MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
DEA TAK SADARKAN DIRI (POV AUTHOR)


__ADS_3

Sehari setelah acara syukuran di rumaha bi Tina, Dea dan yang lainnya kembali ke kota tempat tinggal mereka.


Dea mencium pipi sang adik senelum ia meninggalkan kediaman sang bibi. Ia menangis saat akan kembali ke rumah, karena ia akan kesepian jika ia sudah kembali ke rumahnya nanti.


''Kalian hati-hati di jalan ya sayang jangan lupa untuk istirahat'' ujar bi Tina pada Dea yang sedang memasukkan ranselnya ke dalam mobil.


''Iya bi, Dea dan teman-teman pamit ya''


''Iya sayang'' ujar bi Tina memeluk Dea dan ketiga sahabatnya.


''Kami pamit paman'' ujar Marvel memeluk paman Zei.


''Iya nak, kalian hati-hati di jalan jangan lupa kabari paman jika kalian sudah sampai''


''Baik paman'' ujar Marvel kemudian masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudi.


Dea mencium baby Zeina sebelum masuk ke dalam mobil, mereka melambaikan tangan dari dalam mobil setelah mobil mulai perlahan berjalan meninggalkan pekarangan rumah.


Ketika mobil sudah berjalan sekitar 3 jam, tiba-tiba Dea merasa ingin muntah, ia dengan segera meminta Marvel untuk menghentikan kendaraannya.


Marvel dengan segera menghentikan kendaraannya ketika menemukan sebuah tempat yang cukup aman untuk menghentikan mobil. Saat mobil berhenti, dengan cepat Dea turun dari mobil, ia kemudian memuntahkan semua menu sarapannya tadi.


Ketiga sahabat Dea terkejut melihat Dea memuntahkan seluruh isi perutnya, ''kamu sakit De? Badan kamu panas, wajahmu juga pucat'' ujar Darmi.


''Ngak koq, aku cuma pusing aja'' ujar Dea mencoba tetap tersenyum meski ia merasakan kepalanya sangat berat dan sangat pusing.


Marvel memberikan Dea air hangat yang memang ia siapkan di termos kecil di atas mobilnya.


''Minum dulu sayang'' ujar Marvel, Dea menerima gelas yang di berikan Marvel kemudian langsung meneguknya.


''Terimakasih kak'' ujar Dea.


''Gimana udah baikan?'' Tanya Marvel memijat tengkuk Dea.


''Iya kak, ayo kita lanjutkan perjalanan lagi'' ujar Dea bangkit berdiri. Ia tak mau menunjukkan pada Marvel maupun ketiga sahabatnya jika ia sedang merasakan sakit yang teramat sakit di kepalanya.


Dea berusaha berdiri dan menyeimbangkan diri mamun karena sakit yang teramat sakit di bagian kepalanya membuatnya langsung ambruk tak sadarkan diri. Hampir saja kepalanya terbentur pada tanah jika saja Marvel tak segera memeluk tubuhnya.


Dea masih dapat mendengar suara teriakan ketiga sahabatnya memanggil namanya sebelum ia benar-benar tak dapat merasakan apa-apa lagi.


Marvel segera menggendong Dea dan membaringkannya di atas mobil, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan cepat untuk segera memcari rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Setelah berkendara sekitar 25 menit, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sakit, Gema segera turun dari mobil dan memanggil perawat.


Marvel segera menggendong Dea masuk ke ruang IGD, dengan panik ia berusaha menyadarkan Dea.


Seorang dokter terlihat menghampiri mereka kemudian mulai memeriksa keadaan Dea, saat menyentuh pergelangan tangan Dea, ekpresi wajah dokter itu membuat Marvel semakin khawatir.


Dokter itu menampilkan ekspresi wajah terkejut di tambah lagi ia dengan segera memerintah perawat untuk memasang beberapa alat medis pada tubuh Dea.


Marvel di minta keluar dari dalam ruang IGD oleh dokter, awalnya ia menolak namun akhirnya ia mau keluar setelah di bujuk oleh Gema.


''Kita tunggu saja di luar pak, berdoa semoga Dea tidak apa-apa'' ujar Gema.


''Dea kenapa Gema? Bapak khawatir sama Dea terlebih ekspresi dokter tadi terlihat sangat panik'' ujar Marvel mulai meneteskan air matanya.


Darmi dan sukma juga mulai menangis mereka sangat khawatir dengan sahabat yang sangat mereka sayangi itu.


