MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
CALON ISTRI SAYA (POV DEA)


__ADS_3

Jam dinding baru menunjukkan pukul 7 pagi dan kami semua sudah sibuk di dapur mempersiapkan bahan masakan untuk di olah oleh ibu-ibu yang ada di sekitar sini. Di daerah ini sama seperti di daerah tempat tinggal ku, jika ada yang membuat suatu hajatan maka tetangga akan ramai-rami untuk membantu, bahkan ada juga yang terkadang membawa sumbangan berupa beras atau gula.


Aku juga sangat bersyukur karena bi Tina di kenal dengan baik oleh para tetangga disini meskipun beliau belum lama ini tinggal disini.


''Neng tolong kupas wortel sama kentangnya ya'' ujar bu Dewi, tetangga samping rumah bibi.


''Iya bu, habis Dea kupas mau di potong bagaimana bu?'' Tanya ku.


''Potong kotak-koatak aja neng, habis itu tolong di cuci ya, ibu mau motong-motong ayam dulu''


''Iya bu''


Aku mulai mengupas wortel dan kentang setelahnya aku memotong-motongnya dan mencucinya, aku tak melakukannya sendirian melainkan di bantu oleh Darmi dan seorang ibu lain yang belum aku ketahui namanya.


Setelah selesai mencucinya, aku segera membantu ibu-ibu yang lain yang sedang mengupas bawang, saat hendak duduk seseorang menegur ku.


''Neng Dea ya'' ujar seorang ibu yang sedang menggoreng ikan mas.


''Iya bu, maaf ibu siapa, mungkin kita pernah bertemu tapi saya lupa'' ujar ku.


''Neng Dea lupa ya kalau neng Dea pernah nolong ibu''


''Maaf bu, tapi Dea ngak ingat''


''Oalah neng Dea ngak ingat sama ibu yang neng Dea bayarkan tiket bis untuk pulang ke kampungnya?''


Aku berusaha mengingatnya kemudian tersenyum pada ibu itu, ''Ibu Ani ya?'' Tanya ku.


''Benar neng, ibu ngak nyangka kita akan ketemu lagi''


''Iya bu, Dea juga ngak nyangka, oh iya gimana kabarnya bu?'' Tanya ku sambil duduk membantu mengupas bawang.


''Kabar ibu baik neng'' ujar bu Ani sambil membalik ikan yang ada di atas kuali.


''Syukurlah kalau begitu, si ganteng mana bu? Dea jadi rindu sama si ganteng Andre''


''Andre ada di depan nak lagi main sama anak-anak yang lain. Oh iya neng Dea sama siapa kesini?''


''Dea ramai-ramai kesini bu, sama teman-teman Dea juga''


''Oh gitu neng, apa neng Dea ada kegiatan di kota ini?''


''Ngak ada bu, cuma mau datang menengok adek Zeina saja''


''Adek Zeina itu adeknya neng Dea?''

__ADS_1


''Iya bu, mamanya Zeina itu bibi Dea''


''Olah pantas neng Dea baik, bibinya saja baik'' ujar bu Ani.


''Dea ngak baik loh bu, kadang-kadang bisa juga jadi menyeramkan hehehehe'' ujar ku yang membuat bu Ani tertawa.


''De, uang belanja yang kemarin dimana?''Tanya pak Marvel masuk ke dapur.


''Ada di atas lemari yang ada di kamar ku kak'' ujar ku pada pak Marvel. Ia tersenyum ramah kepada ibu-ibu yang ada disana kemudian berlalu.


''Ya ampun berasa ketemu oppa-oppa korea'' ujar seorang ibu menatap kepergian pak Marvel.


''Iya anak siapa ya itu, ganteng sekali. Jadi berasa muda kembali liat yang segar-segar'' ujar seorang ibu lain dan membuat kami semua tertawa.


Ada sekitar 10 orang ibu-ibu yang membantu di dapur, yang sedang bersama ku saat ini sekitar 6 orang dengan bu Ani yang masih sibuk dengan kegiatannya menggoreng ikan.


Sambil bekerja mereka bercerita ngalor ngidul, karena semua yang ada si sini sudah menjadi ibu-ibu, otomatis yang mereka bahas semuanya berhubungan dengan rutinitas sebagai ibu rumah tangga.


Aku hanya diam mendengarkan dan menjawab bila di tanya, aku mencoba mengambil beberapa pelajaran dari mereka semua, karena cepat atau lambat aku pasti juga akan menjalankan peran yang sama dengan mereka.


''De, aku sama Sukma mau keluar sebentar ada yang perlu kami beli, kamu mau ikut ngak?''


