
Setelah sarapan semua orang di sibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Oma Renata kembali ke rumahnya bersama bu Wayna, Reyland pergi bekerja sedangkan Dea hanya di rumah tak tahu harus berbuat apa sebab semua pekerjaan rumah telah di urus oleh pekerja di rumah itu.
''Aku harus apa sekarang? Apa yang akan aku katakan pada kak Marvel? Maafkan aku kak'' ujar Dea kemudian menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sangat sedih dengan apa yang terjadi sekarang, terlebih ia sangat sedih karena impiannya untuk hidup bahagia bersama Marvel pupus sudah.
''Untuk apa kamu menangis begitu'' ujar Reyland dingin, ternyata ia kembali lagi ke rumah.
''Maaf tuan, apa ada yang bisa Dea bantu'' ujar Dea.
''Tidak ada sekarang kamu baca ini dan tanda tangani'' ujar Reyland menyerahkan sebuah kertas dan bolpoin pada Dea.
Dea menatap wajah lelaki yang telah resmi menjadi suaminya itu, kemudian meraih kertas yang diberikan.
''Ini apa tuan?''
''Itu perjanjian selama kita menikah dan kita hanya akan menikah selama setahun. Saya tidak akan menyentuh wanita sepertimu selama kita menikah, saya tidak mau tertular virus yang kamu bawa. Saya tahu kamu sudah sering menjual diri kamu seperti ini, cih'' ujar Reyland yang begitu membuat hati Dea perih.
''Dan satu hal lagi kamu akan berada di kamar ini jika ada keluarga saja, jika tidak kamu akan tidur di kamar bawah bersama dengan pelayan di rumah ini'' ujar Reyland sebelum keluarr dari kamar.
Reyland membanting pintu cukup keras sehingga membuat Dea terkejut, ''apa salah ku Tuhan sehingga aku mendapat hukuman seperti ini?'' ujar Dea kembali menangisi nasibnya.
''Ibu, apa ibu tak sayang pada ku? Kenapa ibu begitu tega pada ku, apa yang harus aku katakan pada kak Marvel'' ujar Dea.
Setelah cukup lama menangis akhirnya Dea tertidur, ia terbangun saat ia merasakan jika ada yang menggoyang-goyangkan tubuhnya.
''Heh! Bangun kamu'' ujar seorang wanita membangunkan Dea.
Dea mulai membuka matanya kemudian menatap wanita yang baru saja membangunkannya.
''Iya, maaf anda siapa?''
''Saya pemilik kamar ini, sekarang kamu keluar sana'' ujar wanita itu menarik Dea dari atas kasur dan mendorongnya keluar dari kamar itu.
''Sayang, kamu ngapain?'' Tanya Reyland.
''Aku cuma nyuruh gadis kampung ini buat sadar diri jika dia tak pantas berada di kamar ini'' ujar wanita itu.
''Kamu belum turun juga? Oh iya Sofi sayang berikan tas buluk itu padanya, aku tak mau ada barang murahan dari gadis murahan tertinggal di kamar ku'' ujar Reyland membuat hati Dea semakin sakit.
__ADS_1
''Nih'' Sofi membuang tas kecil Dea yang ia bawa ke rumah sakit waktu itu.
Dea segera meraih tasnya kemudian berdiri dan menuju ke anak tangga setelah Reyland menutup pintu kamarnya.
''Nona mau kemana?'' Tanya seorang pelayan yang sudah berumur melihat Dea turun dari tangga.
''Bi Marni'' panggil Reyland dari atas lantai dua, ia berdiri di ujung tangga.
''Iya tuan muda''
''Panggil semttua teman-teman bibi''
''Iya tuan'' ujar bi Marni kemudian menekan sebuah alat yang berada di tangannya dan tak berapa lama beberapa orang yang memakai pakaian pelayan dan juga satpam masuk ke dalam rumah. Mereka semua berdiri di dekat Dea dan bi Marni.
''Dengarkan semuanya, mulai sekarang bi Marni sekamar sama Dea, anggap saja dia juga pelayan di rumah ini. Meski dia istri saya tapi saya tak menginginkan wanita murahan sepertinya, perlakulan dia layaknya teman kalian sendiri jangan buat wanita seperti dia merasa seperti ratu.Jika tak ada ibu dan oma Dea akan tidur di kamar bibi dan jadi pelayan di rumah ini, ingat jangan katakan apapun pada oma atau ibu''
''Baik tuan'' ujar semua yang ada di sana dan menatap Dea dengan tatapan iba.
''Ya sudah sekarang kalian bubar lanjutkan tugas kalian masing-masing'' ujar Reyland kemudian berlalu masuk ke kamarnya bersama dengan Sofi.
''Ayo non Dea, kita ke kamar bibi'' ujar bi Marni.
