
Suara dering ponsel mengagetkan bi Tina yang sedang membuat makan siang hingga sendok sayur yang ia pegang terjatuh. Dengan segera ia berlari ke ruang makan dan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja.
''Nomor siapa ini, kenapa tak ada namanya?'' Ujar bi Tina melihat nomor pada layar ponselnya.
''Halo selamat siang''
''Siang bibi, ini Gema''
''Siang nak, ada apa nak Gema?''
''Aku mau ngabarin kalau Dea kecelakaan bi, sekarang kami ada di rumah sakit Mutiara''
Deg
''Halo bi, bibi ngak apa-apa?'' Tanya Gema karena bi Tina tak bersuara.
''Iy-iya nak, bibi akan segera kesana''
''Baik bi'' ujar Gema.
Gema, Sukma dan Darmi duduk di bangku depan ruang ICU dimana sahabat mereka kini terbaring lemah.
Mereka bertiga masih memakai seragam sekolah yang berlumuran darah Dea, sebab mereka bertigalah yang membawa Dea ke rumah sakit.
Sukma dan Darmi terus menangis sementara Gema berusaha untuk menenangkan kedua sahabatnya.
Setelah Marvel keluar dari ruangan dimana Dea dirawat dan duduk bersama Gema, tak lama berselang bi Tina dan nek Diah tergopoh-gopoh menghampiri keduanya.
Dengan berurai air mata bi Tina dan nek Diah terus mendekat ke arah mereka.
''Nenek'' ujar Sukma dan Darmi memeluk nek Diah.
''Bagaimana keadaan Dea nak?'' Tanya bi Tina.
''Dea, Dea...'' Marvel tak tahu apa yang harus ia katakan.
''Keluarga nona Dea'' ujar seorang perawat.
''Iya sus, kami keluarga Dea''ujar Marvel.
''Bisa salah satu atau dua orang ikut ke ruangan kami, ada yang dokter ingin sampaikan''
''Baik sus, saya dan bibi yang akan pergi'' ujar Marvel.
''Ibu tunggu disini, saya dan nak Marvel akan ke ruangan suster dulu, bibi titip nenek ya'' ujar bi Tina.
''Iya bi'' ujar Sukma.
Bi Tina dan Marvel berjalan mengikuti perawat ke ruangannya, sesampainya disana mereka diminta duduk.
''Selamat siang bu, pak, saya dokter Aneth dokter yang menangani Dea, seperti yang kita tahu jika kecelakaan yang di alami pasien membuat pasien koma saat ini. Ada pembekuan darah di bagian dada dan kami berencana untuk melakukan oprasi untuk mengeluarkan darah yang membeku itu. Jika ibu dan bapak menyetujui oprasi ini silahkan isi dokumen untuk persetujuan oprasi'' ujar dokter Aneth menyerahkan kertas berisi persetujuan oprasi.
''Bagaimana bi?'' Tanya Marvel.
''Lakukan yang terbaik dokter, tolong selamatkan Dea'' ujar bi Tina dengan derai air mata.
''Baiklah silahkan ibu dan bapak tanda tangani''
''Baik dokter'' ujar bi Tina.
Marvel dan bi Tina menandatangani surat persetujuan oprasi untuk Dea, setelahnya mereka berdua keluar dan menemui nek Diah.
''Bagimana keadaan Dea nak?'' Tanya nek Diah.
''Dea harus di oprasi bu'' jawab bi Tina.
__ADS_1
''Oprasi'' ujar Gema, Sukma dan Darmi berbarengan.
''Iya, ada penggumpalan darah di bagian dadanya'' ujar bi Tina.
Marvel terus berusaha menahan air matanya sejak kedatangan bi Tina dan nek Diah. Ia berusaha tegar agar ia bisa menguatkan mereka.
''Apa kalian masih akan disini?'' Tanya Marvel pada teman-teman Dea.
''Iya pak, kami tak ingin meninggalkan Dea'' ujar Sukma yang masih menangis sesegukan.
''Kalian pulanglah dulu ganti baju nak, baju kalian penuh noda darah''
''Tapi bi..''
''Bibi benar Sukma, kita harus ganti baju tak mungkin kita terus memakai baju yang penuh darah ini'' ujar Gema.
''Tapi Gem..'' ujar Darmi dengan mata yang berkaca-kaca.
''Kita pulang saja dulu nanti kita kembali lagi, boleh kan bi?''
''Tentu nak''
''Darmi, Sukma ayo kita pulang dulu, kami pamit bi, nenek, pak Marvel'' ujar Gema.
''Kami pamit bi, nek'' ujar Darmi.
Sukma hanya memeluk bi Tina dan nek Diah bergantian ia tak tahu harus berkata apa karena ia masih syok mengingat kejadian yang Dea alami.
''Nek saya juga ijin buat menganter mereka pulang'' ujar Marvel.
''Tidak perlu pak, kami bisa naik angkot saja'' ujar Darmi.
''Tidak Darmi, kalian sudah membawa Dea kesini saya akan memastikan kalian tiba di rumah dengan selamat'' ujar Marvel.
''Kami pamit nek'' ujar Gema..5
Marvel berjalan ke luar rumah sakit di ikuti oleh ketiga sahabat itu, meski berat hati harus meninggalkan Dea namun Marvel juga harus memastikan jika ketiga sahabat kekasihnya itu tiba dengan selamat di rumah mereka.
