
Hari ini aku akan berangkat ke kota M untuk memulai kehidupan baru dan melanjutkan pendidikan ku. Berbekal ijasah dan sedikit sisa uang yang aku miliki aku memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikan. Meski uang yang aku miliki tak seberapa namun aku berharap itu cukup untuk aku gunakam selama beberapa bulan ke depan sambil aku mencari pekerjaan paru waktu.
Untuk biaya kuliah aku sudah tidak dibuat pusing sebab aku mendapatkan beasiswa setelah mengikuti tes online.
"Kak Dea, apa sudah siap?" Tanya Ana dari luar kamar.
"Masuk saja dek, kamarnya tidak aku kunci koq" ujar ku.
"Baiklah" ujar Ana.
"Kak Dea cuma bawa segini barangnya?"
"Iya Dek, yang lain kakak tinggal. Baju-baju kakak yang di lemari pakai saja jika kamu mau" ujar Dea.
"Baik kak, jam berapa kita berangkat ke terminal bus?"
"Sebentar lagi dek, kita makan malam dulu"
"Kalau begitu ayo kita makan kak, makan malam sudah siap Hansen dam Yosen juga sudah ada disana"
"Ayo" ujar ku.
Kami berdua berjalan beriringan menuju ke meja makan, terlihat Hansen dan Yosen sudah duduk menunggu ke kami.
"Kenapa kalian ngak makan saja duluan? Ayo makan". Ujar ku pada mereka bertiga.
Kami makan dengan lahap menu makan malam yang di sediakan oleh Hansen dan Yosen, "ini enak sekali kalian pandai memasak" ujar ku yang membuat keduanya tersenyum.
"Terimakasih kak Dea"
Setelah makan malam sekitar pukul 18:35, mereka bertiga menemaniku ke terminal bus. Ternyata cukup ramai penumpang yang akan berangkat ke kota M, aku bersyukur karena beberap hari sebelumnya aku sudah memesan tiket bus, jika tidak kemungkinan aku tidak akan kebagian tempat duduk.
"Banyak sekali orang-orang yang mau berangkat ke kota M kak, sepertinya mereka semua juga mau kuliah disana karena semuanya masih muda-muda"
"Iya dek"
Kami menunggu cukup lama sebab bus yang akan aku naiki baru berangkat sekitar pukul 9 malam.
Sebelum benar-benar meninggalkan Ana dan adik-adiknya, aku kembali memeluk mereka bertiga dan mengingatkan Hansen dan Yosen untuk menjaga Ana.
"Kak Dea tenang saja kami akan menjaga kak Ana dan juga rajin belajar, kakak pasti akan bangga punya adik-adik seperti kami" ujar Hansen.
"Baiklah kalau begitu kakak berangkat ya, jaga diri kalian"
__ADS_1
"Iya kak hati-hati"
"Kalian juga hati-hati di jalan pulang"
Aku melambaikan tangan saat bus mulai perlahan meninggalkan area terminal, air mata ku menetes melihat Ana dan adik-adiknya menangis karena kepergian ku.
Meski kami tak memiliki hubungan keluarga namun waktu yang sudah kami lalui membuat aku merasa jika mereka adalah adik-adikku. Aku sangat menyayangi mereka begitupun sebaliknya, sehingga aku tak merasa terlalu terpuruk saat kehilangan Sion putra semata wayangku sebab mereka bertiga selalu ada menghibur ku.
Meski awalnya sangat berat bagi ku untuk menerima kenyataan jika putraku sudah pergi menghadap yang maha kuasa, namun mereka selalu ada di sisi ku mencoba menghibur ku dan memberikan kekuatan agar aku bisa tetap melanjutkan kehidupan ku.
Sungguh aku sangat bersuukur bisa mengenal orang-orang baik seperti mereka. Sekitar 3 jam perjalanan kami singgah di kedai yang ada di sekitar pantai untuk beristirahat dan membeli oleh-oleh bagi yang memiliki sanak saudara di kota M.
"Permisi mbak, mau beli apa?" Tanya seorang gadis menghampiri ku yang sedang berdiri di salah satu rak yang berisi manisan buah.
"Saya mencari manisan kedondong mbak, apa ada?" Tanya ku.
"Ada mbak mari ikut saya" ujarnya dan aku mengikuti dari belakang.
Ia membawaku ke sebuah rak bagian sudut yang ternyata menyimpan begitu banyak manisan kedondong dan pala. Harga masing-masing manisan sudah tertera di plastik kemasan masing-masing.
