
Entah sudah berapa jam Dea tertidur, ia akhirnya terbangun saat mendengar namanya di panggil. Dengan perlahan ia membuka matanya dan tersenyum saat menyadari jika sang neneklah yang memanggil namanya.
''Nenek'' ujarnya tersenyum.
''Iya sayang, bagaimana keadaan kamu?''
''Aku sudah lebih baik nek, nenek jangan khawatir. Nenek jaga kesehatan ya, tidak lama lagi Dea pulang ke rumah''
''Syukurlah kalau begitu nak, kamu mau makan apa? Nenek tadi buatkan sup kacang merah kesukaan kamu'' ujar nek Diah mulai mengeluarkan makanan yang ia bawa dari rumah.
Ia sengaja memasak sup kacang merah karena mendengar jika sang cucu sudah sadar dan juga kerena Dea sangat menyukai sup kacang merah.
''Iya nek''
Nek Diah mulai menyuapi Dea sup kacang yang ia bawa, setelah merasa cukup kenyang Dea menyudahinya.
Dea masih harus di bantu saat makan, sebab belum di ijinkan untuk duduk oleh dokter, jadi dia harus makan sambil berbaring.
''Nenek harus banyak istirahat di rumah, jangan terlalu khawatirkan Dea. Sekarang Dea sudah lebih baik dan juga ada pak Marvel yang jagain Dea disini, jadi nenek tidak perlu khawatir'' ujar Dea menggenggam tangan sang nenek.
Marvel saat ini sedang dalam perjalanan ke rumahnya untuk mengambil pakaian ganti yang akan ia gunakan selama berada di rumah sakit mennjaga Dea.
Ia juga membawa beberapa baju yang ia akan pakai ke sekolah untuk mengajar.
Setelah hari menjelang sore dan Marvel juga sudah berada di rumah sakit lagi, bi Tina dan nek Diah pamit pulang.
''Nenek dan bibi pulang dulu ya nak, nak Marvel nenek titip cucu nenek ya'' ujar nek Diah sambil mengecup pipi sang cucu.
''Iya nek, hati-hati di jalan nek, bi''
''Iya, cepat sehat sayang'' bi Tina mengusap pelan kepala Dea yang tidak terbungkus perban.
''Iya bi''
Marvel mengantar bi Tina dan nek diah ke depan rumah skait dan memesankan sebuah taksi untuk mengantar mereka pulang.
Setelah mobil yang membawa nek Diah dan bi Tina menjauh dari pelataran rumah sakit, Marvel bergegas kembali ke ruangan dimana Dea di rawat.
''Nenek sudah pulang pak?''
''Sudah sayang, kamu mau makan apa?''
''Aku masih kenyang pak, tadi makan sup kacang dibawain sama nenek''
''Oh gitu, terus sekarang kamu mau apa?''
''Ngak mau apa-apa pak, lagi pula saya ngak bisa ngapa-ngapain'' ujar Dea cemberut.
Sakit adalah hal yang paling ia benci, karena jika ia sakit ia tak akan bisa melakukan apapun.
''Jangan cemberut sayang nanti cantiknya ilang loh'' goda Marvel.
''Aku ngak mampan sama godaan bapak, aku lagi sebel''
''Sebel kenapa sayang?'' Tanya Marvel duduk di samping ranjang Dea.
''Aku sebel karena ngak bisa ngapa-ngapain cuma makan tidur saja''
''Namanya juga lagi sakit sayang''
__ADS_1
''Tapi aku ngak suka pak, pengen gitu pergi ke kebun, ke sekolah'' ujar Dea mulai membayangkan apa yang biasa ia lakukan.
''Kalau gitu kamu cepat sembuh sayang, kalau sudah sehat kamu mau ke kebun, ke sekolah atau ke pelaminan sama aku boleh juga'' ujar Marvel yang membuat pipi Dea bersemu merah.
