MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
PENCURI (POV DEA)


__ADS_3

Bukan maksud tak menghargai tawaran pak Marvel, hanya saja aku tak mau jika aku menjadi bahan gunjingan satu sekolah karena dekat dengan pak Marvel.


Aku sempat berbalik saat sudah berada agak jauh dari gerbang sekolah, dapat ku lihat pak Marvel masih tetap menatap ke arah ku sambil tersenyum.


'Untung saja aku bisa cepat pergi dari sana, jika tidak aku akan menjadi bahan cerita' batin ku.


Beberapa siswa lain yang berjalan bersama ku memberikan tatapan aneh pada ku, namun berusaha tak ku hiraukan.


.


Hari senin pagi terjadi lagi kejadian seperti beberapa waktu yang lalu, saat aku baru tiba di sekolah, aku kembali dicegat oleh bu Selvy dan dua orang siswi lain.


''Kali ini tidak akan ada yang nolongin kamu'' ujar bu Selvi membawa ember berisi air yang berbau tak sedap.


''Maksud ibu?''


''Hari itu kamu udah bikin saya malu karena di marahi pak Marvel, tapi kali ini kamu yang akan saya buat malu di hadapan pak Marvel. Pak Marvel ngak akan bisa nolongin kamu karena saat ini dia sedang berada di ruang guru''


''Tapi saya tidak pernah membuat ibu malu, itu semua terjadi karena ibu yang memulai''


''Apapun itu saya tidak terima di permalukan oleh pak Marvel, kali ini kamu benar-benar akan saya beri pelajaran'' bu Selvy mengangkat ember dan menyiramkannya ke arah ku.


Beberapa siswa yang baru datang melihat apa yang terjadi namun mereka hanya berlalu saja, mungkin mereka takut pada bu Selvy.


Byuurrrr...


Dapat ku rasakan air itu mengenai hampir seluruh tubuh ku terkecuali bagian wajah dan kepala ku, seperti ada sesuatu yang menutupinya.


Ketika aku membuka mata aku dapat melihat baju berwarna coklat seperti seragam bu Selvi, aku menyimpulkan jika orang ini juga seorang guru. Dia memeluk ku dan membenamkan kepala ku di dadanya sehingga kepala dan wajah ku tak terkena air kotor itu karena terlindung olehnya.


''Kamu ngak apa-apa Dea?'' Tanyanya.


Aku mendongak dan terkejut mendapati bahwa yang melindungi ku kali ini juga pak Marvel. Ia memeluk ku dan menempatkan kepala ku tepat di dadanya, sehingga meski bagian tubuh ku yang lain basah wajah ku tetap kering.


''Sa..saya...saya tidak apa-apa pak''


Seorang guru wanita datang bersama pak Boy, guru itu menyelimuti tubuh ku yang basah kuyup dengan sebuah handuk entah dari mana beliau mendapatkannya yang jelas aku butuh saat ini.


''Boy, kamu temani Marvel, aku liat dia sedang emosi jangan sampai ia melewati batas''


''Iya Siska, tolong bawa Dea''


Ternyata dia bu Siska, kekasih pak Boy. Aku mengikuti langkahnya menuju ke ruang klinik sekolah, karena disana aku bisa membersihkan diri dengan aman.


''Sis, tolong beri dia baju olahraga atau baju apapun yang ada di sana'' ujar pak Marvel dan di angguki oleh bu Siska.


''Ayo Dea, kita ganti baju di klinik sekolah'' ujarnya dan aku mengangguk.


Bu Siska terus memeluk ku sepanjang jalan menuju ke klinik sekolah, beberapa murid dan guru yang melihat ku terlihat berbisik-bisik.


Jujur saja saat ini aku merasa sangat malu, di depan semua orang aku di perlakukan seperti tadi, ditambah lagi dengan adegan dimana pak Marvel memeluk ku dengan terang-terangan di hadapan banyak murid dan guru.


''Tidak usah hiraukan apapun perkataan orang, hidup ini kamu yang jalani, selagi tak menjadi beban bagi mereka abaikan saja. Gantilah baju mu di toilet klinik, ini juga ada sabun kamu pakailah karena air yang di siramkan padamu tadi adalah air selokan'' bu Siska memberikan sabun, handuk dan sepasang baju olahraga baru.


''Te..terimakasih bu'' ujar ku gemetar karena merasa kedinginan, maklum karena cuaca di kota ku termasuk dingin untuk saat ini.


''Masuklah ganti bajumu, kamu sudah kedinginan. Ibu akan menunggu disini''

__ADS_1


Aku bergegas ke kamar mandi, aku mandi dan mengganti pakaian, meski agak risih karena aku tak memakai pakaian dalam namun aku syukuri karena aku masih bisa memakai baju yang kering.


Setelah berpakaian, aku merapihkan rambut kemudian menemui bu Siska yang ternyata masih setia menunggu ku di ruangan klinik.


''Sudah selesai Dea?''


''Sudah bu, terimakasih''


''Kamu ngak ada pakaian dalam?'' Tanya bu Siska.


''Tidak bu''


''Dea'' ujar pak Marvel sambil mengetuk pintu ruangan.


Bu Siska membuka pintu dan mempersilahkan pak Marvel untuk masuk.


Aku segera menutupi tubuh ku dengan balutan handuk, meski aku sudah memakai baju namun aku tak memakai pakaian dalam, jadinya aku merasa seperti tak memakai pakaian.


''Saya...saya baik-baik saja pak'' ujar ku menunduk dan bersembunyi di belakang bu Siska.


