
Beberapa minggu sudah berlalu sejak kepulangan Dea dari rumah sakit. Kini ia sudah menjalani hari-harinya seperti biasanya, meski kadang bagian dada dan kepalanya masih sering sakit namun ia sudah tak terlalu terganggu akan rasa sakitnya. Selain itu ia juga tak mau membuat nenek dan bibinya khawatir padanya.
Ia juga sudah aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah, seperti saat ini ia sedang berlatih menari bersama teman-teman sekolahnya, ia akan mengikuti lomba pada acara peringatan hari kemerdekaan nanti.
''Loh De, kamu juga ikut lomba?''Tanya Gema melihat Dsa sudah rapi dengan pakaian latihan.
''Iya Gem''
''Emang kamu udah sehat betul?''
''Iya Gem, aku sudah sehat. Kamu ngapain disini?''
''Aku lagi nunggu teman-teman buat latihan juga''
''Kamu ikut lomba apa Gem?''
''Aku cuma ikut lomba di bidang olahraga aja De. Oh iya, Darmi dama Sukma koq ngak kelihatan? Kemana ya mereka berdua?''
''Mereka lagi ada di ruangan sebelah Gem, mereka kan ikut ngambil bagian buat nyanyi di upacara tujuh belasan jadi mereka sedang latihan sekarang''
''Oh gitu, kenapa kamu ngak ikutan juga? Kamu kan suka nyanyi''
''Iya aku sebenarnya mau ikutan juga tapi pak Marvel larang, katanya upacaranya lama nanti aku ngak tahan lama berdiri''
''Benar juga sih De, mana jalau pas upacara nanti cuacanya terik, kamu bisa-bisa sakit lagi'' Gema tampak melamun setelah mengatakan itu.
Dea yang menyadari jika akhir-akhir ini, temannya itu sering melamun membuatnya begitu ingin tahu apa yang terjadi pada sahabatnya satu itu.
''Ehm, Gem''
''Iya De''
''Aku mau nanya boleh?''
''Tanya apa De? Sepertinya sangat serius''
''Kamu lagi ada masalah ya Gem? Akhir-akhir ini aku liat kamu sering melamun. Kalau kamu ada masalah coba cerita sama kami, kita ini sahabat kamu ngak bisa memendam masalah sendirian''
Gema memandang Dea dengan tatapan mata yang berkaca-kaca, ia memang memiliki masalah yang lumayan rumit saat ini namun ia tak tahu harus bercerita pada siapa.
''Ngak ada koq Dea, aku baik-baik saja''
''Kamu ngak bisa bohong Gem, mata kamu ngak bisa bohong. Aku tahu pasti kamu sedang mengalami masalah yang cukup berat. Jika kamu sudah siap kamu bisa cerita sama aku, Darmi atau Sukma. Kami akan membantu mencari solusi buat masalah yang sedang kamu hadapi. Ingat Gem, kita ini sahabat dan kami ngak mau kamu bersedih''
__ADS_1
Gema hanya bisa diam mendengar ucapan Dea, apa yang di katakan Dea memang benar adanya. Masalah kali ini bukanlah sebuah masalah yang biasa-biasa saja. Nasib rumah tangga kedua orantuanya kini berada di ujung tanduk, ia tak pernah berpikir jika keluarganya akan berantakan seperti ini.
''Baiklah nanti kita ketemu di taman ajak Sukma dan Darmi juga, aku ingin mengatakan seauatu'' ujar Gema kemudian berlalu meninggalkan Dea tanpa menunggu Dea berucap lagi, Dea yang melihat sahabatnya berlalu sambil meneteskan air matanya membuat Dea merasa sangat sedih.
''Apapun masalah kamu, semoga saja cepat berlalu Gem'' gumam Dea.
Setelah sesi latihan selesai, ia mengajak Darmi dan Sukma untuk ke taman menemui Gema.
''Ada apa sih De, kamu ngajak kita ke taman, pakai nyari anak cunguk itu'' ujar Darmi.
''Apa kalian sadar kalau akhir-akhrir ini Gema seperti lebih banyak diam dan melamun?''
''Iya De, sepertinya dia sedang ada masalah tapi dia ngak mau berbagi sama kita''
''Iya, ayo kita ketaman kita cari dia''
Mereka mencari Gema di taman namun mereka tak menemukannya hingga saat mereka ingin berbalik kembali ke kelas, mereka mendengar suara orang menangis.
''Mama kenapa harus membalas apa yang papa lakukan? Jika begini mama sama saja dengan papa, jika kalian berpisah aku harus kemana? Kalian tak menginginkan aku, aku harus tinggal dimana mulai sekarang?'' Ujar Gema di sela-sela tangisnya. Ia tak tahu jika ketiga temannya sudah mendengar apa yang ia ucpakan. Ketiga sahabatnya juga melihat video yang sedang di putar Gema di ponselnya.
