
''Ayo kita makan dulu sayang'' ujar Marvel mulai menyendokkan nasi ke dalam piring.
''Maaf pak sudah merepotkan bapak''
''Tidak sayang kamu tak merepotkan ku'' ujar Marvel mengusap air mata yang masih tersisa di pipi Dea.
''Kita makan ya sekarang, aku tak mau kalau kamu sakit karena ngak makan''
''Iya pak, apa kita tidak menunggu ayah?''
''Ayah akan datang nanti malam, jadi dia meminta kita makan saja, karena kemungkinan ayah akan makan di rumah''
''Baiklah, ini kenapa bapak cuma isi satu piring? Buat bapak mana?''
''Kita makan satu piring aja''
''Eh''
''Boleh kan?''
''I-iya pak'' ujar Dea.
Ia masih saja terus merasa gugup jika di tatap oleh Marvel.
''Ayo makan sayang, aa....'' Marvel menyuapkan makanan ke mulut Dea.
Dengan senyuman Dea menerima suapan dari Marvel, ''terimakasih pak''
''Iya sayang, kita makan ya''
Keduanya menikmati makan malam mereka dengan senyuman kejadian tadi tak lagi mereka ingat.
Setelah makan malam, mereka duduk-duduk menunggu ayah David, hujan sudah reda saat ini jadi Dea pikir tak lama lagi ayahnya akan sampai, saat sedang bercanda terdengar ketukan pintu dan suara ayah David.
''Sudah tidur Dea? Ini ayah sama Geral''
Dengan segera Dea membuka pintu dan langsung memeluk sang adik yang sangat ia rindukan.
''Masuk ayah, Geral''
''Iya nak''
Dea menggandeng tangan sang ayah juga sang adik masuk ke dalam rumah.
''Aku kangen sama kakak'' ujar Geral memeluk sang kakak dengan sangat erat. Tahun ini Geral sudah berumur 8 tahun, ia memang sangat manja dengan Dea karena Dea selalu memanjakannya.
''Kakak juga kangen sama Era''.
'Era' panggilan sayang Dea untuk adiknya itu.
''Aku bobo sama kakak kan nanti?''
__ADS_1
''Iya sayang bobo sama kakak, sama ayah, juga sama kakak baru adek Era''
''Kakak baru?''
''Iya sayang, ayo kenalan dulu. Ini kakak Marvel kakak barunya Era, ayo salam dulu sayang''
''Aku Era kakak, wah kakak sangat tampan'' ujar Geral memandangi wajah Marvel.
''Terimakasih sayang, kamu juga tampan, nama kakak Marvel'' ujar Marvel membelai pipi gembul Geral dan hal itu membuat Geral tersipu malu.
''Kalian sudah makan nak?'' Tanya ayah Dea sembari mengeluarkan selimut yang biasa ia pakai dari dalam lemari.
''Sudah yah, apa ayah belum makan?''
''Syukurlah, ayah sudah makan nak, ayah hanya khawatir kalian belum makan''
''Kami sudah makan yah, ayah tak perlu khawatir aku akan menjamin Dea tak lelaparan yah''
''Terimakasih nak Marvel, maaf ya kita harus bermalam di tempat seperti ini''
''Tidak apa-apa ayah, aku bahagia bisa ada disini bersama kalian''
''Kakak Mely, aku mau bobo sama kakak tampan boleh ngak?''
''Tentu boleh sayang, terus kakak Mely bobo sama siapa kalau Era sama kakak Marvel?''
''Kakak bobo sama ayah saja'' ujar Geral dengan polosnya.
''Baiklah kita akan tidur sama ayah, kakak Mely dan kakak Marvel''
Setelah berbincang-bincang cukup lama mereka memutuskan untuk tidur, hanya ada cahaya lentera di bagian sudut ruangan yang menjadi penerang saat mereka tidur. Lampu senter yang tadi menyala mereka matikan agar bisa mereka gunakan besok malam.
Dea menyalakan satu pelita di kamar mandi, satu pelita di dapur dan dua lentera di tempat mereka tidur saat ini. Yang satu di sudut ruangan dan yang satu ada di atas meja yang berada sekitar 2 meter dari tempat Dea tidur.
Meski hanya ada dua lentera tapi itu cukup menerangi ruangan yang tak seberapa luas karena lenteranya juga masih cukup terawat. Sebelum benar-benar tertidur Dea dan Marvel memasang kelambu terlebih dahulu. Kelambu yang terbuat dari beberapa lembar kain karung terigu yang di jahit menjadi satu akan menjadi penghangat mereka malam ini juga sebagai pelindung dari nyamuk.
