
Saat Dea pulang ke rumahnya sang ayah sengaja mendekati sang istri, ia ingin tahu apa tujuan Lastri menemui istrinya.
"Ada apa Lastri menemui ibu tadi?" Tanya ayah David.
"Lastri ada rencana untuk membuat baju seragam di pernikahan sepupunya, dia juga datang minta maaf karena selama ini sudah jahat sama putri kita" ujar ibu Dea yang membuat ayah David semakin bingung.
"Tumben ibu bersikap manis pada Dea tadi?''
"Emangnya kenapa pak, ngak boleh? Dea kan juga anak ibu" ujar ibu Dea tersenyum berusaha menyembunyikan ke gugupannya. Ia tak menyangka jika sang suami akan bertanya seperti itu padanya.
"Lagi pula ibu sadar jika selama ini ibu sudah jahat sama Dea, tak seharusnya ibu memperlakukan Dea seperti itu, maafkan aku ya pak sudah jahat sama anak kita selama ini" ujar ibu Dea memeluk ayah David. Ia pura-pura menangis agar ayah David percaya jika ia sudah berubah.
"Terimakasih bu, jika ibu sudah bisa menyayangi putri kita, ayah tahu ibu pasti akan menyayangi putri kita" ujar ayah David dengan air mata haru membuat sang istri tersenyum penuh kemenangan. Meski begitu, ayah David tak sepenuhnya percaya apa kata sang istri ia akan berusaha untuk mencari tahu.
Lastri, Devina dan ibu Dea, terus melancarkan aksi mereka untuk menggagalkan pernikahan Dea dan Marvel.
Setelah kedatangan Lastri beberapa hari yang lalu, kini ia datang lagi ke rumah ibu Dea bsrsama dengan Devina. Ayah David semakin curiga dengan tingkah sang istri yang selalu mengunci pintu kamar dan masuk ke dalam kamar bersama dengan Lastri dan Devina.
Ayah David juga tak tahu jika Devina adalah orang yang hampir saja membuatnya tak bertemu dengan sang putri lagi. Sehingga jika Devina bertamu ayah Dea akan menyambutnya dengan hangat.
.
Dua minggu sebelum pernikahan Dea dan Marvel sudah tak di ijinkan untuk bertemu, mereka hanya bisa berkomunikasi melalui sambungan telpon saja.
''Malam sayang, bagaimana kabar kamu hari ini?'' Tanya Marvel melalui sambungan telpon ketika panggilannya sudah di jawab oleh sang kekasih.
''Aku baik-baik saja kak, bagaimana kabar kakak?'' Tanya Dea.
''Aku juga baik, oh iya apa kita benar-benar ngak bisa ketemu meski cuma sebentar saja?''
''Ngak boleh kak, menurut adat begitu, jika kita nekat maka pernikahan kita tak akan jadi terlaksana atau akan ada banyak rintangan untuk pernikahan kita kak'' ujar Dea, ia sebenarnya tak percaya dengan hal semacam itu, namun ia berusaha menghargai adat yang ada di tempat tinggalnya.
''Sebentar saja, 5 menit juga ngak apa-apa'' ujar Marvel dengan nada suara yang di buat manja.
''Ngak boleh kak, oh iya kakak sudah makan malam?''
__ADS_1
''Sudah sayang, oh iya besok mama mau kerumah kamu sama kak Imel, kamu ngak kemana-mana kan?''
''Ngak kemana-mana koq kak, aku di rumah saja ngurusin kebun, hehehhe'' ujar Dea.
''Nanti kalau kita nikah kita urus sama-sama kebunnya sayang''
''Iya kak''
''Oh iya kamu istirahat sayang, ini sudah malam. Jangan sering begadang ya sayang''
''Iya kak, kakak juga istirahat''
''Iya sayang, selamat malam semoga mimpi indah''
''Selamat malam juga kak semoga mimpi indah''
Setelah panggilan terputus Dea segera tidur karena hari juga sudah mulai menuju tengah malam. Suasana di rumah Dea terasa begitu sunyi jika malam sudah tiba, sebab kini hanya tinggal dirinya sajalah yang menempati rumah itu.
.
Sekitar pukul 5 pagi Dea sudah bangun dari tidurnya, ia terlambat bangun pagi ini dikarenakan ia merasa sangat lelah menjalani aktifitasnya seharian kemarin.