"Terimakasih mbak"
"Sama-sama mbak" ujarnya sebelum kembali melayani pembeli lain.
Setelah merasa cukup istirahat dan memastikan para penumpang sudah kembali ke dalam bus, sopir kembali melajukan kendaraannya membela dinginnya malam.
7 jam perjalanan akhirnya kami tiba di kota M,hari masih gelap sebab kini masih pukul 4:25 pagi. Selepas turun dari bus, aku hanya duduk di terminal menunggu hingga pagi menjelang, sebab aku belum berani untuk naik kendaraan umum sendirian di kota besar seperti ini dalam keadaan masih gelap.
Aku membeli sekotak nasi kuning dari seorang ibu yang menjajakan makanan di sekitar ruang tunggu terminal untuk menahan rasa lapar yang mulai mendera.
Pukul 7 pagi aku beranikan diri untuk mencari kendaraan umum yang akan mengantarkan ku ke sebuah alamat yang berada di dekat kampus tempat aku akan menimba ilmu
"Apa nona baru di kota ini?" Tanya supir taksi ketika aku sudah duduk di dalam mobilnya.
"Iya pak, saya baru tiba pagi ini"
"Apa nona mahasiswa baru atau mmencari kerja?"
"Saya mahasiswa baru pak, saya baru akan mulai pengenalan kampus besok"
"Saya doakan semoga sukses nona"
"Terimakasih pak" ujar ku.
__ADS_1
Bapak sopir taksi bercerita banyak tentang kota ini, ia menjelaskan dimana tempat-tempat publik yang bisa di akses dengan mudah dari tempat ku tinggal, seperti bank, rumah sakit, kantor pos pasar tradisional maupun pasar swalayan.
"Terimakasih pak" ujar ku memberi beberapa lembar rupiah berwarna biru setelah tiba di alamat tujuan.
"Ini terlalu banyak nona"
"Tidak apa-apa pak, itu sebagai ucapan terimakasih saya karena bapak sudah mengantarkan saya dengan selamat hingga ke tempat ini. Bapak juga sudah membantu saya mengetahui dimana tempat layanan publik di kota ini"
"Saya ikhlas melakukan semua itu nona" ujar bapak itu menyerahkan kembali beberapa lembar uang.
"Saya juga ikhlas pak memberikannya, itu rejeki buat anak dan istri napak" ujar ku membuat bapak itu tersenyum.
"Baiklah terimakasih nona, semoga apa yang nona cita-citakan tercapai" ujar supir taksi yang bernama pak Karmin.
"Pak" ujar seorang wanita yang sedang mengandung memanggil dan menghampiri bapak supir taksi.
"Ibu" ujarnya.
Wanita itu berjalan menghampiri bapak Karmin kemudian mencium tangannya, 'sepertinya itu iatri pak Karmin' batin ku.
"Ibu dari mana?"
"Dari depan pak beli sayuran, bapak sedang apa disini?"
"Bapak sedang nganter penumpang bu, oh iya nona kenalkan ini istri bapak namanya bu Jamilah" pak Karmin mengenalkan istrinya padaku.
"Saya Dea bu" ujar ku menyalami tangan ibu Jamilah.
"Ini ada rejeki buat ibu dan dedek utun dari nona Dea" ujar pak Karmin menyerahkan beberap lembar uang yang aku berikan tadi kepada sang istri.
"Terimakasih Tuhan akhirnya kita bisa makan nasi juga pak" ujar bu Jamilah.
"Iya bu, ya sudah ayo kita beli beras"
"Ayo pak, terimakasih banyak nona semoga betah di tempat ini. Rumah ibu di kontrakan paling pojok yang paling kecil, jika nona butuh sesuatu panggil saja ibu atau bapak"
"Baik bu, pak terimakasih"
Aku begitu bahagia melihat senyum yang ada di wajah bu Jamilah terlebih melihat kebersamaan sepasang suami istri yang terlihat saling menyayangi itu.
Melihat keduanya bergandengan tangan masuk ke dalam mobil entah mengapa aku tiba-tiba saja mengingat pak Marvel.
''Maafkan aku Tuhan sudah memikirkan suami orang'' ujar ku kemudian masuk ke dalam kamar kos yang berukuran 3×4 meter, tempat yang akan aku tinggali selama beberapa tahun ke depan.
__ADS_1