MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
TIDUR SAMA-SAMA? (POV MARVEL)


__ADS_3

Hari ini aku begitu bahagia, rasanya aku ingin waktu berhenti di hari ini saja. Ternyata bersama orang yang kita cintai mampu membawa semangat baru dalam hidup kita.


Hal sederhana saja mampu membuat kita merasa bahagia ketika kita mensyukurinya, Aku berangkat bersama dengan Dea ke sekolah pagi ini dan pulang juga bersama.


Aku sangat gemas ketika Dea memanggil ku dengan panggilan pak, sudah ku coba untuk membuatnya memanggil ku dengan panggilan sayang, bahkan sudah ku uncam jika dia memanggil ku 'pak' lagi, aku akan menciumnya. Namun rupanya Dea sudah terbiasa dengan panggilan itu, hingga akhirnya aku biarkan saja, senyaman dia saja memanggil ku apa.


Ada satu kejadian dimana aku gemas padanya saat memanggil ku dengan panggilan pak, sontan saja aku mencium pipinya. Hal itu tentu saja membuat dia kesal, namun bukannya aku takut jika dia marah, aku semakin gemas saat dia mengomel sambil memgerucutkan bibirnya.


Segera aku tarik tangannya dan membawanya keluar dari kelas yang sudah sepi itu, aku tak ingin jika sampai sesuatu terjadi pada Dea dan aku adalah pelakunya. Biar bagaimanapun aku tetaplah seorang laki-laki dewasa, aku khawatir jika terus bersama Dea dalam keadaan sepi dan Dea yang menggemaskan, aku tak bisa menahan diri untuk tak melakukan sesuatu padanya.


Disinilah kami sekarang di dapur rumah Dea, meski masih menggunakan tungku kayu, namun dapurnya terlihat bersih dan rapi.


''Jadi kita mau masak apa pak?'' Tanya Dea saat aku mulai membersihkan ayam.


''Kita masak ayam kari sama sayur bening aja gimana?''


''Emang bisa pak?''


''Ya tentu saja bisa dong sayang''


''Aku bantu kupas bawang sama bersihkan sayuran saja ya pak''


''Iya sayang''


Aku dan Dea mulai melakukan kegiatan kami masing-masing, sesekali aku melirik Dea yang sedang tersenyum sembari melakukan pekerjaannya.


''Sekarang kamu duduk biar aku yang masak'' ujar ku setelah semua bahan sudah siap untuk kami masak.


''Yakin pak''


''Iya sayang''


Dea mengambilkan ku sebuah kursi kecil untuk aku duduk selama memasak,ia juga mengambil satu untuknya dan ikut menemani ku di dapur. Sesekali ia memperbaiki letak kayu bakar agar apinya tetap stabil dan tak padam.


''Hemmmm... wanginya'' Ujar Dea memejamkan matanya.


''Iya dong siapa dulu yang masak'' ujar ku.


''Ada pengantin baru nih yang sedang masak'' ujar bu Mira yang sedang menjemur pakaian. Rumah Dea dan bu Mira berseblahan, jika kita berada di dapur rumah Dea, maka kita akan melihat halaman rumah bu Mira yang digunakan sebagai tempat menjemur pakaian.


''Mampir bu'' tawar Dea.


''Ngak ah, ibu ngak mau ganggu''

__ADS_1


''Ngak ganggu bu, ayo mampir dulu'' tawar ku.


''Terimakasih pak Marvel dan neng Dea, lain kali aja ya ibu mampirnya. Ibu mau masak dulu nanti anak-anak pulang sekolah ibu belum masak''


''Baiklah bu'' ujar ku.


''Jangan lupa ntar malam Dea'' ujar bu Mira yang membuat kening Dea berkerut. Aku juga bingung apa maksud dari perkataan bu Mira itu.


''Ada apa nanti malam sayang?'' Tanya ku pada Dea.


''Aku juga ngak tahu pak, bingung aku sama ucapan bu Mira tadi''


''Oh gitu, ayo lanjut masaknya. Habis ini aku pinjam kamar mandi ya De''


''Iya pak''


Tak butuh waktu lama kedua menu yang kami buat telah selesai, Dea menatanya ke atas meja makan sementara aku pergi membersihkan diri ke kemar mandi.


''Udah siap sayang''


''Udah pak, aku panggil nenek dulu ya''


''Iya sayang''


Aku menunggu Dea dan nenek dengan duduk di tikar yang sudah di gelar oleh Dea. Kami akan makan dengan duduk di atas tikar, aku rindu dengan suasana seperti ini. Meja makan yang aku maksud tadi bukanlah meja makan seperti pada umumnya yang tinggi dan dilengkapi kursi. Meja makan di rumah Dea, terlihat imut, meski luas, namun tingginya hanya sekitar 40 cm.


