
Dea merasakan ketenangan dan kedamaian setelah ia pindah rumah, sebab tak ada lagi gangguan dari Marvel dan keluarganya. Sejujurnya ia tak ingin membuat mereka khawatir karena tak mengetahui keberadaan Dea, namun ia juga tak ingin membuat Marvel dan keluarganya berharap lebih padanya sebab ia berpikiran jika ia sudah tak pantas lagi untuk Marvel.
Di rumahnya yang baru, Dea membuka usaha warung kecil-kecilan di depan rumahnya. Tak bisa di pungkiri jika hasil masakan Dea memang sangatlah enak siapapun yang mencobanya pasti akan merasa ketagihan. Dua bulan sudah Dea memulai usahanya itu, ia memulainya setelah sebulan tinggal di rumah barunya.
Dea mempekerjakan seorang ibu muda yang juga tetangganya untuk membantunya melayani pembeli, meski warungnya hanya kecil dan hanya menyediakan menu lauk pauk yang tergolong sederhana namun pembeli selalu antri untuk membeli masakan Dea.
Selain karena rasanya enak, harga yang di tawarkan oleh Dea juga sangat terjangkau bagi pelanggannya. Dea tak ingin mematok harga yang terlalu timggi sebab ia tahu jika para pelanggannya bukanlah orang yang memiliki banyak uang. Baginya biarlah untung sedikit yang penting jualan laris manis dan ia juga bisa memberi gaji pada tetangga yang membantunya berjualan.
Ibu muda yang membantu Dea juga seorang janda, ia di tinggalkan suaminya sebab ia melahirkan anak perempuan sementara suami dan keluarganya ingin anak laki-laki. Sungguh Dea tak habis pikir jika masih ada orang-orang yang berpikiran seperti itu. Mereka berpikir jika anak perempuan hanya akan menjadi beban buat keluarga sedangkan anak lelaki akan mengangkat derajat orang tuanya, padahal kita tak pernah tahu rencana apa yang Tuhan siapkan untuk setiap anak yang di titipkan pada kita.
Tok
Tok
Tok
"Mbak Dea" panggil seseorang dari luar pintu dapur rumah Dea.
Segera Dea membuka pintu sebab ia tahu siapa pemilik suara itu, "pagi mbak Dea" sapa orang itu.
"Pagi Ana, ayo masuk" ujar Dea, Ana adalah nama orang yang membantu Dea berjualan, untuk saat ini Dea baru bisa mempekerjakan satu orang saja sebab ia juga belum membutuhkan tenanga yang terlalu banyak. Ana baru berumur 14 tahun, ia menikah saat umur 12 tahun karena perjodohan namun pernikahannya hanya bertahan selama setahun saja.
Dea yang merasa senasib dengan Ana membuatnya merasa bersimpati hingga ia mengajak Ana bekerja membantunya berjualan. Ana juga tak memiliki pekerjaan tetap, biasanya Ana bekerja sebagai pemetik cabai dan tomat di kebun para petani jika musim panen tiba, namun jika musim panen sudah berlalu maka ia tak akan memiliki pekerjaan lagi sementara ia harus membiayai hidup adik-adinya. Putrinya sendiri sudah meninggal karena terserang demam tinggi dan tak mendapat pengobatan dengan segera.
"Ini sudah siap semua mbak?" Tanya Ana.
"Sudah dek, kita bawa ke depan yuk mumpung Sion masih tidur" ujar Dea mulai mengangkat sebuah termos berisi nasi yang masih hangat.
"Mbak Dea bawa yang ringan-ringan saja, yang itu biar Ana yang bawa"
"Ngak apa-apa dek, mbak juga mau olahraga sekai-kali" ujar Dea.
"Mbak kan tiap hari udah olahraga di kebun mbak" ujar Ana.
Dea memang membuat kebun kecil di belakang rumahnya, sayur-sayur yang ia olah untuk jualan juga berasal dari kebun yang ada di belakang rumahnya.
"Hehehehe, itu kan lain dek" ujar Dea.
"Sama aja kak" ujar Ana.
Keduanya mulai menata julan mereka di atas meja yang ada di teras rumah Dea, setelahnya mereka manata meja dan kursi untuk tempat para pelanggan mereka makan.
__ADS_1
"Nah sudah siap, sekarang kamu sarapan dulu dek" ujar Dea memberikan piring pada Ana.
"Kakak sudah makan?"
"Kakak sudah makan dek, kamu sarapan saja dulu lagi pula belum ada pembeli, ini baru jam 6 pagi"
"Iya kak"
Saat Ana sudah memulai memakan sarapannya Dea berdiri di belakang meja jualannya menunggu para pembeli yang biasanya tak lama lagi akan berdatangan.
"Pagi mbak Dea, saya mau beli lauknya dong"
"Pagi bu Tari, mau lauk apa bu?"
"Saya mau telur balado, tumis kangkung, ayam bakar, dengan pepes ikannya mbak"
"Baik bu, masing-masing satu porsi atau berapa bu?"
