti ajarin aku juga ya Dea?'' ujar Nancy.
''Boleh kak'' ujar Dea.
Celin adalah putri pertama pakde dan Nancy adalah putri bungsu pakde Soni, umur Celin hanya beda 3 tahun dari ku, sedangkan Nancy beda 7 tahun dari Celin.
''Ngak usah berlebihan, ini rasanya biasa aja, lebih enak yang aku beli di warung pinggir jalan'' ujar Celin dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Aku tersenyum melihatnya, lain yang ia katakan lain pula yang ia perbuat. Ia mengatakan jika makanan buatan Dea tak enak tapi dia sangat menikmatinya.
''Katanya ngak enka koq lahap banget'' ujar pakde Soni.
Semua yang ada di meja makan sontak melihat ke arah Celin yang sudah gelagapan dan hampir tersedak karena berusaha menelan sekaligus makanan yang ada di dalam mulutnya.
Aku hanya tersenyum dan menatap Dea yang juga sedang tersenyum, lebih tepatnya ia menahan tawanya.
Setelah sarapan usai, pakde Soni, bude Erny dan kedua putrinya bersiap untuk pulang. Awalnya aku pikir mereka akan tinggal beberapa hari namun mereka mengatakan jika mereka harus pulang karena kebun tak ada yang mengurus.
Sekitar pukul 10 pagi, aku dan paman Zei mengantarkan keluarga pakde Soni ke terminal bis. Sepanjang perjalanan Celin terus diam namun aku tahu jika ia terus memperhatikan ku yang sedang mengemudikan mobil.
''Nak Marvel ini kerja dimana?'' Tanya bude Erny.
''Saya guru bude''
__ADS_1
''Wah, sama dong sama saya kak'' ujar Nancy.
''Kamu guru apa Nancy?''
''Guru fisika kak''
''Kalau saya guru bahasa inggris'' ujar ku.
''Kebiasaan kamu Nancy kalau ada yang ngomong ikut nimbrung aja'' ujar bude Erny.
''Ya maaf bu, habis Nancy juga pengen ngobrol sama kak Marvel'' ujarnya dan membuat Celin menatap kesal ke arah sang adik.
''Mau ngobrol apa?'' Tanya ku.
''Aku boleh ngak minta nomor telpon Dea? Aku mau di ajarin masak sama Dea, biar nanti kalau sudah nikah, bisa pintar masak seperti Dea''
''Ikut les aja Ecy, kan banyak tuh yang ngajarin les masak, mereka juga lulusan sekolah juru masak'' ujar Celin.
''Biar aja, aku kan maunya di ajari sama Dea, boleh kan kak?''
''Tentu saja boleh, nanti aku kasih nomornya ya'' ujar ku kemudian memarkirkan mobil karena kami sudah tiba di parkiran terminal.
Disana sudah berjajar beberapa bis yang akan mengantarkan penumpangnya ke kampung halaman mereka masing-masing.
''Bude, Zei sama paman beli tiket dulu''
''Iya Zei, bude sama adik-adikmu tunggu disini'' ujar bude duduk di salah satu kursi.
''Marvel, pakde titip bude dan adik-adik ya''
''Iya pakde'' ujar ku ikut duduk di samping kiri bude Erny.
Nancy duduk di samping kanan ibunya, sedangkan Celin sendiri lebih memilih duduk menyendiri di bangku yang lain.
''Kak nomornya Dea'' ujar Nancy menyodorkan ponselnya pada ku.
Segera aku mengetik nomor ponsel Dea pada ponsel milik Nancy, ia terlihat gembira setelah mendapat nomor ponsel Dea.
Nancy mengotak-atik ponselnya sejenak kemudian menempelkan pada telinganya, ''Halo Dea, ini Nancy, nomor aku di simpan ya'' ujar Nancy dengan senyuman.
Ternyat dia langsung menelpon Dea, ''semoga dia juga bisa menjadi sahabat Dea'' gumam ku.
''Terimakasih ya kak, aku boleh kan berteman sama Dea''
__ADS_1
''Tentu saja, semoga kkaian juga bisa jadi sahabat''
''Amin'' ujar Nancy kemudian tersenyum dan memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan fotonya bersama Dea dan ketiga sahabatnya.