MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
PERUBAHAN SIKAP MARVEL


__ADS_3

(POV AUTHOR)


Almarhumah nek Diah hanya seminggu berada di rumahnya, setelah tepat tujuh hari kepergiannya mereka sepakat untuk memakamkan nek Diah di sebuah makam yang memang sudah di siapkan oleh keluarga.


Nek Diah di masukkan ke peti di hari ketiga kematiannya, setelahnya acara adat di mulai. Di kampung tempat tinggal Dea, jika ada yang meninggal maka proses pemakaman adat akan di lakukan.


Ada banyak hal yang di lakukan dalam prosesi adat itu, hingga banyak orang yang ikut terlibat.


Dihari pemakaman nek Diah, banyak orang yang ikut mengantarkan beliau ke rumahnya yang baru. Karena kepribadian nek Diah yang suka menolong orang lain tak peduli jika ia juga orang yang sedang kesusahan membuatnya di sayangi dan di segani banyak orang.


Beberapa orang yang sempat di bantu oleh nek Diah selama hidupnya sangat terkejut saat mereka mendengar berita kematian nek Diah. Bahkan beberapa yang tinggal di luar kota menyempatkan diri buat datang ke acara pemkaman nel Diah.


Selama seminggu penuh keluarga besar nek Diah berkumpul di rumah itu, sehingga rumah itu terasa tak begitu sepi. Dua hari setelah hari pemakaman nek Diah, barulah satu persatu keluarga meninggalkan rumah nek Diah, termasuk ibu, ayah dan saudara-saudari Dea.


''Apa ayah akan pulang juga hari ini?'' Tanya Dea saat mengantarkan keluarganya keluar rumah.


''Iya nak, banyak pekerjaan yang harus ayah selesaikan di desa'' ujar ayah David sambil mengusap kepala Dea.


''Tapi ayah akan sering-sering datang kan?''


''Iya nak, ayah usahakan ya'' ujar ayah David yang membuat Dea merasa tak puas. Ia tahu jika itu hanya sekedar ucapan dari ayahnya saja.


''Ayo kita berangkat matahari sudah tinggi, anak-anak juga sudah mengantuk'' ujar ibu Dea setengah berteriak dari atas mobil.


''Iya. Dea, ayah pulang dulu ya kamu baik-baik sama bibi disini''


''Iya yah''


Dea memeluk sang ayah sebelum sang ayah benar-benar pulang.


''Ayah, ibu hati-hati di jalan'' ujar Dea melambaikan tangan ketika mobil sudah mulai perlahan meninggalkan halaman rumah nek Diah.


Sang ayah hanya mengangguk sedangkan sang ibu diam tanpa kata, bahkan ia tak mau menatap ke arah Dea. Marvel yang sedari tadi memperhatikan Dea merasa sakit hati atas perlakuan ibu Dea.


''Kasian sekali kamu sayang, bahkan menatapmu saja ibumu enggan'' gumam Marvel. Ia merasakan sesak di dadanya setiap melihat perlakuan ibu Dea pada putrinya itu.


''Kakak'' ujar Dea saat mendapati Marvel berdiri di depan rumah.

__ADS_1


''Iya sayang, ada apa?''


''Kakak sedang apa disini? Kenapa melamun?''


''Ngak apa-apa sayang tadi aku nyariin kamu, ternyata kamu ada disini. Oh iya, apa ayah sudah pulang?'' Tanya Marvel, ia sengaja tak memberitahu Dea jika dia sudah berada di sana sejak tadi, ia ingin menjaga perasaan kekasihnya.


''Iya kak, mereka baru saja pulang. Dimana bibi?''


''Bibi ada di kamar sayang, sedang istirahat. Sebaiknya kita jangan ganggu bibi dulu, kasihan dia pasti lelah''


''Iya kak. Apa kakak juga tidak pulang? Kasian mama nyariin kakak''


''Ngak sayang, malahan mama yang nyuruh aku tinggal disini beberapa hari lagi''


''Terimakasih ya kak'' ujar Dea menatap Marvel.


''Terimakasih buat apa sayang?''


''Untuk semuanya, aku dan bi Tina tidak tahu harus apa jika tidak ada kakak disini''


''Kakak melakukan ini semua untuk keluarga kakak, tidak perlu berterimakasih sayang''


''Sudah sayang, tadi ibu kamu yang kasi sebelum beliau pamit pulang''


''Syukurlah kalau begitu. Kakak juga istirahat saja aku mau membereskan halaman dulu'' ujar Dea dengan senyuman.


