Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 148 - #Peter (Seperti Bunga Mawar)


__ADS_3

Butuh Ashley atau psikiater?


Tentu saja Peter merasa tak butuh dua-duanya.


"Mungkin hanya kelelahan saja, dan gadis itu yang selalu muncul dalam benakku karena kami sering bertemu."


"Iya ... sepertinya begitu, pasti begitu."


"Tapi kenapa Simon bilang aku jatuh cinta? Apakah memang semua orang jatuh cinta begitu? Tapi aku tidak merasa jatuh cinta."


Sadar atau tidak, Peter terus memikirkan hal itu bahkan tanpa sadar ia sampai menggigit kukunya sendiri, seperti seorang gadis yang sedang memikirkan sang pujaan yang tak kunjung tergapai.


Sementara di sisi lain, Simon dengan begitu puasnya tertawa sambil bercerita pada Ethan juga Louisa tentang Peter yang mengaku berhalusinasi dan melihat seorang gadis di bawah selimutnya.


"Aku benar-benar penasaran seperti apa wajahnya," kata Simon di tengah tawanya.


"Mungkin memerah," kata Louisa. "Sama persis seperti kamu, Uncle Simon, wajahmu juga memerah saat kau jatuh cinta pada Dokter Filly."


Wajah Simon kembali tersipu saat diingatkan dengan masa-masa itu, apalagi sampai sekarang dia juga tetap tersipu saat dekat dengan sang istri.


"Oh ya, apa saja yang kau bawa itu?" tanya Ethan sembari menatap beberapa paper bag besar yang belum mereka buka.


"Hadiah untuk junior," jawab Simon.


"Oh, banyak sekali," kata Louisa kemudian ia segera membuka salah satu paper bag itu. "Wah, cantik sekali!" serunya saat melihat sepasang sepatu bayi yang sangat lucu.


Louisa membuka isi paper bag yang lain, dan ternyata hampir semua barang yang dibutuhkan oleh bayi ada, dari sepatu, baju, topi, botol susu, sabun, shampo, bahkan sikat gigi dan pasta gigi juga ada.


Membuat Louisa tercengang, apalagi usia kehamilannya baru dua minggu. Sebagai calon Ibu, ia bahkan tak memikirkan sikat gigi apalagi pasta gigi anaknya.


"Aku sudah memberi tahunya untuk tidak membeli barang-barang itu sekarang," kekeh Dokter Filly. "Tapi dia bersikeras, katanya biar semua yang anakmu butuhkan nanti sudah ada."


"Astaga, anak kami akan lahir masih 9 bulan lagi," tukas Ethan yang hanya bisa geleng-geleng kepala, tetapi ia juga senang karena ayah angkatnya itu sangat perhatian pada calon anaknya yang bahkan belum lahir.


...🦋...


Peter menjalani pemeriksaan dan sedikit terapi di rumah sakit tempat Ashley bekerja. Peter di temani Angel seperti biasa, sementara Dante bekerja sebagai kepala keamanan di sana dan ia baru akan pulang jam 7 nanti.

__ADS_1


Setelah selesai terapi saat hari sudah sore, Peter hendak pulang tetapi ia kembali bertemu dengan Ashley di parkiran. Yang lagi-lagi gadis itu kena sial dan kali ini berurusan dengan wanita paruh baya.


"Ah, dewa pelindungku!" Ashley berteriak lantang saat melihat kedatangan Peter.


"Siapa dia?" tanya wanita paruh baya itu yang berpenampilan sangat menor.


"Dia calon suamiku," jawab Ashley dengan entengnya yang membuat Peter melongo. "Sayang, bisa kah kau memberikan sedikit uang untuknya?" Kini Ashley merangkul lengan Peter dengan manja, membuat pria paruh baya itu langsung membeku. Darahnya kembali berdesir, jantungnya berdetak kencang dan lagi-lagi ia merasa ada di musim semi.


"Aku tidak sengaja menjatuhkan bedak wanita itu, dia minta ganti, Sayang," rengek Ashley.


Angel yang mendengar itu langsung mengambil dompet dari saku Peter diam-diam, Peter yang masih terpaku karena tingkah Ashley itu bahkan sampai tidak sadar.


"Ini, Aunty Ashley!" Angel menyerahkan dompet Peter. "Dompet calon suamimu."


"Ah, terima kasih, Angel, Sayang. Kau memang partner yang luar biasa," bisik Ashley sambil terkekeh.


Ashley mengambil beberapa lembar uang dari dompet Peter kemudian memberikannya pada wanita itu.


