
Setelah mengetahui tentang identitas asli Regina, Imelda semakin yakin untuk memcari tahu tentang Dea. Ia masih sangat berharap jika Marvel dan Dea bisa bersama kembali, ia juga sangat sedih melihat keadaan Marvel yang semakin hari semakin terpuruk.
Marvel kembali menjadi dingin seperti dahulu sebelum ia mengenal Dea, bahkan sudah banyak yang mengatakan jika Marvel tak segan untuk melukai dirinya sendiri jika sedang sedih. Ia juga sering kali melamun dan menangis tanpa sebab.
''Nak, apa yang harus kita lakukan untuk adikmu itu? Ibu sangat khawatir melihat keadaanya seperti itu'' ujar bu Valencia.
''Aku juga tidak tahu bu'' ujar Josep yang sedang duduk di samping ibunya sambil membaca buku.
''Bu, Jos, ada yang mau aku omongin sama kalian berdua'' ujar Imelda menghampiri ibu dan adiknya yang sedang duduk di taman yang ada di samping rumah.
''Ada apa kak?'' Tanya Josep.
''Aku pernah ketemu Dea'' ujar Imelda membuat mata kedua lawan bicaranya membulat sempurna.
''Dea?''
''Iya bu''
''Kamu ketemu Dea dimana? Bagaimana keadaannya?''
''Dea baik-baik saja bu, tapi...''
''Tapi apa kak?''
''Tapi sekarang aku tidak tahu Dea dimana?''
''Kamu ketemu dimana nak?''
''Di rumah sakit bu''
''Rumah sakit?''
''Kamu ingat ngak Jos, waktu kita ketemu sama Marvel di tangga saat mau jenguk Regina?''
''Ingat mbak kenapa?''
''Waktu itu mbak merasa ada yang aneh sama Marvel, mbak tanya dia mau kemana, dia bilang mau ke kantin padahal dia berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah kantin. Ia juga berjalan tergesa-gesa, karena khawatir akhirnya mbak ngikutin dia, dia berhenti di depan sebuah ruang perawatan pasien yang habis melahirkan terus dia menangis di depan pintu itu. Setelah cukup lama menangis dia pergi dari sana dan karena penasaran mbak kesana mau lihat siapa yang membuat Marvel menangis, mbak juga terkejut saat melihat Dea yang berbaring di kamar itu dengan seorang bayi mungil di sampingnya''
''Maksud mbak, Dea juga sudah punya anak?''
''Iya dek''
__ADS_1
''Jadi benar dong kalau Dea ninggalin Marvel buat laki-laki lain, buktinya sekarang dia sudah melahirkan. Mbak ketemu ngak sama suaminya Dea?''
''Ngak dek, kata orang yang bersama Dea, Dea sudah tidak punya suami''
''Maksudnya?''
''Maksudnya Dea sudah nerpisah dengan suaminya dek, itu kata orang yang bersamanya''
''Gimana kalau kita selidiki saja mbak apa yang sebenarnya terjadi, siapa tahu masih bisa kita persatukan lagi Dea dengan Marvel''
''Aku setuju dek'' ujar Imelda, kemudian ia dan Josep menoleh ke arah sang ibu meminta persetujuan.
''Gimana bu? Apa ibu setuju?''
''Tentu saja nak, ibu memang sangat menyayangi Dea, jika bisa bawa Dea kembali'' ujar bu Valencia.
*
Sebulan sudah berlalu sejak kelahiran putranya, hari ini Dea akan pindah dari rumah bu Mery, berkat kerja kerasnya kini ia telah berhasil membeli sebuah rumah yang nantinya akan ia tinggali bersama putra semata wayangnya. Meski tidak besar namun cukup jika hanya untuknya dan anaknya.
''Kamu jadi pindah hari ini nak?'' Tanya mbok Namu.
''Iya mbok, aku mau mencoba hidup mandiri mbok''
''Aku ngak apa-apa bu, justru itu aku ingin belajar bagaimana merawat Sion sendiri bu''
''Jika butuh bantuan, kamu jangan sungkan hubungi ibu atau Jessy nak''
''Iya bu'' ujar Dea.
Setelah berpamitan pada mbok Namu dan Jessy, Dea segera berangkat ke rumahnya yang baru. Syukuran untuk rumah barunya sudah ia lakukan beberapa hari yang lalu.