Dea, Darmi dan Sukma juga ikut meneteskan air matanya melihat isi video yang sedang di putar di ponsel Gema.
Bahu Gema semakin terguncang saat kata-kata tak pantas keluar dari mulut kedua orang tuanya.
Tanpa aba-aba ketiga sahabat itu memeluk Gema, mereka tak ingin bertanya karena mereka sudah tahu masalah Gema meski belum sepenuhnya.
''Menangislah Gem, jika itu bisa membuatmu lega Gem, jangan menahan kesedihan sendiri. Kami ini sahabat kamu kami tak akan membiarkanmu bersedih sendiri, susah senang harus kita jalani bersama'' ujar Dea.
Gema tak mampu menahan air matanya lagi, tangis yang ia sudah tahan sejak beberapa hari yang lalu kini pecah. Ia menumpahkan segala rasa sesak yang ada di dadanya di pelukan ketiga sahabatnya.
Setelah puas menangis Gema di berikan minum oleh Dea, setelah merasa tenang Gema menatap ketiga sahabatnya.
''Maafkan aku ya teman-teman aku sudah bikin kalian sedih'' ujar Gema mengusap sisa-sisa air mata di pipinya.
''Ngak apa-apa Gem, ingat jika kamu punya masalah cerita sama kami saja. Kami bukan hanya sahabat tapi juga saudara kamu'' ujar Sukma.
''Benar itu, sebenarnya ada apa Gem?''
''A-aku mau cerita kalau mama sama papa aku sudah cerai'' Gema menghapus air mata yang kembali menetes di pipinya.
Teman-temannya hanya mendengarkan mereka ingin Gema mengungkapkan segala yang ada di dalam pikirannya.
''Mama dan papa ku sama-sama punya selingkuhan dan mereka akan bercerai. Mereka tak ada yang ingin merawatku, sementara aku tak punya siapa-siapa lagi'' ujar Gema.
__ADS_1
''Sabar ya Gem? Jadi apa rencana kamu selanjutnya?''
''Aku ngak tahu Mi, rumah yang kami tempati sekarang sudah di jual sama papa dan papa sudah menikah lagi dengan wanita lain. Mama sendiri juga akan menikah setelah akta cerai mereka keluar. Aku tidak tahu harus pulang kemana nanti? Aku mau ngekos tapi ngak punya uang, semua uang ku sudah di ambil sama mama dan papa'' Ujar Gema.
Ketiga sahabatnya terkejut mendengar ucapan Gema, bagaimanan ada orangtua yang tega meninggalkan anaknya sendiri.
''Kamu tinggal sama aku aja Gem, di rumah ku masih ada kamar kosong, tapi ya gitu kamarnya kecil'' ujar Dea.
''Aku juga mau bantu Gem tapi kamu tahu di rumahku banyak orang hehehe'' ujar Sukma.
''Benar Gem, kamu lebih baik tinggal sama Dea. Kami juga bisa sering-sering kesana kalau kamu tinggal di rumah Dea''
''Tapi aku tidak mau merepotkan Dea. Aku ngak mau jadi beban bagi orang lain''
''Ngak repot koq Gem, lagian kamu juga bukan beban kamu itu teman sekaligus saudara bagi kami bertiga''
''Tapi De..''
''Ngak ada tapi-tapi. Oh iya kamu tunggu sebentar ya aku mau ke kelas ambil tas ku dulu setelah itu kita ke rumah ku''
''Iya De''
Dea berlari-lari kecil menuju ke kelasnya ia segera menyambar tasnya dan kembali ke taman menemui teman-temannya.
''Ayo kita pulang'' ajak Dea.
Ia melihat Gema masih duduk di tempatnya.
''Ada apa Gem?''
''Apa nenek dan bibi ngak akan marah?''
''Ngak Gem, ayo'' ujar Dea menarik tangan Gema.
''Iya, ayo Gem'' ujar Darmi menggendong ransel milik Gema yang Gema sembunyikan di balik pohon. Sukma juga membawa sebuah tas berisi buku-buku Gema, Gema sendiri sudah menggendong tas berisi pakaiannya.
''Ini semua barang-barang kamu Gem?'' Tanya Sukma.
''I-iya Sukma. Maaf ya aku jadi ngerepotin kakian''
''Ngak ngerepotin Gem. Apa masih ada barang lain?''
''Ngak ada De, ayo kita jalan. Ini benra-benar ngak apa-apa?''
__ADS_1
''Ngak apa-apa Gem, ayo''