
"Kita sungguh akan pergi?" tanya Lousia yang masih meragukan keputusan sang Ayah.
"Tentu saja, Sayang, tidak ada lagi yang bisa kita pertahankan di sini," kata Tuan Bertrand sembari memasukan beberapa baju Louisa ke dalam koper sementara Nyonya Agatha memastikan semua pintu dan jendela tertutup rapat.
"Bagaiamana jika ada orang yang mencari kita?" tanya Louisa lagi.
"Tidak akan ada yang mencari kita," sahut Tuan Bertrand.
Benar, satu-satunya teman Tuan Bertrand yang mungkin akan mencarinya hanyalah Tommy dan kini temannya itu sudah meninggal. Sementara teman yang lain takkan datang padanya kecuali ada urusan bisnis.
"Apa kau tidak tahu cara menyusun baju di koper?" tanya Tuan Bertrand kemudian dan Lousia hanya menggeleng lemah, sebab ia memang tak pernah menyusun baju atau melakukan hal semacamnya selama ini.
"Ya Tuhan, kau manja sekali," keluh Tuan Bertrand.
"Daddy selalu menyuruh pelayan mengurus semua keperluanku," kilah Louisa.
"Kau benar," gumam Tuan Bertrand. "Ini memang salah Daddy yang terlalu memanjakanmu."
Louisa merasa kasihan melihat wajah sang ayah yang terlihat murung, pasti lah ayahnya itu stres dan tertekan dengan keadaan yang sama.
"Dad, kenapa tidak ada polisi yang datang ke sini? Dan kenapa kita tidak bisa melaporkan mereka pada polisi?" tanya Lousia, sebab ia memang tidak tahu kenapa kejahatan Ethan bisa tersembunyi dengan begitu rapi. Sementara Tuan Bertrand dan istrinya memang sengaja tak menceritakan siapa Ethan pada Lousia,m mereka tak mau putrinya itu merasa takut.
"Ada perkelahian, tembak menembak bahkan ada helikopter meledak di atas rumah kita, Dad. Tidak mungkin tidak ada yang tahu masalah ini," pungkas Louisa penuh penekanan.
"Kau tahu sendiri Ethan sudah memanipulasi cctv, Lou," sahut sang Ayah.
"Lalu bagaimana dengan orang-orang di sekitar rumah kita? Apa mereka tidak mendengar keributan yang terjadi? Mereka tidak tuli dan tidak buta," seru Louisa lagi.
Tuan Bertrand menghela napas berat, rasanya tak mungkin lagi menyembunyikan fakta siapa Ethan dari Louisa.
"Apa kau pernah mendengar berita tentang anggota Mafia yang mendapatkan julukan The Eagle?"
Lousia berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat nama yang memang tak asing di telinganya itu.
"The Eagle geng mafia dari Moscow itu?" tanya Louisa.
"Ethan adalah pemimpinnya."
__ADS_1
"Apa?" pekik Louisa dengan kedua bola mata yang melotot sempurna.
"Ethan adalah Don Mafia, Lou, oleh sebab itu dia bisa melakukan tindakan kejahatan dengan mudah bahkan jika harus membantai sebuah kota sekalipun," pungkas sang Ayah yang membuat Lousia bergidik ngeri.
"Dia hanya membunuh anak buah kita, itu pun di sebuah perumahan. Tentu saja itu hal yang mudah baginya, apa kau tahu dia pernah membantai anggota mafia lain di sebuah alun-alun kota dan itu pun tepat jam 10 pagi. Semua orang menyaksikan secara langsung, tapi saat polisi melakukan penyidikan semua orang mengatakan tidak tahu."
Lousia tercengang mendengar penjelasan sang Ayah, baginya Ethan sudah seperti iblis karena sudah membunuh orang-orangnya. Tetapi ternyata Ethan lebih keji dari iblis.
"Sekarang kau mengerti kenapa kita harus pergi, hm?"
Ethan adalah Don Mafia yang kejam?
