
Keadaan di luar rumah yang sudah gelap gulita menandakan malam sudah semakin larut, Dea yang tadinya sibuk dengan tugas sekolahnya kini memilih untuk ikut berbaring di samping sang nenek.
Setelah makan malam Dea memutuskan untuk mengerjakan tugas sekolahnya di bantu oleh Marvel tentunya. Namun entah mengapa Marvel sangat mengantuk berada di rumah Dea hingga ia memutuskan untuk berbaring dan tak lama setelahnya ia tertidur lelap.
Nek Diah sudah tertidur lelap sejak tadi, sedangkan Marvel baru saja tertidur setelah tak bisa menahan rasa kantuk yang menyerangnya.
Seperti biasanya Dea akan selalu berdoa saat akan tidur, ia selalu mengucap syukur atas apapun yang terjadi padanya hari ini. Di saat berdoa seperti inilah Dea terkadang meneteskan air mata, ia selalu lemah jika sudah mengadu pada Tuhannya.
Hampir setiap malam disetiap doanya ia selalu menangis, ia selalu meminta agar ia bisa merasakan kasih sayang ibunya meski hanya sedetik.
Dea tak menyadari jika sejak tadi Marvel terus memperhatikannya, bahkan semua kata yang ia ucapkan dalam doanya di dengar oleh Marvel. Dada Marvel terasa sesak mengingat setiap kata yang Dea ucapakan dalam doanya, ia bahkan meneteskan air mata terlebih saat melihat Dea menangis.
'Aku tahu kamu kuat sayang, tapi aku yang tak bisa kuat jika melihat air matamu' batin Marvel melihat Dea yang tersenyum sambil memeluk neneknya dan menutup matanya perlahan.
Setelah melihat Dea yang tertidur pulas, Marvel bangun dan menatap ke arah Dea. Ingin rasanya ia memeluk Dea saat ia menangis tadi, namun ia tak ingin jika Dea tahu ia mendengar setiap doanya.
''Aku akan berusaha membuatmu bahagia sayang, aku akan membuat hari-harimu terasa menyenangkan dan penuh tawa hingga kau bisa melupakan segala rasa sesak yang ada di dadamu''
Setelah puas memandangi Dea, ia akhirnya ikut tidur kembali. Dea berada di antara Marvel dan nek Diah, jarak diantara mereka saat tidur sekitar satu setengah meter.
Dea terbangun sekitar pukul 03:45 pagi, ia kemudian menuju ke dapur untuk membuat menu sarapan mereka hari ini. Sambil memasak nasi, Dea juga membersihkan sayur kangkung yang akan ia tumis nantinya.
''Pagi sayang'' ujar Marvel yang kini sudah berada di sampingnya.
''Pagi pak, koq bapak sudah bangun?''
''Iya, tadi pas aku buka mata eh kamu udah ngak ada jadi aku cari kesini''
''Saya memang selalu bangun jam begini pak, bapak tidur lagi aja ini baru jam 4''
''Aku udah ngak ngantuk, aku mau temani kamu saja disini'' ujar Marvel mendudukkan dirinya tepat di samping Dea. Kini tak ada jarak lagi di antara keduanya, membuat jantung Marvel dan Dea berdetak sangat kencang, seakan ingin melompat dari tempatnya.
''Ya udah saya ambilkan minum dulu pak'' ujar Dea berlalu menuangkan minuman hangat untuk Marvel.
''Terimakasih sayang'' ujar Marvel menerima gelas yang di sodorkan Dea.
Ia membantu Dea menjaga api agar tetap stabil agar nasi tak mentah atau gosong, Dea sendiri sibuk dengan sayur kankung dan brokoli yang ia tumis.
__ADS_1
Dea dan Marvel tak menyadari jika dari tadi nenek terus memperhatikan keduanya, nek Diah merasa begitu bahagia melihat Marvel memperlakukan cucunya dengan begitu baik.
'Semoga kalian berjodoh nak, nenek bahagia Marvel memperlakukanmu begitu sopan, nenek berharap ini bukan di awal saja namun sampai maut memisahkan kalian' doa nek Diah dalam hati.
''Pagi nak'' ujar nenek menghampiri keduanya yang sudah selesai dengan kegiatan mereka di dapur.
''Pagi nek'' ujar Dea dan Marvel berbarengan.
Dea beranjak dari duduknya dan menuangkan segelas minuman hangat untuk nenek.
''Minum nek''
''Ini sudah masak belum De?'' Tanya Marvel melihat panci yang berisi nasi sudah mengepulkan asap.
