MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
MENGUNJUNGI KUBUR NENEK (POV AUTHOR)


__ADS_3

Setelah selesai berbelanja dan hendak naik ke atas mobil, Dea tertegun melihat tiga buah mobil yang melaju melewatinya. Ia sangat hapal keyiga mobil itu.


''Ibu'' ujarnya lirih. Dari tiga mobil itu, salah satunya adalah mobil yang membawa ibu dan saudara-saudaranya yang akan pergi ke kampung paman Hans suami dari bibi Renata.


''Kamu ngak apa-apa sayang?'' Tanya Marvel.


Marvel melihat raut wajah Dea yang kembali murung setelah melihat mobil yang membawa rombongan keluarganya yang hendak ke kampung sang paman.


''Aku tidak apa-apa pak. Apa besok kita bisa pulang saja ke rumah bibi?''


''Tentu sayang'' ujar Marvel, ia sangat mengerti kenapa Dea ingin segera pulang ke rumah bibi, karena ia akan semakin merasa sakit hati jika masih berada di kampung ini.


''Kita pulang sekarang sayang? Katanya mau ke makam nenek'' Marvel menggandeng tangan Dea.


''Iya pak'' Keduanya masuk ke dalam mobil kemudian mobil perlahan meninggalkan kedai tempat mereka berbelanja tadi.


''Makam nenek dimana sayang?'' Tanya Marvel mencoba membuat suasana hati Dea kembali ceria.


''Kita langsung kesana?''


''Iya sayang, jadi nanti kalau pulang kita bisa langsung istirahat. Lagi pula cuaca agak mendung sayang, siapa tahu nanti hujan''


''Bailah pak, di depan sana kita belok kiri ngak jauh dari situ kelihatan koq kuburan nenek''


Marvel mengangguk dan mengikuti jalan yang Dea tunjukkan. Kini mereka sudah berdiri di depan sebuah bangunan, namun bukanlah sebuah rumah, bangunan yang di maksud adalah makam sang nenek, makam disini tak seperti makam yang orang-orang bayangkan.


Jika di tempat lain orang di kuburkan di dalam tanah, berbeda dengan di tempat Dea dan Marvel, disini orang-orang yang meninggal akan di kuburkan di dalam sebuah bangunan yang menyerupai rumah.


''Ini makam nenek sayang?'' Tanya Marvel.


''Iya pak, ayo''


Dea berjalan mendahului Marvel kemudian berbicara di depan pintu kubur sang nenek. Dea meletakkan sebuah mawar putih di samping foto sang nenek.


''Bagaimana kabar nenek? Dea datang lagi jenguk nenek. Semoga nenek sehat-sehat disana, ada yang mau Dea kenalkan sama nenek, dia calon suami Dea tolong beri kami restu nek'' ujar Dea melihat Marvel yang masih berdiri di samping mobilnya.


''Pak'' panggil Dea.


''Ah, iya sayang''


Marvel mendekati Dea dan juga ikut menyapa sang nenek mertua yang sudah tak bisa menjawab sapaannya.


''Halo nenek saya Marvel cucu menantu nenek, tolong restui kami'' ujarnya meletakkan bunga mawar putih di samping bunga mawar yang Dea letakkan tadi.


Mereka memberishkan rumput-rumput yang tumbuh di sekitar kubur sang nenek. Setelah cukup lama keduanya berada di tempat itu, mereka memutuskan untuk pulang karena gerimis juga mulai turun.


Dengan keadaan basah kuyup, mereka akhirnya tiba juga di rumah, Dea segera mandi begitupun dengan Marvel, dia mandi setelah Dea selesai mandi.

__ADS_1


''Pak, minum tehnya dulu'' panggil Dea pada Marvel yang sedang duduk-duduk di depan rumah.


''Iya sayang''


''Besok kita pulang ya pak''


''Iya sayang''


''Malam ini kita cuma berdua saja pak karena semuanya sedang pergi, ngak apa-apa kan pak?''


''Ngak apa-apa sayang'' Mereka berdua duduk sambil menikmati rintik hujan yang mulai deras.


''Maaf ya pak, kita harus tinggal di hutan seperti ini''


''Untuk apa minta maaf sayang, aku justru senang disini, jauh dari kebisingan. Kalau kita sudah kembali ke tempat kita besok, ngak akan lagi nyaman kayak disini''


''Iya pak''


Mereka berdua terus bercerita hingga malam menjelang barulah keduanya masuk ke dalam rumah.


Setelah makan malam keduanya memutuskan untuk mengerjakan tugas sekolah Dea. Marvel membantu Dea mengerjakan tugas sekolahnya, bukan dalam artian Marvel yang mengerjakan dan Dea hanya melihat. Marvel hanya membantu menjelaskan jika Dea tidak mengerti selebihnya Dea yang mengerjakan.


