
...Beberapa hari sebelumnya....
Ethan tahu, ia harus percaya pada setiap anggota The Eagle karena kepercayaan adalah pondasi terkuat dalam sebuah hubungan. Namun, ia juga tahu bahwa potensi pengkhianatan akan selalu ada. Dan biasanya, pengkhianat berasal dari orang yang paling dekat, dan paling tahu konflik internal dalam sebuah hubungan itu sendiri.
Oleh karena itu, Ethan mengawasi beberapa orang penting di anggota The Eagle, salah satunya adalah Erik. Ethan tidak terkejut saat mengetahui Erik menemui seseorang kemudian merencanakan sebuah pengkhianatan.
Akan tetapi, Ethan tak memberi tahu hal itu pada Peter atau pun Jose. Ia menyimpan rahasia itu untuk dirinya sendiri, bahkan ia masih bersikeras membebaskan semua anggota The Eagle dari semua tugas mereka meski Peter marah dan tidak setuju.
"Aku yakin Erik akan berkhianat, aku sudah mencium aroma busuk itu sekarang," tegas Peter meyakinkan Ethan. "Aku melihat dia masuk ke dapur dan seperti memeriksa cctv, apa kau tidak percaya pada ku?"
Simon menatap Ethan, tetapi pria itu justru sibuk memandangi foto altar tempat ia menikahi Louisa.
"Ethan Mayer!" seru Peter kesal.
"Mungkin dia hanya memeriksa apakah cctv ada yang rusak atau tidak," tukas Ethan dengan santai nya. "Dan untuk saat ini aku mohon jangan membicarakan masalah itu, aku sedang merindukan Lou."
"Jika sampai terjadi sesuatu, aku tidak akan menyelamatkan mu," gertak Peter, ia kesal karena Ethan tak percaya ucapannya.
"Tidak akan terjadi sesuatu, kita akan berpesta malam tahun baru nanti," balas Ethan dengan tenang. "Dari pada kalian memusingkan hal yang tidak pasti, sebaiknya siapkan segala hal yang kita butuhkan untuk malam tahun baru nanti. Anak-anak The Eagle harus bahagia dan puas."
Simon dan Peter saling menatap, merasa tak percaya Ethan meremehkan musuh. Namun, sepertinya Simon dapat mencium sesuatu yang lain dari Ethan.
"Apa rencana mu?" tanya Simon.
"Mengadakan pesta pernikahan yang luar biasa bersama Lousia," kata Ethan masih dengan santainya yang membuat Simon berdecak kesal.
Yeah, Ethan memang tak ingin memberi tahu rencananya pada Peter dan Simon. Bukan karena ia tak percaya pada kedua ayah angkatnya itu, Ethan hanya meminimalisir rencananya tercium oleh musuh dalam selimutnya.
__ADS_1
Jika Ethan membicarakan rencananya dengan Peter dan Simon, maka mereka bertiga akan sering menghabiskan waktu bersama untuk membicarakan banyak hal. Dan hal itu pasti memancing rasa penasaran Erik, apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka rencanakan dan sebagainya.
Oleh karena itu, Erik tak curiga apapun karena Peter sibuk sendiri mengawasi Markas, begitu juga dengan Simon yang sibuk mengurus barang-barang yang datang maupun yang dikirim.
Namun, Ethan sebenarnya bekerja sama dengan Dante. Memanfaatkan status pria itu sebagai mantan anggota militer untuk mencari bantuan.
...Dua hari sebelum penyerangan....
Ethan dan Dante menemui beberapa orang yang bisa mereka ajak kerja sama.
"Apa yang akan kau berikan pada kami?" tanya teman Dante yang saat ini berprofesi sebagai satpam di sebuah Bank International.
Meski dulunya ia mantan anggota militer dan kini punya uang pensiunan untuk biaya hidup sehari-hari. Namun, ia butuh banyak uang untuk membayar hutang putranya yang kalah main judi dan kini ditahan di kantor polisi. Istrinya juga sakit-sakitan sehingga ia butuh lebih banyak uang untuk ke Dokter setiap bulannya.
