MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
PEREMPUAN BERWAJAH MIRIP DEA


__ADS_3

(pov author)


Setelah bertemu dengan mbok Namu, Dea segera berangkat ke rumah yang dimaksud oleh bu Mery.


"Ayo mbok kita berangkat" ujar Dea mengikuti langkah mbok Namu menaiki sebuah angkutan umum.


"Ngak apa-apa kita naik angkutan umum kan?"


"Ngak apa-apa mbok, Dea juga udah biasa naik angkutan umum"


"Sekitar 20 menit baru kita tiba di rumah bi Mery nak, setelah tiba kamu istirahat dulu baru kita ke kantor kelurahan buat urus surat-surat yang kamu butuhkan selama disini" ujar mbok Namu.


"Iya mbok, maaf ya Dea ngerepotin mbok"


"Ngak apa-apa nak, ibu tidak merasa di repotkan" ujar mbok Namu.


Angkutan umum yang Dea dan mbok Namu naiki mengantarkan keduanya hingga tiba di halaman rumah bu Mery. Ternyata mobil itu sudah di sewa oleh mbok Nmau untuk menjemput Dea, oleh sebab itu ia tak mengambil penumpang saat di jalan tadi.


"Ini rumahnya nak, semoga kamu betah ya disini. Kamu sitirahat dulu, kalau butuh apa-apa datang saja ke rumah mbok, rumah mbok yang di sebelah kanan rumah ini nak" ujar mbok Namu setelah mengantarkan Dea masuk ke dalam rumah.


"Iya mbok terimakasih"


"Ya sudah kamu iatirahat dulu nanti jam 9 baru mbok kesini, sarapan buat kamu sudah mbok siapin di dapur ya, ada di dalam kuali masih di atas tungku biar tetap hangat"


"Terimakasih mbok, maaf ya Dea sudah buat repot mbok"


"Ngak apa-apa nak, sana kamu mandi terus istirahat"


"iya mbok"


Dea masuk ke dalam kamar yang sudah di tunjukkan mbok Namu setelah menutup pintu utama rumah itu.


"Aku mandi dulu deh sebelum tidur, aku merasa ngantuk gara-gara ngak tidur di bis" ujar Dea mulai menata bajunya yang hanya beberapa lembar ke dalam lemari.


Dea tertidur setelah mandi, ai merasa sangat lelah dan mengantuk karena tak tidur selama perjalanan.


*


(pov Marvel)


Sudah setengah tahun lebih Dea menghilang tanpa ada kabar berita, meski orang-orang mengatakan ia meninggalkan ku demi laki-laki yang lebih berada namun aku tak yakin dengan semua itu.


Aku sudah mengenal Dea lebih dari dua tahun dan aku tahu betul bagaimana karakter Dea. Dea bukanlah orang yang suka dengan harta benda, dia lebih suka sesuatu yang sederhana.


Meski kini aku sudah menikah bahkan istriku sedang mengandung, entah mengapa aku tak bisa melupakan Dea. Jauh di sudut hati ku, aku masih sangat mencintai Dea, masih ada cinta yang sangat besar untuknya.


''Mas'' terdengar suara Regina memanggil ku dari luar kamar.


Aku dan Regina memang berpisah kamar sejak aku tahu jika aku dan Regina menikah bukan atas dasar cinta melainkan saat itu aku di guna-guna olehnya.

__ADS_1


Dulu aku tak percaya dengan hal seperti itu tapi sejak aku mengalaminya sendiri aku jadi tahu jika hal seperti itu memang ada. Bukan hanya aku saja, tapi ayah ku juga terkena guna-guna dari Regina, sebab itulah ayahku sangat menginginkan pernikahan ku dengan Regina saat itu. Selain untuk menutupi rasa malu karena Dea tiba-tiba menghilang beberapa hari menjelang hari pernikahan kami.


''Iya Regina ada apa?'' Tanya ku saat pintu sudah ku buka.


''Aku akan periksa ke dokter mas, kata dokter kali ini harus pergi dengan suami'' ujar Regina.


''Baiklah tunggu aku di depan , aku ganti baju dulu'' ujar ku kemudian menutup pintu kembali.


Segera aku berganti pakaian karena harus mengantarkan Regina ke dokter kandungan yang berada di kota U.


Biasanya ia akan pergi dengan ibunya, namun karena ibunya sedang ada kegiatan maka aku yang akan menemaninya kali ini. Lagi pula aku juga ingin tahu perkembangan anak yang ada di kandungan Regina. Meski aku tak mencintai Regina, tapi kini sudah ada benih ku yang tumbuh di rahimnya. Aku tak mungkin mengabaikannya, aku bahkan mencoba untuk menyayangi Regina namun sangat sulit untuk ku.


''Ayo kita berangkat'' ujar ku setelah aku berganti pakaian.


Setelah mesin mobil menyala, Regina segera ikut naik ke mobil dan kami mulai perjalanan ke kota U.


Sebenarnya disini juga tak kurang banyak dokter kandungan namun Regina lebih suka memeriksakan diri di kota U.


Akupun juga tak mempermasalahkan hal itu karena rumah sakit itu juga rumah sakit yang di dirikan oleh orangtua ku, selain itu karena kata orang kita harus menjaga perasaan orang hamil jika ada keinginannya dan masih bisa di penuhi lebih baik jika di kabulkan.


''Mas, nanti mas ikut aku ke dalam ruangan dokter ya, kata dokter jenis kelamin anak kita mungkin sudah terlihat mas'' ujar Regina saat kami sudah hampir tiba di kota U.


''Iya'' jawab ku.


