
(POV AUTHOR)
Nek Diah di antar oleh bu Mira ke rumah pak rt, Dea berdiri dari duduknya dan memberikan kursinya pada neneknya.
''Maafkan saya nek, saya sudah melakukan kesalahan. Silahkan hitung biaya kerusakannya saya akan menggantinya'' ujar bu Desi berpura-pura baik.
''Tidak perlu terimakasih, dengan menyadari kesalahan kamu saja sudah cukup'' ujar nek Diah membuat bu Desi tersenyum.
''Tidak nek, mereka harus mengganti kerugian nenek, anggap saja ini pelajaran buat mereka agar tidak mengulang hal yang sama pada orang lain'' ujar Marvel dan di angguki oleh pak rt dan semua warga.
''Bagaimana nek?''
''Bagaimana baiknya saja pak rt'' ujar nek Diah.
Bu Desi memberikan uang ganti rugi pada nek Diah sebelum meninggalkan rumah pak rt. Kepergian mereka di iringi sorakan dari warga setempat, karena malu bu Desi dan Devina mempercepat langkah mereka.
''Ngapain sih mah, minta maaf sama orang kampung kayak mereka?'' Tanya Devina ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.
''Emang kamu mau nginap di penjara? Kamu ngak liat tatapan Marvel tadi? Ibu sampai gemetar di tatap seperti itu'' ujar bu Desi mulai menyalakan mesin mobilnya.
''Lagian kamu emang ngak tahu kalau Marvel sudah tunangan sama anak kampung itu?''
''Ngak mah, aku ngak tahu. Terus gimana mah, aku itu masih cinta sama Marvel, aku cuma mau nikah sama Marvel mah'' ujar Devina merengek seperti anak kecil.
''Udah kamu diam dulu, mama fokus nyetir. Nanti sampai di rumah baru kita bahas dan satu lagi jangan sampai papa tahu hal ini, bisa di amuk kita kalau papamu sampai tahu'' ujar bu Desi, ia memang takut kepada suaminya.
(POV DEA)
Di rumah pak rt, masih ada kedua preman bayaran yang dibawa oleh bu Desi.
''Jadi apa yang akan kamu lakukan pada dua orang ini Dea?'' Tanya pak Marvel.
Aku menoleh sesaat ke arah nenek dan meminta untuk berbicara berdua saja.
''Saya ingin bicara dengan nenek boleh?''
''Silahkan neng, bicaralah di ruangan di dalam''
Aku menuntun nenek menuju ke ruangan yang ditunjukkan oleh pak rt. Aku menceritakan apa yang dikatakan oleh preman bayaran bu Desi tadi.
''Nak, kerugian kita tidaklah banyak. Bagaimana jika uang ini kita berikan saja pada preman itu, sepertinya dia lebih membutuhkan. Nenek pernah merasakan keadaan seperti mereka nak, saat nenek ingin melahirkan bibi mu, nenek tak punya uang sedikitpun, namun berkat bantuan seseorang bibimu bisa lahir dengan selamat''
''Baiklah nek, Dea juga berpikir seperti itu''
Aku dan nenek kembali menemui semua orang yang ada di ruang tamu.
''Jadi bagaimana keputusannya Dea?''
''Kami tidak akan melaporkannya pak, kami juga akan memberikan uang yang diberikan bu Desi kepada bapak ini. Beliau lebih membutuhkan uang ini pak, dagangan nenek memang terhambur namun masih bisa kami tata ulang. Silahkan di terima pak, mungkin tak banyak tapi mudah-mudahan bisa membantu membayar biaya oprasi istri bapak'' aku menyerahkan uang yang diberikan bu Desi kepada salah satu preman.
''Maafkan saya bu, saya benar-benar salah'' ujar preman itu bersujud di kaki nenek.
''Sudahlah nak, saya tahu beban kamu sangat berat saya pernah melaluinya. Terimalah uang itu, meski tak seberapa tapi saya berharap bisa membantu keluargamu nak'' nenek mengusap punggung preman itu.
''Saya benar-benar minta maaf bu''
__ADS_1
''Tak apa nak, pergilah temui istri dan anakmu. Jangan pernah melakukan kesalahan seperti ini lagi''
''Terimakasih bu''
''Semoga ibu dan anaknya sehat selalu pak''
''Amin''
Akhirnya permasalahan itu telah selesai, semua warga kembali ke rumah masing-masing.
Aku dan Marvel pulang kerumah bersama nenek, kami menata ulang semua dagangan nenek yang terhambur. Sedangkan nenek sudah aku bawa istirahat di kamarnya.