"Apapun yang kau mau," kata Ethan. "Sebuah rumah di pinggiran kota Moscow, dekat danau. Dan sebuah usaha mini Market di sana."
"Kami harus menerima mini Market itu beserta isinya tanpa ada yang kurang sedikitpun," tegas pria itu. Dengan kata lain, ia tak mau bermodal sendiri.
"Baiklah, sesuai keinginanmu," sahut Ethan. Membeli rumah dan memberikan modal untuk usaha seperti itu sama sekali bukan hal besar. "Tapi sekali lagi aku ingatkan, nyawamu bisa saja melayang."
Pria itu tersenyum kemudian berkata, "Bertahun-tahun aku mempertaruhkan nyawa ku demi negara, dan aku hanya punya satu kesempatan untuk mempertaruhkan nyawaku demi istri ku."
Ethan terenyuh mendengar jawaban itu, membuat ia teringat pada Lousia.
"Tapi aku harap kau tidak mau mati, jika kau mati maka posisiku bisa lemah menghadapi musuh. Dan aku yakin istri mu ingin menghabiskan sisa hidup nya bersama mu, di rumah impian kalian, bukannya sendirian dan meratapi dirinya menjadi janda."
Pria itu tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Setelah deal dengan satu orang, Ethan dan Dante bergegas menemui orang lain. Orang yang Ethan pilih adalah orang yang membutuhkan sesuatu tetapi tidak dapat memenuhinya, maka Ethan akan datang, bersedia memberikan impian mereka tetapi dengan bayaran yang sangat mahal.
Sebelum menemui mereka, tentu Ethan mencari tahu siapa mereka, latar belakang mereka, kekurangan dan kelebihan mereka.
Ethan memilih dua puluh orang, mungkin itu terbilang sedikit tetapi Ethan tidak khawatir. Ada berbagai alasan kuat kenapa orang-orang itu mau bergabung bersama Ethan, ada yang butuh uang, ada yang butuh perlindungan kuat dan ada yang butuh dukungan dalam suatu hal. Mereka semua akan bertarung sekuat tenaga untuk diri mereka atau pun orang-orang tercinta mereka.
"Hanya dua puluh orang," ucap Dante yang tampak khawatir. "23 termasuk aku, kamu dan Simon."
"24 bersama Peter," ralat Ethan dengan cepat. Dante tak membaca Peter, sebab ia berpikir pria itu lumpuh, hanya bisa menggerakkan jarinya.
"Tetap saja, kita seperti pasukan semut kecil yang akan menghadapi ribuan gajah," ujar Dante yang tak dapat menahan rasa cemasnya.
Ethan sudah memberi tahu kira-kira berapa banyak orang akan menyerang mereka, tentu saja 20-50 orang benar-benar akan seperti debu.
"Aku pernah ada di anggota militer," tukas Ethan. "Aku rasa mereka tidak pernah mengajarkan ketakutan akan jumlah musuh pada kita, bukankah kita selalu diajarkan untuk percaya pada kekuatan kita?"
"Aku hanya berpikir secara logis," sarkas Dante.
"Dalam sebuah peperangan, yang lebih penting dari otot adalah otak."
Dante terdiam, ia melirik pria muda di sisinya itu. "Aku harus hidup, demi putriku. Lalu apa motivasi mu?" tanya Dante yang mulai penasaran dengan hidup Ethan.
"Seseorang yang sedang menunggu ku," jawab Ethan. Mereka melewati sebuah gereja, Ethan pun berhenti di depan sana membuat Dante terlihat bingung.
"Apa kau akan berdo'a?" Dante bertanya seolah tak percaya melihat seorang gangster akan berdo'a.
"Seseorang pernah minta ku tidak melakukan tindak kriminal." Ethan berkata sembari mengingat Lousia saat memintanya tak berbuat jahat, agar Tuhan tak marah. "Katanya nanti Tuhan marah dan aku masuk neraka, tapi sekarang yang kita lakukan untuk membela diri. Jadi aku akan berdoa, meminta perlindungan dari-Nya."
__ADS_1