MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
KETAKUTAN LASTRI


__ADS_3

(POV MARVEL)


Entah sudah kali keberapa aku bolak-balik di depan pintu ruang oprasi namun tanda-tanda Dea akan keluar belum juga ada. Aku merasa semakin khawatir saat beberapa perawat masuk kedalam sana dengan tergesa-gesa.


Ditengah rasa khawatir yang begitu besar pada Dea, suara dering ponsel dari dalam saku mengagetkan ku, ternyata ibu yang menelpon.


''Halo bu'' ujar ku setelah panggilan terhubung.


''Halo nak, kamu sudah sampai, bagaimana keadaan Dea?'' Tanya mama. Karena khawatir sama Dea aku bahkan lupa mengabari mama jika aku sudah tiba.


''Dea, ada di ruang oprasi mah'' ujar ku kemudian menangis, air mata yang sedari tadi aku tahan akhirnya tumpah juga saat aku berbicara dengan mama.


''Ruang oprasi? Apa separah itu keadaan Dea?''


''Iya mah, ada pembekuan darah di bagian dadanya juga ada luka di bagian kepalanya sehingga harus dijahit di beberapa bagian kepalanya mah''


''Ya ampun, kasian sekali anak mama. Maaf ya sayang mama tidak bisa menemani kamu disitu''


''Iya mah, aku tak tahu harus apa sekarang mah'' ujar ku terus menangis, bahkan tak aku hiraukan orang yang berlalu lalang di depan ku.


''Kamu harus kuat nak, terus berdoa buat Dea. Kabari mama jika Dea sudah sadar''


''Baik mah''


''Mama tutup dulu yah''


''Iya mah''


Setelah panggilan terputus aku di kejutkan dengan kehadiran Nico di samping ku.


''Astaga kamu bikin kaget aja Nic'' ujar ku.


''Belum selesai oprasinya?'' Tanya Nico.


''Belum Nic, oh iya ini kunci mobil kamu, terimakasih ya.''


''Sama-sama Vel, ngomong-ngomong kenapa bisa Dea kecelakaan?''


''Kata Gema sepertinya mobil itu memang sengaja ingin menabrak Dea Nic, soalnya pas Dea nyebrang jalan pengendara mobil itu buru-buru masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas ke arah Dea''


''Astaga siapa yang berniat jahat pada orang baik sepertinya''


''Aku tidak tahu Nic, tapi aku sudah minta tolong sama Ronald buat nyari siapa pelakunya''


Ronald adalah salah satu teman kuliah kami yang sekarang berprofesi sebagai anggota kepolisian.


''Gimana caranya?''


''Di sekolah itu kan ada cctv jadi bisa di liat berapa plat mobil yang udah nabrak Dea waktu itu''

__ADS_1


''Iya juga ya hehehe, kamu udah ngabarin ayah Dea belum?''


''Sudah Nic'' aku memang sudah mengabari ayah Dea tadi, namun beliau mungkin tak bisa datang hari ini karena tak ada yang menjaga adik bungsu Dea dan anak-anak tak di perbolehkan ikut ke rumah sakit.


''Baguslah kalau gitu, kamu udah makan?''


''Belum Nic, aku juga ngak lapar koq. Lagi pula aku ngak mau ninggalin Dea disini''


''Kalau gitu kamu makan ini saja'' Nico mengulurkan sekotak nasi goreng pada ku.


''Kamu dapat ini dari mana?''


''Udah kamu makan aja ngka usah tanya dari mana. Makan cepat biar kalau Dea keluar nanti kita langsung ikut saja. Aku tahu kalau kamu sangat lapar''


Aku menganguk dan mulai menyuap nasi sendok demi sendok ke dalam mulut ku. Jujur saja aku memang sangat lapar tapi rasa lapar ku dikalahkan oleh rasa khawatir dengan keadaan Dea.


Nasi yang di berikan Nico sudah hampir habis sedangkan tanda-tanda Dea akan keluar dari ruangan itu belum juga ada.


''Keluarga pasien atas nama nona Dea'' ujar seorang perawat.


''Iya sus'' ujar ku berdiri menghampirinya.


''Pasien sudah selesai di oprasi tak lama lagi akan di pindahkan kembali ke ruang ICU''


''Ke ruang ICU lagi sus?'' Tanya ku.


''Ia pak''


''Sabar Vel doakan yang terbaik buat Dea'' ujar Nico dan aku hanya mengangguk.


Lidah ku tiba-tiba saja terasa kelu, tak tahu apa yang harus aku katakan dan juga aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.