''Nah gitu dong sayang senyum jangan sedih terus, ingat ada bibi yang harus kita jaga''


''Iya kak''


''Ayo kita bersihkan halaman ini'' Marvel mengambil karung kemudain mulai memunguti sisa-sisa smpah yang masih berada di halaman. Dea juga melakukan hal yang sama, ia mengambil sapu lidi dan mulai menyapu halaman rumah itu.


Dari dalam jendela kamar, bi Tina memperhatikan Dea yang mulai tersenyum, ia merasa lega akhirnya ponakannya itu bisa tersenyum setelah murung beberapa hari ini.


''Terimakasih Tuhan, kau sudah mengembalikan senyum di wajah Dea ku'' ujar bi Tina melihat Dea dari balik jendela kamarnya.


(POV DEA)

__ADS_1


Beberapa bulan berlalu sejak kepergian nenek, kini aku sudah mulai kembali melakukan aktifitas seperti biasanya.


Meski terkadang aku akan sedih jika mengingat kenangan bersama nenek di rumah ini, namun aku berusaha untuk kuat demi bibi. Aku tahu bibi sangat terpukul dengan kepergian nenek karena nenek adalah satu-satunya orangtua yang bibi miliki selama hidupnya.


Kegiatanku setiap hari sudah kembali seperti saat nenek masih hidup, sayur-sayuran juga kembali menghiasi kebun yang berada di belakang rumah. Kios yang dulu di jaga oleh nenek kini bi Tina yang mengurusnya, kami menambah beberapa jenis barang untuk di jual di kios.


Bi Tina juga nampaknya sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran nenek, meski terkadang aku melihatnya menangis diam-diam sambil memeluk foto nenek.


Pagi ini seperti pagi pada umumnya aku dan bibi mulai memetik sayur, cabai dan tomat untuk kami jual di kios. Meski tempat kami tinggal tidak termasuk kota besar, namun tidak banyak orang yang mau repot-repot menanam sayuran dan itu merupakan sebuah keuntungan untuk aku dan bi Tina.


Tetangga dan orang-orang yang mengenal kami semua membeli sayur di kios kami. Bahkan ada beberapa pedagang dari pasar yang memesan sayur pada kami, aku dan bi Tina semakin semangat untuk berkebun.


Setiap pulang sekolah aku dan bi Tina akan di sibukkan dengan kegiatan di kebun, entah itu untuk membuat lahan baru, atau untuk menanam ataupun untuk memanen hasilnya. Terkadang pak Marvel juga datang dan ikut membantu ku bersama bibi.


Berbicara soal pak Marvel, aku merasa ada sesuatu yang aneh padanya, entah hanya perasaanku saja atau memang dia berubah. Meski kami masih sering bertemu namun sikap dan perilakunya sudah mulai berubah tak sehangat dulu lagi.


Seperti sore ini saat aku dan bibi Sedang berada di kebun, pak Marvel datang namun hanya datang melihat dan langsung pulang. Jika biasanya ia akan duduk atau bahkan membantu ku dan bibi, tapi kali ini ia hanya benar-benar datang melihat dan langsung pulang.


Aku dan bibi di buat heran oleh tingkah pak Marvel, bahkan bibi sempat mengira jika kami sedang bertengkar.


''Ada apa dengan pak Marvel De? Kenapa tingkahnya aneh sekali?''


''Aku ngak tahu bi, aku juga bingung'' ujar ku terus memetik cabai meski pikiran ku sudah di penuhi oleh pak Marvel.


''Oh gitu, kalian ngak bertengkar kan De?''


''Ngak koq bi, mungkin pak Marvel lagi sibuk''


''Syukurlah kalau begitu'' ujar bibi kembali memetik cabai kemudian memasukkannya ke dalam kantong plastik.


Setelah kami rasa sudah cukup banyak cabai yang terkumpul, aku dan bibi memutuskan untuk istirahat. Saat sedang duduk di depan rumah sambil memakan ubi goreng, bu Tiwi datang menghampiriku dan bi Tina.


''Neng Dea apa cabainya belum ada yang beli?''


''Belum bu, apa ibu mau?''


''Iya neng, ibu mau semuanya ya. Itu berapa kilo semua neng?''

__ADS_1


''Kurang tahu bu, biar di timbang dulu'' ujar ku mulai mengambil timbangan dari dalam rumah.


__ADS_2