"Telur baladonya satu porsi, tumis kangkung satu porsi ayam bakarnya 2 potong dan pepes ikannya 2 ya"
"Baik bu" ujar dea mulai mengemas pesanan bu Tari.
"Berapa semuanya mbak?"
"Nah uanganya, terimakaish ya mbak" ujar bu Tari menyerahkan selembar uang 20 ribu pada Dea.
"Sama-sama bu" ujar Dea.
Setelah kepergian bu Tari Ana yang sudah selesai makan sedari tadi baru keluar dari rumah.
"Kamu sudah selesai makan dek?''
"Sudah kak, oh iya tadi yang belanja bu Tari?"
"Iya dek, kenapa?"
"Ngak apa-apa kak. Sini biar aku gantiin layani pembeli kakak liat adek Sion saja, siapa tahu dia sudah bangun"
"Ya sudah dek, kakak liat Sion dulu ya"
"Iya kak"
__ADS_1
Ana mulai melayani pembeli yang sudah mulai ramai berdatangan mengantri untuk berbelanja sedangkan Dea masuk ke kamar melihat Sion, dan ternyata benar saja bayi mungil itu sudah terbangun dan sedang mengisap jari tangannya.
"Anak mama ternyata sudah bangun" ujar Dea menciumi pipi sang putra kemudian membawanya kedalam pelukannya.
"Ayo sayang kita lap-lap dulu baru kita keluar bantu kakak Ana berjualan" ujar Dea mulai mengelap badan Sion dan mengganti pakaiannya.
Saat akan keluar dari kamar Dea mendengar ada suara ribut-ribut di depan rumahnya, ia juga mendengar suara seseorang menagis.
Dea segera mempercepat langkahnya dan saat tiba di sana ia begitu terkejut melihat beberapa dagangannya sudah terjatuh berhamburan di lantai. Sedangkan Ana menangis di dekat kursi tempat termos nasi di letakkan.
Dea meletakkan Sion di dalam boks bayinya kemudian menghampiri Ana, "ada apa dek?" Tanya Dea.
Ana tak menjawab ia semakin menangis dan memeluk Dea, beberapa ibu-ibu yang sedang berbelanja membantu untuk menenangkan Ana.
"Minum dulu nak" ujar seorang ibu memberikan segelas air pada Ana.
"Ini ada apa bu?"
"Tadi bu Tari datang terus marah-marah dan ngamuk mbak, banyak dagabagan mbak Dea yang di hambur, dia juga nampar Ana" ujar seorang pembeli yang membuat Dea langsung memperhatikan pipi Ana yang sedari tadi di tutupi tangannya.
"Astaga pipi kamu merah sekali dek" ujar Dea mengusap pipi Ana.
"Kamu duduk di dalam dulu dek tenangkan pikiran kamu, biar kakak yang layani pembeli. Kalau udah siap kamu bisa cerita sama kakak" ujar Dea, ia membawa Ana duduk di dalam rumah kemudian ia keluar lagi untuk melayani pembeli.
"Maaf ya ibu-ibu, menu kita tinggal yang ini saja yang masih utuh" ujar Dea menunjuk beberapa menu yang tersedia.
"Kita beli itu saja mbak Dea" ujar seorang pembeli.
Kini hanya tinggal beberapa potong ayam bakar, beberapa bungkus pepes dan nangka muda yang di masak dengan ikan asin dan di beri kuah santan.
Setelah semua dagangannya terjual habis Dea segera menghampiri Ana yang masih terus menangis.
"Jangan menangis dek, cerita sama kakak apa yang terjadi" ujar Dea. Dari cerita beberapa ibu yang berbelanja tadi, Dea tahu jika ternyata bu Tari itu adalah mantan mertua Ana dan ia sering kali menghina Ana jika melihatnya dan jika Ana melawan maka ia akan langsung bermain fisik seperti tadi.
"Maafkan Ana kak, karena Ana dagangan kak Dea semuanya rusak, pasti kak Dea akan rugi. Kakak bisa potong kerugian hari ini dari gajiku nanti"
"Hush jangan ngomong gitu, ini sudah takdir dek. Usaha tidak akan selalu lancar dek kadang kala ada saja kendalanya yang penting kita jangan berhenti berusaha"
""Tapi kak.."
"Ngak usah kamu pikirkan, sekarang cerita sama kakak apa yang terjadi"
__ADS_1
"Sebenarnya bu Tari itu mantam mertua saya kak, tadi dia datang dan ngata-ngatain Ana sama orang tua Ana, jadi Ana balas ucapannya, dia malah rusakin dagangan kakak dan tampar pipi Ana" ujar Ana sambil menangis.
"Sudah, sudah jangan menangis lagi" ujar Dea membelai lembut kepala Ana. Ia sangat sayang pada Ana dan adik-adiknya, ia sudah menganggap mereka saudara-saudaranya.