
"KAU PENGECUT!" teriak Gonza marah.
Bagaimana tidak marah? Ethan mempermainkannya dengan sedemikian rupa, membuat mereka selalu terkecoh dan pada akhirnya akan segera menemui kekalahan. Dan sekarang, kedua temannya telah terluka dan mungkin sebentar lagi akan meregang nyawa.
Sementara Ethan justru tersenyum sinis, ia maju selangkah, mendekati Jose dan Gonza.
"Apa kalian tahu? Kalian sudah membantu ku menemukan solusi dari masalah ku," kekeh Ethan dengan seringai bak raja iblis. "Saat aku tahu kalian merencanakan pembantaian, aku mulai berpikir apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku mendatangi rumah kalian dan menembak kepala kalian tepat di depan istri dan anak kalian?"
Gonza dan Martin terlihat semakin marah mendengar kata-kata sinis Ethan, mereka mengepalkan tangan dan sorot mata mereka begitu tajam.
"Ah, itu terlalu kejam," ucap Ethan menambahkan. "Lalu aku mulai berpikir, haruskah aku menghadang kalian di jalan dan membantai kalian di sana?" Ethan kembali berseringai licik, dengan tatapan yang penuh intimidasi pada para lawan. "Tapi itu cara lama, aku sudah pernah melakukannya dan karena itu lah semua orang takut pada ku." Ethan melanjutkan dengan penuh percaya diri.
"Lalu, kalian berencana masuk ke dalam kandang ku." Ethan tersenyum lebar, seolah sangat senang dengan rencana para musuhnya itu. "Dan BOOM! Kalian sudah memecahkan masalah ku, kalian sudah mengantarkan nyawa kalian sendiri ke hadapan ku."
"Tidak akan semudah itu!" geram Jose yang memberi kode pada para anak buahnya yang berjaga di luar untuk segera masuk.
Namun, Ethan tak bodoh. Ia sudah menyiapkan jebakan untuk menyambut para musuh itu.
Di luar, para anak buah yang berjaga kini mulai masuk sesuai perintah Jose. Namun, tiba-tiba ....
__ADS_1
BOOMM
Terjadi sebuah ledakan di pintu masuk yang begitu dahsyat, bahkan ledakan itu sampai membuat sebagian markas roboh. Bahkan, seluruh markas bergetar.
Semua orang yang mendengar suara ledakan itu begitu terkejut, tak terkecuali Martin. Saat itu lah Ethan dan para anak buahnya menyerang musuh yang tersisa secara langsung, tak ada lagi waktu untuk main umpat.
Adu tembak terjadi, pertarungan dengan tangan kosong juga terjadi. Tentu saja itu menjadi pertarungan yang cukup sengit, kedua belah pihak sama-sama terlatih dan kuat.
Ethan menghadapi Gonza, sementara Simon menghadapi Jose. Pria itu tampak begitu bernapsu untuk membunuh Jose, sama hal nya dengan Jose yang terlihat begitu bernapsu untuk menghabisi Simon.
Perkelahian antara Ethan dan Gonza berlangsung sengit, dan Ethan dengan sengaja membuang senjatanya sebab Gonza sudah tak memiliki senjata.
"Menyenangkan," jawab Gonze yang kini mengambil pisau lipat dari sepatunya. Ia bersiap menyerang Ethan yang tak bersenjata apapun.
"Siapa yang akan mati malam ini?" tanya Ethan yang justru memperhatikan seluruh tubuh Gonza dari atas sampai ke bawah seolah sedang menargetkan, bagian mana yang harus Ethan serang.
Senyum sinis tercetak di bibirnya saat menyadari paha Gonza terluka. Mungkin terkena tembakan saat mereka beradu tembak menembak tadi. Namun, Gonza tampaknya sengaja tak memperlihatkan bahwa ia terluka.
"Sudah pasti dirimu," jawab Gonza dengan percaya diri.
__ADS_1
Gonza pun mencoba menyerang Ethan dengan pisau yang ia pegang, ia menargetkan leher dan dada Ethan. Namun, sekuat tenaga sang Don mafia itu menangkis serangan tersebut. Dan saat ada kesempatan, Ethan menyerang paha Gonza yang terluka, menendangnya dengan kuat hingga pria itu terjatuh.
Gonza hendak melawan, tetapi Ethan langsung menginjak luka di pahanya membuat pria itu mengerang kesakitan.
Para anak buah Gonza yang mendengar suara teriakan sang boss langsung menyerang Ethan. Hingga mau tak mau perlawanan yang tak seimbang pun terjadi.
Di saat semua orang sedang sibuk ingin membunuh lawannya, Erik kini justru mencoba melarikan diri dari pintu rahasia yang ia tahu. Namun, Peter tahu hal itu.
"Dante, giliran mu!" seru Peter.
Saat Erik hendak masuk ke jalan rahasia, tiba-tiba sebuah pistol menyentuh kepalanya. Perlahan, Martin berbalik badan sambil mengangkat kedua tangannya, tanda ia takkan melawan.
"Siapa kau?" tanya Martin yang lagi-lagi melihat wajah baru di Markas The Eagle.
"Kartu AS Don Mayer!"
Sementara di atas sana, Dexter memerintahkan pilotnya untuk mundur. Membuat Amber merasa sangat marah, bahkan ia mencaci maki kakaknya itu. Namun, Dexter tak peduli.
"Jika kita menyerang sekarang, nasib kita akan sama seperti Orlando dan Martin. Dan mungkin Jose juga Gonza tak akan selamat."
__ADS_1
"Sial, bagaimana bisa begitu sulit membunuh satu manusia saja, huh?"