''Bu, saya malu''


''Pak, ada apa?'' Tanya bu Siska mengerti maksud perkataan ku.


''Ini ada jaket buat Dea, mungkin dia butuh''


''Baik pak'' ujar bu Siska menerima jaket yang diberikan oleh pak Marvel, setelah pak Marvel keluar dari ruangan barulah aku berpindah dari belakang bu Siska.


''Nih pakai ini baru kamu ke kelas, ini bisa mmbuat kamu lebih hangat juga membuat orang-orang tak tahu jika kamu tak memakai dalaman, sebentar lagi kelas akan di mulai. Ingat abaikan apa yang di katakan orang lain, jika kalian memang ada hubungan jalani saja itu hak kalian berdua'' ujar bu Siska sambil tersenyum.


''Terimakasih bu''


Aku berjalan menuju ke kelas ku, banyak murid yang menatap ku. Baju basah aku masukkan ke kantong plastik hitam dan ku bawa menuju kelas.


''Gimana keadaan kamu De?'' Tanya Darmi sesaat setelah aku tiba di kelas.


''Aku baik-baik saja Mi''


''Ada masalah apa kamu sama bu Selvy?''


''Aku juga ngak tahu Mi, tapi ini sudah ke dua kalinya aku disiram begini'' ujar k0u sedih.


''Kamu baik-baik aja De?'' Tanya Gema.


''Iya Gem''


''Kesel aku liat bu Selvy, songong amat jadi guru. Emang kalian ada masalah apa?''


''Ngak ad Gem, aku juga ngak tahu kenapa bu Selvy benci sama aku''


''Ya udah ngak usah di pikirin mending kita bahas berita heboh yang lain''


''Berita ap Gem?'' Tanya Darmi.


''Berita tentang ini'' Gema menunjukkan sebuah video yang ada di ponselnya. Mata ku membulat sempurnah melihat video yang di tunjukkan oleh Gema.


''Wahwahwah... ini pasti jadi berita terheboh minggu ini'' ujar Sukma.

__ADS_1


''Benar tuh'' goda Darmi, ia menaik turunkan alisnya.


Aku merasa sangat malu, karena video itu adalah video yang menunjukkan saat pak Marvel memeluk ku tadi. Rasanya aku ingin menghilang saat itu juga, karena satu hal yang pasti bahwa pasti video itu juga ada di murid lain yang melihat kejadian tadi.


''Apa sih kalian'' aku menutup wajah ku dengan buku.


''Ngomong-ngomong jaket ini sepertinya bukan punya kamu De'' ujar Sukma.


''Iya ya, tapi jaket ini ngak asing'' lanjut Gema.


''Itu kan jaket pak Marvel'' ujar seorang kakak kelas yang menghampiri kami bersama 4 orang temannya.


Sontak saja hal itu membuat teman-teman sekelas yang tadinya sibuk dengan urusan mading-masing menoleh ke arah ku.


''Benar De?'' Tanya Darmi.


Aku mengangguk karena ini memang milik pak Marvel.


''Ambil aja jaketnya Yolanda'' ujar seorang kakak kelas.


''Kembalikan jaketnya kamu tidak pantas memakainya'' ujar kak Yolanda menarik jaket yang aku kenakan.


''Jangan ditarik kak nanti rusak''


''Aku ngak peduli pokoknya jaket ini ngak pantas buat kamu'' ujarnya terus menarik jaket yang aku pakai.


Aku berdiri kemudian berusaha melepaskan jaket yang aku pakai, namun karena terus di tarik-tarik oleh kak Yolanda, membuat aku berdiri tak seimbang dan hampir jatuh membentur ujung meja jika saja tak ada tangan yang sigap menangkap tubuh ku.


''Terimakasih'' ujar ku berusaha bangun sekaligus berusaha menutupi rasa malu. Aku memperbaiki jaket yang aku pakai dan kembali duduk di kursi ku.


Lagi-lagi pak Marvel yang menolong ku, ketiga teman ku tersenyum menggoda sedangkan teman kelas yang lain saling berbisik-bisik.


''Ada apa ini?'' Tanya pak Marvel.


''Ngak ada apa-apa pak'' jawab kak Yolanda.


''Tadi kakak itu paksa Dea lepas jaket yang Dea pakai pak'' ujar Budi satu-satunya siswa laki-laki di kelas ku


''Benar begitu Yolanda?''


''I..iy..iya.. iya pak. Saya rasa dia sudah mencuri baju itu karena setahu saya itu baju bapak''


''Itu memang baju saya'' ujar pak Marvel, aku hanya tertunduk di kursi ku.


''Dasar pencuri'' ujar kak Yolanda.


''Dea bukan pencuri, baju itu memang punya saya, tapi saya sendiri yang memberikan pada Dea''


''Tapi...tapi''


''Sudah, kembali ke kelas kalian'' ujar pak Marvel.


Kak Yolanda dan teman-temannya keluar dari kelas di iringi sorakan mengejek dari beberapa murid.


''Kamu ngak apa-apa Dea?''


''Saya tidak apa-apa pak, terimakasih''

__ADS_1


''Pakai saja jaket itu saya tahu kamu sedang butuh saat ini, nanti jam istirahat kita diminta ke ruangan kepala sekolah. Saya kembali ke kantor dulu'' ujar pak Marvel kemudian keluar dari kelas di ikuti oleh siswa dari kelas lain termasuk Gema dan Sukma di karenakan bel tanda pelajaran akan dimulai sudah berbunyi.


__ADS_2