Hati kecilnya sedih melihat apa yang di alami oleh Dea terlebih ia juga memiliki anak gadis yang mungkin seusia Dea.
Dea hanya mengangguk dan mengikuti langkah bibi, kamar bi Marni berada di belakang tepatnya di samping dapur.
''Maaf ya non Dea, kamar bibi ya begini sempit'' ujar bi Marni merasa tak enak hati. Karena sang istri dari tuannya harus tidur di kamar untuk pembantu.
''Tidak apa-apa bu, Dea sudah terbiasa. Terimakasih sudah mau berbagai kamar dengan Dea'' ujar Dea dengan suara parau.
Bi Marni spontan memeluk Dea karena ia tahu jika gadis yang berdiri dihadapannya saat ini adalah orang baik.
Dea dan bi Marni merapihkan kamar agar muat untuk mereka tempati berdua, ketika terdengar langkah dari arah pintu.
''Nih, baju-baju buat kamu. Anggap saja itu berkat buat gadis murahan seperti kamu'' ujar Sofi melemparkan beberapa lembar daster yang sudah koyak sana sini kehadapan Dea.
Dea hanya bisa mengelus dada karena ia memang butuh pakaian untuk saat ini, jadi apapun itu akan ia pakai.
__ADS_1
Setelah Sofi kembali naik ke atas lantai dua, Dea segera memungut baju-baju itu, ''apa ibu punya jarum sama benang?'' Tanya Dea pada bi Marni.
''Ada non, buat apa? Baju-baju itu sudah koyak non, tak bisa di pakai lagi'' ujar bi Marni.
''Tak apa bi, Dea tak punya baju ganti, lagi pula ini masih bisa di jahit bu'' ujar Dea menerima benang dan jarum yang di berikan oleh bi Marni.
''Non bisa pake baju bibi. Masih ada koq baju bibi yang masih baru'' ujar bi Marni.
''Tak apa bu, ini juga masih bagua tinggal di jahit saja. Oh iya bu, ini kita di daerah mana?'' Tanya Dea.
Sedari ia tiba disini, ia tak tahu menahu dimana ia berada sekarang, yang ia tahu hanya berada di rumah suaminya.
''Kita sekarang tinggal di kota S non. Memangnya kenapa non?''
''Saya hanya terlalu rindu rumah bu'' ujar Dea berbohong. Ia tahu jika tak mungkin ia bisa kembali ke kampung halamannya mengingat dari sini ke kampungnya harus menyebrangi lautan. Dan butuh biaya banyak sementara dirinya tak punya apa-apa.
Sembari menjahit daster yang diberikan oleh sofi tadi ia mengingat kenangannya bersama Marvel hingga beberapa kali jarinya tertusuk oleh jarum. Ia hanya mampu menahan tangisnya dengan fokus pada daster yang sedang ia jahit.
''Bibi ke dapur dulu ya non, mau ngecek anak-anak yang lagi masak'' ujar bi Marni.
''Iya bu, nanti Dea bantu setelah ganti baju'' ujar Dea merapihkan baju yang sudah ia jahit.
Setelah berganti pakaian dengan daster yang baru saja ia jahit, Dea segera memeriksa isi tasnya. Ia senang bukan kepalang saat melihat ponselnya masih ada di dalam tasnya, segera ia mencari nomor ponsel Marvel namun tak ada satupun nomor di kontaknya bahkan kartu sim yang ada di dalam ponselnya sudah di ganti.
Saat akan menyimpan ponselnya tiba-tiba saja ada sebuah pesan masuk, [Kamu tak usah khawatir Marvel akan sedih, dia tetap akan menikah tapi dengan Dita. Marvel tidak akan tahu jika itu kakakmu karena kalian sangat mirip, baik-baiklah dengan keluarga suamimu dan jangan pernah muncul di hadapan kami lagi terutama Marvel ingat itu].
Entah siapa yang mengirim pesan itu, tapi yang pasti Dea hanya terpikir satu orang yaitu ibunya. Kekecewaanya pada snag ibu kini tumbuh di hatinya, ia bahkan tak tahu apakah ia masih bisa sebaik dulu pada sang ibu.
Setelah membaca pesan itu, Dea kembali menyimpan ponselnya kedalam tas dan keluar dari kamar menyusul bi Marni.
Saat ia masuk ke dapur, beberapa pelayan terlihat menoleh ke arahnya dan mereka terkejut melihat penampilan Dea.
''Non'' ujar seorang pelayan yang berada tepat di samping bi Marni.
''Maaf Dea baru bisa bantuin. Apa yang Dea harus kerjakan?'' Tanya Dea berusaha berbaur dengan pelayan di rumah itu.
Bi Marni dan pelayan yang lain bingung apa yang harus sang majikan kerjakan. Meski tuan mereka meminta mereka memperlakukan Dea seperti teman mereka, tapi itu tak membuat status Dea berubah.
__ADS_1