Dea hanya tersenyum menanggapinya, Marvel juga ikut tersenyum melihat Dea tersenyum.
''Saya ngantuk lagi pak''
''Ya udah kamu tidur saja, oh iya sayang besok aku sudah masuk mengajar kamu ngak apa-apa aku tinggal?''
''Ngak apa-apa pak, lagi pula ada suster kalau saya butuh sesuatu''
''Tapi aku masih mau menemani kamu sayang''
''Bapak kan bisa temani saya kalau sudah pulang'' ujar Dea dengan tersenyum.
''Baiklah sayang, kamu istirahat saja. Aku mau nyiapin materi buat besok'' ujar Marvel.
''Iya pak, maaf ya Dea ngak bisa nemanin bapak''
''Ngak apa-apa sayang, kamu tidur sekarang'' Marvel mencium pipi Dea kemudian berpindah ke arah sofa di sudut ruangan itu.
Dea tersenyum kemudian mulai menutup matanya perlahan, setelahnya dia benar-benar tertidur.
Marvel yang melihat Dea tersenyum dalam tidurnya merasa sangat bahagia karena Dea tak lagi muram seperti tadi.
''Semoga kamu cepat sehat sayang, aku sangat khawatir melihat kamu seprti ini. Aku berjanji akan menghukum orang yang sudah membuatmu celaka sayang'' ujar Marvel merebahkan tubuhnya di sofa.
Dia yang awalnya ingin membuat materi menjadi malas untuk membuka laptopnya karena terus memikirkan siapa gerangan yang menginginkan sang kakasih celaka.
''Aku akan menghubungi Ronald dan menanyakan perkembangan kasusnya gimana'' Marvel mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.
''Halo Nal, selamat siang. Bagaimana perkembangan kasus tabrakan yang di alami Dea?'' Tanya Marvel ketika panggilan telponnya tersambung.
''Emang siapa pemiliknya? Apa kita kenal?''
''Tentu saja Vel, kita bahkan sangat mengenalnya. Tapi aku rasa bukan beliau yang menabrak Dea karena beliau tak ada di kota ini saat kejadian''
''Memang mobil siapa Nal? Aku jadi penasaran''
''Kamu datang saja besok, kebetulan besok kami akan ke rumah pemilik mobil karena pemiliknya baru akan pulang nanti malam. Seperti yang kamu bilang kalau orang itu memang sudah merencanakannya, di cctv terlihat jika orang itu memang sudah mengawasi segala kegiatan Dea sejak Dea baru sampai ke sekolahnya''
''Baiklah, tapi apa kamu ngak bisa kasih tahu aku saja''
''Ngak Vel, besok aja kamu tahu sendiri''
''Ya sudah kalau begitu terimakasih ya Nal atas bantuannya''
''Sama-sama Vel''
''Aku tutup dulu ya Nal mau nyiapin materi buat besok''
''Ok, by the way gimana keadaan calon istri lo?''
''Udah baikan Nal, hanya bekas-bekas jahitan yang masih sering sakit''
''Oh gitu, jaga baik-baik ya jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi''
''Siap pak'' ujar Marvel di ikuti oleh kekehan sebelum menutup panggilan.
__ADS_1
Perasaan Marvel sedikit lega mengetahui jika pemilik mobil itu sudah di ketahui dan otomatis mereka juga akan segera tahu siapa yang sudah mencelakai Dea.
Setelah beristirahat kurang lebih 15 menit, Marvel mulai membaca buku dan membuat materi yang akan ia ajarkan besok. Meski hatinya tak rela untuk meninggalkan Dea di rumah sakit, namun seperti janjinya jika hubungan mereka tak boleh mengganggu tugas masing-masing.
*
Keesokan paginya setelah Marvel bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, dia menerima telpon dari sang ibu yang mengatakan jika ayahnya sudah pulih dan kemungkinan akan kembali besok. Marvel sangat bahagia mendengar kabar ini, dia jadi bersemangat untuk menjalani harinya.