Setelah selesai dengan tugas-tugasnya, Dea segera mematikan senter kemudian menyalakan pelita dan lentera setelahnya mereka berdua baring-baring.


Ada rasa canggung di antara keduanya, mereka sama-sama merasa ada yang aneh karena mereka hanya berdua saja di rumah itu.


''Pak''


''Dea''


''Iya sayang, kamu saja yang bicara duluan''


''Bapak saja yang bicara dulu''


''Kamu jangan sedih dengan apa yang terjadi sayang'' ujar Marvel.


''Iya pak, saya tidak sedih, sudah biasa seperti ini'' ujar Dea tersenyum meski di sudut hatinya ia merasa sangat sedih.


''Aku tahu kamu sedih sayang''


''Tidak pak, aku tidak sedih. Kejadian seperti ini sudah sering terjadi pak, jadi buat apa aku sedih''


''Syukurlah kalau begitu sayang, aku tidak mau kamu sedih. Sekarang kita tidur ya sudah malam, juga besok kita mau pulang kan''


''Iya pak'' ujar Dea mulai menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan mulai menutup matanya.


''Dea'' panggil Marvel.

__ADS_1


''Iya pak, ada apa?'' Dea kembali membuka matanya.


''Apa saya bisa memelukmu?'' Tanya Marvel membuat Dea membulatkan matanya.


Dea hanya mengangguk membiarkan Marvel mendekat dan memeluknya, Dea percaya jika Marvel akan menjaganya. Dea tertidur lelap dalam pelukan Marvel begitu juga dengan Marvel yang tidur sangat nyenyak karena memeluk Dea.


Pagi menjelang, keduanya masih tertidur lelap karena masing-masing merasakan kenyamanan saat mereka tertidur saling memeluk.


Marvel mulai mengerjapkan matanya ketika merasa ada cahaya yang mengenai matanya. Ia segera membuka matanya kemudian hendak bangun, namun tak ia lakukan saat melihat Dea masih tertidur lelap di sebelahnya.


''Wajah kamu sangat teduh saat tertidur sayang serasa tak ada beban yang kamu tanggung'' ujar Marvel.


Ia mengecup pipi Dea kemudian bangun secara perlahan agar Dea tak terbangun. Marvel tak tahu jika tadi saat Marvel mencium pipinya, Dea sudah bangun hanya saja ia tak membuka matanya.


Setelah memastikan Marvel sudah keluar dari kelambu Dea baru membuka matanya, ia merasakan saat ini pipinya menghangat akibat di cium oleh Marvel.


''Pagi sayang'' ujar Marvel masuk kembali ke dalam kelambu karena melihat ada pergerakan. Dea yang sedang duduk sambil memegangi pipinya terkejut kemudian dia segera bersembunyi di balik selimutnya.


''Kamu kenapa sayang?'' Tanya Marvel melihat tingkah aneh Dea.


''Aku ngak apa-apa pak hanya terkejut saja'' ujar Dea dari balik selimut.


''Baiklah aku keluar dulu ya'' ujar Marvel berbohong karena ia masih duduk di hadapan Dea.


''Huft, syukurlah pak Marvel ngak liat pipi ku tadi, jika ia lihat habislah aku pasti di godain lagi'' ujar Dea dari balik selimut.


Marvel yang mendengarnya tersenyum lega, awalnya ia berpikir Dea sedang sedih namun setelah mendengar ucapan Dea barusan ia tahu jika kekasihnya itu sedang malu.


'Apa Dea tahu kalau tadi aku nyium Dia?' Tanya Marvel dalam hati.


Perlahan Dea membuka selimutnya dan ia kembali terkejut saat melihat Marvel yang sedang menatapnya. Dea bahkan berteriak dan membuat Marvel langsung memeluknya sehingga mereka berdua terjatuh dengan posisi Marvel yang berada di atas tubuh Dea.


Kedua bola mata Dea membulat karena Marvel mencium bibirnya.


''Ma-maaf sayang, aku ngak sengaja habis kamu teriak-teriak'' ujar Marvel bangun dari atas tubuh Dea. Ia berusaha menormalkan detak jantungnya yang sempat berdetak tak terkendali tadi.


''Ma-maaf..maaf pak, habis saya terkejut''


Mereka berdua bertatapan kemudian tertawa, Marvel kembali memeluk Dea dengan sangat erat.


''Kenapa bapak meluk lagi, aku mau bangun'' ujar Dea.


''Sebentar saja sayang''


''Baiklah'' Dea juga kembali memeluk Marvel. Karena merasa nyaman keduanya kembali tertidur lelap, Dea terbangun ketika ingin buang air.


''Astaga kenapa tadi aku tidur lagi'' ujarnya melepas perlahan pelukan Marvel.

__ADS_1


__ADS_2