Setelah memarkirkan mobil aku dan Regina langsung menuju ke ruangan khusus bagi pemilik rumah sakit. Kami akan menunggu di ruangan itu sebelum nama Regina di panggil oleh suster untuk di periksa.


Perut Regina sudah terlihat membuncit saat ini sebab usia kehamilannya juga sudah memasuki usia 28 minggu.


Dia hanya mengangguk kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


''Jangan lama-lama mas'' ujarnya sebelum aku keluar dari ruangan itu.


Aku berjalan menuruni anak tangga menuju ke ruang dokter untuk mendaftarkan Regina, saat sedang berjalan menuju ke ruangan dokter, mata ku menangkap sesosok perempuan dengan wajah yang mirip dengan Dea namun badannya terlihat seperti sedang mengandung, terlihat seperti badan Regina namun perutnya lebih besar.


''Apa itu Dea?'' Tanyaku pada diri sendiri, saat hendak menyapanya dokter Renata datang menghampiriku.


''Ada apa tuan Marvel?''


''Eh dokter, ini saya mau daftar buat pemeriksaan Regina'' ujar ku menyerahkan buku pink milik Regina juga ktp dan kartu keluarga.


''Silahkan bawa nyonya Regina tuan, saya sudah tak ada pasien lagi''


''Baik dok, saya akan jemput Regina dulu'' ujar ku bergegas kembali ke ruangan dan mengajak Regina untuk ke ruangan dokter untuk di periksa.


Dokter mulai melakukan pemeriksaan pada Regina dan menjelaskan beberapa hal pada kami berdua namun aku tak mendengar apapun, pikiran ku di penuhi oleh perempuan berwajah mirip Dea tadi.


''Mas'' ujar Regina.


''Iya, ada apa?''

__ADS_1


''Begini tuan Marvel dan nyonya Regina, menurut pemeriksaan saya ada masalah pada kehamilan nyonya Regina yang memungkinkan bayi lahir lebih awal dari yang seharusnya'' ujar dokter Renata.


''Maksudnya bagaimana dokter?''


''Maksud saya, ada kelainan dalam kehamilan nyonya Regina dan kemungkinan nyonya Regina akan melahirkan prematur. Saya akan meresepkan obat dan vitamin, tolong di jaga dengan baik kandungannya ya bu'' ujar dokter Renata.


''Iya dokter'' ujar Renata.


''Terimakasih dokter'' ujar ku kemudian keluar dari ruangan dokter bersama Regina. Kami menuju ke apotik untuk menebus resep obat dan vitamin.


''Mas, aku mau ke kantin dulu ya. Aku mau beli manisan'' ujar Renata saat kami sedang menunggu antrian untuk mengambil obat di apotik.


''Iya, hati-hati'' ujar ku.


Setelah Regina berlalu ke kantin rumah sakit, aku kembali duduk di kursi sambil menunggu nama Regina di panggil untuk mengambil obat dan vitamin.


Mata ku kembali terpaku pada sosok perempuan yang sedang duduk di depan ruangan dokter Geri yang berada tak jauh dari tempat ku duduk saat ini. Kali ini aku yakin jika itu adalah Dea, meski perutnya agak membuncit tapi aku sangat yakin jika itu adalah Dea. Jantungku berdebar-debar saat aku melihatnya, senyumnya masih sama seperti dulu.


''Dea'' panggil ku yang membuat wanita itu menoleh dan membuat ku semakin yakin jika itu Dea.


Saat melihat ku, dapat ku lihat jika ia terlihat terkejut, ketika hendak menghampirinya nama Regina dipanggil oleh petugas apotik sehingga aku harus mengambil obat Regina dulu.


Aku melihat perempuan itu bergegas pergi meninggalkan tempat duduknya saat melihat ku berdiri. Ia terlihat tergesa-gesa berjalan saat aku melihat ke arahnya dan membuat ku semakin yakin jika ia Dea, wanita yang selama ini aku rindukan.


Setelah membayar obat Regina aku segera menuju ke tempat dimana wanita tadi pergi. Aku menyusuri lorong hingga ke halaman rumah sakit namun aku tak menemukan wanita itu lagi, ''kamu dimana Dea? Aku tahu itu kamu'' ujar ku sambil melihat ke kanan kiri mencari wanita berwajah mirip Dea.


Karena tak menemukan apa-apa, aku memutuskan untuk ke ruangan dokter Geri mencari tahu apa benar itu Dea atau bukan.


''Siang dokter'' ujar ku setelah mengetuk pintu ruangan dokter Geri.


''Siang. Oh tuan, silahkan masuk, ada apa tuan? Ada yang bisa saya bantu?''


''Saya ingin bertanya apa ada pasien dokter bernama Dea?''


Alis dokter Geri berkerut mendengar pertanyaanku, ''tidak ada tuan, ada apa?''


''Saya tadi melihat orang yang mirip kawan saya duduk di depan ruangan dokter, sepertinya dia seorang ibu hamil''


''Maaf tuan saya tidak punya pasien ibu hamil, tapi ada pasien saya yang biasa di antar ibu hamil saat periksa kesini''


''Apa dokter tahu nama wanita yang mengantarnya?''


''Namanya kalau tidak salah Mely dia memang sedang mengandung''


''Dia mengantar siapa dok? Suaminya?''


''Bukan tuan, katanya bibinya dan dia sudah tidak punya suami dia janda''


'Apa mungkin aku salah liat, mungkin saja aku terlalu rindu pada Dea hingga aku berhalusinasi seperti ini' batin ku.

__ADS_1


Setelah mengucapkan terimakasih, aku segera keluar dari ruanagan dokter Geri dan menuju ke kantin menemui Regina dan setelahnya kami pulang karena hari juga sudah mulai siang.


__ADS_2