Setelah proses belajar mengajar selesai, Marvel segera menuju ke kantor polisi karena dia akan ikut ke rumah pemilik mobil yang sudah menabrak Dea.
Dengan semangat Marvel menjalankan sepeda motornya membelah jalanan kota. Saat ia hampir tiba di kantor polisi sebuah pesan masuk di ponselnya.
[Kamu ke rumah Devina saja, kami sedang menuju kesana] isi pesan yang di kirim oleh Ronald.
''Devina?'' Gumam Marvel, ia masih bingung dengan isi pesan itu, tapi tak ayal ia ikuti juga isi pesan Ronald. Ia membelokkan motornya ke arah jalan yang menuju ke rumah Devina.
Saat Marvel sampai disana tak ada tanda-tanda jika polisi berada di sana, ia segera mengambil ponselnya dan menelpon Ronald.
Tepat saat panggilan telponnya tersambung, Marvel melihat dua mobil polisi mendekat ke arahnya.
''Kita ngapain disini Nal?'' Tanya Marvel.
''Kita akan tahu siapa yang menabrak Dea'' ujar Ronald memberikam sebuah foto yang di ambil dari rekaman cctv di sekolah Dea.
Di foto itu terekam jelas no plat mobil milik pak Haris, ayah Devina.
''Maksud kamu, yang nabrak Dea itu pake mobil om Haris?''
''Iya Vel'' ujar Ronald yang membuat Marvel sangat marah.
Tanpa bertanyapun Marvel sudah tahu jika pelakunya tak lain pastilah Devina, karena jika pak Haris tak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu.
Setelah satpam mempersilahkan mereka masuk, Marvel dan beberapa anggota kepolisian masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu, mereka di sambut oleh pak Haris selaku pemilik mobil.
''Selamat siang pak Haris, maaf mengganggu waktu anda. Mungkin anggota saya sudah memberitahu perihal kedatangan kami kemari''
''Iya pak, tapi saya tidak mengerti bagaimana mobil itu bisa jalan sedangkan kuncinya saya bawa'' ujar pak Haris.
''Apa tidak ada kunci lainnya pak?''
''Ada tapi saya simpan di brankas, dan yang tahu pinnya hanya saya dan istri saya. Sedangkan saat itu istri saya katanya sedang berada di kampung'' ujar pak Haris sambil memberikan ponselnya pada petugas.
Disana terlihat pesan percakapan antara dirinya dengan sang istri, dimana istrinya mengatakan jika ia sedang berada di kampung halamannya.
''Baiklah pak, kami tidak ingin berpikir jika kami menipu bapak, silahkan bapak liat rekaman cctv ini saya tahu, bapak bisa mengenali mobil bapak'' ujar Aswer salah satu petugas polisi.
Pak Haris melihat cctv itu dengan teliti dan yakin jika yang ada di cctv adalah benar mobilnya. Namun ia tak tahu siapa yang mengendarainya sebab memakai masker dan topi.
''Apa bapak mengenal pengendara ini?''
''Saya tidak tahu pak soalnya pakai masker''
''Apa di keluarga bapak ada yang memakai gelang emas dengan hiasan-hiasan bunga dan juga memakai kalung dengan liontin yang berbentuk bunga teratai?'' Tanya pak Aswer yang membuat bola mata pak Haris melebar.
''Apa dia pelakunya pak?''
''Benar pak, itu yang terlihat di cctv'' pak Aswer kembali memperlihatkan detail-detail yang ia ucapkan tadi.
__ADS_1
Pak Haris meneteskan air mata, kemudian berlari kelantai dua rumahnya dan menggedor pintu kamar sang anak. Pak Haris terlihat sangat marah karena ia langsung menggedor pintu kamar sang putri tak seperti biasanya.
Polisi juga mengikuti pak Haris, memastikan pak Haris tak berbuat sesuatu yang melanggar hukum karena emosi.