
Setelah dua malam satu hari mengarungi lautan akhirnya kapal bersandar juga di pelabuhan kota P. Dea dan seluruh penumpang kapal mulai turun dari kapal sambil membawa barang bawaan mereka.
''Kita turunnya setelah agak kurang penumpangnya ya nak, soalnya ibu takut perut kamu kena barang bawaan penumpang lain'' ujar bu Marsih.
''Iya bu'' ujar Dea yang sedang bersiap-siap untuk turun.
Saat terlihat tak cukup ramai penumpang yang turun dari kapal Dea juga ikut turun bersama bu Marsih dan kedua anaknya.
Seperti yang sudah bu Marsih katakan pada Dea sebelumnya jika ia akan menemani Dea ke terminal bis, saat turun dari kapal bu Marsih membawa Dea ikut serta di mobil yang di sewa oleh bu Marsih.
Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah bu Marsih untuk mengantarkan Dewa dan Dewi sebelum bu Marsih mengantar Dea ke terminal.
''Ngak apa-apa kan nak, kita ke rumah ibu dulu?''
''Ngak apa-apa bu, justru Dea sangat berterimakasih karena ibu sudah banyak membantu Dea. Mungkin jika tak ada ibu, Dea sudah nyasar di pelabuhan'' ujar Dea.
''Sama-sama nak, ibu juga senang bisa jumpa dengan kamu karena ibu punya teman di kapal, karena Dewa da Dewi hanya sibuk sendiri'' ujar bu Marsih yang membuat kedua anaknya tertawa.
Dewa dan Dewi adalah anak kembar kini mereka berusia 13 tahun, namun mereka masih sangat manja dengan sang ibu. Kemanapun sang ibu pergi mereka berdua akan selalu mengikuti, mereka juga anak-anak yang gampang akrab dengan orang baru. Mereka juga sangat akrab dengan Dea meski baru berkenalan.
''Kak Dea kalau sudah sampai di kampung jangan lupakan kita ya'' ujar Dewa dan di angguki oleh Dewi.
''Tentu saja, kakak tidak akan lupa sama adik-adik kakak yang cantik dan ganteng'' ujar Dea memeluk keduanya yang memang duduk di samping kiri dan kanan Dea.
''Kak Dea, cowo tampan yang tadi di pelabuhan, itu siapa?'' Tanya Dewa yang membuat dahi Dea berkerut karena bingung.
''Cowo tampan yang mana?'' Tanya Dea.
''Yang tadi nyamperin kakak waktu kita mau naik taksi'' ujar Dewa lagi, ia memang melihat Dea di hampiri oleh Rendy dan bu Wati saat mereka akan meninggalkan pelabuhan.
Bu Wati memberikan sebuah kartu nama dan juga amplop yang berisi uang untuk Dea, ia sangat prihatin mengetahui apa yang di alami oleh Dea. Awalnya Dea sangat menolak apa yang di berikan oleh bu Wati karena ia tak ingin di kasihani, namun bu Wati mengatakan jika itu untuk janin yang sedang ia kandung dengan terpaksa Dea harus menerimanya, karena kata orangtua tak baik menolak pemberian orang untuk bayi yang sedang kita kandung.
''Itu teman kakak sama ibunya dek, mereka juga orang-orang baik seperti kalian dan ibu'' ujar Dea membuat Dewa dan Dewi tersenyum bahagia.
''Emang kita orang-orang baik kak? Kata ibu kita anak-anak yang usil'' ujar Dewa.
''Kalian memang anak-anak usil koq'' ujar bu Marsih yang membuat Dewa memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Dea terkekeh melihat wajah cemberut Dewa dan Dewi, betapa bahagianya ia jika ia punya anak nanti. Tanpa sadar Dea meneteskan air matanya, Dewi yang menyadari hal itu langsung mengusap air mata yang ada di pipi Dea.
''Kakak jangan nangis dong, kan udah besar'' ujar Dewi.
''Iya'' ujar Dea memeluk Dewi yang sedari tadi membuatnya gemas.
Sekitar 30 menit berada di atas kendaraan, akhirnya mereka tiba di rumah bu Marsih, seharusnya mereka hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke rumah bu Marsih, akan tetapi karena ini masih pagi dan jalanan kota yang cukup padat oleh kendaraan orang-orang yang akan memulai katifitas mereka, sehingga mereka butuh waktu lebih lama untuk sampai ke rumah bu Marsih.
Saat mobil baru saja berhenti di halaman, Dewa dan Dewi langsung berlari memeluk seorang wanita yang sudah lanjut usia yang sedang duduk di teras rumah yang cukup mewah itu.
''Silahkan nak, inilah rumah sederhana milik ibu'' ujar bu Marsih yang membuat Dea berpikir.
