
Ashley Smith, Wanita itu adalah tetangga Peter yang cukup dekat dengan Angel. Wanita itu memang sangat cantik, apalagi Ashley memiliki mata biru dan rambut berwarna pirang.
Kulit nya berwarna putih susu dan dia memiliki tubuh yang sangat seksi, hampir sempurna. Bahkan, setiap pria yang melihat nya pasti terpana pada wanita itu. Tak terkecuali Peter, yang sampai detik ini masih tak berkedip saat memandangi nya.
Akan tetapi, di balik kesempurnaan itu, Ashley justru punya kekurangan yang mungkin tak bisa di perbaiki, gadis yang mudah sekali terkena sial. Bahkan, tak jarang orang-orang memanggil nya si gadis pembawa sial.
Seperti saat ini, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ia terjatuh dari motor nya begitu saja.
"Apa kau tidak apa-apa, Aunty?" tanya Angel sembari memperhatikan tubuh Angel dari atas sampai ke bawah, takut wanita itu terluka.
"Aku tidak apa-apa," jawab Ashley.
"Apa jalan nya licin, Ashley?" tanya Dante sembari wanita itu, ia hendak membantu Ashley mengangkat motor nya itu tetapi Ashley mencegah nya.
"Tidak usah, aku bisa melakukan nya sendiri," ujar Ashley sembari melempar senyum kaku, ia berusaha menarik motor nya sendiri tetapi ia justru kembali terjatuh.
Peter yang melihat itu segera menghampiri Ashley, tanpa basa-basi ia membantu wanita itu, sementara Ashley justru tampak terpana melihat wajah pria matang di depan nya ini.
"Peter, ini Ashley, tetangga kami," seru Dante memperkenalkan tetangga cantik nya itu.
"Hai!" sapa Ashley dengan semangat, bahkan ia langsung mengulurkan tangan nya pada pria itu. "Nama ku Ashley Smith, Tuan. Aku tinggal di sebelah kiri rumah Angel." Ia memperkenalkan diri nya dengan senyum lebar, terlihat sangat manis dan cantik.
Seketika Peter teringat dengan bunga mawar yang baru mekar, ia merasa senyum Ashley sama seperti bunga mawar itu.
Seketika Peter mendongak saat ia kembali melihat kelopak bunga mawar menghujani Ashley dari langit, dan perlahan tatapan nya kembali pada wanita di depan nya ini.
Suasana tiba-tiba kembali berubah, Peter merasa ada di sebuah tempat di mana ada begitu banyak pepohonan yang berbung, penuh warna. Cuaca tiba-tiba terasa begitu hangat, dan ada pelangi yang muncul di belakang Ashley.
"Peter?"
"Uncle Peter?"
"Ah—eh?" Peter tampak gelagapan saat Angel mencolek paha nya, hujan bunga itu tiba-tiba berhenti, pelangi itu pun tiba-tiba hilang dan kini mereka kembali ada di depan rumah Dante.
Peter menunduk, menatap Angel yang kini mendongak pada nya. "Itu ... aunty Ashley ingin berkenalan," kata Angel.
Seketika perhatian Peter kembali pada wanita di depan nya itu, yang masih setia mengulurkan tangan pada nya. Senyum itu bahkan masih mengembang dengan sempurna.
__ADS_1
Entah kenapa tiba-tiba Peter merasa gugup, jantung nya berdetak sangat cepat, dada nya pun berdebar kencang.
Perlahan Peter mengangkat tangan nya, menerima uluran tangan Ashley yang sangat lembut itu. "Senang mengenal mu, Peter," seru Ashley masih dengan senyum sumringah nya.
Sementara Peter tiba-tiba merasa aneh saat tangan nya menyentuh tangan Ashley, ia seperti di sengat listrik. Bahkan, itu membuat jiwa nya gemetar dan tubuh nya terasa panas dingin.
"Hem," sahut Peter kemudian. Ia tak bisa bersuara, entah kenapa tiba-tiba lidah nya terasa kelu.
"Dia memang sedikit dingin dan cuek," kata Dante, berharap Ashley tidak tersinggung dengan kelakuan Peter.
"Ah, begitu." Ashley mengangguk sembari menatap Peter dengan intens secara terang-terangan, membuat Peter merasa salah tingkah.
"Hati-hati lain kali, Aunty Ashley!" seru Angel kemudian. "Padahal baru kemarin kau menabrak pagar kami sampai rusak, sekarang kau juga jatuh di depan rumah kami," celetuk Angel.
"Oh, maafkan aku, Sayang." Angel memasang wajah menyesal nya. "Tapi mau bagaimana lagi? Ini seperti nya sudah takdir."
"Kalau sekali itu takdir, tapi kalau berkali-kali itu nama nya ceroboh," seru Dante.
"Apa bisa aku masuk sekarang?" Tiba-tiba Peter bersuara sambil meringis, ia begitu lelah dan ingin tidur. Apalagi jantung nya masih berdetak sangat cepat, membuat Peter yakin bahwa ia benar-benar butuh istirahat.