Ia dengan semangat memetik sayuran ada sayur kangkung, sawi dan kacang panjang juga beberapa kilogram cabai dan tomat.
Sekitar pukul setengah 7 pagi, Dea telah selesai melakukan aktifitasnya di kebun. Dengan segera ia mengganti bajunya dan membuat sarapan untuk dirinya sendiri, saat akan menyalakan api pada tungku terdengar suara ketukan dari pintu dapur.
''Neng Dea'' ujar seorang di luar sana.
Dengan segera Dea berdiri dan membuka pintu, ia terkejut melihat bu Tiwi berdiri di depannya.
''Bu Tiwi'' ujar Dea.
Melihat Dea membuka pintu, bu Tiwi segera masuk ke dalam dapur dan mengunci kembali pintu dapur yang membuat Dea terkejut sekaligus merasa heran.
''Ada apa bu?'' Tanya Dea.
__ADS_1
''Ada yang mau ibu tunjukkan tapi kamu jangan bilang siapa-siapa jika ibu yang kasih tahu'' ujar bu Tiwi berbisik pada Dea.
Dea mengangguk, bu Tiwi mengeluarkan ponselnya dari dalam saku kemudian, memperlihatkan sebuah rekaman video yang di ambil oleh bu Tiwi pagi Tadi.
Betapa terkejutnya Dea melihat ada beberapa orang yang sedang mengawasinya saat berada di kebun tadi, bahkan orang-orang itu ternyata semalam juga berada di sekitaran rumah Dea.
''Ini siapa bu?'' Tanya Dea juga ikut berbisik berjaga-jaga jika ada yang menguping pembicaraan keduanya.
''Ibu ngak tahu Dea, tapi dari suaranya sepertinya tidak asing'' ujar bu Tiwi.
''Iya bu Dea juga merasa seperti itu'' ujar Dea mulai berpikir siapa kira-kira yang ada di dalam rekaman video itu.
''Itu seperti suara bi Lastri, Chelsi dan juga ibu. Tapi Dea tak bisa memastikan bu apa benar mereka atau bukan'' ujar Dea pelan.
Bu Tiwi sontak terkejut mendengar ucapan Dea, ia juga mulai mencurigai ketiga orang itu.
''Ya sudah mana ponsel neng Dea biar ibu kirimkan juga videonya jaga-jaga jika ada sesuatu yang mendesak dan neng Dea perlu video ini'' ujar bu Tiwi.
Dea segera mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya yang memang ia selalu bawa kemana-mana, meski itu hanya ke kebun belakang rumah.
Setelah memberikan salinan video pada Dea bu Tiwi segera kembali ke rumahnya. Dea melakukan aktifitasnya seperti biasa, meski ia merasa was-was namun ia berusaha tetap tenang.
Hingga siang tiba Dea terus memikirkan tentang video tadi, ia ingin mengabari Marvel namun ia tak mau membuat Marvel khawatir.
Entah mengapa ia juga merasa jika ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi, entah itu terjadi padanya ataupun orang terdekatnya.
Ia bahkan tak kemana-mana seharian ini sebab ia merasa ada sesuatu yang aneh sedang terjadi. Saat hendak menikmati makan siangnya, tiba-tiba saja ponsel yang ia letakkan di atas meja berdering. Dengan segera Dea meraih ponseelnya dan seketika senyum terbit di bibirnya, kala melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.
Tenyata panggilan itu berasal dari nomor ponsel sang ayah dengan senyuman Dea segera menerima panggilan itu, namun beberapa detik kemudian ia langsung menangis.
Setelah panggilan terputus Dea segera berlari ke kamarnya dan mengambil tas dan juga jaketnya kemudian belari keluar rumah.
Beberapa tetangga yang melihatnya berlari mencoba memanggil namanya namun tak satupun panggilan dari mereka yang terdengar oleh Dea.
Dea terus berlari dengan harapan ia akan segera menemukan kendaraan umun yang akan membawanya menuju ke rumah sakit dimana sang ayah sedang terbaring koma.
__ADS_1
Kabar buruk yang ia terima mengenai keadaan sang ayah membuat Dea merasa sangat sedih, sepanjang jalan ia terus meneteskan air matanya.
''Ayah harus kuat, Dea tahu ayah pasti kuat'' gumamnya.