''Marvel berjalan mondar-mandir di depan ruang IGD, beberapa orang mentap heran ke arahnya. Selang beberapa menit seorang perawat keluar dari dalam ruang IGD.


''Keluarga nona Dea'' ujarnya.


Marvell dan ketuga sahabat Dea segera menghampirinya, ''saya sus, bagaimana keadaan Dea?'' Tanya Marvel.


''Saya yang akan masuk sus'' jawab Marvel vepat dan di angguki oleh ketiga sahabat Dea.


Marvel berjalan di belakang perawat masuk ke dalam ruang IGD, disana ia tak melihat Dea lagi.


''Keluarga pasien nona Dea?'' Tanya dokter setelah Marvel berdiri di hadapannya.


''Iya dokter''


''Silahkan duduk pak'' ujar sang dokter.


Marvel duduk berhadapan dengan sang dokter yang memperlihatkan raut wajah sangat serius.


''Apa yang terjadi dengan Dea dok? Bagaimana keadaannya?'' Tanya Marvel.


''Pasien sudah baik-baik saja, hanya saja tadi sempat tak teraba lagi nadinya. Apa telah terjadi sesuatu yang membuat dia syok, karena hal ini biasanya terjadi jika seseorang mengalami syok. Atau mungkin pasien baru saja bersedih?'' Ujar dokter yang membuat Marvel bingung.


''Saya tidak tahu dok, karena semuanya terlihat baik-baik saja sejak tadi sampai akhirnya dia muntah, kami pikir dia hanya mabuk perjalanan saja dokter'' ujar Marvel menyesal ia tak menyadari keadaan sang kekasih.


''Apa pasien memiliki riwayat penyakit yang akut?''

__ADS_1


''Tidak dokter, hanya saja ia pernah menjalani operasi dan ada jahitan di bagian kepalanya, membuat Dea sering merasa pusing'' ujar Marvel dan membuat dokter menganggukkan kepalanya.


Dokter mengangguk kemudian membuat resep obat untuk Marvel tebus saat pulang nanti.


''Pasien kini sudah ada bed yang ada di belakang bapak, jika keadaannya sudah lebih baik, pasien sudah boleh pulang, silahkan bapak bisa tebus obat ini'' ujar dokter memberikan resep itu pada Marvel.


''Terimakasih dok'' ujar Marvel kemudian menuju ke tempat dimana Dea masih terbaring.


''Sama-sama usahakan pasien jangan sampai bersedih terlalu lama'' ujar dokter.


''Kak'' ujar Dea melihat Marvel berjalan menghampirinya.


''Gimana keadaan kamu sayang?'' Tanya Marvel.


''Aku baik-baik saja kak, maaf ya Dea sudah bikin kakak dan teman-teman khawatir'' ujar Dea mulai meneteskan air matanya.


''Hust, jangan bilang begitu sayang, jangan menangis, kata dokter kamu ngak boleh sedih nanti kamu bisa drop'' Marvel mengusap air mata Dea.


Dea mengangguk kemudian tersenyum dan akhirnya mereka keluar dari ruang IGD, Darmi dan Sukma langsung berdiri begitu melihat Dea.


''Dea'' ujar keduanya berdiri dan berlari memeluk sahabat mereka itu, keduanya tersenyum kala mendapati sahabat mereka sudah baik-baik saja.


''Bapak titip Dea ya, bapak mau mebus obat Dea dulu'' ujar Marvel pada ketiga sahabat Dea.


''Baik pak'' ujar Darmi.


Marvel berjalan ke arah apotik dan menebus obat Dea, sekitar 15 menit kemudian Marvel kembali dengan sekantong obat di tangannya.


''Banyak sekali obatnya kak'' ujar Dea, matanya membulat sempurna melihat ada beberapa jenis obat yang ada di dalam kantong plastik di tanngan Marvel.


Marvel hanya tersenyum melihat ekspresi terkejut sang kekasih, ia bahkan gemas melihat mata sipit Dea yang terbuka sempurna sehingga terlihat sangat lucu.


''Gimana sudah enakan belum?''


''Udah kak''


''Ayo kita cari tempat makan siang dulu, setelah itu kita makan, kamu harus minum obat sayang'' ujar Marvel.


''Iya kak''


Darmi dan Sukma menggandeng tangan Dea menuju ke mobil, meski Dea menolak tapi akhirnya ia menerimanya dari pada ia harus di gendong oleh Marvel.

__ADS_1


__ADS_2