Entah kenapa Lousia sulit mempercayai hal itu, tetapi ia mengingat kembali bagaimana mansion Ethan di lindungi oleh beberapa orang juga beberapa keamanan yang sangat ketat. Tak hanya itu, pria itu tanpa segan menembak orang.
"Daddy takut padanya?" tanya Lousia kemudian.
Tuan Bertrand terdiam sejenak kemudian mengangguk pelan. "Tapi bukan itu alasan Daddy ingin pergi, Lou."
"Jadi apa?"
"Apa kalian sudah selesai?" tanya Nyonya Agatha.
"Hampir," jawab Tuan Bertrand.
"Perjalanan ke Hampstead cukup lama, kita harus berangkat sebelum hari gelap."
Louisa menatap ke sekeliling kamarnya yang bak kamar Tuan putri itu, sekarang ia harus pergi meninggalkan semua kenyamanan ini menuju sebuah desa yang bernama Hampstead.
"Tenang saja, kita pasti akan betah di sana," ujar Nyonya Agatha saat menyadari raut wajah Lousia yang tampak berbeda.
"Kami akan mencarikan sekolah terbaik untukmu di sana, Sayang," kata Tuan Bertrand sambil tersenyum lembut tetapi Lousia hanya diam saja.
Yang ia pikirkan saat ini hanyalah Ethan. Bisakah dia melupakan Bodyguard, pembunuh dan Don Mafia itu?
...🦋...
Sementara di sisi lain, saat ini Ethan sedang berada dalam jet pribadinya, ia akan melakukan penerbangan ke Moscow bersama Peter dan Simon. Sementara Theo ditugaskan untuk tetap di London dan mengawasi organisasi mereka di sana.
__ADS_1
"Bukankah seharusnya kita pergi ke Moscow tiga hari lagi?" tanya Peter yang merasa sedikit bingung karena keberangkatan mereka tiba-tiba dimajukan begitu saja oleh Ethan.
"Seharusnya begitu, tapi ada seseorang yang ingin melarikan diri," sindir Simon sambil melirik Ethan.
"Siapa? Dan lari apa?" tanya Peter dengan polosnya.
Untuk urusan hati, kepekaan Peter memang sangat tidak bisa diandalkan.
"Entahlah, aku yakin dia juga tidak tahu harus melarikan diri dari apa. Tapi aku yakin dia berniat menghindar." Kata-kata ambigu Simon membuat Peter mengernyit bingung. Bahkan, pria itu sampai memukul kepala Simon karena kesal.
"Aku tidak mengerti ocehanmu, kau seperti mabuk."
"Hei, kau yang tidak mengerti, kau yang kesal dan kau yang memukul?" pekik Simon kesal, ia berusaha membalas pukulan Peter.
Sementara Ethan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua ajudannya itu.
"Aku mau tidur, jangan mengangguku," kata Ethan kemudian ia bergegas ke kamar pribadinya.
"Dia jatuh cinta," kata Simon setelah Ethan pergi.
"Pada bocah tak berotak itu?" sinis Peter.
"Siapa lagi? Tidak pernah ada wanita yang dekat dengan Tuan Mayer selain gadis ingusan itu."
"Pantas saja, sekarang dia jadi ikutan tak berotak."
Sementara di kamarnya, Ethan tak bisa tidur. Setiap kali menutup mata, ia selalu melihat bayang-bayang Louisa.
Ada rasa cemas juga dalam hatinya, bagaimana jika ada yang mencoba mencelakai Louisa lagi? Siapa yang akan melindunginya?
"Sial! Kenapa aku mencemaskan setan kecil itu?" geram Ethan sambil menarik rambutnya sendiri.
Melarikan Diri?
Ethan ingin menyangkal tuduhan Simon itu, tetapi ia tak bisa membohongi hati kecilnya yang memang ingin pergi agar tak ada lagi keinginan untuk menemui Louisa. Agar ia bisa melupakan gadis itu.
Jadi, Simon benar. Ethan melarikan dari.
__ADS_1