''Terimakasih sudah datang pak''
''Sama-sama sayang, terimakasih banyak sayang''
''Terimakasih untuk apa?''
''Untuk kebaikan hati kamu sayang, jujur saja tadi aku mau hajar preman-preman itu. Tapi kamu dan nenek memaafkan mereka begitu mudah''
''Aku cuma berpikir jika bapak tadi sangat butuh uang sehingga ia rela melakukan pekerjaan ini. Sewaktu bu Desi meminta mereka menyakiti aku dan nenek mereka tak melakukannya, mereka hanya menghamburkan dagangan nenek. Dari situlah aku tahu jika ia orang yang baik''
''Apapun itu aku sangat bangga sayang bisa memiliki mu'' ujar pak Marvel memeluk ku.
''Pak, jangan meluk aku malu, tuh kita di liatin bu Mira''
''Ngak usah malu neng, kita juga pernah muda'' ujar bu Mira.
Aku hanya tersenyum canggung, antara malu dan bahagia.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore ketika pak Marvel bersiap untuk pulang.
''Pak Marvel mau pulang?'' Tanya bu Tiwi.
''Iya bu''
''Kenapa ngak bermalam aja pak?''
''Ngak boleh bu'' ujar ku cepat.
''Jangan gitu dong neng, pak Marvel itu sudah boleh nginap loh sekali-kali'' goda bu Tiwi.
''Emang iya bu?''
''Iya pak Marvel, boleh atuh neng?''
''Ngak boleh bu. Lagi pula ngak ada kamar yang kosong''
''Kan ada kamar neng Dea''
''Ngak ah, aku ngak mau sekamar sama pak Marvel''
''Koq ngak mau neng, nanti juga sekamar''
''Udah bapak pulang, ntar di godain loh sama ibu-ibu''
__ADS_1
''Ya ngak apa-apa asal kamu ngak cemburu''
''Ngak''
''Bener nih, kalau gitu aku..''
''Udah pulang ntar mama nyariin'' ujar ku mendorong pak Marvel agar segera naik ke motornya dan pulang.
''Iya..iya, aku pulang dulu ya sayang. Salam sama bibi dan bilang sama nenek kalau aku sudah pulang''
''Iya pak, hati-hati''
''Iya sayang sampai jumpa besok''
''Neng Dea'' panggil bu Tiwi saat motor pak Marvel sudah tak terlihat lagi.
''Iya bu, ada apa?''
''Waktu lamaran pak Marvel ngak bermalam disini neng?''
''Ngak bu''
''Wah.... jadi belum dong?''
''Belum apa bu?'' Tanya ku tak mengerti arah pembicaraan bu Tiwi.
''Yah neng Dea, masa ibu harus jelasin sih, kan ngak enak''
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan bu Tiwi, aku mengerti kemana arah dari pertanyaan bu Tiwi.
''Belum bu, belum saatnya. Saya masuk dulu ya bu, mau masak''
''Baik neng''
Ada-ada saja orang-orang, semua menanyakan hal yang sama. Ngak Gema, Sukma, Darmi dan bu Tiwi semua nanyain hal itu.
Aku mulai menyiapkan bahan untuk memasak makan malam, mulai dari menyiangi sayuran hingga membersihkan ikan dan membumbuhinya. Setelah siap, aku mandi dan berganti pakaian sebelum mulai memasak makan malam.
''Sore De'' ujar bibi yang baru masuk ke rumah lewat pintu samping yang terhubung ke dapur.
''Sore bi, loh bibi sudah pulang? Kakek mana?''
''Iya, paman masih betah di sana, katanya minggu depan baru balik. Oh iya kamu sudah masak?'' ujar bibi duduk di kursi dekat lemari es.
Bibi pergi ke kampung kakek buyut untuk menjemput kakek pulang, namun kata bibi, kakek masih betah disana dan belum ingin pulang.
Sudah beberapa bulan kakek tinggal disana, katanya ia rindu rumah masa kecilnya. Kakek adalah adik dari nenek, beliau tak menikah sehingga tak memiliki keturunan.
''Belum bi, ini baru mau masak''
''Ngak usah masak De, tadi bibi ada beli lauk. Oh iya nenekmu mana?''
''Ada di dalam bi, lagi nonton sama nenek Asih''
''Oh gitu, nih lauknya kamu siapin aja, bibi mau mandi dulu. Ajak nek Asih makan sekalian nanti''
__ADS_1
''Baik bi''