Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 66 - Atas Nama Cinta


__ADS_3

Cinta?


Sebuah rasa yang unik, yang berhasil membuat hidup Ethan jungkir balik. Dan harus Ethan akui bahwa Simon benar. Cinta itu seperti morfin, nikotin dan heroine. Juga, bahwa efek dari cinta adalah membuat orang gila menjadi waras begitu juga sebaliknya.


Ah, kenapa Simon sangat pintar? Semua analisa pria itu sangat benar.


Saat ini Ethan sedang memeluk manja sang kekasih.


Kekasih?


Kapan mereka mengesahkan hubungan itu?


Belum, tidak ada yang mengesahkan tetapi kedua insan itu tahu kini hati mereka telah terpaut atas nama cinta. Tak ada lagi yang mengelak, membantah atau pun menyembunyikan rasa itu.


"Belum dijawab?" tanya Ethan pada Louisa yang saat ini sedang mencoba menghubungi sang Ibu untuk memberi tahu bahwa ia takkan pulang malam ini.


"Belum, mungkin Mommy sedang sibuk," jawab Louisa sembari meletakkan ponselnya di atas meja.


"Tidak apa-apa, nanti telfon lagi."


Saat ini kedua insan itu masih berada di sofa, hanya saja Louisa yang rebahan di sofa dan Ethan merebahkan setengah tubuhnya di atas tubuh mungil Louisa, seperti anak kecil yang meringkuk di atas tubuh ibunya.


"Lou," panggil Ethan sembari memainkan jari jemari Louisa yang lentik.


"Hem," sahut Louisa sembari mengusap rambut Ethan dengan tangan yang lain. Seperti seorang ibu yang sedang memanjakan putra kecilnya.


"Jangan dekat-dekat dengan bocah itu, ya. Aku tidak suka," rengek Ethan sambil merengut.


"Bocah siapa?" tanya Louisa.


"Yang tadi bersamamu itu, aku tidak suka."


"Ed maksud kamu? Dia teman baik, aku belajar banyak tentang musik dari dia," pungkas Louisa.


"Tidak boleh," tegas Ethan dengan kesal. Namun, raut wajah pria itu tidak tampak mengerikan saat marah dalam mode mafia. Louisa justru merasa gemas melihat raut wajah Ethan yang kesal karena cemburu ini. "Aku membayar sekolahmu sangat mahal, My girl. Kau harus fokus belajar, bukan pacaran."


"Aku tidak pacaran, Ethan," bantah Louisa sambil tertawa kecil. "Aku mencintaimu, aku tidak mungkin pacaran dengan pria lain."


Wajah Ethan tersipu mendengar ungkapan cinta Louisa, padahal dulu dia sangat jengah saat gadis kecil itu mengungkapkan cintanya.


"My girl," panggil Ethan dengan manja, ia mendongak guna menatap wajah Louisa. "Coba katakan sekali lagi," pinta Ethan.


"Katakan apa?" tanya Louisa dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Bahwa kau mencintaiku," jawab Ethan yang seketika membuat Louisa terkekeh.


"Tidak mau," jawab Louisa yang langsung membuat Ethan kembali merengut.


"Jadi kau tidak mencintaiku? Apa kau bohong selama ini saat kau selalu mengatakan mencintaiku?" Ethan bertanya dengan wajah yang merengut, tampak sakit hati dengan jawaban Louisa.


"Katakan dulu I love you, Lou," pinta Louisa.


"I love you, Lou," ujar Ethan yang tak lagi mengelak seperti dulu.


"Sekali lagi," pinta Louisa sambil tersenyum manis.


"I love you so much, Louisa, My girl." Ethan berkata dengan tegas dan penuh penekanan.


"Good boy," kata Louisa sembari mengusap pipi Ethan. "Coba sejak dulu kau mengalah padaku, Hem?" kekehnya.


"Maafkan aku," ucap Ethan dengan tulus.


"Tidak apa-apa, kita dalam dimensi berbeda saat itu." Louisa berkata dengan bijak. "Dan bagaimana dengan namaku di pundakmu itu, Hem?" tanya Louisa. "Hari ini kau harus jujur padaku, Ethan. Tak boleh ada ego, gengsi atau apapun itu. Kau milikku sekarang, jadi harus mengatakan semuanya padaku." Louisa kembali menunjukkan kepemilikan dan kuasanya.


Jika dulu sebagai bos, sekarang sebagai kekasih.