Lagi pula baju ketiganya penuh dengan noda darah, bisa jadi tak akan ada angkutan umum yang mau membawa mereka.
''Tunggu sebentar ya, bapak mau menghubungi seseorang''
''Baik pak''
Marvel mulai mulai mencari nomor telpon sahabatnya yang bekerja di rumah sakit ini.
''Halo Nic''
''Iya Vel, ada apa?''
''Kamu dimana sekarang?''
''Aku ada di rumah sakit Vel''
''Rumah sakit mana?''
''Mutiara, ada apa?''
''Aku tunggu kamu di depan, lima menit kamu sudah disini''
''Ok, tap....'' belum selesai ucapan Nico Marvel sudah mematikan sambungan telponnya.
''Dasar tuh orang, ada apa sih? Sepertinya ini keadaan darurat'' Nico segera keluar dari ruangannya menemui Marvel.
''Akhirnya loh datang juga, pinjam mobil dong'' ujar Marvel.
__ADS_1
''Hah?? Ngak salah loh minjam mobil? Buat apa?''
''Mau nganter teman-teman Dea pulang'' ujar Marvel menoleh ke arah ketiga sahabat itu.
Nico juga menoleh ke arah mereka bertiga dan begitu Nico melihat mereka bertiga betapa rerkejutnya ia.
''Loh, kalian kenapa?'' Tanya Nico.
''Dea habis kecelakaan, makanya baju mereka penuh darah Dea'' ujar Marvel.
''Benar dokter'' ujar Gema.
''Aku pinjam mobil kamu ya mau nganter mereka pulang ganti baju. Aku titip Dea, dia ada di ruang ICU sekarang. Disana ada bi Tina dan nenek, kalau ngak sibuk kamu kesana ya''
''Siap bro, hati-hati bawa mereka''
''Iya''
Nico berjalan kembali ke ruangannya kemudian mengambil tas dan beberapa barang miliknya kemudian menuju ke ruang ICU seperti permintaan Marvel.
Marvel sendiri mengantarkan Sukma, Darmi dan Gema pulang, Marvel mengantarkan mereka satu persatu kerumahnya masing-masing. Ia juga menjelaskan kepada orang tua ketiganya mengapa banyak noda darah di pakaian anak-anaknya, juga penyebab mengapa mereka terlambat pulang.
Untunglah orang tua ketiga sahabat Dea mengerti apa yang terjadi meski awalnya mereka terkejut melihat anak-anak mereka pulang dengan baju penuh noda darah.
Marvel meminta ketiga sahabat Dea untuk beristirahat saja karena mereka akan masuk sekolah besok dan ketiganya mengiyakan namun Marvel tak yakin jika ketiganya tak akan ke rumah sakit lagi nanti.
Marvel yang sampai di rumah sakit setelah mengantarkan ketiga sahabat Dea tak lagi mendapati Dea di ruang ICU. Ia menjadi sangat khawatir, segala kemungkinan terburuk sudah ada di dalam pikirannya. Tak ingin pikirannya semakin buruk ia segera menghubungi Nico.
''Halo Vel''
''Kamu dimana Nic, aku udah sampai di rumah sakit lagi tapi Dea udah ngak ada di ICU''
''Aku ada di depan ruang oprasi sama bibi dan nenek''
''Aku kesana sekarang'' ujar Marvel langsung mematikan panggilan tanpa menunggu Nico berbicara kembali.
''Kebiasaan'' gerutu Nico.
Di depan ruang oprasi, nek Diah dan bi Tina duduk menunggu proses oprasi selesai.
''Siapa yang telpon nak?'' Tanya bi Tina.
''Marvel yang telpon bi, katanya dia udah kesini''
Bi Tina hanya mengangguk saja, sedangkan nek Diah entah apa yang ia pikirkan karena sedari tadi Dea masuk ke ruang oprasi, tak ada satupun kata yang terucap darinya. Ia hanya diam menatap ke arah pintu ruang oprasi itu.
''Maaf ya nak, kami sudah menganggu waktu kerja nak Nico'' ujar bi Tina.
''Tidak bi, saya sudah selesai. Lagi pula Dea juga teman saya'' ujar Nico.
Tak lama Marvel terlihat berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka.
''Gimana Dea?''
''Masih sementara di ruang oprasi'' ujar Nico.
[Nic, ada ngak ruangan buat nenek istirahat selagi Dea di oprasi. Aku lihat nenek terlihat banyak pikiran dan lelah] isi pesan Marvel pada Nico.
[Ada Vel, kamu kasi tahu aja nenek nanti aku yang antar kesana] balas Nico.
''Bi, bibi bawa nenek istirahat dulu di ruangan yang di tunjukkan Nico, nanti kalau sudah selesai oprasinya aku kabari karena oprasinya mungkin akan memakan waktu yang cukup lama'' ujar Marvel pada bi Tina.
Bi Tina mengangguk dan mulai membantu nek Diah untuk berdiri dan memapahnya mengikuti Nico.
''Bibi titip Dea nak'' ujar bi Tina.
__ADS_1
''Iya bi''
''Mari bi, nek saya antar'' ujar Nico.