Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 123 - Yang Harus Dibayar


__ADS_3

Semua harus di bayar dengan harga yang pantas, ketika mata harus di balas dengan mata, telinga di balas dengan telinga, maka hutang pun terbayar dengan lunas.


Terkadang begitulah hukum alam di beberapa bagian dunia.


Bahkan, ada yang tak peduli dengan apa itu ketulusan, kejujuran, atau pun perasaan suci lain nya. Yang terpikir hanya lah hasil yang harus memuaskan, tak peduli bagaimana pun prosesnya. Atau ... apapun yang harus di lakukan dalam proses nya, segala macam cara akan di halal kan demi pencapaian yang di anggap benar, padahal hanya untuk memuaskan hasrat semata.


Sama seperti dendam, itu bukan lah perjuangan untuk mengejar keadilan atau menegakkan kebenaran. Melainkan hanya hasrat terlarang yang haus untuk di puaskan, dan pada akhirnya dendam itu akan terus berjalan, seperti rantai yang tak ada unjung nya. Maka, seseorang harus bertindak untuk memutus rantai balas dendam itu.


Lagi pula, jika mata harus selalu di balas dengan mata maka dunia akan buta. Jika telinga harus selalu di balas dengan telinga maka dunia akan tuli. Sama hal nya, jika nyawa harus selalu di balas dengan nyawa maka dunia akan menjadi kuburan.


... Satu Tahun Kemudian .......


...The Great Show Of Love, Singapura....


"Dad, cepat lah. Aku tidak mau ketinggalan pertunjukan nya. Ayo ... ayo!"


Gadis kecil itu merengek dengan tak sabar untuk memasuki sebuah gedung pertunjukan yang telah begitu ramai, sudah pasti ada begitu banyak orang yang datang dalam pertunjukan untuk penggalangan dana ini.


Seseorang menggelar pertunjukan ini untuk mengumpulkan dana yang akan di berikan pada beberapa komunitas yang sedang membutuhkan dana besar, akan ada banyak pertunjukan menarik lain nya. Yang tak hanya mengundang perhatian beberapa orang saja, tapi hampir semua orang.


Dari yang tua, muda, wanita dan pria. Bahkan, tak sedikit yang datang dari luar kota atau pun luar negeri.


"Sabar, Sayang, kita tidak akan terlambat, percaya lah," ujar sang Ayah menenangkan putri nya yang tampak cemas itu.


"Tapi dia akan tampil untuk membuka acara dan setelah itu dia akan segera pergi lagi, aku tidak mau ketinggalan, aku harus melihat semua nya. Oh Tuhan, aku sudah tidak sabar."


Sang Ayah tak bisa menahan tawa nya atas celotehan putri kecil nya itu, yang begitu semangat untuk menyaksikan pertunjukan pembuka acara amal ini.


Ia pun segera menggendong anak nya itu, masuk ke sebuah ruangan yang sudah begitu penuh dengan banyak orang. Ia terus berjalan maju, kemudian duduk di baris paling depan.


"Uh, aku deg degan," ujar gadis kecil itu saat melihat panggung besar di depan nya.


"Shhhtt, jangan bersuara," bisik sang Ayah. "Acara nya akan segera di mulai."


Tak berselang lama, lampu-lampu di matikan, begitu juga dengan lampu di panggung. Suasana yang tadi nya ramai oleh obrolan beberapa orang kini telah senyap. Apalagi ketika alunan musik perlahan mulai terdengar.


Satu sorot lampu menyala di panggung, menyorot seorang pria yang bermain piano. Lampu sorot kedua menyala, menyorot seorang penari ballet yang tepat berada di tengah ruangan.


Penari itu mulai menari dengan begitu indah, dan tak berselang lama beberapa lampu sorot menyala, menyorot beberapa penari ballet lain nya bersama pasangan masing-masing.

__ADS_1


Acara yang sesungguhnya dengan pertunjukan ballet yang diiringi alunan musik dari pemain piano pun di mulai. Semua orang begitu menikmati nya, bahkan ada yang sampai tak berkedip menyaksikan para seniman di atas sana.


Ada yang terpesona, ada yang terharu, ada yang merasa bangga dan sebagainya.


"Dia sangat cantik," bisik gadis kecil itu pada seorang pria di sampingnya.


"Yeah, wanitaku memang sangat cantik." Pria itu balas berbisik sambil mengulum senyum.


Tatapan nya tak bisa terlepas barang sedikit saja dari penari yang menari dengan lincah dan indah di atas panggung sana. Seorang wanita cantik yang menari dengan segenap jiwa, tarian yang menggambarkan kebahagiaan, kekecewaan, dan kemarahan.


Setelah beberapa menit berlalu, para seniman itu mengakhiri pertunjukan itu dengan begitu indah dan sempurna. Mengundang semua orang untuk bertepuk tangan dengan meriah, tak sedikit yang berdecak kagum, memuji kinerja dan bakat mereka.


Sang penari ballet dan sang pianis saling bertatapan, keduanya berpegangan tangan sebelum akhirnya secara bersamaan mereka membungkuk, menyapa para penonton dengan senyum hangat.


