MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
MULAS-MULAS (POV DEA)


__ADS_3

Aku tak pernah menyangka jika aku kan kembali bertemu dengan pak Marvel. Ada rasa sedih dan juga bahagia ketika aku melihatnya. Aku bahagia sebab ia terlihat baik-baik saja setelah kepergian ku, ia terlihat bahagia saat berbicara dengan dokter Renata.


Ternyata istrinya juga sedang hamil, aku bersyukur jika pak Marvel bisa menjalani kehidupannya dengan baik setelah aku mengecewakannya dengan menghilang tanpa jejak beberapa hari sebelum pernikahan kami.


Aku tahu berita pernikahan pak Marvel dari mantan ibu mertua ku, ia memgirimkan foto pernikahan pak Marvel dengan seorang gadis cantik yang konon katanya bernama Regina.


''Maafkan aku kak, aku belum bisa menemuimu, aku tak siap untuk mengatakan apapun padamu'' ujar ku dari balik pot tanaman dimana aku bersembunyi saat pak Marvel mengejar ku.


Setelah aku tahu jika pak Marvel juga memeriksakan istrinya di rumah sakit ini, entah mengapa rasanya aku tak ingin lagi melahirkan disini, namun apa daya hanya rumah sakit ini yang terdekat dan juga biaya rumah sakit lumayan tak menguras kantong sesuai dengan yang aku mampu.


Setelah pertemuan singkat tadi, aku terus berpikir bagaimana caranya agar aku tak bertemu lagi dengan pak Marvel di rumah sakit itu.


''Nak'' panggil mbok Namu. Kini kami sudah sampai di rumah dan juga sudah selesai makan siang.


''Iya bu''


''Kamu kenapa? Mbok perhatikan sejak pulang dari rumah sakit kamu kelihatannya selalu melamun. Apa ada masalah dengan kandunganmu nak?''


''Tidak bu, hanya saja...'' aku tak tahu apa mbok Namu akan percaya jika aku menceritakan yang sebenarnya terjadi pada ku. Aku tak tahu apakah mbok Namu akan percaya jika ada ibu yang dengan tega menjual anaknya sendiri.


''Tapi apa nak? Jika ada masalah kamu cerita sama mbok dan Jessy. Kami ini keluargamu nak, jika ada beban di hatimu, bagilah untuk kami juga'' ujar mbok Namu duduk di samping ku.


''Apa ini ada hubungannya dengan laki-laki yang di halaman rumah sakit tadi?'' Tanya Jessy.


''Laki-laki?'' ujar mbok Namu.


''Iya Jes, laki-laki itu dulunya calon suami kakak..'' ujar ku menjeda kalimat, rasanya sesak sekali jika aku harus menceritakan apa yang sudah terjadi. Mengingat semua kenangan indah dan impian bersama pak Marvel membuat ku ingin menangis.

__ADS_1


Mbok Nmau dan Jessy terkejut mendengar ucapan ku, namun seperti belum puas dengan jawaban yang aku berikan Jessy bertanya lagi.


''Lalu kenapa kakak tidak menikah dengannya?'' Tanya Jessy yang mendapat cubitan kecil dari mbok Namu.


''Kan Ecy cuma nanya bu'' ujar Jessy.


''Iya nanya sih nanya tapi lihat kakak kamu jadi sedih tuh'' ujar mbok Namu.


''Ngak apa-apa bu, mungkin sudah saatnya mbok dan Jessy tahu yang sebenarnya'' ujar ku mengambil ponsel dan memperlihatkan foto-foto aku dan pak Marvel yang masih tersimpan di memory ponsel ku.


''Laki-laki tadi namanya Marvel, dia dulunya guru Dea di sekolah, karena sering mengikuti kegiatan dan lomba, akhirnya Dea dekat sama pak Marvel. Beberapa bulan kemudian pak Marvel melamar ku, dan akhirnya kami memutuskan untuk menikah setelah aku tamat sekolah. Beberapa hari sebelum pernikahan ayah ku masuk rumah sakit, aku terburu-buru ke rumah sakit untuk melihat keadaan ayah ku. Aku tak mengabari pak Marvel karena saat itu kami memang di larang untuk bertemu sampai hari pernikahan tiba. Ternyata ayah ku mengalami koma dan harus dirawat di ruang khusus sementara ibu ku tidak memiliki uang. Alhasil ibu ku mengambil jalan pintas dengan menjual aku pada seorang ibu untuk di jadikan istri anaknya. Ibu ku berbohong jika ayah punya hutang banyak dan jika aku tidak mau menikah maka ayah atau ibu akan di penjara. Pada kenyataannya tak seperti itu, ibu menjual ku untuk mendapatkan uang biaya berobat bapak dan juga biaya hidup bersama kakak dan adik-adik ku. Cerita selanjutnya setelah aku menikah seperti yang sudah penah aku ceritakan bu, Jes'' ujar ku pada kedua wanita yang sangat menyayangi ku itu. Aku menceritakan semuanya itu dengan linangan air mata, rasanya dada ku sesak sekali terlebih saat aku di paksa untuk menikahi orang yang sama sekali tak aku kenal.