Sementara Ashley yang mendengar suara Peter untuk pertama kali nya justru kembali terlihat terpana, suara Peter serak, dalam, benar-benar maskulin. Seperti wajah dan tubuh nya.
"Bye, aunty Ashley!" seru Angel sembari melambaikan tangan pada tetangga yang sering terkena sial itu.
"Bye!" Ashley berbisik sebelum akhir nya ia kembali menaiki motor nya kemudian segera pulang.
Sementara Dante segera membawa Peter ke kamar yang sudah dia siapkan. "Kau bisa beristirahat di sini," kata Dante. Keluar lah setelah mandi, aku akan menyiapkan menu makan sing." Lanjut nya.
Sementara Peter tak menanggapi ucapan Dante, ia hanya melepaskan jaket nya setelah itu bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.
Sementara di luar, Dante dan Angel menyiapkan makan siang untuk tamu mereka. Tamu
"Daddy, apakah Daddy sungguh sayang pada uncle Peter?" tanya Angel secara tiba tiba yang membuat kening Dante berkerut dalam.
"Tentu saja, Sayang." Dante menjawab sambil cengengesan. "Tapi kenapa kamu bertanya?"
"Aku hanya heran, bagaimana bisa Daddy sayang pada teman yang bahkan tidak bisa tersenyun itu?" celetuk Angel dengan polos nya.
__ADS_1
"Angel!" tegur Dante dengan tegas. "Tidak boleh memandang orang dari luar nya saja, Sayang. Percaya lah, Peter adalah orang yang sangat baik dan hangat, hanya karena raut wajah nya yang datar, bukan berarti dia tak punya hati." Ia menjelaskan panjang lebar, tak ingin anak nya terbiasa mengomentari fisik atau keadaan odang.
"Baiklah, aku percaya pada mu, Daddy!" kata Angel kemudian.
Tak berselang lama, Peter datang dengan wajah yang terlihat lebih segar. Ia langsung duduk di sisi Angel, setelah itu ia makan dalam diam, seolah rumah ini adalah rumah nya sendiri.
Angel hanya melirik sang Ayah, ingin sekali dia mengobrol dengan Peter yang dingin itu. Namun, Peter terus menunduk pada makanan nya dan dia terlihat sangat serius saat makan, ia tak menoleh ke kanan dan ke kiri.
Dante menggeleng pelan, memberi isyarat agar Angel tak bersuara. Namun, anak nya itu sedikit suka melawan.
"Apa uncle Peter sudah bisa berlari?" celetuk Angel untuk memecah keheningan.
"Hem," jawab Peter.
"Apakah uncle mau jalan-jalan nanti bersama kami?" tanya Angel lagi, masih tak menyerah agar bsia mendekati Petet.
"Tidak," jawab Peter apa ada nya, tanpa rasa sungkan sedikit pun, membuat Angel dan Dante hanya meringis.
"Baiklah." Angel kini pasrah, ia pun menunduk pada piring nya.
Sementara Peter yang sudah merasa kenyang kini kembali ke kamar, bahkan ia tidak mengucapkan terima kasih pada Peter atas jamuan makan siang itu.
"Dia seperti es batu, hihihi," ujar Angel sembari cekikikan.
"Benar, sebaik nya kau tidak banyak bicara pada nya." Dante segera mengingatkan, sebab ia pun sangat kesal jika Peter membalas ucapan nya dengan begitu dingin, seperti pria tak berperasaan.
"Aku justru akan terus berbicara pada nya sampai dia mau berbicara pada ku," tukas Angel penuh keyakinan yang membuat sang Ayah hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sementara itu, Peter naik ke atas ranjang, ingin tidur untuk mengembalikan tenaga nya. Ia pun menutup mata, tetapi tiba-tiba bayangan Ashley muncul dalam benak nya. Bayangan itu terlihat begitu sempurna.
Peter langsung membuka mata nya lebar-lebar, napas nya tiba-tiba memburu, dada nya berdebar hebat. "Oh Tuhan, aku harus menemui Dokter jantung."
Peter memegang dada nya, di mana jantung pria itu juga berdetak sangat cepat. "Aku pasti kelelahan, maka nya sampai seperti ini."
Putri segera duduk sebentar, setelah ia itu ia sedikit bersemedi untuk menenangkan hati dan pikiran nya. Setelah beberapa menit, ia kembali merebahkan diri.
Namun, lagi-lagi bayangan Ashley muncul dalam benak nya. Kali ini Peter teringat dengan bibir wanita itu saat tersenyum, begitu indah. Seperti bunga yang baru mekar.
__ADS_1
"Argh! Apa yang aku pikirkan?" Peter menarik rambut nya dengan kesal. "Gadis itu aneh sekali, kenapa dia harus muncul dalam benak ku padahal aku ingin tidur."