''Ngak Mi, aku mau disini aja bantu-bantu. Oh iya siapa yang nganter kalian?''


''Oh gitu, ya sudah hati-hati di jalan ya'' ujar ku pada kedua sahabat ku.


Mereka berdua berlalu meninggalkan dapur, aku tersenyum memandang kedua sahabat ku itu. Betapa beruntungnya aku memiliki mereka, di saat aku susah maupun senang mereka selalu hadir.


''Neng yang tadi itu siapa?'' Tanya seorang ibu muda bernama yu Ana.


''Itu sahabat Dea bu, yang tinggi itu namanya Darmi dan yang rambut panjang itu namanya Sukma bu''


''Cantik-cantik ya mereka. Kira-kira mau ngak kalau tak comblangin dengan adik mbak?''


''Dea ngak tahu bu, coba saja mbak tanya nanti'' ujar ku padanya.


Yang lain langsung tertawa mendengar ucapan yu Ana, saat sedang bercanda bersama dengan ibu-ibu, pak Marvel kembali datang, aku segera berdiri dan menghampirinya.


''Baju ganti aku dimana sayang?'' Bisiknya pelan agar tak di dengar yang lain.


''Ada di kamar kak, di dalam tas ransel Dea'' ujar ku membuat pak Marvel mengangguk dan berlalu ke arah kamar.


Aku kembali duduk setelah pak Marvel berlalu, beberapa ibu-ibu mulai menggoda ku karena melihat kedekatan aku dan pak Marvel.


''Itu siapa neng, pacar neng Dea?'' Tanya yu Ana sambil menyenggol lengan ku.

__ADS_1


''Ayo neng kasi tahu kita, siapa namanya?''


''Namanya pak Marvel bu'' ujar ku tersipu malu.


''Walah-walah pacar neng Dea toh, tapi koq manggilnya pak?''


''Dia guru Dea di sekolah bu'' ujar ku dengan pipi yang sudah menghangat, entahlah mungkin sudah seperti tomat matang warnanya.


''Dia guru di sekolah neng Dea, apa pacar neng Dea nih?''


Aku tak langsung menjawab karena merasa gugup, antara malu dan entah apa rasanya aku juga tak tahu.


''De, Sukma sama Darmi kemana?'' Tanya Gema masuk ke dapur, aku bisa bernafas lega setidaknya aku tak harus menjawab pertanyaan ibu-ibu itu sekarang.


''Darmi sama Sukma lagi keluar Gem, katanya ada yang mau di beli. Mereka di antar paman koq''


''Oh gitu, ya sudah aku ke halaman dulu ya. Tolong bilang sama mereka kalau mereka pulang bilang orang ganteng nyariin'' ujarnya kemudian tersenyum pada ibu-ibu sebelum keluar dari dapur.


''Itu siapa lagi neng? Ngak kalah gagah dari pak Marvel. Eh iya tadi meg Dea belum jawab pertanyaan kita loh''


''Itu sahabat Dea juga bu, namanya Gema. Dia juga anak angkat bibi dan paman'' ujar ku.


''Terus kalau pak Marvel gimana?''


''I-itu...''


''Nah orangnya datang lagi, kita tanya langsung saja gimana'' ujar bu Ani yang ternyata sudah bergabung dengan kami karena telah selesai menggoreng ikannya.


Pak Marvel menatap ke arah ku dengan tatapan yang bingung, dan aku mengangkat bahu ku tanda tak tahu.


''Pak Marvel duduk dulu disini bareng kita-kita, ada yang ingin ibu-ibu kepo ini tanya kan'' ujar bu Sulis menarik tangan pak Marvel agar duduk di sebelah ku, bu Sulis salah satu tetangga bibi yang paling humoris.


''Duh sangat serasi cantik, manis dan gagah'' ujar beberapa ibu-ibu menatap kami berdua yang duduk berdampingan.


''Pak Marvel ini benar guru Dea?'' Tanya bu Sulis.


''Iya bu, maaf panggilnya Marvel saja agar lebih enak. Ibu lebih tua dari saya dan saya yang harusnya menghormati ibu''


''Jadi nak Marvel ini guru neng Dea, apa pacar neng Dea?'' Tanya bu Sulis lagi, ia menatap ku dan Marvel bergantian.


Marvel menatap ku kemudian menggenggam tangan ku dimana cincin pertunangan kami melekat. Ia menunjukkan cincin di jari kami pada semua ibu-ibu yang hadir disana dan membuat mereka terkejut.


''Dea ini calon istri saya bu, dia tunangan saya'' ujar pak Marvel.


''Wah ternyata tunangan neng Dea toh, pantas pipi neng Dea merona'' goda bu Ani.

__ADS_1


__ADS_2