Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 106 - Akhirnya ....


__ADS_3

Lima Dokter didatangkan oleh Peter untuk mengobati Simon dan yang lainnya. Bahkan, juga para musuh yang terluka. Dokter Wales juga datang untuk mengobati Ethan dan Simon secara khusus.


Luka yang dialami oleh anak buah Ethan tidak terlalu serius, kecuali luka Simon yang cukup dalam. Apalagi dua kali ia distusuk dengan sengaja, tindakan yang cukup brutal.


Walaupun begitu, Simon masih bisa diselamatkan karena Dokter datang tepat waktu. Yeah, para Dokter itu memang bersiap di sekitar markas atas perintah Ethan.


"Aku pikir kau akan membiarkan mereka mati membusuk dengan luka-luka itu," tukas Peter.


"Mereka menyerah, dan sekarang mereka akan menjadi milikku," sinis Ethan. "Kecuali Erik, dia akan mati secara perlahan dan menyakitkan."


Ia melirik Dokter Wales yang kini menjahit luka di lengannya, ia tak mengerang kesakitan, seolah sudah biasa mengalami hal seperti ini.


"Padahal tubuhmu terlalu indah untuk mendapatkan banyak bekas luka seperti ini." Dokter Wales mengomentari, tetapi Ethan enggan menanggapi. "Aku sampai bosan menjahit lukamu." Ethan masih tak menganggapi, membuat Dokter Wales hanya bisa menghela napas berat.


"Tapi kenapa kamu melarangku terjun ke medan perang?" tanya Dante sembari memainkan pistol dengan tangan kirinya. "Aku bukan Peter yang perlu menjadi coach kalian, tapi kau tidak mengizinkanku berkelahi. Padahal, hanya dua jariku yang hilang. Bukan kedua tangan dan kakiku."


Yeah, Dante merasa sedikit heran dengan keputusan Ethan yang memintanya hanya mengawasi dari jauh, dan hanya turun saat ia dibutuhkan. Meskipun Ethan mengatakan Dante adalah senjata rahasia mereka, tetapi ia tahu alasan itu tidak cukup masuk akal karena nyatanya Ethan dan yang lainnya begitu kuat. Bahkan, tidak membutuhkan bantuan orang lain lagi.


"Mungkin semuanya bisa berakhir lebih awal jika aku membantu," tambah Dante.


Ethan terdiam, mengingat kembali bagaimana ia menjalani hidup setelah kehilangan ayah dan ibunya.


"Apa kau tahu rasanya kehilangan seorang ayah dan seorang ibu?" lirih Ethan dengan wajah sendu. "Rasanya seperti berada di ambang kematian, ingin mati tapi tidak bisa, berusaha hidup tapi tersiksa. Dan aku tidak mau anakmu yang lucu itu mengalami apa yang aku alami." Jelasnya panjang lebar.


Dante terenyuh mendengar alasan Ethan, merasa tak menyangka ia masih bisa memikirkan orang asing. Jiwa brutal sebagai gangster sepertinya tak ada dalam jiwa Ethan.

__ADS_1


"Seharusnya aku berpesta tadi malam bersama keluargaku," gerutu Dokter Wales. "Tapi aku harus siap siaga menunggu manusia-manusia seperti kalian yang sedang berkelahi, membuatku bingung dan bertanya-tanya. Apa yang harus aku siapkan? Ruang operasi atau peti mati?"


Awalnya Dokter Wales hanya lah seorang Dokter kepercayaan Marlon Mayer, tetapi hubungannya dengan Ethan membuat ia tanpa sadar menganggap Ethan, Simon dan Peter sebagai keluarga. Sehingga tanpa sadar pula ia selalu mengkhawatirkan ketiga manusia itu, dan merasa gugup saat tahu mereka terlibat perkelahian.


"Selalu siapkan dua-duanya," kekeh Ethan dengan santainya sambil mengulum senyum.


"Tidak untukku," sambung Peter. "Aku ingin membeli sendiri peti matiku, aku ingin peti yang paling mahal dan bagus."