"Sekarang pergi lah!" seru Ashley kemudian dengan galak. "Lagi pula kau yang salah, pakai bedak kok di parkiran."


"Aku akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih istimewa, nanti malam. Jam 8, siap-siap, okay?" tukas Ashley dengan senyum penuh arti. Bahkan, gadis itu mengedipkan sebelah matanya pada Peter, membuat hati Peter langsung terasa nyut-nyutan.


...🦋...


Tepat jam 8 malam, Ashley menjemput Peter di rumah Dante. Tak lupa wanita itu membawa sekuntum bunga mawar untuk Dewa pelindungnya itu, tentu saja bunga itu ia mencurinya dari pot bunga tetangganya.


Sementara di dalam rumah, Peter justru bingung karena Dante menyuruhnya memakai tuxedo milik pria itu sembari menasihati Peter agar berbicara dengan lembut dan jujur pada Ashley.


"Wanita itu makhluk yang lemah lembut, jadi harus seperti itu kita berbicara dan memperlakukan mereka."


"Jangan sesekali berbohong pada wanita, mereka adalah makhluk dengan insting terkuat dan tertajam di dunia ini. Kau berbohong sekali saja dia akan mengingatnya selama satu abad ke depan."


"Oh ya?" gumam Peter bingung.


Setelah pulang bekerja, Angel langsung memberi tahu sang Ayah bahwa Ashley akan mengajak Peter pergi jam 8, tentu saja Dante mengerti bahwa itu adalah kencan. Apalagi Ashley sudah menunjukkan secara terang-terangan bahwa ia tertarik pada Peter.


Sang perjaka setengah abadi.

__ADS_1


"Apakah Ashley akan mengajakku ke pesta?" tanya Peter dengan polosnya. Yeah, selama ini dia hanya memakai tuxedo saat akan pergi ke pesta saja.


Tentu bukan karena ia tak punya tuxedo atau tak punya uang untuk membeli setelan itu, tetapi ia lebih nyaman memakai kaos dan jaket kulit hitam polos.


"Tentu saja tidak, Uncle Peter!" seru Angel gemas. "Ini namanya pergi berkencan, apa kau tidak pernah berkencan sebelumnya?"


Peter menggeleng pelan, membuat Angel menganga lebar sementara Dante hanya bisa terkekeh.


"Oh, Astaga! Di mana kau hidup selama ini, Uncle Peter?" tanya Angel yang benar-benar merasa gemas dengan pria tua tetapi tetap gagah itu.


"Tentu saja aku hidup di dunia ini," jawab Peter dengan entengnya.


"Ish, kalau hidup di akhirat berarti kau sudah mati."


"Sudah, sudah ... sebaiknya kita keluar sekarang," seru Dante kemudian setelah memastikan penampilan pria itu sempurna.


Di luar, Ashley merasa gemas karena tak kunjung ada yang membuka pintu, padahal sudah lima menit dia berdiri di luar. "Apa dia berdandan? Lama sekali." Ashley menggerutu kesal.


Saat ia hendak menekan bel sekali lagi, tiba-tiba pintu terbuka dan seketika Ashley terpaku melihat penampilan sang Dewa pelindungnya yang benar-benar tampan.


Bahkan, Ashley tak mampu berkedip barang sedikit saja.


Peter pun begitu terpana dengan penampilan Ashley, gadis itu memakai gaun yang sangat cantik berwarna merah muda, bahkan ada pita yang berbentuk bunga mawar di pinggang gadis itu.


"Wow, kau tampan sekali!" seru Ashley dengan mata yang berbinar dan senyum yang merekah, membuatnya semakin cantik seperti mawar yang baru mekar.


"Ka-kamu ... juga cantik," puji Peter malu-malu.


Yeah, dia malu dipuji seperti itu. Dan dia juga merasa canggung memuji seorang wanita seperti ini. Namun, ia jujur dengan pujian itu.


Bukan kah Dante mengatakan dia tidak boleh berbohong pada wanita?


"Ini untuk mu!" Ashley memberikan sekuntum mawar yang ia pegang pada Peter, membuat Peter langsung tersipu karena baru sekarang ada yang memberikan sekuntum mawar untuknya, dengan sedikit malu-malu ia mengambil bunga itu.


"Kau suka?" tanya Ashley sambil mengulum senyum, merasa gemas dengan tingkah Peter.


"Iya," jawab Peter. "Bunganya cantik, seperti senyummu."

__ADS_1


__ADS_2