Si gadis kecil tak mau kalah heboh, ia berdiri di atas kursi nya, bertepuk tangan dengan sangat semangat bahkan kemudian berteriak, "LOUISA! AKU MENYUKAI PERTUNJUKAN MU! KAU SANGAT SEKSI!"


Louisa yang saat ini masih di atas panggung langsung menatap gadis itu sambil tersenyum lebar dengan mata yang berbinar, ia melambaikan tangan sebelum akhirnya lampu kembali di matikan. Bersiap untuk pertunjukan selanjutnya.


"Paman malaikat, Louisa dan Ed sangat cocok, mereka berkolaborasi sebagai pianis dan penari yang sempurna."


Yang di panggil Paman malaikat itu langsung berdecak kesal mendengar apa yang di katakan gadis kecil di samping nya ini, bahkan ia hampir mencubit nya karena kesal tetapi ia mengurungkan niat nya.


Pria itu pun memilih beranjak pergi, ia masuk ke ruang di belakang panggung.


"Mencari seseorang, Tuan?" tanya seorang wanita seksi yang berpenampilan cukup nyentrik, sesuai profesi nya. Dia adalah seorang pesulap yang juga bersiap melakukan pertunjukan.


"Yeah, aku mencari wanita ku," jawab pria itu.


"Di ruangan nya!" Si wanita memberi petunjuk keberadaan orang yang di cari.


Dia pun langsung masuk ke ruangan tersebut, bahkan dengan menendang pintu nya.


"Ah, Ethan!" pekik Louisa yang saat ini sedang berganti kostum. "Kau mengagetkan ku." Louisa menggerutu sambil mengelus dada nya.


Ethan tak peduli, ia mengunci pintu kemudian mendekati Louisa, mendorong wanita itu hingga terbentur dinding kemudian ia langsung meraup bibir nya dengan lembut tetapi menggebu.


Louisa tak menolak, ia justru membalas ciuman suami nya yang panas itu. Dia juga mengalungkan lengan mungil nya di leher sang suami, dan Ethan pun langsung mengangkat bokong Louisa hingga kini istri kecil nya itu ada dalam gendongan nya.


Ciuman panas itu berlangsung selama beberapa menit, kedua nya sama-sama saling menyesap, saling melumaat, seolah merasa tak ada lagi hari esok untuk menikmati sentuhan satu sama lain.

__ADS_1


Louisa melenguh lirih saat sang suami meremas bokong nya dengan gemas dan ciuman mereka pun terlepas.


"Aku sangat cemburu melihat kau berpegangan tangan dengan bocah kecil itu," desis Ethan cemberut, jelas terlihat kecemburuan di mata nya.


"Ed sudah berusia 22 tahun, kenapa kau terus memanggil nya bocah kecil?" kekeh Louisa.


"Bagi ku dia hanya bocah cilik," desis Ethan sembari membawa Louisa ke meja rias, ia mendudukkan istri kecil nya itu di sana.


"Seharusnya kalian tidak perlu berpegangan tangan, apa kau tahu kalau itu menyakiti ku?" Ia merengek manja, membuat Louisa merasa gemas.


"Oh, maafkan aku, Sayang." Louisa membelai pipi Ethan dengan lembut kemudian memberikan kecupan-kecupan kecil di sudut bibir nya.


"Ayo pulang, kita harus menyiapkan pesta nya segera," ujar Ethan kemudian.


"Baiklah, tapi biarkan aku berganti pakaian dulu."


Louisa hendak turun dari meja rias, tetapi Ethan justru kembali meraup bibir istri kecil nya itu dengan menggebu, seolah ia merasa lapar akan rasa bibir sang istri dan ia tak pernah puas dengan rasa itu.


Louisa menyambut nya dengan senang hati, hingga tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Ya Tuhan, mengganggu saja!" gerutu Ethan sembari mengusap bibir Louisa yang basah, merah dan bengkak karena ulah nya.


"Ini tempat umum, Sayang, bukan kamar kita," kekeh Louisa.


Ia pun segera melompat turun dari meja rias, membuka kostum balet nya di depan Ethan. "Kau cantik sekali tanpa pakaian," goda Ethan yang langsung membuat wajah Louisa memerah.


"Aku akan memberikan penampilan terbaik ku nanti malam," bisik Louisa sensual sembari mengambil sebuah gaun casual dan segera mengenakan nya.


"Aku suka setiap gerakan mu tadi," kata Ethan kemudian sembari merapikan rambut sang istri. "Tapi aku lebih suka gerakan mu saat ada di atas ku."


Louisa hanya menanggapi nya dengan senyum tipis sebelum akhirnya ia membuka pintu.


"Hai, Angel," sapa Louisa saat melihat siapa yang ada di hadapan nya. Ia menyapa gadis kecil di depan nya ini dengan senyum lebar.


Angel pun juga tersenyum lebar, mata nya berbinar dan dia tampak begitu bahagia melihat Louisa. "Hai, Louisa!"


...🦋...


Saatnya yang manis-manis yaa, hehe.

__ADS_1


__ADS_2