''Maaf ya nak, nenek bikin kamu nunggu lama'' ujar nenek.


''Tidak nek, Marvel juga baru habis bersih-bersih''


''Ayo makan nak, Dea ambilkan minuman hangatnya''


''Baik nek''


Dea berlalu ke arah dapur dan tak lama ia kembali dengan membawa teko yang kata nenek berisi minuman hangat. Dea menuang kedalam gelas minuman hangat yang dimaksud oleh nenek.


''Nak Marvel, minumlah dulu, itu bisa membuat perut tak sakit jika kita makan makanan yang pedas'' ujar nenek.


''Enak nek'' ujar ku setelah minum beberapa teguk minuman yang di berikan Dea.


Kami menikmati makan siang dengan bahagia, sesekali nenek bercerita tentang masa kecil Dea. Aku begitu menikmati makan siang kali ini, kami juga mendapat beberapa wejangan dari nenek. Nenek sangat berharap aku dan Dea bisa berjodoh, banyak hal baru tentang Dea yang aku ketahui dari cerita nenek.


Aku harus lebih peka jika berada di dekat Dea, karena dari cerita yang aku dengar, Dea selalu menyimpan rasa sedih dan rasa sakit yang ia alami. Ia tak ingin membuat orang lain khawatir dengannya, oleh sebab itu, ia rela menanggung beban dan kesedihannya sendiri.

__ADS_1


Setelah makan siang, aku mengajak nenek untuk duduk di halaman samping rumah, Dea sendiri masih membereskan piring dan peralatan makan kami tadi.


Aku dan nenek bercerita sembari duduk di halaman, nenek bercerita banyak hal mengenai Dea. Aku jadi memahami bagaimana Dea bisa tumbuh menjadi anak yang kuat, itu semua karena ia sudah terlatih sejak kecil. Menurut cerita nenek, ibu Dea tak menginginkan kehamilannya saat mengandung Dea, alasannya karena saat mengandung Dea banyak masalah hidup yang mereka hadapi terutama masalah ekonomi. Beberapa kali ibu Dea mencoba menggugurkan kandungannya namun tak berhasil dan akhirnya lahirlah Dea.


Karena kehadirannya di anggap pembawa sial akhirnya sang ibu tak mau merawatnya bahkan sempat ingin membuangnya ke panti asuhan. Nenek yang tak tega meminta agar Dea dirawat olehnya, dua hari setelah lahir nenek memboyong Dea ke rumahnya dan mereka tinggal bersama hingga saat ini.


Orangtua Dea tak sekalipun menanyakan keadaan Dea sejak nenek membawanya ke rumah ini. Mereka hanya datang sesekali untuk melihat nenek bukan Dea.


'Sungguh berat beban hidupmu Dea, semoga kehadiran ku bisa membuat bebanmu sedikit berkurang' batin ku.


Ingin sekali aku memeluk Dea dan mengatakan padanya jika dia adalah perempuan yang sangat kuat yang pernah aku temui. Mungkin jika aku yang berada di posisinya aku tak akan sanggup.


Nenek meminta ijin untuk istirahat saat Dea menghampiri kami, dengan telaten Dea menuntun nenek masuk ke dalam rumah.


''Bapak mau istirahat juga?'' Tanyanya saat menemui ku di halaman.


''Emang boleh?''


''Boleh pak, bapak bisa tidur di kamar saya'' ujar Dea.


''Tidur sama-sama? Katanya ngak mau sekamar sama aku'' goda ku.


''Siapa juga yang mau temani bapak tidur?''


''Terus aku di suruh bobo sendiri?''


''Ya iya pak, lagi pula aku bisa tidur di kamar bibi atau nenek jika aku ngantuk''


''Ya sudah, kamar kamu mana?'' Tanya ku.


Dea berjalan mendahului ku kedalam rumah dan membukakan pintu kamarnya.


''Ini kamar aku pak, silahkan bapak tidur siang aku tidak ngantuk''


''Tapi aku mau tidur sama kamu''


''Ngak boleh'' ujarnya hendak berlalu namun dengan sigap aku memeluknya.


''Pak, bapak mau ngapain?'' Tanyanya pelan.


''Saya cuma pengen peluk kamu sebentar'' ujar ku.


Dea diam saja, mungkin ia terkejut namun dengan begitu aku tak perlu memaksanya agar tenang.

__ADS_1


''Terimakasih sayang'' ujar ku melepaskan pelukan.


''Iya pak'' ujarnya dengan pipi yang merah.


__ADS_2