Sementara Ethan yang mendengar permintaan gadisnya itu langsung mengulum senyum, Nona Rae ini takkan berubah, pikir Ethan.


"Itu memang namamu," tukas Ethan yang seketika membuat hati Louisa berbunga-bunga.


"Aku yang mabuk," kata Ethan menahan malu, sekarang ia harus jujur seperti permintaan Louisa, kan? "Aku tidak bisa melupakanmu, jadi entah bagaimana aku meminta orang itu menuliskan namamu."


"Oh, so sweet."


Louisa langsung menghujani wajah Ethan dengan kecupan-kecupan kecil, ia tampak gemas pada Don Mafia yang dulu seperti es balok kini menjelma seperti cokelat yang dipanaskan.


Ethan pun tampak senang menerima perlakuan Louisa itu, ia merasa sangat nyaman bahkan tak pernah senyaman ini pada seseorang.


"Lou, apa kau mau tinggal bersamaku nanti?" tanya Ethan dengan tatapan yang tiba-tiba berubah sayu. "Rasanya aku tersiksa saat jauh darimu, apalagi saat aku tahu ada pria yang dekat denganmu. Aku tidak bisa tidur, aku juga tidak bisa fokus bekerja karena terus memikirkanmu."


Louisa tersenyum mendengar ungkapan hati Ethan yang begitu lepas dan jujur. "Tidak perlu cemburu," tegas Louisa. "Aku bersedia ikut denganmu ke mana pun kau pergi, tapi justru kamu yang mengirimku jauh darimu."


"Aku melakukan itu demi keselamatanmu, My girl, aku tidak ingin kau terluka dan aku tidak akan pernah membiarkan kau terluka."


Louisa mengangguk mengerti.


Bersamaan dengan itu, ponsel Louisa berdering. Ethan langsung menyambar ponsel itu dan memberikannya pada Louisa. "Katakan pada ibumu yang sebenarnya, agar dia tidak khawatir," pinta Ethan.

__ADS_1


Louisa hanya mengangguk sembari menjawab panggilan sang ibu. "Halo, Mom?" sapa Louisa.


"Ada apa, Lou?" tanya Nyonya Agatha dari seberang telfon.


"Mom, sepertinya malam ini aku tidak akan pulang," tukas Louisa.


"Kenapa, Lou? Kamu di mana? Sama siapa?" tanya Nyonya Agatha.


"Biar aku yang berbicara," kata Ethan sembari mengambil ponsel Louisa.


"Halo, Nyonya Rae," sapa Ethan.


"Ethan? Kau bersama Louisa?"


"Iya, Nyonya Rae, aku di Madrid sekarang dan Louisa sedang bersamaku. Aku akan mengantar dia pulang besok sore."


"Benarkah?" pekik Nyonya Agatha.


"Iya, jangan khawatir, Nyonya Rae," pinta Ethan.


"Bagaiamana aku tidak khawatir, anak perempuanku bersama seorang pria entah ada di mana." Ethan terkekeh mendengar ucapan Nyonya Agatha.


"Dia aman bersamaku, tolong percayalah, Nyonya Rae," pinta Ethan.


"Baiklah, Ethan, tolong jangan melakukan sesuatu pada putriku. Dia masih 18 tahun."


"Aku mengerti," kata Ethan sambil menatap Louisa. "Aku akan menghubungimu lagi besok pagi, Nyonya Rae, selamat siang."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Ethan memutuskan sambungan telfonnya.


"Mommy tidak marah?" tanya Louisa.


"Tidak, dia hanya ingin aku tidak melakukan apapun padamu, katanya kau masih 18 tahun."


"Memangnya kenapa mommy berkata seperti itu?"


"Mungkin dia takut kita bercinta."


Wajah Louisa langsung merona mendengar ucapan frontal Ethan. "Apa kau ingin bercinta denganku?" celetuk Louisa yang seketika membuat tatapan Ethan langsung tampak berbeda.


"Aku ingin melakukannya, tapi kau masih 18 tahun." Ethan berkata dengan jujur.


"Benar juga, aku masih sekolah dan aku tidak ingin hamil secepat ini."

__ADS_1


Ethan langsung tertawa kecil, ia pun kembali bergelanyut pada Louisa bahkan pria itu kini menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Louisa.


"Bisakah kita bercinta sebentar saja? Mungkin kau tidak akan hamil jika hanya hanya sebentar."


__ADS_2