''Astaga jahat sekali ibumu nak'' ujar mbok Namu memeluk ku erat, aku menangis di dalam pelukan mbok Namu.


''Menangislah nak jika itu bisa mengurangi sedikit rasa sakit di hatimu. Ibu tahu kamu pasti kuat menjalani semua ini, ingat nak ada masa depan yang sedang menantimu'' ujar mbok Namu mengusap perut ku.


''Maaf ya bu, Dea jadi cengeng''


Setelah menceritakan semuanya pada mbok Namu perasaan ku menjadi lega, akhirnya tak ada yang harus aku tutupi lagi dari mereka berdua.


Aku, Jessy dan mbok Namu kini tinggal satu rumah, rumah mbok Namu kini ia jadikan kios sembako.


Aku bahgia saat mereka mengatakan ingin tinggal bersama ku, sebab aku memang terkadang merasa sendirian. Mbok Namu juga khawatir jika sewaktu-waktu aku merasakan sakit dan tak ada yang menjaga. Sebaik itu mereka berdua pada ku, orang yang hanya di pertemukan oleh takdir, sedangkan orangtua ku sendiri tak peduli.


Bu Mery, bu Marsih juga Dewa dan Dewi sudah dua kali mengunjungi ku, pertama saat Dewa dan Dewi libur sekolah, kedua saat kios mbok Namu kebakaran.


''Kak Dea kapan perkiraan mau melahirkan?'' Tanya Jessy ketika kami sedang duduk di kebun belakang rumah.

__ADS_1


''Kata dokter sekitar 5 minggu lagi Jes''


''Oh gitu kak''


''Iya Jes''


''Semoga sehat terus ya kakak, ngak sabar pengen ketemu adek kecil'' ujar Jessy mengusap perut ku.


Saat Jessy mengusap perut ku biasanya aku akan merasakan gerakan pada perut ku terlebih lagi jika Jessy sedang bernyanyi gerakannya akan semakin aktif dan kadang membuat aku geli.


Aku sangat beruntung bisa bertemu dengannya dan mbok Namu, sebab mereka dengan setia menemaniku di saat aku butuh.


Waktu begitu cepat berlalu kini usia kandungan ku sudah memasuki usia 38 minggu dan menurut perkiraan dokter aku akan melahirkan sekitar beberapa hari lagi.


Aku semakin rajin berjalan pagi, biasanya pukul 6 pagi aku dan Jessy sudah berjalan-jalan di sekitar rumah sebelum Jessy berangkat ke sekolah.


''Kak hari ini aku libur, kakak ngak mau kemana gitu jalan-jalan?'' Tanya Jessy saat kami sedang berjalan-jalan di taman yang ada di dekat rumah.


''Ngak Jes, dari subuh perut kakak mulas-mulas, sepertinya kakak sudah mau lahiran. Habis ini kita ke bidan ya periksa''


''Iya kak, oh iya ibu kita ajak juga ngak?''


''Kalau ibu mau ikut ajak aja Jes, tapi emang ibu sudah sehat betul?''


''Sudah kak, tapi ya itu belum boleh terlalu lelah''


''Ya sudah, ayo kita pulang terus siap-siap ke bidan buat cek, apa kakak mau lahiran atau si dedek cuma ngerjain kita'' ujar ku sebab sudah beberapa kali aku mengalami kontraksi palsu.

__ADS_1


Baju-baju dan peralatan untuk menyambut kelahiran putra kecil ku sudah aku siapkan sejak kandunganku berusia 28 minggu.


Saat tiba di rumah aku semakin merasakan jika mulas yang kurasakan semakin sering dan teratur, akhirnya kami memutuskan untuk langsung ke rumah sakit tapi sebelum berangkat aku sudah menghubungi dokter Renata terlebih dahulu dan kebetukan beliau sedang ada di rumah sakit karena ada pasiennya yang sedang melahirkan juga.


__ADS_2