'Rumah sebesar ini saja masih termasuk rumah kecil untuk bu Marsih, gimana rumah aku dan nenek di kampung pasti cuma terlihat seperti gubuk bagi bu Marsih' batin Dea.
'''Ayo nak, kenapa malah melamun? Anggap saja rumah sendiri''
''Eh, iya bu'' ujar Dea mengikuti langkah bu Marsih.
''Ibu'' ujar bu Marsih memeluk wanita tua yang di peluk oleh kedua anaknya tadi.
''Ibu kenalkan ini Dea, Dea ini ibu saya namanya bu Mery'' ujar bu Marsih memperkenalkan keduanya.
''Saya Dea bu'' ujar Dea sambil mencium tangan bu Mery.
''Ayo masuk nak Dea'' ujar bu Mery bangkit berdiri dan mengamit lengan Dea untuk masuk ke dalam rumah.
''Nak duduklah dulu disini, ibu mau ganti baju dan simpan koper ibu dulu'' ujar bu Marsih meminta Dea untuk duduk di sofa ruang tamu.
Bu Marsih menuju ke lantai dua rumahnya untuk memyimpan barang bawaannya sedangkan Dea duduk di ruang tamu bersama bu Mery. Entah mengapa bu Mery begitu tertarik melihat Dea, ia merasa jika ia sangat cocok jika bersama dengan Dea.
''Nak Dea mau pulang kemana?''
''Saya mau pulang ke kampung saya bu, di kota M''
''Oh gitu, apa kamu sudah bekerja nak?''
''Belum bu''
__ADS_1
''Apa kamu mau bekerja?'' Tanya bu Mery.
Dea yang mendengar hal itu tertarik ingin bekerja, sebab kini dia harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan janin yang ada di dalam kandungannya.
''Bekerja apa bu?'' Tanya Dea penasaran,tawaran pekerjaan apa yang sekiranya di maksud oleh bu Mery.
''Ibu punya rumah di kota U dan kebetulan tak ada yang merawatnya. Disana juga ada sebuah kebun kecil yang bisa kamu olah jika mau tinggal disana. Rumah sakit, Bank dan pasar juga sangat dekat dari rumah''
'Kota U juga sangat dekat dari kampung hanya butuh waktu 1 jam untuk ke sana. Tak mungkin juga aku pulang ke kampung dalam ke adaan seperti ini, pasti semua orang akan menjadikanku bahan omongan.Terlebih sekarang aku seorang janda, lebih baik aku terima tawaran bu Mery saja' pikir Dea.
''Apa rumahnya luas srperti ini bu?''
''Tidak nak, hanya rumah sederhana layaknya rumah-rumah biasa di kampung. Rumah itu hanya punya dua kamar, ruang tamu dan dapur. Disana juga airnya bagus bersih dan listriknya juga masih menyala. Jika kamu mau saya akan minta orang untuk bersihkan''
''Saya mau bu, tapi saya mungkin tidak bisa menerimanya bu, saya khawatir akan membuat ibu malu'' ujar Dea yang membuat bu Marsih bingung.
''Malu? Maksudnya bagaimana nak?''
''Saya sekarang sedang mengandung bu, sedangkan suami saya sudah menceraikan saya. Saya khawatir nama baik ibu akan rusak jika menempatkan saya di sana''
''Saya tahu nak, kamu tenang saja l semuanya akan baik-baik saja yang penting kamu punya semua surat-surat yang kamu butuhkan, ssperti kartu keluarga dan ktp juga akta cerai maka tak akan ada masalah''
''Iya bu, semuanya lengkap'' ujar Dea.
''Bagaimana apa kamu mau?''
''Dea mau bu, terimakasih''
''Baiklah, tunggu sebentar ya ibu mau ambil sesuatu dulu'' ujar bu Mery masuk ke sebuah ruangan dan tak lama ia kembali dengan sebuah kunci dan amplop berwarna coklat.
''Ini kunci rumah dan bekal kamu selama sebulan kedepan sebelum kamu gajian''
Dea hanya mengambil kunci rumah saja dan membuat bu Mery bingung, ''saya masih ada simpanan untuk bekal bu, juga ada orang baik yang memberi saya rejeki tadi'' ujar Dea.
Bu Mery tersenyum mendengar ucapan Dea, ''kamu tidak boleh menolak nak, jika kamu tidak mau mengambil uang ini, maka ibu berikan uang ini untuk bayi yang sedang tumbuh di rahimmu nak, kamu tahu kan kita tidak boleh menolak pemberian seseorang untuk bayi yang ada di kandungan kita'' ujar bu Mery yang membuat Dea menghela nafas.
Mau tidak mau kali ini ia juga harus menerima pemberian bu Mery, ''terimakasih bu'' ujar Dea membuat bu Mery tersenyum.
__ADS_1