Dea berjalan ke arah Marvel dan memeriksa nasi yang ternyata sudah matang.
''Sudah pak, nenek sama pak Marvel tunggu di tempat makan saja nanti Dea bawa kesana''
Dea mulai memyendok nasi dari dalam panci ke dalam mangkuk, Marvel sendiri membantu menyiapkan piring dan kawan-kawannya.
Setelah siap mereka menikmati sarapan yang bagi Marvel mungkin masih terlalu pagi untuk sarapan, namun bagi Dea dan nenek itu sudah kebiasaan. Bagaimana tidak heran mereka sarapan saat jam masih berada di pukul 5 pagi.
Setelah mandi dan berpakaian ia mencari Dea namun tak menemukannya akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada nenek.
''Ada apa nak?''
''Apa nenek melihat Dea?''
''Biasanya habis sarapan Dea ada di kebun belakang nak, lagi nyabut sayuran buat di jual''
''Saya ke tempat Dea dulu nek''
''Iya nak''
Marvel menuju ke pintu belakang rumah Dea, ketika ia membukanya tampak Dea sedang sibuk mengikat sayuran yang baru saja ia cabut. Marvel memperhatikan tangan mungil Dea yang dengan telaten menyusun serta mengikat sayuran sambil sesekali bernyanyi riang.
Hati Marvel begitu tenang melihat apa yang Dea kerjakan, dia merasa sangat beruntung bisa memiliki Dea.
__ADS_1
''Pak'' panggil Dea untuk yang kesekian kalinya karena Mavel tak mendengar panggilannya.
''Eh, iya sayang apa sayang?''
''Bapak kenapa melamun pagi-pagi'' ujar Dea dengan tangan memegang keranjang yang penuh dengan sayuran.
''Tak apa-apa, aku hanya sedang melihat-lihat kebun ini'' ujar Marvel dan hanya di jawab oleh Dea dengan mulut yang membentuk huruf O.
''Saya antar sayuran dulu ke kios ya pak'' ujar Dea.
''I-iya'' ujar Marvel.
Dea segera menata sayuran yang ia bawa kemudian mematikan lampu kios.
''Sudah selesai De?'' Tanya nenek menghampiri Dea.
''Ia nek, udah ini''
''Ya sudah, kamu mandi gih, pak Marvel udah rapi tuh''
''Iya nek''
Dea masuk ke dalam rumah dan berlalu menuju kamar mandi untuk mandi, ia lupa jika di rumah ini ada Marvel sehingga ia tak membawa baju ganti ke kamar mandi.
Setelah mandi, Dea yang hanya di balut handuk berjalan santai masuk ke kamarnya dan membuat Marvel yang sedang duduk di meja belajar Dea menatap Dea tak berkedip. Saat hendak meraih baju sekolah dari dalam lemarinya Dea tersadar setelah melihat pantulan Marvel dalam cermin di lemari pakaian itu.
''Aaa.....'' teriak Dea sebelum Marvel menutup mulutnya.
''Jangan teriak nanti dikiranya saya ngapa-ngapain kamu'' ujar Marvel dan di angguki oleh Dea yang sibuk menutupi bagian dadanya.
''Saya keluar dulu, kamu pakai baju. Hari ini kita sama-sama ke sekolah lagi ya, kamu mau jalan atau naik motor?''
''Terserah bapak saja'' ujar Dea dengan pipi yang memerah.
''Kamu gimana sih De, koq bisa lupa kalau di rumah ada pak Marvel? Untung aja dia ngak ngapa-ngapain kamu'' gerutu Dea yang bisa Marvel dengar dari balik pintu.
Marvel senyum-senyum sendiri mendengar ucapan Dea yang sedang menggerutu di dalam kamarnya, meski ia masih terkejut melihat penampilan Dea namun dia berusaha menguasai diri agar tak melakukan hal yang buruk pada Dea.
__ADS_1
''Hampir saja aku tak bisa menguasai diri, karena melihat penampilan Dea tadi'' ujar Marvel duduk di kursi sambil meneguk segelas air hingga tandas. Ia berusaha menormalkan detak jantungnya yang kembali memompa dengan sangat cepat, bahkan pikiran liar sempat hinggap di pikirannya saat melihat Dea masuk ke kamar hanya dengan menggunakan handuk.
Biar bagaimanapun Marvel tetaplah seorang pria dewasa, ia segera keluar dari kamar Dea karena ia tak ingin terlalu lama melihat Dea dalam penampilan seperti itu.