
Nyonya Agatha perlahan membuka mata, cahaya terang langsung menyilaukan matanya yang membuat ia kembali menutup mata. Beberapa saat kemudian, ia kembali membuka mata mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Ia berada di sebuah kamar, bukan kamar rumah sakit tetapi kamar biasa. Sambil memegang kepalanya yang terasa sakit, ia beranjak turun dari ranjang.
Bersamaan dengan itu, seorang Suster datang dan langsung menyapa Nyonya Agatha. "Akhirnya kau sadar juga, bagaimana perasaanmu, Nyonya?" tanya Suster itu.
"Aku di mana?" tanya Nyonya Agatha.
"Kau di mansion Tuan Mayer," jawab Suster sambil membawa Nyonya Agatha kembali ke ranjang. "Tolong jangan banyak bergerak dulu, Nyonya, biarkan aku memeriksa keadaan mu."
"Di mana Louisa? Putriku?" Ia langsung terlihat cemas saat mengingat keadaan Louisa.
Sementara di kamar yang lain, Louisa hanya bisa terdiam sambil memegang kepalanya yang terasa berdentum. Ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelum ia kehilangan kesadarannya.
"Mommy?" gumam Louisa saat ia berhasil mengingat kecelakaan yang terjadi.
Louisa segera turun dari ranjang dan bergegas keluar dari kamar.
Seketika Louisa kembali termangu saat menyadari kini ia berada di mansion Ethan.
Ethan?
Mengingat pria itu membuat Louisa cemas, takut sekaligus bertanya-tanya di mana dia sekarang?
"Kau sudah bangun?" Louisa tersentak saat mendengar suara bass itu, ia menoleh dan mendapati Simon yang berdiri tak jauh darinya.
"Di mana kedua orang tuaku?" tanya Louisa.
"Ibumu di sana!" Simon menunjuk kamar yang berada tepat di sebelah kamar Louisa.
Tanpa berpikir panjang, Louisa langsung masuk ke kamar itu dan ia bernapas lega melihat sang Ibu baik-baik saja. Nyonya Agatha pun langsung mengucapkan syukur saat melihat putrinya juga baik-baik saja.
"Mom!"
Louisa langsung berhambur ke pelukan ibunya. "Mom, syukurlah kau baik-baik saja," lirih Louisa.
"Bagaiamana dengan kamu, Sayang? Apa ada yang sakit? Haruskah kita ke Dokter?" tanya Nyonya Agatha sembari menyentuh kepala Louisa yang diperban.
"Aku baik-baik saja, Mom, di mana Daddy?" tanya Louisa yang seketika membuat Nyonya Agatha terdiam.
__ADS_1
Di mana suaminya?
Ia tidak tahu, bahkan Nyonya Agatha tidak tahu apakah suaminya masih hidup atau sudah mati dalam pertempuran dua geng Mafia itu.
"Mom, kenapa diam saja? Di mana Daddy?"
"Mommy tidak tahu, Sayang," jawab Nyonya Agatha dengan jujur yang membuat Louisa mulai cemas.
Tak berselang lama, Simon datang menyusul Louisa. Pria paruh baya itu tampak kasihan melihat keadaan Louisa.
"Di mana ayahku?" tanya Louisa dengan lantang pada Simon.
"Dia ...." Simon tidak tahu bagaimana caranya memberi tahu Louisa dan Nyonya Agatha bahwa Tuan Bertrand sudah tewas. Namun, Simon tak punya pilihan selain memberi tahu yang sebenarnya.
"Apa dia selamat?" cicit Nyonya Agatha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa maksudmu apakah Daddy selamat, Mom?" pekik Louisa. "Kita selamat, tentu saja seharusnya Daddy juga selamat!" Louisa berkata penuh penenakan.
"Silakan ikut aku," kata Simon kemudian.
"Ke mana?" Louisa bertanya dengan tegas. "Katakan saja di mana ayahku, setelah itu kami akan pergi dari sini."
"APA??!"
...🦋...
"Semakin lama detak jantungnya semakin lambat," kata Dokter yang seketika membuat Peter menghela napas berat. Kedua mata pria paruh baya itu sudah memerah dan berkaca-kaca.
Ia menatap Ethan yang kini dinyatakan koma oleh Dokter, pria yang biasanya terlihat gagah dan kuat itu kini terbaring lemah dan pucat.