"Kalau begitu siapkan sejak sekarang, supaya nanti aku tidak repot mencari peti yang kau mau!" seru Ethan sambil tertawa kecil.


Dokter Wales hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dua manusia di depannya ini, yang masih sempat bercanda padahal mereka baru saja keluar dari ambang kematian.


Dante memperhatikan mereka, mulai berpikir Ethan tidak semengerikan yang orang-orang bicarakan, bahkan sepertinya dia akan menjadi teman yang baik.


"Kuat dan setia," jawab Peter dengan tegas.


"Aku sudah membuktikan keduanya," kata Dante, tanda bahwa ia ingin bergabung dengan Ethan.


"Kau ayah yang baik," tukas Ethan dengan senyum penuh arti. Senyum yang berarti penolakan halus karena ia ingin Dante hanya menjadi ayah dari anaknya, bukan anggota Mafia yang selalu dalam bahaya setiap saat.


"Aarrggh!" Ethan meringis saat turun dari ranjang, ia mengambil selembar cek dari sakunya kemudian memberikan benda itu pada Dante. "Aku sudah menyiapkan rumah untukmu di Singapura, hanya beberapa meter dari rumah sakit terbaik di sana. Dan ada lowongan pekerjaan sebagai kepala keamanan di rumah sakit itu."


Dante hanya bisa terdiam mendengar apa yang dikatakan Ethan, apalagi setelah ia melihat nominal uang yang diberikan oleh Ethan.


"Setelah Angel melakukan operasi dan keadaannya membaik, pergilah ke sana. Bekerjalah dengan baik di rumah sakit itu agar jika suatu hari nanti Angel membutuhkan pertolongan, kau tidak perlu bingung mencari rumah sakit ataupun biayanya."

__ADS_1


Kini Dante menitikkan air mata, tak menyangka Ethan memberi lebih banyak dari apa yang dia janjikan.


"Aku datang untuk membunuhnya," kata Dante sembari melirik Peter yang kini menatapnya dengan tajam, seolah masih marah pada pria itu. "Dan aku melakukan semua itu untuk pengobatan putriku. Tapi sekarang yang kau berikan bukan hanya sekedar pengobatan, tapi juga hidup yang baru untuk kami. Bagaimana kami harus berterima kasih padamu, Don Mayer?"


"SEMBUHKAN AKU SEKARANG JUGA!" seru Peter sebelum Ethan menjawab, bahkan ia berkata penuh penekanan.


"Aku anggota militer, bukan penyihir apalagi malaikat," sarkas Dante yang membuat Ethan hanya bisa mengulum senyum, sementara Dokter Wales langsung tertawa. Tapi tentu saja jawaban itu membuat Peter semakin marah dan kesal.


"Kau benar-benar pria sialan!" geram Peter.


"Pergilah, Dante! Semuanya sudah selesai," tukas Ethan.


Sebelum pergi, Dante meletakkan pistol itu dipangkuan Peter kemudian berkata, "Aku sengaja membunuh Jose untuk melampiaskan kemarahanku karena dia berbohong padaku. Dan juga untuk menyelamatkan Simon dari membunuh orang yang tidak bersalah, karena sebenarnya kesalahan utamanya ada padamu yang sudah membunuh adik Jose dengan begitu mudahnya hingga dia menyusun siasat mematikan ini."


Peter terhenyak, merasa apa yang dikatakan oleh Dante benar adanya. Semua masalah ini terjadi karena dendam Jose yang disebabkan olehnya.


Peter tak mampu berkata-kata sampai Dante pergi dari sana.


Sementara Ethan kini pergi menemui anak buah yang lain untuk memberikan bayaran mereka. Dokter Wales juga pergi untuk memeriksa keadaan Simon yang masih belum sadarkan diri.


Peter hanya terdiam di atas kursi rodanya, mengingat kembali bagaimana ia bersikap selama ini. Begitu arogan, emosional, dan bertindak dengan gegabah. Padahal, Simon selalu mengingatkannya untuk berpikir tenang sebelum bertindak.


"Ck, kenapa aku jadi merasa begini?"


...🦋...

__ADS_1


__ADS_2