(POV AUTHOR)


Jika di rumah sakit Marvel sedang khawatir, berbeda dengan di rumah seseorang sedang ada perayaan.


''Akhirnya aku berhasil menyingkirkan dia Tri'' ujar wanita itu pada temannya.


Wanita itu adalah orang yang sudah menabrak Dea tadi, dia begitu bahagia karena berpikir Dea tak akan selamat setelah ia tabrak.


''Kamu serius?''


''Tentu saja, aku sudah mengatakannya bukan? Apapun akan aku lakukan untuk bisa bersama Marvel, bahkan membunuh orang sekalipun aku sanggup''


''Apa yang kamu lakukan pada Dea, Devina?'' Tanya Lastri, ia mulai khawatir jika sahabatnya ini membunuh keponakannya sendiri.


''Kau tahu kan tadi aku keluar sebentar?'' Tanya Devina.


''Iya''

__ADS_1


''Nah, pas aku keluar itu aku memang merencanakannya, aku sudah merencanakan jika hari ini aku akan menghabisi Dea. Kamu tahu Lastri, kali ini aku berhasil dan aku yakin Dea tak akan selamat''


''Maksud kamu?''


''Aku menabraknya dan dia kritis di rumah sakit, aku yakin dia tak akan selamat mengingat tadi waktu aku tabrak tubuhnya melayang di udara dan terlempar ke arah batu-batu. Aku sangat yakin jika kali ini pasti dia akan mati''


''Apa?'' Lastri sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh sahabatnya itu. Ia menjadi takut jika Devina tertangkap maka dia juga akan ikut terbawa karena dia juga ikut membantu Devina membersihkan noda darah di mobilnya tadi. Dia juga yang memberi saran pada Devina untuk mencelakai Dea.


''Kenapa kamu terkejut begitu Lastri?''


''Ngak apa-apa aku hanya tak berpikir sampai disitu''


''Oh aku pikir kamu sudah kasian sama anak kampung itu dan kamu mau menghianati ku''


''Ngak koq,oh iya aku pulang dulu ya, dari tadi suami aku sudah nelpon terus'' bohong Lastri padahal ia ingin melihat keadaan Dea.


Lastri mulai khawatir pada Dea, ia bersedia membantu sahabatnya namun ia tak tahu jika Devina akan berbuat yang sangat buruk pada ponakannya itu.


''Baiklah kamu hati-hati, oh iya jangan sampai orang-orang tahu tentang ini''


''Beres'' ujar Lastri. Ia juga tak ingin orang lain tahu karena jika ada yang tahu maka dia juga akan kena batunya dan pasti suami yang ia cintai akan menceraikannya saat itu juga.


Lastri keluar dari rumah Devina dengan keringat bercucuran di dahinya. Ia bahkan membayangkan jika Dea meninggal maka pasti arwahnya akan menghantui dia sepanjang sisa hidupnya.


Lastri bergidik ngeri membayangkan hal itu terutama ia sangat takut tentang hal-hal yang berbau mistis.


''Aku harus segera kerumah sakit melihat keadaan Dea, tapi di rumah sakit mana Dea dirawat? Aku telpon Tina saja pasti dia sudah ada di sana''


Lastri mencari nomor bi Tina di ponselnya setelah menemukannya ia segera menghubunginya.


''Halo Tin, aku dengar Dea kecelakaan. Dea dirawat dimana?''


''Di rumah sakit Mutiara''


''Baiklah aku kesana''


''Iya hati-hati''


Lastri menutup sambungan telpon kemudian menghentikan sebuah taksi yang lewat.


''Kerumah sakit Mutiara pak'' ujar Lastri pada supir taksi itu.


''Baik bu''


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, keringat dingin tak henti-henti membajiri kening Lastri. Supir taksi yang melihatnya berpikir jika mungkin dia sedang sakit.


''Apa yang harus aku katakan jika sampai terjadi sesuatu pada Dea? Aku tak bisa kehilangan mas Roy'' ujar Lastri sesaat setelah ia turun dari taksi.


Lastri menuju ke ruang informasi dan mencari dimana Dea berada, saat perawat mengatakan jika Dea sedang di ruang oprasi wajahnya seketika pucat pasi.

__ADS_1


''Apa separah itu kecelakaan yang di alami Dea dampai harus ada tindakan oprasi'' gumamnya terus berjalam ke ruang oprasi.


Dari jauh ia melihat ada Marvel di depan ruang oprasi, ia mengurungkan niatnya untuk kesana.


__ADS_2