
''Kalau pak Marvel benaran ada disini kira-kira kamu mau ngapain?'' Tanya Gema.
''Ngak ngapa-ngapain, lagian pak Marvel juga masih lama di sana'' ujar Dea masih terus menutup matanya.
''Kalau seandainya ada De''
''Ngak tahu, udah ngak usah ngomongin pak Marvel lagi, nih baunya aja semakin wangi'' ujar Dea hendak menunduk menikmati makanannya lagi.
''Aduh, kyaaaaa...'' ujar Dea saat kepalanya terjedot dahi Marvel.
Ia terkejut melihat wajah Marvel tepat berada di depan wajahnya, ia sampai berkedip beberapa kali.
''Ba-bapak'' ujar Dea terbata-bata.
Cup
Marvel mencium pipi Dea membuat pipinya memerah karena merasa malu di cium Marvel di hadapan Sukma dan Gema.
''Kan udah aku bilang jangan panggil bapak kalau di luar sekolah''
''Ya maaf pa, eh maaf kak'' ujar Dea.
''Bagaimana keadaan kamu sayang?'' Tanya Marvel mengusap kepala Dea.
''Aku baik-bain aja kak. Oh iya koq kakak ngak bilang kalau kakak udah pulang hari ini''
''Aku memang sengaja ngak ngasih tahu kamu karena mau bikin kejutan, eh malah aku yang terkejut dengar berita kalau kamu hampir di culik. Maaf ya, aku belum bisa jagain kamu dengan baik''
''Maaf ya kak, Dea ngak bisa jaga diri'' ujar Dea.
''Ngak sayang, inu bukan salah kamu. Oh iya hari ini kamu ngak usah masuk dulu ya, kita ke kantor polisi nyelesaiin masalah ini''
''Tapi...'' Dea menoleh ke arah kedua sahabatnya.
''Iya De, lebih baik kamu selesaikan dulu masalahnya. Lagi pula hari ini kita juga ngak belajar karena ada rapat''
''Iya, tapi aku ijin dulu ya sama walikelas aku kak''
''Saya sudah minta ijin De'' ujar Marvel.
Marvel ikut makan dengan ketiga sahabat itu, ia ikut makan makanan yang ada di piring Dea.
Setelah selesai sarapan kedua sahabat Dea segera berangkat ke sekolah, setelah keduanya berangkat, Dea dan Marvel juga segera berangkat ke kantor polisi.
''Apa ngak apa-apa kalau saya libur kak?''
__ADS_1
''Ngak apa-apa sayang, lagi pula hari ini ngak ada kegiatan belajar mengajar, jadi kita buat laporan ke kantor polisi saja''
''Baiklah pak''
Setelah cukup lama mereka berkendara akhirnya keduanya tiba di halaman kantor polisi. Marvel segera memarkirkan motornya dan menghubungi seseorang.
''Baiklah kami akan segera kesana'' ujar Marvel setelah menutup panggilannya.
Marvel menggandeng tangan Dea memasuki kantor polisi, mereka masuk ke suatu ruangan dimana ada dua petugas polisi yang sedang bertugas.
Dea ditanyai beberapa pertanyaan, Marvel dengan setia berada di samping Dea karena ia tahu jika Dea masih trauma karena kejadian tadi.
Cukup lama mereka berada di kantor polisi sekitar 3 jam, banyak hal yang harus mereka urus disana.
Setelah selesai dengan segala sesuatu yang ada di sana, mereka bergegas untuk pulang, tapisebelun itu mereka singgah di sekolah.
''Loh itu kan Dea'' ujar seorang siswa melihat Dea turun dari motor milik Marvel.
''Mana?'' Tanya temannya yang duduk bersamanya.
''Itu yang turun dari motor pak Marvel. Apa benar kalau mereka itu ada hubungan?''
''Aku ngak percaya, mungkin aja ada kegiatan sekolah yang mereka ikuti sehingga datang bersama''
''Tapi waktu itu pak Marvel bilang kalau Dea itu tunangannya''
''Iya juga sih, tapi siapa tahu saja. Kata orang kan cinta tak memandang usia''
''Iya sih. Oh iya bukannya pak Marvel itu juga dekat sama kak Yolanda?''
''Itu kan dulu, tapi kan pak Marvel ngak pernah ngakuin Yolanda seperti dia ngakuin Dea waktu itu''
''Iya sih''
Marvel dan Dea berjalan beriringan masuk ke ruangan kepala sekolah, mereka akan meminta ijin untuk Dea selama dua hari ini.