"Ethan!" seru Peter tepat di telinga Ethan. "Bangun, bocah sialan!" geramnya dan seketika air mata tumpah dari pelupuk mata pria yang terkenal sadis dan sangar itu.
Bagaiamana tidak?
Ia sudah bersama kedua orang Ethan sejak anak itu belum lahir. Bahkan, dia juga merasa sangat bahagia dan langsung mencintai anak itu saat Ethan dilahirkan.
Peter yang mengurus setiap kali Ethan ulang tahun, mengantar jemput anak itu ke sekolah setiap hari. Dan ia juga yang merawat Ethan saat kedua orang tua nya pergi untuk selamanya. Bagi Peter, Ethan adalah putranya dan rasanya sakit melihat keadaan Ethan seperti ini.
"Katanya kau tidak akan mati dengan mudah, Ethan! Jadi aku mohon jangan mati sekarang," lirih Peter. "Siapa yang akan mengurus organisasi kita jika kau pergi?"
__ADS_1
...🦋...
Louisa dan Nyonya Agatha hanya bisa berdiri mematung di sisi peti mati Tuan Bertrand. Shock, tak percaya, terpukul. Semua rasa itu menyatu dalam diri kedua wanita itu.
"Mom?" lirih Louisa dengan suara yang tercekat, air mata gadis itu tumpah begitu saja tetapi ia langsung menyekanya. "Aku rasa ... pria ini cukup mirip Daddy," kekeh Louisa terbata-bata, ia ingin mengelak kenyataan bahwa pria yang ada dalam peti mati itu ada ayahnya. "Tadi aku pikir dia Daddy, tapi pasti bukan!" seru nya sambil tertawa getir.
Nyonya Agatha tak bisa lagi menahan air mata nya saat mendengar apa yang dikatakan Louisa.
Ia langsung menarik putrinya itu ke dalam pelukannya tetapi Louisa memberontak. "Sebaiknya kita pergi dari sini, Mom. Kita harus mencari Daddy."
"DIA AYAH KAMU, LOUISA!" teriak Nyonya Agatha yang seketika membuat air mata Louisa semakin deras. "Kamu lihat wajahnya baik-baik, dia memang ayahmu."
Louisa menggeleng sembari mengelap air matanya dengan punggung tangannya. "Mom, dia bukan Daddy," lirih Louisa bahkan dengan suara yang hampir tak terdengar oleh telinganya sendiri. "Daddy tidak mungkin mati secepat ini."
Simon, Theo dan Joel yang mendengar kata-kata Louisa merasa ikut prihatin. Hati mereka yang biasanya keras dan tak tersentuh oleh apapun, sekali pun permohonan orang yang akan mereka bunuh kini justru tersentuh oleh air mata Louisa.
Untuk pertama kalinya, mereka bersimpati pada orang asing.
"Sayang!"
Nyonya Agatha kembali memeluk Louisa, dan kali ini putrinya itu tak memberontak. Ia langsung melingkarkan lengan kecilnya di pinggang sang ibu, menyembunyikan wajahnya di dada sang ibu dan Louisa melepaskan tangisnya yang sejak tadi coba ia tahan.
Tangis kedua wanita itu pun pecah mengiringi kenyataan orang yang paling mereka cintai kini telah pergi.
Di ruangan itu, hanya terdengar tangis pilu Louisa dan Nyonya Agatha.
Simon dan yang lainnya pun pergi meninggalkan mereka, sebab hati para gengster itu mulai bergetar, perasan aneh dan tak bisa.
Setelah beberapa menit menangis sampai lelah, kini Louisa melerai pelukannya dari sang Ibu. Ia kembali menatap wajah sang Ayah yang sudah pucat. "Dad?" lirih Louisa sambil mengusap kepala ayahnya.
"Ini tidak adil, Dad, kau pergi tanpa berpamitan pada kami. Kau curang, Dad. Hikss ... aku membencimu."
Louisa tak kuasa menahan sesak di dadanya.
"Bangun, Dad, aku mohon." Air mata Louisa jatuh membasahi wajah sang Ayah. "Setidaknya untuk mengatakan selamat tinggal, aku mohon, Daddy!"
Emosi Louisa mulai tak terkendali, ia jatuh bersimpuh di sisi peti sang Ayah. Ibunya memegang pundak Lousia, tetapi gadis itu menepisnya dan menjerit sekuat tenaga untuk meluapkan rasa sakit di dadanya.
"AAGGGGGGHHHHHH"
__ADS_1