Sebenarnya bukan hanya karena Dea ingin merawat bayinya seorang diri namun juga karena ia tak mau jika keluarga Marvel tahu keberadaannya, sebab rumah yang selama ini ia tinggali sudah di ketahui oleh Marvel dan keluarganya. Beberapa kali Marvel, Imelda dan bu Valencia mendatangi rumah itu untuk mencari Dea namun ia terus bersembunyi dan membuat mbok Namu juga Jessy harus berbohong.
''Semoga kalian selalau dalam lindungan yang maha kuasa nak'' ujar mbok Namu.
''Amin. Bu, jika orang yang cari kak Dea datang lagi kita harus bilang apa?''
''Bilang saja jika kak Dea sudah pulang kampung nak, jangan beri tahu alamat kakakmu, kasian dia jika orang-orang itu mengusiknya lagi''
''Iya bu''
__ADS_1
Mbok Namu tahu betul alasan Dea untuk pindah rumah, oleh sebab itu mbok Namu dan juga bu Mery tak mempermasalahkan hal itu.
Sekitar satu jam perjalanan akhirnya Dea tiba di sebuah rumah yang cukup sederhana, dengan tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan juga tiga kamar mandi, satu di kamar dan dua di dekat dapur. Rumah itu berada di perbatasan antara kota U dan kota kelahiran Dea.
Rumah itu di beli Dea dengan harga 80 juta, sebenarnya pemilik sebelumnya tidak mau menjual rumah itu namun karena terdesak kebutuhan terpaksa ia menjualnya.
''Terimakasih pak'' ujar Dea sembari memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantunya membawa barang-barangnya masuk ke dalam rumah.
''Sama-sama bu, maaf ini terlalu banyak bu, ongkosnya hanya 100 ribu'' ujar supir taksi itu melihat ada sekitar 5 lembar uang merah di tangannya.
''Tidak apa-apa pak, anggap saja itu ucapan terimakasih saya karena bapak sudah membantu saya membawa barang-barang ini mausk ke rumah''
''Tapi ini terlalu banyak bu''
''Itu rejeki buat keluarga bapak, mohon diterima ya''
''Baiklah terimakaih bu''
''Sama-sama pak''
Setelah supir taksi itu pergi, Dea segera menutup pintu dan membaringkan putranya di kamar kemudian mulai menata baju-baju mereka ke alam lemari.
''Akhirnya selesai juga aku istirqhat dulu deh'' ujarnya berbaring di samping sang buah hati. Saat hendak menutup mata, ia terkejut mendengar suara dering ponselnya.
''Astaga aku lupa mengabari ibu'' ujarnya melihat nama Jessy tertera di layar ponselnya.
''Halo kak, sudah sampai?''
''Halo dek, maaf kakak lupa ngabarin kalian. Iya kakak sudah sampai, ini habis beres-beres baju ke lemari''
''Syukurlah, kalau begitu kakak istirahat saja''
''Iya dek, jaga ibu ya nanti kakak main-main kesitu''
''Iya kak''
Setelah mematikan sambungan telpon Dea tertidur di samping Sion, cukup lama keduanya tertidur hingga mereka bangun ketika hari sudah senja. Sion Pratama adalah nama dari putra Dea.
''Jagoan mama sudah bangun ya, ayo kita bersih-bersih dulu setelah itu ganti baju'' ujar Dea mulai membuka baju Sion kemudian mengelap badan Sion dengan air hangat dan memakiakan pakaian yang baru.
''Gantengnya jagoan mama, sayangnya papa kamu ngak menginginkanmu sayang. Sabar ya sayang kalau nantinya kamu harus tumbuh tanpa sosok ayah di sampingmu'' ujar Dea meneteskan air matanya. Ia sedih setiap kali mengingat nasib putranya yang harus lahir dan tumbuh tanpa sosok ayah di sampingnya.
__ADS_1
Malan pertama Dea lalui dengan hati yang tenang, selain karena ia sudah berada di rumah miliknya sendiri. Suasana di sekitar rumah itu cukup membuat Dea merasa tenang sebab ada banyak tetangga di sekitar rumahnya.
Ia merasa aman meski ia hanya tinggal berdua bersama anaknya, sebab di lingkungan itu juga selalu di laksanakan jaga malam oleh pemuda setempat.