Ayah David tidur di bagian tengah bersama Geral, Dea di samping sang ayah dan Marvel di samping Geral.
Tidur mereka berempat begitu nyenyak sampai mereka tak menyadari jika hari sudah mulai pagi. Ayah David bangun terlebih dahulu kemudian di susul oleh Marvel. Dea dan Geral masih tertidur nyenyak.
''Nak Marvel sudah bangun?''
''Iya ayah, kenapa ayah cepat bangun?'' Tanya Marvel melihat sang ayah mertua yang sudah duduk di samping tungku api.
''Ayah harus pulang ke rumah nak, tapi ayah tak enak ninggalin kalian yang masih tidur''
''Maaf ya yah kami lambat bangun?''
''Tidak nak, ayah yang cepat bangun, jangan bangunkan mereka berdua, sepertinya mereka masih sangat rindu satu sama lain. Ayah pulang dulu ya, nanti kalian ke rumah ayah''
''Baik yah, mau Marvel antar yah?''
__ADS_1
''Tam perlu nak terimakasih ayah bawa motor''
''Baiklah hati-hati ayah''
''Iya nak, titip Dea dan Geral''
''Iya yah''
Setelah kepergian sang mertua, Marvel kembali masuk ke dalam kelambu dimana Dea dan Geral masih terlelap, mereka berdua tidur saling berpelukan.
Dea merasa kembali mengantuk ketika merasakan ada usapan di kepalanya, ia yang biasanya bangun jam 4 pagi kini baru terbangun saat ada yang membangunkannya.
''Pagi sayang'' ujar Marvel mengusap kepala sang kekasih.
''Pagi pak'' ujar Dea yang masih merasa nyaman di balik selimutnya. Ia mengira jika dirinya sedang bermimpi.
Marvel yang melihat Dea masih tak membuka matanya hanya tersenyum.
''Kamu masih ngantuk sayang?'' Tanya Marvel yang membuat Dea langsung membuka matanya.
Dea langsung tersadar saat merasakan ada yang mencubit pipinya, ''bapak sudah bangun? Ini jam berapa? Ya ampun aku lambat bangun, aku...''
Marvel segera menutup mulut Dea yang masih terus berbicara, Marvel tak ingin tidur sang adik terganggu.
''Diam sayang, Geral masih bobo''
Dea hanya tersenyum, ia lalu melepaskan pelukan sang adik dan menyelimutinya.
''Bobo yang nyenyak ya sayang kakak bikin sarapan dulu buat kita'' ujar Dea mencium pipi sang adik dan keluar dari dalam kelambu.
''Aku ngak dapat juga'' ujar Marvel yang membuat kening Dea berkerut.
''Dapat apa pak?''
''Ucapan selamat pagi''
''Oh.. kirain apa. Selamat pagi pak'' ujar Dea tersenyum manis pada Marvel kemudian berlalu ke arah dapur.
''Loh koq apinya udah nyala? Oh iya, ayah mana pak?'' Tanya Dea, ia baru menyadari jika sang ayah sudah tidak ada disana.
''Ayah sudah pulang tadi, katanya kita di suruh ke rumah ibu nanti''
''Oh gitu, pantas api sudah nyala. Bapak duduk saja disana, Dea buatkan teh hangat dulu''
''Ok sayang'' ujar Marvel. Ia sebenarnya tak duduk di tempat yang Dea maksud, ia kembali lagi ke tempat mereka tidur tadi. Ia membaringkan tubuhnya di tempat Dea tidur semalam.
Setelah membuat tiga gelas teh hangat, Dea segera membawanya ke tempat dimana ia meminta Marvel duduk tadi.
''Loh pak Marvel kemana koq ngak ada?'' Tanya Dea pada dirinya sendiri, Marvel yang melihatnya dari dalam kelambu hanya bisa tersenyum.
Dea mulai membuka jendela dan berjalan ke depan rumah mencari Marvel.
__ADS_1
''Pak Marvel dimana ya?'' Dea terus mencari hingga ke samping rumah sambil sesekali memanggilnya dan membuat Marvel yang melihatnya tertawa kecil.
''Sayang, kamu ngapain disitu?'' Tanya Marvel. Ia menghampiri Dea yang masih terus mencarinya.