Dea akan menjalani banyak kegiatan selama dua hari ini karena sidang atas kasus percobaan pembunuhan yang di lakukan Devina akan segera di mulai.
Setelah urusan di sekolah telah selesai Marvel dan Dea segera pulang ke rumah. Setibanya di rumah mereka tak mendapati seorangpun disana. Hal itu membuat Dea sangat khawatir, ia mencoba bertanya pada bu Mira namun bu Mira juga tidak tahu kemana nenek dan bibinya.
''Gimana sayang?'' Tanya Marvel.
''Bu Mira ngak tahu nenek sama bibi kemana kak, coba kakak hubungi nomor bibi''
Marvel segera merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengotak-atiknya sebentar kemudian mulai melakukan panggilan pada nomor ponsel bi Tina. Beberapa kali mereka mencoba namun nomor ponsel bi Tina tidak aktif.
__ADS_1
Hal itu membuat Dea sangat khawatir, tak pernah nomor ponsel bibinya itu tidak aktif. Ia jadi khawatir jika sesuatu yang buruk telah terjadi.
''Neng Dea, neng Dea'' Panggil bu Tiwi dari luar rumah Dea.
Dea yang berada di ruang tamu bersama Marvel segera keluar dan menemui bu Tiwi.
''Iya bu, ada apa?''
''Ini ada telpon dari bibi kamu'' ujar bu Tiwi memberikan ponselnya pada Dea.
Segera Dea meraihnya kemudian berbicara pada bibinya melalui sambungan telpon.
''Halo bi, bibi dimana? Aku ada di rumah tapi tak ada siapa-siapa disini''
''Bibi ada di rumah sakit Kasih Bunda nak, apa kamu bisa segera kesini?'' Tanya bi Tina dari ujung panggilan dengan suara yang bergetar.
''Baik bi, Dea akan segera kesana'' ujar Dea segera menutup panggilan, ia tahu pasti sesuatu yang buruk telah terjadi karena bibinya sedang menangis.
''Terimakasih bu Tiwi. Pak kita ke rumah sakit Kasih Bunda pak. Bibi ada disana, aku khawatir terjadi sesuatu pada nenek''
''Sama-sama neng Dea, saya ke rumah dulu ya neng'' ujar bu Tiwi berlalu.
''Iya bu terimakasih sekali lagi''
''Sama-sama pak''
''Ayo kak'' ujar Dea setelah mengambil berapa lembar uang yang ia simpan di dalam lemari bajunya.
''Ayo sayang'' ujar Marvel. Ia melihat raut penuh kekhwatiran di wajah sang kekasih.
Hanya butuh waktu 15 menit akhirnya mereka tiba di halaman rumah sakit, segera Dea mencari informasi dimana sang bibi atau nenek berada.
''Pasien atas nama Dyah Kusuma berada di ruang perawatan kelas tiga di bagian penyakit dalam''
''Terimakasih sus'' ujar Dea segera menarik tangan Marvel menuju ke ruangan yang di maksud oleh perawat.
Sesampainya di sana ia melihat bibinya sedang duduk sambil menangis di depan sebuah ranjang pasien yang sudah di tutupi oleh kain putih.
Tubuh Dea langsung merosot ke lantai, semua tulangnya terasa lemah, bahkan untuk menopang tubuhnya saja rasanya ia tak mampu.
''Bi-bibi'' ujar Dea memeluk sang bibi. Didalam pelukan Dea bi Tina menangis dengan keras, ia tak peduli akan tatapan orang yang lewat di depannya.
''Ibu, ibu sudah pergi De, ibu ninggalin kita'' ujar bi Tina di sela-sela tangisnya.
Dea yang mendengarnya seakan tidak percaya akan apa yang di katakam oleh bibinya.
__ADS_1
''Bibi jangan bohong sama Dea, tadi nenek baik-baik saja waktu Dea tinggal. Kenapa sekarang bibi bilang nenek udah pergi? Aku tidak suka di bohongi bi'' ujar Dea berusaha menahan air matanya yang sudah mulai menetes sedikit demi sedikit.
Bi Tina yang mendengar ucapan Dea, langsung menatap Dea dengan tatapan yang amat sayu. Ia khawatir penyakit Dea akan kambuh jika ia stres,ia membelai rambut Dea dan mencoba menguatkannya.